
Setelah Yori siuman, ia pun mengajak Maya untuk pergi dari tempat itu. Warga pun meminta Yori untuk tinggal mengingat hari sudah malam saat itu. Tapi seperti biasa Yori menolak dan bersikeras membawa anak dan istrinya pergi malam itu juga.
“ Kasian lah sama si kecil Pak. Malam-malam kaya gini Kalian mau kemana. Lebih baik di sini dulu kalo belum punya tujuan...,” kata warga.
“ Betul. Pasti Bu Maya juga capek dan masih shock sama kejadian tadi...,” sahut warga lainnya.
“ Anak dan Istri Saya adalah urusan Saya. Biarkan Kami pergi karena di sini bukan tempat Kami...,” kata Yori sambil menggendong anaknya.
“ Ya udah lah, Kami ga bisa menahan Kalian. Hati-hati di jalan ya...,” kata ketua RT menengahi.
Sebelum melangkah mengikuti suaminya, Maya masih sempat menyampaikan rasa terima kasih pada warga.
“ Maafkan Suami Saya ya Pak, Bu. Makasih atas bantuan Bapak Ibu sekalian. Saya pamit sekarang...,” kata Maya sambil berurai air mata.
“ Iya May, hati-hati ya. Jangan sungkan datang ke sini kalo ada perlu. Insya Allah Kami bakal bantu semampu Kami nanti...,” kata bu RT sambil mengusap punggung Maya.
“ Iya Bu, makasih...,” sahut Maya lalu bergegas mengikuti jejak suaminya.
“ Kasian ya Maya. Punya Suami kok kasar kaya gitu...,” kata salah satu warga.
“ Pak Yori maksa pergi karena malu belangnya ketauan. Ternyata selama ini dia emang melakukan pesugihan untuk memperkaya diri...,” kata ketua RT sambil menggelengkan kepalanya.
“ Pantesan kok bisa kaya mendadak. Ga taunya pesugihan toh...,” cibir warga.
“ Apalagi tadi dia ketauan abis ngelemparin bungkusan aneh ke rumahnya Pak Ramdan, ya tambah malu deh...,” kata warga sambil tertawa.
“ Yori...,Yori. Ga nyangka bisa punya pikiran picik kaya gitu. Mau kaya ya kerja, bukannya malah pesugihan. Tapi ngomong-ngomong dia ikut pesugihan apa Pak Rt...?” tanya salah seorang warga.
“ Seperti yang diduga warga selama ini Pak. Dia melihara tuyul di rumahnya. Mungkin karena terlena dengan kekayaannya dia lupa ngasih tumbal. Makanya hartanya habis dalam sekejap...,” kata pak Rt lagi hingga membuat warga menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian warga membubarkan diri satu per satu. Runtuhan rumah Yori yang terbakar itu pun dibiarkan begitu saja. Kebakaran di rumah Yori menyisakan tanya di benak warga. Bagaimana mungkin api yang melahap rumah Yori bisa padam dengan sendirinya tanpa harus melibatkan pemadam kebakaran.
\=====
Maya terseok-seok mengikuti langkah Yori. Dia sudah sangat lelah tapi Yori tak peduli. Bahkan sepanjang jalan Yori terus memarahi Maya yang sudah kepayahan itu.
__ADS_1
“ Ngapain sih pake minta maaf sama mereka. Kita ga salah May. Kalo Kita miara tuyul kan bukan urusan mereka juga. Ntar yang masuk neraka dan nanggung dosanya kan Kita bukan mereka. Heran deh punya tetangga super kepo. Mau tau urusan orang, tapi pas tau orang lagi kesusahan bukannya bantuin eh malah diomongin. Emangnya mereka pikir ngomongin doang bakal kenyang tuh perut...,” kata Yori kesal.
Sepi tak ada sahutan. Karena merasa curiga Yori pun menoleh dan terkejut saat melihat apa yang terjadi pada Maya. Ternyata Maya tergeletak pingsan di jalan karena kelelahan. Melihat Maya pingsan membuat Yori bertambah kesal lalu menghampiri istrinya itu.
“ Duh Maya, ngapain pake pingsan segala sih. Bikin repot aja. Maya..., bangun May...!” panggil Yori sambil mengguncang tubuh Maya.
Karena tak ada respon dari Maya membuat Yori panik. Ia meletakkan anaknya lalu mulai membangunkan istrinya.
Sesaat kemudian Maya menggeliat lalu membuka matanya.
“ Abang, Aku udah ga kuat Bang. Aku capek banget...,” kata Maya lirih.
“ Tapi tanggung May. Sebentar lagi Kita sampe kok...,” sahut Yori.
“ Daritadi juga Abang bilang gitu tapi mana buktinya, Kita masih aja di jalan. Padahal ini udah hampir pagi Bang...,” kata Maya sambil menangis.
“ Iya iya, Kita istirahat sebentar. Udah jangan nangis...,” sahut Yori sambil menyandarkan tubuhnya di batang pohon.
Maya mengusap wajahnya lalu memeluk anaknya yang diletakkan Yori di dekatnya. Saat memeluk sang anak Maya mengerutkan kening karena merasa ada yang aneh pada buah hatinya itu.
“ Apaan sih Kamu. Tadi gapapa kok...,” sahut Yori sambil memejamkan matanya.
“ Aku serius Bang. Jangan bilang kalo si Dedek mati ya Bang...!” kata Maya dengan suara lantang.
“ Mati, apa maksudmu May. Ga ada yang mati, Anak Kita masih hidup May...!” sahut Yori.
“ Tapi Anak Kita ga bergerak Bang, ga bernafas juga...,” kata Maya sambil menangis.
Yori segera meraih tubuh anaknya dari pelukan sang istri. Memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya dan hembusan nafas dari lubang hidungnya, tapi nihil. Sang anak memang telah meninggal dunia entah sejak kapan.
Yori pun menjerit tertahan saat menyadari buah hatinya telah meninggal dunia. Melihat sikap suaminya membuat Maya yakin jika anaknya meninggal dunia. Maya pun ikut menjerit histeris sambil memanggil nama anaknya.
\=====
Acara pemakaman anak Yori dan Maya pun berlangsung khidmat. Warga yang hadir di pemakaman pun hanya bisa menatap iba kearah pasangan suami istri itu.
__ADS_1
Saat mengetahui anaknya meninggal Maya memaksa kembali ke perumahan tempat mereka tinggal sebelumnya. Yori terpaksa menuruti kemauan sang istri karena ia juga ingin jasad anaknya diurus dengan layak.
Yori menatap nanar makam anaknya. Air mata tak lagi mengalir di wajahnya, nampaknya Yori terlalu lelah untuk menangis. Maya yang duduk di samping batu nisan terlihat memusuhi dan menjauhi Yori hingga membuat Yori sedih.
“ Aku harus pergi dan bikin perhitungan sama dukun itu May...,” kata Yori sambil mencium kepala Maya.
Maya hanya membisu dan membiarkan Yori pergi begitu saja tanpa tahu jika itu adalah terakhir kalinya ia bisa
melihat suaminya dalam keadaan hidup. Maya tampak putus asa dan terus meratapi kematian anaknya. Sedangkan Yori pergi untuk mengantar nyawa karena sang dukun memang sengaja menantinya untuk menuntaskan perjanjian mereka dulu.
Saat telah berhadapan dengan sang dukun Yori pun melampiaskan kekesalannya.
“ Kenapa Kau ambil Anakku Mbah, apa salahnya...?” tanya Yori.
“ Jangan lupa perjanjian Kita dulu Yori. Aku berhak mengambil siapa pun dari keluargamu jika Kau melanggar kesepakatan Kita...,” sahut sang dukun.
“ Tapi dia masih kecil Mbah...,” kata Yori memelas.
“ Lalu bagaimana dengan tuyul peliharaanku yang Kamu abaikan itu, mereka juga masih kecil...,” sahut sang dukun hingga membuat Yori terdiam.
Sang dukun pun berjalan mendekat kerah Yori sambil melanjutkan kalimatnya yang terputus tadi.
“ Dan di perjanjian dulu juga dikatakan jika Kau bersedia menggantikan mereka untuk menjadi prajuritku yang
setia jika keduanya mati...,” kata sang dukun sambil menyabetkan goloknya ke pangkal leher Yori.
Darah muncrat dari leher yang terpotong itu. Kepala Yori pun jatuh menggelinding ke tanah dengan kedua mata yang membelalak dan wajah ketakutan. Kemudian tubuh tanpa kepala milik Yori itu jatuh tersungkur ke tanah. Yori mati tanpa mengeluarkan suara dan dengan kondisi yang mengenaskan.
Sang dukun meludahi jasad Yori lalu mengambil kepala Yori dan membungkusnya dengan kain hitam. Kemudian dukun itu bersiul memanggil parewangannya si makhluk hitam berambut gimbal ke hadapannya.
“ Itu makanan untukmu, Habiskan segera...,” perintah sang dukun sambil berlalu.
Makhluk hitam berambut gimbal itu nampak menyeringai. Ia menghampiri jasad Yori lalu mulai mengoyak dagingnya dan memakannya dengan lahap. Sedangkan di langit terlihat burung bang*ai nampak terbang rendah seolah tak sabar ingin ikut menikmati jasad Yori.
\=====
__ADS_1