
Setelah mendengar janji Faiq, Rima pun bersedia pulang ke rumah orangtuanya. Karena tak ingin merepotkan, Rima memilih pulang menggunakan Taxi daripada diantar oleh Faiq. Sebelum meninggalkan rumah, Rima menyempatkan diri memeluk Farah dan Hanako erat sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.
“ Makasih ya Bu, makasih Hanako...,” kata Rima sambil melambaikan tangannya.
“ Sama-sama. Hati-hati ya Rima...,” sahut Farah dan Hanako bersamaan sambil membalas lambaian tangan Rima.
Kemudian keluarga mereka kembali bersiap untuk pergi ke rumah Darius yang kini menjadi milik Fatur. Mereka memutuskan menginap di sana hingga hari ke tujuh meninggalnya Darius.
\=====
Faiq akhirnya bisa menepati janjinya untuk membantu hantu Abin dan Rima setelah tahlilan hari ke tujuh meninggalnya Darius.
Siang itu ditemani Hanako, Fatur dan si kembar, Faiq mendatangi jembatan tempat dimana Rima hampir mengakhiri hidupnya. Saat tiba di jembatan mobil pun menepi. Fatur turun lebih dulu disusul yang lain. Kemudian Fatur dan Faiq mengamati sekitar jembatan juga melihat kearah sungai yang mengalir di bawah jembatan.
“ Itu apaan sih Yah...!” kata Izar sambil menunjuk ke bawah jembatan.
Semua mata tertuju kearah yang ditunjuk Izar. Di sana mereka melihat sosok laki-laki berpakaian serba hitam tengah duduk di salah satu batu besar yang ada di sungai itu. Laki-laki itu terlihat kebingungan seolah tak tahu harus berbuat apa. Hanako menelan salivanya dengan sulit saat mengenali sosok itu adalah hantu Abin.
“ Itu kan si Abin Pa...,” kata Hanako dengan suara tercekat.
“ Iya Nak...,” sahut Faiq cepat.
“ Oh jadi itu yang namanya Abin, hantu yang katanya sering gangguin Kamu Nak...?” tanya Fatur kesal.
“ Itu dulu, sebelum Papa ngasih pelajaran sama dia. Tapi belakangan ini dia udah ga gangguin Aku lagi kok Opa...,” sahut Hanako.
Kemudian Faiq mengajak kedua anaknya turun ke sungai sedangkan Fatur dan Hanako menunggu di jembatan.
“ Kita tunggu di sini aja Nak. Biar Papamu sama si kembar aja yang turun. Terlalu bahaya untukmu di sana...,” kata Fatur.
Hanako terpaksa menuruti ucapan sang opa walau hati kecilnya ingin sekali mengikuti Faiq ke sungai itu. Saat tiba di tepi sungai Faiq dan si kembar mengamati sekelilingnya dan melihat hantu Abin yang juga nampak kebingungan seolah sedang mencari sesuatu. Saat melihat kehadiran Faiq, hantu Abin tersenyum.
“ Kita misah aja nyarinya Yah...,” usul Izar.
“ Boleh. Kamu ke sebelah kanan, Iyaz di sebelah kiri dan Ayah di sekitar sini. Jangan terlalu jauh ya Anak-anak...,” pesan Faiq.
“ Iya Yah...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
Faiq dan kedua anaknya menyusuri tepi sungai secara perlahan. Hantu Abin turut membantu. Sedangkan Fatur dan Hanako mengamati dari atas jembatan.
Saat sedang menyusuri sungai itu tiba-tiba melintas seekor ular yang sangat besar di sela semak-semak hingga
mengejutkan Izar. Namun Izar merasa ada yang aneh pada penampilan ular itu. Ular itu berukuran sangat besar tapi memiliki panjang tak lebih dari satu setengah meter saja. Tubuhnya berwarna hitam legam dengan motif berwarna kuning, sedangkan kepalanya menyembul di balik semak-semak dengan kedua mata yang menatap lekat kearah Izar.
“ Ya Allah...!” kata Izar sambil menekan dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.
“ Kenapa Zar...?” tanya Iyaz.
“ Ada ular Yaz, tapi kok aneh ya...,” sahut Izar sambil tertawa.
“ Aneh gimana Zar...?” tanya Iyaz.
“ Panjangnya ga seimbang sama besar badannya Yaz. Sini deh liat sendiri...,” kata Izar.
Iyaz pun menghampiri kembarannya itu lalu mengamati ular besar yang terlihat jinak itu.
__ADS_1
“ Betul kata Kamu Zar. Ular ini malah kaya ular bantet ya...,” kata Iyaz sambil tertawa.
“ Mana ada ular bantet, emang adonan kue...,” sahut Izar ikut tertawa.
“ Sudah puas ketawanya Anak-anak...?” tanya sebuah suara.
Iyaz dan Izar menghentikan tawanya lalu menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari sumber suara yang menyapa mereka tadi. Sedangkan di bagian lain Faiq masih sibuk mencari jasad Abin. Sesekali Faiq menoleh kearah Iyaz dan Izar untuk memastikan jika mereka baik-baik saja.
“ Kenapa malah nengok ke sana kemari sih, Aku kan ada di depan Kalian...,” kata suara itu lagi.
Iyaz dan Izar saling menatap sejenak lalu menoleh kearah ular besar itu bersamaan. Ular itu terlihat menjulurkan lidahnya sambil mendesis.
“ Itu tadi suara Kamu...?” tanya Iyaz tak yakin.
“ Iya, kenapa memangnya...,” sahut ular besar itu.
“ Masya Allah. Kamu ini jin atau siluman sih...?” tanya Izar sambil menggelengkan kepalanya.
“ Aku ini ciptaan Allah juga sama kaya Kalian kenapa bingung sih...,” sahut ular besar itu dengan nada tak suka.
“ Ups, sorrry. Maaf ya. Terus ngapain Kamu nongol di sini, ngagetin tau...,” kata Izar.
“ Lho ini kan rumahku, jadi wajar kalo Aku ada di sekitar sini. Yang aneh tuh justru Kalian, ngapain Kalian berkeliaran di sekitar sini...?” tanya ular besar itu sambil mendesis.
“ Kami di sini lagi nyari jasad seorang laki-laki yang dibuang di sungai ini beberapa bulan yang lalu. Arwahnya penasaran dan minta tolong jadi Kami di sini untuk bantuin dia...,” sahut Iyaz sambil menatap ke sekelilingnya.
“ Maksud Kamu hantu laki-laki berpakaian serba hitam itu...?” tanya ular besar itu sambil menatap hantu Abin.
“ Iya. Kamu tau ga atau mungkin pernah liat...?” tanya Izar antusias.
“ Aku pernah liat. Setelah dilempar dari atas jembatan sana tulangnya patah, tubuh dan kepalanya hancur saat membentur batuan sungai. Terus tubuhnya hanyut dibawa aliran sungai kearah sana...,” sahut ular besar itu.
“ Ga sulit kok. Tubuhnya nyangkut di sela batuan sungai. Tapi karena terlalu lama kena air, tubuhnya membusuk, hancur, lalu dimakan oleh ikan dan binatang liar lainnya. Tapi kerangka tulangnya masih ada dan tertahan di sela bantuan...,” kata ular besar itu sambil menunjuk tempat kerangka Abin tertahan.
Iyaz dan Izar mengikuti arah tatapan sang ular lalu tersenyum. Keduanya pun memanggil Faiq untuk mengawal keduanya mendekati kerangka tulang Abin itu.
“ Kami tau dimana jasad hantu Abin Yah...,” kata Iyaz saat Faiq mendekati mereka.
“ Oh ya, dimana...?” tanya Faiq penasaran.
“ Di sela batu itu Yah. Tapi sayangnya udah tinggal kerangkanya aja. Karena tubuhnya udah habis dimakan ikan dan binatang liar lainnya...,” Kata Izar.
“ Itu pasti Nak. Apalagi tubuhnya telah menghilang selama berbulan-bulan...,” sahut Faiq sambil menepuk pundak Izar.
“ Iya Yah...,” sahut Izar mengerti.
Kemudian Faiq, Iyaz dan Izar bergegas menghampiri kerangka tulang milik Abin. Saat Iyaz akan menyentuh bungkusan kerangka tulang itu Faiq melarangnya.
“ Jangan Nak, biar itu jadi urusannya Polisi. Sebentar Ayah telephon Ayahnya Cici dulu ya...,” kata Faiq.
“ Oh gitu, ok Yah...,” sahut Iyaz.
Faiq menghubungi Heru melalui ponselnya sambil menatap ular besar yang sembunyi di semak-semak. Rupanya Faiq tahu jika kedua anaknya mendapat bantuan dari ular itu. Faiq tersenyum dan menganggukkan kepalanya kearah ular itu sebagai ungkapan terima kasih karena telah membantu menemukan kerangka Abin. Ular besar itu menyambut ucapan terima kasih Faiq dengan menegakkan tubuh dan kepalanya.
“ Gimana Yah...?” tanya Izar.
__ADS_1
“ Sebentar lagi Polisi ke sini...,” sahut Faiq.
“ Alhamdulillah. Jadi Kita balik nih Yah...?” tanya Iyaz.
“ Iya. Tapi apa Kalian ga mau bilang terima kasih dulu sama ular yang udah bantuin Kalian tadi...?” tanya Faiq.
“ Ayah tau juga...?” tanya Iyaz dan Izar bersamaan dan diangguki Faiq.
Iyaz dan Izar saling menatap kemudian tertawa. Tanpa aba-aba mereka melangkah cepat kearah rimbunan pohon dimana ular itu berada sekarang.
“ Terima kasih ya udah bantu Kami...,” kata Iyaz.
“ Maaf udah ngetawain Kamu tadi. Sebenernya Kita ga niat ngetawain Kamu tadi, abis bentuk Kamu lucu sih makanya Kita ketawa. Iya kan Yaz...,” kata Izar tak enak hati.
Ular besar itu tersenyum mendengar ucapan dua remaja laki-laki di hadapannya itu. Ia mendesis sambil menjulurkan lidahnya.
“ Iya Aku mengerti...,” sahut ular itu.
“ Makanya jangan suka ngetawain sesuatu yang diciptain Allah. Tanpa Kalian sadari, ngetawain itu juga menghina lho. Dan artinya Kalian juga menghina ciptaan Allah. Padahal Allah Maha Pencipta dan ciptaan Allah itu tak ada yang sia-sia. Allah pasti punya maksud dengan menciptakan hambaNya sedemikian rupa. Buktinya ular itu ada di sini dengan wujudnya yang menurut Kalian aneh tapi malah justru membantu Kita menemukan kerangka Abin...,” kata Faiq tiba-tiba hingga mengejutkan Iyaz dan Izar.
Merasa bersalah dengan sikap mereka tadi, Iyaz dan Izar pun menatap ular besar dengan tatapan yang sulit dibaca.
“ Mereka menyesal dan udah minta maaf tadi...,” kata ular besar itu kepada Faiq.
“ Alhamdulillah. Makasih atas bantuannya ya, sekarang Kami harus balik ke atas. Assalamualaikum...,” pamit Faiq sambil menepuk punggung kedua anaknya agar mengikutinya.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut ular besar itu lalu menghilang.
Faiq, Iyaz dan Izar kembali ke atas menemui Fatur dan Hanako. Tak lama kemudian Heru dan rekan-rekannya datang dan langsung terjun mengevakuasi kerangka Abin.
“ Ngomong-ngomong ular tadi sejenis apa sih Yah, siluman atau jin...?” tanya Izar penasaran.
“ Itu jin muslim...,” sahut Faiq.
“ Kalian ketemu jin muslim dimana...?” tanya Fatur.
“ Di bawah sana Opa, dekat semak-semak. Dan dia juga yang ngasih tau dimana letak kerangka Abin yang Kita cari daritadi..,” sahut Iyaz.
“ Tapi Aku sama Iyaz sempat ngetawain dia karena bentuknya yang lucu Opa...,” kata Izar dengan nada menyesal.
“ Emang kenapa bentuknya...?” tanya Hanako penasaran.
“ Bentuknya sih ular besar banget tapi pendek. Padahal normalnya ular sebesar itu kan badannya bakal
panjang sampe lima meteran lah, eh ga taunya cuma satu setengah meter aja. Aku kaget terus ketawa. Iyaz juga ikutan ketawa dan ngatain dia ular bantet segala...,” sahut Izar tak enak hati.
“ Iya, tapi Kami udah minta maaf kok tadi...,” sela Iyaz cepat.
“ Masya Allah...,” kata Fatur dan Hanako bersamaan sedangkan Faiq nampak tersenyum mendengar kejujuran si kembar.
“ Kalian tuh jahat banget sih...,” gerutu Hanako sambil menatap Iyaz dan Izar yang salah tingkah.
“ Udah gapapa, lain kali ga boleh kaya gitu ya Anak-anak...,” kata Fatur menengahi.
“ Siaapp Opa...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
__ADS_1
Mereka tertawa lalu menoleh kearah kerumunan orang yang mulai memadati jembatan karena penasaran melihat mobil patroli polisi dan Ambulans yang terparkir di pinggir jalan itu.
Bersambung