
Kematian Suraj mengejutkan dan menggemparkan kantor. Meski pun Suraj dikenal sebagai pribadi yang tak ramah pada kaum hawa, namun kinerjanya selama ini sangat mumpuni dan bisa diandalkan.
Viona yang mendengar kabar itu pun sangat shock dan hampir pingsan. Bagaimana tidak. Saat hatinya tengah dipenuhi bunga cinta dan harapan, namun semua itu lenyap begitu saja tanpa diduga. Kenyataan yang membuat Viona makin terpuruk adalah saat ia menemukan buku catatan harian milik Suraj diantara buku-buku milik Suraj di ruang kerjanya.
Dalam buku catatan harian itu Suraj menuliskan tentang perasaan cintanya pada sahabat Viona yaitu almarhumah
Katrina. Tentang bagaimana dia mempertahankan Viona di sisinya dengan alasan yang tak masuk akal.
“ Aku mempertahankan Viona sebagai stafku hanya karena Aku menghargaimu dan mengingatmu Katrina. Aku merasa dengan menahannya di sisiku akan membuatku sering melihatnya yang artinya Aku bisa melihatmu. Yah, Aku melihatmu dalam diri Viona. Aku tau ini gila. Tapi itu lah kenyataannya. Kehilanganmu adalah hal terberat dan menyakitkan dalam hidupku. Melihatmu bersanding dengan pria lain membuatku marah dan cemburu. Aku mencintaimu Katrina, dengan sepenuh jiwaku. Aku hanya tak ingin melukaimu walau Aku tau sikapku telah melukaimu. Maafkan Aku Katrina...,” tulis Suraj.
Viona menangis membaca tulisan tangan Suraj. Hatinya sakit sekaligus senang. Sakit karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Senang karena perasaan Katrina pada Suraj terbalas.
“ Perasaan apa ini. Aku menyangka jika Pak Suraj menahanku karena ia menginginkanku. Tapi Aku salah. Katrina..., Katrina..., lihatlah. Kamu lihat kan Katrina. Bahagia lah karena dia juga mencintaimu Katrina. Bahagia lah Kalian karena bisa bersama-sama...,” gumam Viona di sela isak tangisnya.
Tok tok tok...
Viona menoleh kearah pintu dan melihat Hanako berdiri di sana sambil tersenyum. Wajah Hanako yang sedikit pucat menandakan jika ia memang belum pulih dari sakit yang dideritanya.
“ Bu Viona...,” panggil Hanako lirih.
“ Hanako...,” sambut Viona sambil menghambur memeluk Hanako erat.
Kemudian Viona menangis di dalam pelukan Hanako. Tak dihiraukannya air mata yang mengalir itu tumpah ruah begitu saja. Perasaan sedih yang sejak tadi ditahannya seolah lepas saat melihat Hanako.
“ Dia pergi Hanako, dia pergi...,” kata Viona di dalam pelukan Hanako.
“ Iya Bu...,” sahut Hanako sambil mengusap punggung Viona lembut.
“ Dia ga memberiku kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku ini Hanako. Dia jahat...,” rintih Viona.
“ Takdir hidup Pak Suraj hanya sampai di sini Bu. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk hambaNya bukan...?” tanya Hanako hingga membuat Viona tesentak.
“ Kamu benar Hanako. Takdir hidup Kita ada di tangan Allah. Saya hanya ga nyangka secepat ini...,” sahut Viona lirih sambil mengurai pelukannya.
“ Sabar ya Bu. Allah pasti punya rencana indah untuk Bu Viona nanti. Pak Suraj dan Bu Viona ga berjodoh tapi mungkin Allah udah siapin jodoh terbaik untuk Bu Viona di luar sana...,” hibur Hanako.
“ Aamiin, makasih ya Hanako. Saat ini Saya ga mikirin soal itu. Saya hanya mau membereskan ruang kerja Pak Suraj aja. Apa Kamu mau membantu Saya...?” tanya Viona.
__ADS_1
“ Dengan senang hati...,” sahut Hanako sambil tersenyum.
Kemudian Viona dan Hanako segera membereskan meja kerja Suraj. Merapikan semua buku dan foto lalu menyimpannya dalam kotak kontainer plastik. Setelahnya Viona dan Hanako membawanya keluar dari ruangan untuk diberikan pada keluarga Suraj nanti.
\=====
Pemakaman Suraj berlangsung khidmat. Faiq dan Fatur turut hadir menyaksikan proses pemakaman Suraj hari itu. Awan duka nampak memayungi wajah-wajah para karyawan dimana Suraj berkantor.
Viona, Laras, Fera dan Hanako nampak berdiri berbaris melepas kepergian jasad Suraj.
“ Akhirnya ga ada lagi Manager killer di kantor Kita...,” gurau Laras.
“ Iya. Manager killer yang ganteng...,” sahut Fera.
“ Manager yang dingin dan diktator...,” sahut Viona lagi hingga membuat keempatnya tertawa kecil.
“ Siapa yang bakal menggantikan Pak Suraj Bu...?” tanya Laras.
“ Saya ga tau Ras. Tapi Saya yakin rasanya pasti beda ya kalo dipimpin sama orang lain...,” sahut Viona sambil menerawang.
“ Awalnya pasti aneh, apalagi Bu Viona kan udah bertahun-tahun kerja di divisi itu sama Pak Suraj...,” kata Laras yang diangguki Fera dan Hanako.
“ Apa kabar Viona...?” tanya Soni.
“ Soni...?” tanya Viona sambil membulatkan mata tak percaya.
“ Iya, apa kabar...?” tanya Soni lagi sambil tetap mengulurkan tangannya.
“ Oh iya. Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana, udah lama ga keliatan ya...,” sahut Viona sambil menyambut uluran tangan Soni.
“ Aku kan dioper ke kantor cabang Vi. Tapi setelah Pak Suraj meninggal, Aku bakal balik lagi ke kantor Kita itu...,” sahut Soni.
“ Emang apa hubungannya meninggalnya Pak Suraj dengan kepindahanmu ke kantor lama Son...?” tanya Viona
tak mengerti.
“ Aku ditunjuk menggantikan Pak Suraj, Vi...,” kata Soni hingga mengejutkan Viona, Laras, Fera dan Hanako.
__ADS_1
“ Menggantikan Pak Suraj di Divisi Ketenaga Kerjaan...?” tanya Viona ragu.
“ Iya. Kenapa memangnya...?” tanya Soni sambil menatap Viona.
“ Gapapa, Aku cuma ga nyangka aja kalo bakal dapat pimpinan pengganti secepat ini...,” sahut Viona sambil tersenyum.
“ Kamu tenang aja Vi. Aku ga bakal galak dan kaku kaya Pak Suraj apalagi sama karyawati secantik Kamu...,” kata Soni sambil mengedipkan matanya hingga membuat wajah Viona merona.
Ucapan Soni membuat Fera, Laras dan Hanako saling menatap dan tersenyum. Mereka senang karena akhirnya Viona menemukan pengganti Suraj.
Sedangkan Viona nampak tersipu malu. Sesekali Viona dan Soni terlibat pembicaraan serius. Hingga proses pemakaman Suraj selesai Soni masih setia berdiri di samping Viona. Kemudian mereka nampak melangkah bersama keluar dari area pemakaman.
Hanako, Fera dan Laras sengaja menepi seolah memberi kesempatan pada Viona dan Soni untuk dekat. Mereka berharap jika Soni bisa menjadi pelabuhan cinta terakhir Viona, sang Asisten Manager yang cantik dan berbakat itu.
“ Semoga dia laki-laki yang dikirim Allah untukmu Bu Viona. Aamiin...,” gumam Hanako dalam hati sambil tersenyum.
“ Keliatannya Pak Soni suka ya sama Bu Viona...,” kata Laras sambil tersenyum.
“ Keliatannya sih gitu. Gapapa lah, mereka cocok kok...,” sahut Fera.
“ Kayanya mereka udah saling kenal lama juga. Buktinya tadi Bu Viona kaget waktu Pak Soni mau dipindahin ke kantor Kita lagi...,” kata Laras.
“ Mereka emang teman lama. Almarhum sahabatnya Bu Viona kan mantan tunangannya Pak Soni dulu. Pasti mereka udah saling kenal lah...,” kata Hanako.
“ Oh gitu, kok Kamu tau sih Hana...?” tanya Laras curiga.
“ Aku denger karyawan senior pada cerita tadi...,” sahut Hanako tak enak hati karena keceplosan.
“ Kalo mantan tunangannya udah meninggal, itu artinya Pak Soni single dong. Wah, mungkin ga kalo mereka nikah...?” tanya Fera antusias.
“ Mungkin aja, asal mereka sama-sama single kan ga masalah...,” sahut Laras.
“ Betul. Kalo mereka sampe nikah, Aku bakal ngasih kado yang gede deh nanti...,” gurau Fera.
“ Ck, percuma kado gede kalo ga ada isinya...,” sahut Hanako sambil melengos disambut tawa Laras.
“ Ya ada isinya dong Hanakooo...,” kata Fera gemas hingga membuat Hanako dan Laras tertawa.
__ADS_1
Tawa yang sama juga tengah menghiasi wajah Viona dan Soni di salah satu sudut kafe tempat mereka melanjutkan perbincangan mereka yang tertunda.
\=====