
Yunda tiba di sebuah tempat dimana seorang pria tengah sibuk berlatih pedang. Yunda menatap kagum kearah pria itu yang tak lain adalah Jaladra. Saat melihat kehadiran Yunda, Jaladra langsung menghentikan latihannya.
“ Ada apa lagi Yunda...?” tanya Jaladra ketus.
“ Aku membawakan makanan untukmu Jala. Bukan kah Kau lelah setelah berlatih...?” tanya Yunda sambil meletakkan keranjang berisi makanan itu di bawah pohon.
“ Jangan lakukan hal yang sia-sia Yunda. Aku tak akan pernah bisa menerima cintamu karena Aku sudah mencintai gadis lain...,” kata Jaladra.
“ Meski pun gadis itu tak membalas cintamu dan memilih pria lain...?” tanya Yunda.
“ Mungkin saat ini Kami belum berjodoh, tapi Aku yakin suatu saat nanti dia akan sadar jika hanya Aku yang layak mendampinginya...,” sahut Jaladra sambil menatap jauh ke depan.
Selama ini Yunda tahu jika Jaladra mencintai Hara, namun rasa dengki di hati Yunda membuatnya melakukan berbagai upaya untuk memisahkan Jaladra dan Hara. Yunda membohongi Jaladra dan mengatakan jika Hara memiliki kekasih dan menolak pinangannya. Yunda juga melakukan sesuatu yang membuat Hara sakit berkepanjangan. Ia mencampurkan racun mematikan dalam minuman Hara. Harusnya Hara mati saat itu juga, tapi sayangnya Hara masih bisa bertahan hingga sekarang meski pun harus menderita penyakit yang aneh.
“ Aku tau apa yang telah Kamu lakukan Yunda. Jadi berhenti lah berbohong...,” kata Jaladra tiba-tiba.
“ Kau bicara apa Jala, Aku ga ngerti...,” sahut Yunda.
Jawaban Yunda membuat Jaladra kesal. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Yunda sambil menatap tajam kearahnya.
“ Hara tak pernah menolakku karena dia ga pernah tau tentang lamaranku itu. Dan sakit Hara itu adalah ulahmu, iya kan...?!” kata Jaladra lantang hingga mengejutkan Yunda.
Merasa tak ada gunanya mengelak, Yunda pun tersenyum lalu mengatakan sesuatu yang akan ia sesali sepanjang sisa umurnya.
“ Iya. Aku membohongimu karena Aku tak suka Kau mencintai Hara. Padahal selama ini Aku yang berada di sampingmu. Bahkan Kau tak pernah membalas perhatianku Jala. Sakit Hara adalah ulahku, itu betul. Aku meracuninya dengan racun paling mematikan di dunia ini hingga dia menderita. Harusnya dia ga perlu menderita seperti ini andai dia langsung mati waktu itu. Sayangnya darah leluhur suci mengalir dalam tubuhnya hingga dia masih bisa hidup meski pun cacat...!” kata Yunda lantang.
“ Plaakk..., plaakk...!”
Dua tamparan keras mendarat di pipi kanan dan kiri Yunda hingga membuatnya terhuyung ke samping lalu jatuh ke
tanah. Yunda meraba bibirnya yang terasa sangat sakit dengan telapak tangannya dan melihat ada darah di sana. Yunda mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang telah memukulnya tadi.
Yunda terkejut dan mencoba memperbaiki duduknya saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Gayatri, ternyata dia lah yang telah menampar Yunda tadi.
__ADS_1
“ Tu..., Tuanku...,” kata Yunda dengan suara bergetar sambil menundukkan kepalanya.
“ Jadi itu ulahmu ya. Apa salah Hara padamu, kenapa Kau meracuninya dan membuat hidupnya menderita seperti orang lumpuh. Apa Kau bilang tadi, Kau ingin membunuhnya tapi gagal dan hanya bisa membuat Hara cacat...?!” kata Gayatri murka.
Yunda panik apalagi saat melihat kehadiran ayah kandungnya, raja Graha lengkap dengan pengawal pribadinya, juga tiga bersaudara yaitu Iyaz, Izar dan Hanako. Tak kuasa menahan malu, Yunda pun bersiap lari namun langkahnya terhenti karena dihadang oleh pengawal pribadi raja.
“ Jangan lari lagi Yunda, Kau harus bertanggung jawab...!” kata Braja lantang sambil menatap tajam kearah Yunda.
“ Maafkan Aku Ayah. Tolong pahami Aku kenapa Aku jadi seperti ini. Aku mencintai Jaladra dan Aku ga rela dia jadi milik Hara...,” kata Yunda mencoba menjelaskan.
“ Sikapmu ini sangat menjijikkan Yunda. Kau mengejar cinta laki-laki yang tak pernah mencintaimu. Apalagi Kau menyakiti putri Hara, putri Rajamu sendiri...,” sahut Braja gusar.
“ Hara, Hara. Kenapa Aku harus mengalah sama Hara. Dia cuma anak manja yang ga bisa apa-apa. Dia ga akan bisa mendampingi Jaladra yang hebat ini. Jaladra butuh pendamping yang sama tangguhnya dengan dia dan orang itu adalah Aku, cuma Aku...!” kata Yunda.
“ Tapi dia tak mencintaimu dan dia ga akan bahagia meski pun Kau memaksa berada di sisinya. Kau lihat sendiri bagaimana sikapnya padamu kan...?” tanya Hanako tiba-tiba.
“ Diamlah. Kau hanya orang asing di sini, jadi jangan coba menceramahiku...,” kata Yunda ketus.
“ Jangan lancang Yunda. Mereka tamuku, jadi bicara lah yang sopan...!” bentak Graha marah hingga membuat Yunda terdiam lalu menundukkan kepalanya karena takut.
“ Aku..., Aku mendapatkan racun itu dari kaum sebelah...,” sahut Yunda lirih.
“ Kau bahkan bekerja sama dengan musuh untuk membunuh Anakku. Perbuatanmu ini tak bisa diampuni Yunda. Pengawal, seret dia keluar dari kerajaan Kita. Jangan biarkan dia masuk. Hukum mati setiap orang yang berusaha membantunya masuk ke dalam area kekuasaanku. Karena yang membantunya berarti telah ikut berkhianat pada kerajaan ini...!” kata Graha murka.
Ucapan Graha mengejutkan semua orang terutama Yunda dan Braja. Yunda pun menjatuhkan dirinya di depan raja Graha untuk memohon pengampunan.
“ Ampuni Aku Tuanku, tolong beri Aku hukuman yang lain asal jangan membuangku dari kerajaan ini. Aku tak ingin jauh dari keluargaku dan tanah kelahiranku. Tolong maafkan Aku Tuanku...,” kata Yunda menghiba sambil menangis namun itu tak menggoyahkan hati Graha.
“ Selama Aku masih hidup, Aku mengharamkan tanah kerajaan ini untuk Kau pijak Yunda. Pengawal, seret dia keluar sekarang juga...!” kata Graha lantang dengan wajah yang menggelap.
Yunda menangis histeris saat pengawal pribadi raja Graha menyeretnya dengan kasar. Braja hanya menatap kepergian anaknya tanpa bisa berbuat apa-apa. Braja juga harus memikirkan nasib keluarganya yang lain karena ia yakin tak akan bisa hidup nyaman setelah ini.
\=====
__ADS_1
Iyaz, Izar dan Hanako tengah menunaikan sholat sunah dua rokaat untuk meminta petunjuk kepada Allah Swt. Kemudian dilanjutkan dengan berdzikir usai sholat. Setelahnya mereka bertiga duduk bersama untuk membahas langkah selanjutnya dalam upaya penyembuhan Hara.
“ Obatnya bisa di dapat di sekitar sini. Obat yang membuat Kita takjub dan hampir mustahil ditemui di dunia nyata sana...,” kata Izar.
“ Hampir mustahil...?” tanya Hanako dan diangguki Izar.
“ Itu artinya benda itu ciptaan Allah. Dan hampir mustahil ditemukan kecuali jika Allah menghendaki benda itu ada di tempat lain...,” sahut Iyaz.
Ketiganya merenung sejenak lalu saling menatap dengan wajah berbinar dan mengucap satu kata bersamaan.
“ Pohon itu...!” kata Iyaz, Izar dan Hanako bersamaan sambil tersenyum.
Kemudian ketiganya menemui raja Graha dan istrinya yang masih setia menanti di kamar Hara. Setelah mendengar ucapan Izar, raja Graha pun mengangguk.
“ Kami hanya perlu tujuh lembar daun perak, tujuh buah yang berwarna keemasan itu dan tujuh ranting pohon seukuran jari manusia dewasa. Semuanya harus diambil dari tujuh pohon yang berbeda...,” kata Izar.
“ Maaf jika Kami lancang. Tapi itu harus Tuanku sendiri yang mengambilnya karena Tuanku adalah Ayah kandung Putri Hara...,” kata Iyaz hati-hati.
“ Tak masalah. Aku akan melakukan apa pun demi kesembuhan putriku...,” sahut raja Graha antusias.
Raja Graha pun memenuhi permintaaan ketiga bersaudara itu. Ia mendatangi deretan pohon yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju ke istananya. Dengan senang hati raja Graha mengambil daun, buah dan ranting yang dikumpulkan dalam sebuah wadah oleh Gayatri.
Kini ketiga bersaudara itu tengah berada di kamar pribadi Hara. Iyaz dan Izar membacakan beberapa ayat Al Qur’an dan berdzikir sedangkan Hanako membantu Hara mandi dengan air rendaman buah dan batang pohon. Daun perak digunakan untuk mengeringkan sisa air di permukaan kulit Hara.
Saat daun perak selesai disapukan di seluruh permukaan kulit Hara, asap kebiruan berwujud wajah iblis pun keluar dari tubuh Hara. Meski pun kulit Hara kembali seperti sedia kala namun kehadiran iblis itu cukup mengejutkan Hanako.
“ Astaghfirullah aladziim...,” kata Hanako.
“ Ada apa Kak...?” tanya Hara.
“ Gapapa Hara. Kita keluar sekarang ya...,” ajak Hanako yang diangguki Hara.
Kemudian Hanako menceritakan apa yang dilihatnya tadi kepada Iyaz dan Izar yang nampak mengerutkan kening karena yakin jika ada sesuatu di balik sakit yang diderita Hara.
__ADS_1
“ Ternyata ini ga sesederhana yang Kita duga...,” kata Iyaz yang diangguki Izar dan Hanako.
Bersambung