Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
201. Solusi Dan Sesaji


__ADS_3

Keesokan harinya rumah Erik pun dikunjungi keluarga besar yang telah mendengar kepulangan Iyaz. Mereka juga sengaja mengadakan tasyakuran untuk menyambut kepulangan Iyaz sekaligus kelulusan si kembar karena telah berhasil meraih gelar sarjana. Hanako adalah orang paling antusias menyambut Iyaz pulang setelah Izar. Saat tiba di depan rumah ia langsung menghambur memeluk Iyaz tanpa malu-malu hingga mengejutkan Iyaz.


“ Ya Allah Ci, pelan-pelan dong. Iyaz sampe kaget tuh...,” kata Izar.


“ Maaf ya Yaz, abisnya Aku kangen banget sama Kamu...,” kata Hanako.


“ Iya Ci, gapapa...,” sahut Iyaz sambil berusaha melepaskan pelukan Hanako.


Merasa jika sikap Iyaz yang berbeda jauh membuat Hanako mengerutkan keningnya. Ia berusaha maklum karena selama empat tahun di Mesir Iyaz hampir tak pernah berinteraksi sedekat ini dengan wanita.


“ Maaf ya, ga sengaja. Aku lupa kalo Kamu sekarang udah dewasa, ga kaya dulu lagi...,” kata Hanako sambil


tersenyum dan diangguki Iyaz.


“ Kalo sama Iyaz kok Kamu bisa ngomong selembut itu Ci. Tapi sama Aku kenapa ngajakin ribut mulu ya...,” protes Izar.


“ Itu karena Iyaz juga ngomongnya lembut, sopan. Ga kaya Kamu yang bar-bar...,” sahut Hanako ketus hingga membuat Iyaz tersenyum karena tak menyangka jika perseteruan Hanako dan Izar masih awet meski pun sudah empat tahun berlalu.


“ Ish, Kamu tuh ya. Kalo ngomong suka bener...,” kata Izar sambil melengos.


Tingkah absurd ketiganya pun terhenti saat Efliya memanggil ketiganya untuk berkumpul di ruang tengah.


“ Ayo Anak-anak. Acaranya udah mau dimulai, sebaiknya Kalian duduk. Obrolannya bisa dilanjutin nanti...,” kata Efliya.


“ Siap Bun...,” sahut Hanako sambil melangkah masuk ke dalam rumah diikuti Iyaz dan Izar.


\=====


Malam itu Erik tengah berbincang dengan istri dan anak beserta menantunya. Mereka tengah membicarakan Hanako, Iyaz dan Izar.


“ Papa mau mereka kerja di perusahaan Papa aja. Papa kan udah tua, udah waktunya Papa istirahat di rumah. Papa ingin perusahaan itu diteruskan oleh Cici, Iyaz dan Izar. Nanti kalo Haikal udah dewasa dia juga bisa ikut bergabung. Bagaimana menurut Kalian...?” tanya Erik.


“ Mama setuju Pa. Mereka bertiga udah dewasa, insya Allah sanggup lah nerusin perusahaan Papa itu. Nah Papa tinggal duduk manis sambil ngawasin dan ngarahin mereka aja...,” sahut Farah cepat.


“ Kami juga, tapi terserah Anak-anak Pa...,” sahut Faiq sambil menoleh kearah Efliya dan Heru.


“ Saya lebih setuju kalo pucuk pimpinan dipegang Iyaz atau Izar Pa. Cici kan perempuan, biar dia kerja di belakang layar aja...,” kata Heru mengemukakan pendapatnya.

__ADS_1


“ Kak Heru betul Pa. Aku juga lebih setuju kalo yang laki-laki aja yang mimpin. Mungkin Cici bisa di bagian ketenaga kerjaan atau keuangan...,” kata Efliya.


“ Gitu ya. Ok, Papa setuju. Nanti Kita ajak Anak-anak bicara. Saat ini biar mereka melepas rindu dulu sebelum masuk ke dunia kerja yang serius...,” sahut Erik sambil tersenyum.


Semua mengangguk setuju. Sedangkan di teras depan terlihat Hanako, Iyaz dan izar tengah terlibat pembicaraan serius. Apalagi jika bukan tentang perhantuan yang menjadi topik pembicaraan. Mereka tengah bertukar cerita tentang pengalaman mereka menangani kejadian mistis di sekitar meraka selama empat tahun mereka berpisah.


“ Ada juga nih yang baru...,” kata Izar.


“ Apa...?” tanya Hanako dan Iyaz bersamaan.


“ Perusahaan tempatku bekerja lagi bangun proyek. Yah seperti biasa, masalah pembebasan lahan yang jadi kendalanya. Di lahan yang sulit dibebaskan ada rumah dan pohon besar yang ga bisa digusur meski pun udah pake alat berat. Nah, warga minta harga tinggi jika perusahaan maksa mau menggusur tempat itu. Mereka janji akan membantu memindahkan rumah dan pohon itu asal perusahaan bersedia membayar tiga kali lipat dari harga yang disepakati. Alasannya karena rumah dan pohon itu dulunya adalah rumah seorang sesepuh desa yang sering dimintai tolong oleh warga. Sejak sesepuh desa itu meninggal warga mejadikan rumah dan pohon itu untuk mencari solusi dari masalah yang tengah mereka hadapi...,” kata Izar.


“ Solusi gimana maksudnya, kan orangnya udah meninggal. Jadi minta solusi sama siapa di sana...?” tanya Iyaz tak mengerti.


“ Mereka percaya jika punya masalah, lalu datang ke rumah itu dan meletakkan semacam sesaji di sana, maka mereka akan dapat jawaban harus melakukan apa. Nah, menurut menurut kepercayaan warga di sana, sesepuh yang sudah meninggal itu lah yang memberi jawaban...,” sahut Izar.


“ Masalah klasik terulang lagi...,” kata Hanako sambil mencibir.


“ Tapi Aku curiga kalo ada yang ngordinir warga supaya melakukan itu...,” kata Iyaz.


“ Semula Aku juga mikir gitu Yaz. Tapi nyatanya ada hal lain yang tak kasat mata yang melingkupi tempat itu...,” sahut Izar.


“ Iya. Kalo ga percaya Kalian bisa ikut Aku dan liat sendiri besok...,” kata Izar.


“ Ok, siapa takut...,” sahut Hanako dan Iyaz bersamaan hingga membuat Izar tersenyum.


\=====


Keesokan harinya Iyaz dan Hanako mengikuti Izar meninjau proyek yang ia katakan semalam. Tiba di tempat yang dimaksud terlihat warga tengah berkerumun sambil meletakkan bermacam sesaji di bawah pohon. Hal itu membuat Iyaz marah dan hampir menghancurkan semuanya. Beruntung Izar dan Hanako berhasil mencegahnya.


“ Sabar Yaz, Kita liat aja dulu...,” kata Hanako.


“ Iya Yaz, liat dulu baru bertindak...,” kata Izar.


“ Iya iya, udah lepasin tangan Kalian...,” sahut Iyaz cepat sambil menepis tangan Izar dan Hanako.


Kemudian ketiganya memperhatikan dengan seksama kegiatan warga dari kejauhan. Nampaknya warga di sana sudah terbiasa melakukan ritual nyeleneh itu karena mereka melakukannya dengan terang-terangan di depan orang banyak tanpa khawatir dicemooh orang.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Hanako berdering hingga mengejutkan Iyaz dan Izar karena nada dering yang digunakan Hanako adalah lagu lawas milik Shania Twain yang berjudul You’re Still The One. Hal itu membuat Iyaz mengerutkan keningnya heran sambil menatap Izar yang nampak tersenyum penuh makna.


“ Kok nada deringnya kaya gitu sih...?” tanya Iyaz.


“ Kaya gitu gimana...?” tanya Izar pura-pura tak mengerti.


“ Ya gitu, kaya orang lagi kasmaran aja...,” sahut Iyaz sambil menatap Hanako yang menerima panggilan dengan bergeser agak jauh dari tempat semula.


“ Cici emang lagi kasmaran...,” sahut Izar sambil tersenyum.


“ Oh ya, sama siapa...?” tanya Iyaz antusias.


“ Yang pasti sama cowok lah...,” sahut Izar santai.


“ Udah tau sama cowok, tapi siapa...?” tanya Iyaz gemas.


“ Tanya aja sama Cici langsung. Aku khawatir salah ngomong ntar...,” sahut Izar sambil berlalu meninggalkan tempat itu.


Iyaz menggelengkan kepalanya lalu mengikuti langkah kaki Izar yang menjauh. Sesaat kemudian Hanako pun menyusul. Wajah cantiknya nampak berbinar bahagia dengan senyum menghias bibirnya. Iyaz menatap Hanako curiga, namun gadis itu terlihat cuek.


“ Siapa yang telephon Ci, rahasia banget...,” tanya Iyaz.


“ Oh, teman...,” sahut Hanako cepat.


“ Tapi kok muka Kamu happy benget keliatannya. Pasti teman istimewa yaa...,” goda Iyaz.


“ Kok Kamu ngomongnya kaya gitu...?” tanya Hanako sambil melirik kearah Izar karena mengira Izar telah mengatakan sesuatu pada Iyaz.


“ Ga usah malu Ci. Dari nada dering yang Kamu pasang khusus untuk panggilan dari dia aja udah ketauan kalo cowok itu spesial buat Kamu...,” sahut Iyaz.


“ Spesial, martabak kali ah...,” kata Hanako sambil berlalu.


“ Ck, Ciciii...!. Ditanya baik-baik bukannya jawab malah pergi...,” kata Iyaz kesal.


Hanako dan Izar nampak tertawa sambil adu toast saat melihat Iyaz yang kebingungan.


“ Gini nih resiko jauh beberapa tahun. Pulan-pulang semuanya terasa asing, pake ada rahasia segala...,” gumam Iyaz sambil melangkah mengikuti Hanako dan Izar.

__ADS_1


Namun langkah Iyaz terhenti saat mendengar suara ledakan dan jeritan dari rumah di bawah pohon tempat para warga meletakkan sesaji tadi. Iyaz, Izar dan Hanako menoleh kearah sumber suara dan terkejut melihat apa yang terjadi.


Bersambung


__ADS_2