
Lita mengetuk pintu rumah orangtua Boril. Sesaat kemudian pintu pun terbuka dan menampakkan wajah Obi. Lita
tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Obi. Sayangnya Obi menepis kedua tangan Lita dan mundur ke belakang dengan wajah marah.
“ Ngapain Ibu di sini...?!” tanya Obi lantang hingga membuat kakek dan neneknya terkejut dan memburu keluar rumah.
“ Ada apa Obi...?” tanya sang nenek.
Obi tak menjawab dan hanya menatap nanar kearah Lita. Kakek nenek Obi nampak berusaha melerai dan meminta Lita masuk ke dalam rumah.
“ Kamu tau darimana Obi ada di sini...?” tanya kakek Obi.
“ Dari tetangga Pak...,” sahut Lita.
“ Kamu udah liat kan kalo Obi baik-baik aja. Jadi Kamu bisa tenang dan lanjutkan hidupmu...,” kata kakek Obi.
“ Tapi Saya mau Obi tinggal sama Saya Pak...,” kata Lita.
“ Tinggal sama Kamu, apa Saya ga salah denger...?” tanya kakek Obi.
“ Saya serius Pak...,” kata Lita mencoba meyakinkan.
“ Bukannya selama ini Kamu selalu merasa kalo Obi ini hanya benalu di hidupmu, Obi menghalangi kebebasanmu, Obi merepotkan dan Obi membuatmu terjebak dengan pernikahan yang kacau. Lalu kenapa sekarang malah maksa mau ngajak tinggal bareng. Ada apa ini Lita...?” tanya nenek Obi.
“ Mmm..., Saya ga pernah bilang gitu Bu...,” kata Lita salah tingkah.
“ Terus Kamu pikir Saya ngarang, Saya dapat omongan itu langsung dari mulut Obi lho. Dia ini anak delapan tahun yang cerdas dan bisa merekam semua ucapanmu dengan baik Lita...!” kata nenek Obi kesal.
Lita tersentak dan mencoba memperbaiki keadaan.
“ Saya menyesal Bu. Ijinkan Saya menebus semuanya...,” kata Lita menghiba.
“ Aku ga mau tinggal sama Ibu...!” kata Obi tiba-tiba dengan lantang sambil menatap penuh kebencian kearah Lita.
Kakek nenek Obi pun mendukung keputusan cucunya itu. Saat mendengar bagaimana Lita memperlakukan Obi selama ini langsung dari Obi dan warga, mereka memutuskan akan mempertahankan Obi bagaimana pun caranya. Lita tak berdaya. Meski pun telah berupaya membujuk Obi namun Obi tetap menolak tinggal bersamanya.
“ Apa Obi ga kangen sama Ibu, ga sayang ya sama Ibu...?” tanya Lita.
“ Kan Ibu juga ga sayang sama Obi. Jadi buat apa Obi harus kangen sama Ibu...,” sahut Obi hingga membuat kakek dan neneknya tersenyum diam-diam.
“ Gimana kalo Obi ikut sama Ibu. Nanti Kita jalan-jalan ke tempat yang Obi mau...,” kata Lita.
__ADS_1
“ Ga mau. Lagian kan jalan-jalan perlu uang banyak, emang Ibu punya uang. Kan selama ini kalo Obi minta uang Ibu selalu bilang ga ada uang. Ntar kalo pas jalan-jalan Obi lapar atau haus gimana, kan Ibu ga punya uang buat beli. Obi mau jalan-jalan sama Kakek dan Nenek aja nanti, biar bisa jajan sepuasnya dan ga dimarahin...,” sahut Obi sambil menjauh dari Lita.
Mendengar ucapan Obi membuat wajah Lita merah padam karena malu. Lita pun merangsek maju dan berusaha meraih Obi namun sang kakek langsung menyelamatkan Obi dan menghalangi Lita.
“ Obi tetap di sini dan ga akan kemana-mana. Dia Cucuku dan Aku berhak mengasuh dan membesarkannya. Kamu bisa datang menjenguk Obi kapan pun Kamu mau, tapi jangan coba-coba mengambil Obi dariku...,” kata kakek Obi tegas.
“ Kamu juga ga perlu khawatir tentang pendidikan Obi. Kami udah siapkan tabungan khusus agar Obi bisa sekolah
tinggi nanti. Kami juga mengajarkan agar Obi tetap menghormatimu sebagai Ibunya meski pun Kamu telah mengabaikan Obi dan Bapaknya. Sekarang pergi lah Lita. Ga ada tempat untukmu di sini...,” kata nenek Obi sambil menatap lekat kearah Lita.
“ Ijinkan Aku tinggal beberapa hari di sini Bu, Aku masih kangen sama Obi...,” pinta Lita.
“ Ga bisa Lita. Melihatmu membuat Obi ga nyaman dan takut. Jadi Aku lebih mengutamakan perasaan Obi daripada perasaanmu...,” sahut nenek Obi.
“ Pergi lah sebelum kesabaranku habis...,” kata kakek Obi sambil membuka pintu rumah lebar-lebar.
Lita pun berdiri lalu melangkah gontai meninggalkan rumah orangtua Boril. Lita mengira bisa memanfaatkan
statusnya sebagai ibu kandung Obi untuk membujuk mereka memberinya tempat tinggal. Tapi Lita salah besar. Dan kini Lita kembali melangkah tanpa arah setelah diusir dua kali hari ini.
\=====
Kehidupan rumah tangga Hanako dan Pandu berjalan lancar. Mereka berencana tinggal di rumah yang telah Pandu siapkan. Meski pun kecil, tapi Hanako merasa senang karena itu adalah hasil jerih payah sang suami.
“ Aku ga nyaman di sana Sayang. Aku lebih suka di sini, membaur dengan warga kan seru...,” sahut Pandu sambil
tersenyum.
“ Rumah ini beli jadi atau Kamu bangun dari awal Mas...?” tanya Hanako sambil mengamati sekelilingnya.
“ Aku beli jadi. Terus renovasi dikit. Gimana, Kamu suka ga...?” tanya Pandu sambil memeluk Hanako dari belakang.
“ Suka banget Mas. Kalo dipikir-pikir Kamu sama Pita itu mirip ya Mas...,” sahut Hanako.
“ Mirip lah, Kami kan sedarah...,” kata Pandu gemas sambil mengangkat tubuh Hanako lalu membaringkannya di atas sofa.
“ Maksudku dalam memilih rumah tuh Kalian mirip. Milih yang udah jadi dan renovasi dikit...,” kata Hanako.
“ Masa sih...?” tanya Pandu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Hanako.
“ Iya...,” sahut Hanako.
__ADS_1
Pandu lalu mulai mencium bibir Hanako dengan intens. Hanako membalas dengan lembut hingga keduanya larut dalam ciuman panjang yang memabukkan.
“ Jangan di sini Mas...,” bisik Hanako saat merasakan tangan Pandu yang menjelajah kemana-mana.
Pandu pun mengurai pelukannya sambil tersenyum. Setelah mengecup kening istrinya Pandu pun bangkit dan
berjalan kearah jendela. Membuka tirainya sedikit lalu menatap keluar sambil mengerutkan keningnya. Sedangkan Hanako nampak merapikan hijab dan pakaiannya yang sedikit kusut karena ulah Pandu tadi.
“ Cari apa Mas...?” tanya Hanako sambil melangkah mendekati suaminya.
“ Ga cari apa-apa...,” sahut Pandu sambil menutup gorden jendela dengan cepat.
“ Kamu jangan bohong ya Mas. Apa Kamu lupa kalo Aku juga bisa ngeliat sesuatu yang Kamu liat tadi...?” tanya Hanako hingga membuat Pandu menghela nafas panjang.
“ Susah ya kalo ngomong sama orang yang biasa interaksi sama makhluk ghaib...,” sahut Pandu.
“ Gitu deh. Jadi kemana dia...?” tanya Hanako.
“ Aku ga tau, mungkin ke sana...,” sahut Pandu sambil menunjuk rumah di seberang rumahnya dengan ujung dagunya.
“ Itu rumah kosong ya Mas...?” tanya Hanako.
“ Bukan. Pemilik rumah itu namanya Pak Surya. Disana dia tinggal sama Anak-anaknya dan asisten rumah tangga...,” sahut Pandu.
“ Istrinya kemana...?” tanya Hanako.
“ Aku ga tau. Waktu Aku beli rumah ini Pak Surya udah ga tinggal sama Istrinya...,” sahut Pandu.
“ Kalo yang di samping rumah ini rumah siapa...?” tanya Hanako.
“ Rumahnya Pak Haji Salim. Daripada nanya mulu, mendingan ikut Aku kenalan sama mereka yuk...,” ajak Pandu.
“ Jangan sekarang Mas, besok aja...,” tolak Hanako.
“ Lho kenapa...?” tanya Pandu.
“ Aku mau siapin sesuatu buat hantaran atau salam perkenalan untuk mereka Mas. Ga enak kan kalo datang bertamu dengan tangan kosong...,” sahut Hanako hingga membuat Pandu tersenyum.
“ Wah Istriku ini memang hebat, makin cinta deh rasanya...,” kata Pandu sambil memeluk Hanako erat.
Hanako pun tertawa dan kembali membenamkan dirinya dalam pelukan sang suami. Tanpa mereka sadari seorang
__ADS_1
wanita tengah mengamati kemesraan mereka. Wanita itu berdiri di depan rumah Surya sambil terus menatap lekat kearah Hanako dan Pandu.
\=====