Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
276. Nostalgia


__ADS_3

Selama kehamilan Hanako tetap bekerja seperti biasa di kantor sang opa. Iyaz dan Izar pun telah menempati posisi yang mereka inginkan di perusahaan keluarga itu. Iyaz menduduki jabatan Direktur Keuangan, Izar menduduki jabatan Direktur Operasional dan Erik tetap menjabat sebagai Presiden Direktur.


Erik bisa lebih santai dan hanya sesekali ke kantor. Itu pun ditemani Farah yang juga memutuskan resign dari Rumah Sakit yang telah membesarkan namanya. Farah mengajukan resign setelah mengetahui kehamilan Hanako. Ia merasa sudah waktunya istirahat dan menikmati hari tua bersama suami tercinta sambil menanti kehadiran buyut mereka nanti.


Hari itu Farah dan Erik sedang menghabiskan waktu berdua sambil mengunjungi tempat favorit saat mereka muda dulu. Erik mengajak Farah ke sebuah tempat yang penuh kenangan untuk mereka.


“ Kamu inget ga sama tempat ini Ma...?” tanya Erik.


“ Inget dong Pa...,” sahut Farah dengan mata berkaca-kaca.


Bagaimana mungkin Farah lupa. Dulu ia terpaksa pindah dari rumah Erik karena Erik yang ada dalam pengaruh guna-guna memusuhinya sedemikian rupa. Farah ingat saat ia  menangis karena Erik tak pernah tahu ada bayi mereka dalam rahimnya. Beruntung kembarannya Fajar selalu mendukungnya dan memenuhi semua kebutuhannya.


Hingga pertemuan yang diatur Fajar pun dilakukan di tempat itu. Erik datang mempersembahkan rangkaian bunga segar untuknya juga permintaan maaf yang tulus. Mengingat hal itu membuat Farah menangis. Erik pun memeluk Farah erat sambil mengecup sayang kedua pipinya.


“ Maafin Aku ya Ma. Aku selalu benci saat itu. Maaf...,” kata Erik.


“ Iya, Aku udah maafin Kamu Pa...,” sahut Farah.


“ Jangan nangis lagi dong Sayang...,” kata Erik sambil mengusap air mata Farah.


“ Jadi Kamu sengaja ngajak nostalgia buat ngingetin yang sedih-sedih ya...?” tanya Farah sambil menghapus air matanya.


“ Ga dong. Aku mau Kamu tau kalo Aku selalu mengingat kebodohanku itu dan janji ga akan mengulanginya ya di tempat ini, saat melihat Kamu berdiri di sana...,” sahut Erik sambil menunjuk pintu masuk restoran yang kini berubah namun masih di tempat yang sama.


Farah menoleh kearah yang ditunjuk Erik lalu tersenyum.


“ Saat itu Aku gendut ya...,” kata Farah sambil tertawa.


“ Iya, gendut tapi cantik. Apalagi gendutnya karena ada Faiq di sini...,” sahut Erik sambil mengusap perut Farah.


Keduanya pun tertawa bersama. Setelah pesanan mereka diantar oleh pelayan, mereka pun menikmati makanan yang tersaji sambil bicara banyak hal. Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi keduanya. Pemilik sepasang mata itu ternyata seorang wanita berambut ikal yang nampak menatap sedih kearah Farah dan Erik.


Saat Farah dan Erik pergi meninggalkan tempat itu, wanita itu pun terus mengikuti bahkan ikut duduk di dalam mobil. Wanita yang bisa ditebak adalah hantu itu juga mendengarkan pembicaraan Farah dan Erik.


“ Kita ke sana yuk Ma...,” ajak Erik saat melewati bioskop.


“ Ga usah Pa. Ngapain ke sana, capek. Kalo mau nonton kan bisa di rumah sama Anak-anak...,” tolak Farah.

__ADS_1


“ Tapi kan Aku mau ngajak Kamu nostalgia ke tempat-tempat favorit Kita dulu termasuk bioskop itu  Ma...,” kata Erik.


“ Ke tempat lain Ok lah, tapi kalo ke bioskop Aku malu Pa...,” kata Farah memberi alasan.


“ Malu kenapa...?” tanya Erik tak mengerti.


“ Malu sama pasangan yang lain Pa. Mereka kan masih muda, ga kaya Kita. Nanti mereka pikir Kita pasangan ga sadar umur karena masuk ke tempat yang banyak adegan kissing life nya...,” sahut Farah sambil cemberut hingga membuat Erik tertawa lepas.


Hantu wanita yang duduk di belakang mereka pun ikut tertawa. Namun sesaat kemudian matanya kembali memancarkan kesedihan.


Aura yang dikenali Farah sebagai aura yang menandakan kehadiran makhluk ghaib pun juga dirasakan oleh Erik. Meski mereka tak bisa berinteraksi dengan makhluk ghaib, tapi mereka dikelilingi oleh orang-orang yang mampu berinteraksi dengan makhluk ghaib dan itu membuat mereka paham menghadapi situasi ini.


“ Hari ini cukup dulu ya Pa. Kita pulang yuk...,” ajak Farah sambil melirik ke kursi belakang.


“ Ok Ma. Papa juga udah capek, maklum lah Papa kan udah tua...,” sahut Erik sambil tersenyum.


Erik pun melajukan mobilnya menuju ke rumah. Tiba di sana Faiq dan Shera pun sudah berdiri menyambut sambil


tersenyum bahagia.


“ Assalamualaikum...,” sapa Farah dan Erik bersamaan.


“ Gimana jalan-jalannya Ma, seru ga...?” tanya Shera.


“ Seru dong. Tau ga Kalian, Papa ngajakin Mama makan di tempat favorit Kami dulu...,” sahut Farah sambil tersenyum.


“ So sweet..., Aku juga mau kaya gitu dong Yah...,” kata Shera sambil menggelayut manja di lengan suaminya.


“ Siap Sayang. Walau pun udah tiap Minggu ke sana tapi untuk permintaanmu kali ini Aku bakal kasih yang spesial...,” sahut Faiq disambut tawa Shera, Farah dan Erik.


Tiba-tiba tawa Faiq terhenti saat melihat sosok hantu perempuan yang ada di dalam mobil sang papa sedang menatap iri kearah mereka. Erik yang mengerti arti tatapan Faiq pun langsung menepi dan memberi ruang pada Faiq untuk berinteraksi dengan hantu wanita itu.


“ Siapa Kamu, kenapa ikut sampe ke sini...?” tanya Faiq.


“ Maafkan Aku, namaku Malini. Aku suka melihat kedua orangtuamu yang terlihat akur dan saling mencintai itu. Ga sengaja Aku ngikutin mereka sampe ke sini...,” sahut hantu wanita bernama Malini itu hingga membuat Faiq tersenyum.


“ Aku tau yang Kamu katakan ga sesederhana itu. Aku bersedia membantu jika Kau mau...,” kata Faiq hingga membuat wajah Malini berbinar.

__ADS_1


“ Aku senang sekali. Makasih sebelumnya...,” sahut Malini.


“ Sama-sama. Sekarang katakan apa yang bisa Aku bantu...,” kata Faiq.


Hantu Malini terdiam sambil menghela nafas panjang. Ia menundukkanwajahnya seolah berat untuk menceritakan kejadian yang ia alami sebelum kematiannya. Faiq yang mengerti akhirnya mencari tahu sendiri dan mulai melihat gambaran masa hidup Malini.


Malini adalah seorang gadis yang baik. Berasal dari keluarga sederhana dengan dua orang adik perempuan. Malini bekerja menjadi perawat lansia di sebuah rumah mewah. Seorang nenek bernama Uli adalah orang yang harus dirawat oleh Malini.


Nenek Uli tinggal bersama anak, menantu dan kedua cucu laki-lakinya yang bernama Pieter dan Erdi. Mereka menghormati dan menyayangi nek Uli. Terbukti dari cara mereka menanyakan keadaan nek Uli setiap hari pada Malini.


Karena seringnya berinteraksi dengan keluarga nek Uli, akhirnya Malini jatuh hati pada salah satu cucu nek Uli yaitu Pieter. Gayung pun bersambut, ternyata Pieter pun menyukai Malini. Keduanya menjalin hubungan diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga nek Uli.


Hingga suatu hari datang lah kerabat jauh nek Uli dari Malaysia. Mereka datang berkunjung dan menginap beberapa hari di rumah nek Uli. Kerabat itu membawa serta anak gadis mereka yang bernama Lizara yang cantik, pintar dan supel.


Dalam sekejap saja semua perhatian tersita untuk Lizara. Bahkan Pieter dan Erdi pun berlomba menaklukkan hati gadis itu. Namun sayangnya kedua keluarga telah memutuskan menjodohkan Pieter dengan Lizara hingga Erdi harus gigit jari.


Mendengar hal ini Malini pun terkejut. Ia tak menyangka jika Pieter bersedia menerima perjodohan itu tanpa protes. Malini yang kecewa pun mencoba menanyakan kelanjutan hubungannya dengan Pieter. Jawaban Pieter pun mengejutkan Malini.


“ Kita akhiri saja hubungan ini Malini...,” kata Pieter.


“ Tapi gimana dengan Aku dan..., Anak Kita...?” tanya Malini ragu sambil membawa tangan Pieter ke perutnya.


Pieter yang terkejut pun menarik tangannya dengan kasar lalu menutup mulut Malini dengan tangannya itu.


“ Gugurkan saja. Aku ga mau punya anak sama Kamu Malini. Lagian Aku kan hanya iseng, kenapa bisa hamil sih...,” gerutu Pieter.


“ Aku ga mau. Kamu harus tanggung jawab Pieter, atau akan Kuadukan sama Nenek kalo Kamu udah menghamiliku...!” ancam Malini dengan suara lantang.


“ Braakkk...!”


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh tak jauh dari keduanya. Pieter dan Malini menoleh dan mendapati nek Uli terbaring di lantai dengan tangan menunjuk kearah mereka.


“ Nenek...!” kata Pieter dan Malini bersamaan lalu bergegas menghampiri nek Uli.


Sesaat kemudian Nek Uli jatuh pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit. Dalam perjalanan Pieter dan Malini tak bicara apa pun hingga mereka tiba di Rumah Sakit. Saat sedang menemani nek Uli yang sedang dirawat, kedua orangtua Pieter datang dan mendekati Malini yang nampak gemetar ketakutan.


Mama Pieter melayangkan tamparan ke wajah Malini hingga Malini jatuh tersungkur ke lantai dengan sudut bibir mengeluarkan darah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2