Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
293. Guna Guna


__ADS_3

Iyaz dan Izar telah tiba di kantor seperti biasa. Saat itu mereka berpapasan dengan Pandu yang baru saja mengantar Hanako. Ketiganya berpelukan sambil berbincang sejenak.


“ Gue denger dari Eisha Lo baru aja ngelamar cewek Lo ya Yaz, selamat ya...,” kata Pandu sambil menepuk pundak Iyaz.


“ Makasih Mas...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.


“ Karyawan sini juga ya...?” tanya Pandu.


“ Iya. Dia Anak buahnya Cici Mas, namanya Nuara...,” sahut Iyaz sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru untuk mencari Nuara.


“ Terus kapan mau lamaran resminya Yaz...?” tanya Pandu lagi.


“ Insya Allah secepatnya Mas...,” sahut Iyaz yang diangguki Pandu.


“ Wah, berarti tinggal Lo sama Haikal yang belum dapat jodoh ya Zar...,” gurau Pandu.


“ Ck, keterlaluan banget sih Mas. Masa Gue disamain sama Anak kelas enam SD...,” sahut Izar sambil cemberut.


Ucapan Izar membuat Pandu dan Iyaz tertawa geli. Sesaat kemudian Pandu pamit karena harus segera pergi ke pangkalan udara Halim Perdana Kusuma. Sedangkan Izar lebih dulu melangkah ke loby perusahaan karena tak mau mengganggu Iyaz yang sedang menunggu Nuara.


“ Aku duluan ya Yaz...,” kata Izar.


“ Ok...,” sahut Iyaz cepat.


Setelah lama menunggu namun tak juga melihat Nuara, akhirnya Iyaz mencoba menelphon Nuara. Dan Iyaz terkejut mendengar berita sakitnya mama Nuara yang mendadak itu. Setelah mengakhiri pembicaraan via telephon dengan sang kekasih, Iyaz pun bergegas menemui Izar di ruangannya.


Saat itu Izar sedang menerima laporan salah satu karyawan yang bertugas di salah satu proyek pengerjaan jalan penghubung sebuah wilayah di pinggiran Jakarta dengan jalan utama.


“ Kalo gitu lanjutkan aja dulu. Insya Allah besok atau lusa Saya akan liat langsung ke lapangan...,” kata Izar.


“ Baik Pak. Kalo gitu Saya permisi dulu...,” sahut sang karyawan.


“ Silakan...,” sahut Izar sambil tersenyum.


“ Mari Pak Iyaz, Assalamualaikum...,” sapa sang karyawan saat melihat Iyaz tengah duduk di sofa di ruangan Izar.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


“ Ada apa Yaz...?” tanya Izar.


“ Temani Aku menjenguk Mamanya Nuara di Rumah Sakit yuk...,” ajak Iyaz.


“ Sakit apa, kok mendadak banget...?” tanya Izar.


“ Nah itu dia, Aku curiga ada sesuatu yang ge beres...,” sahut Iyaz lalu menceritakan dugaannya.

__ADS_1


“ Jadi maksud Kamu, sakitnya calon mertuamu itu karena diguna-guna oleh keluarga Diki yang batal menikahi Nuara...?” tanya Izar.


“ Mudah-mudahan Aku salah. Tapi ga ada salahnya kan kalo Kita liat langsung ke sana sebelum terlambat...,” sahut


Iyaz.


“ Ok, Kita berangkat sekarang aja Yaz...,” sahut Izar.


Keduanya pun bergegas keluar dari kantor menuju Rumah Sakit tempat mama Nuara dirawat. Sebelum pergi Iyaz memberitahu Hanako via telephon jika ia dan Izar pergi menjenguk mama Nuara yang sedang sakit.


\=====


Di Rumah Sakit terlihat Nuara sedang mondar-mandir di depan ruang UGD. Wajahnya terlihat cemas bahkan sesekali ia menggigit bibirnya tanpa sadar. Sedangkan Nando dan Dewi juga terlihat sama cemasnya hanya saja berusaha tenang dengan duduk menunggu di kursi di depan ruang UGD.


“ Nuara...!” panggil Iyaz hingga membuat Nuara menoleh.


“ Mas Iyaz...,” sahut Nuara lirih.


“ Gimana keadaan Mama Kamu...?” tanya Iyaz sambil menatap Nuara yang terlihat kusut itu.


“ Masih di dalam Mas. Kata Papa sih nunggu hasil lab...,” sahut Nuara gugup.


“ Terus kenapa Kamu di sini...?” tanya Iyaz.


“ Perawat bilang pasien hanya boleh ditemani satu orang aja Mas...,” sahut Nuara sambil mengalihkan tatapannya kearah lain karena malu bertemu Iyaz dengan penampilan yang tak seharusnya.


“ Apa Kami boleh jenguk ke dalam...?” tanya Iyaz.


“ Boleh, tapi sebentar aja ya. Oh iya, kenalin ini Tante Dewi dan Adik Aku Nando...,” kata Nuara sambil memperkenalkan Dewi dan Nando.


“ Assalamualaikum Tante, Nando...,” sapa Iyaz ramah.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut Dewi dan Nando bersamaan sambil tersenyum.


“ Kenalin juga ini kembaranku, namanya Izar...,” kata Iyaz sambil tersenyum.


Setelah saling memperkenalkan diri, Nuara mengajak Iyaz dan Izar masuk menjenguk sang mama. Saat tiba di ruang rawat mama Nuara, Iyaz dan Izar merasakan hawa mistis yang kuat yang melingkupi ruangan itu.


“ Papa ada Mas Iyaz nih...,” panggil Nuara mengejutkan sang papa.


“ Assalamualaikum Pak, gimana keadaan Ibu...?” tanya Iyaz santun sambil mencium punggung tangan Adam diikuti Izar.


“ Wa alaikumsalam, Saya juga ga ngerti Nak. Kondisinya mendadak memburuk. Padahal semalam gapapa, bahkan tadi waktu Kami tinggal sholat Subuh juga baik-baik aja kok...,” sahut Adam gusar.


Kemudian Iyaz meminjam tangan Adam untuk menyentuh kening dan perut mama Nuara. Kening Iyaz terlihat berkerut pertanda ia merasakan sesuatu.

__ADS_1


“ Keliatannya ada yang berniat jahat sama keluarga Bapak. Penyakit ini bukan penyakit medis Pak, ini semacam guna-guna. Mungkin sasaran awalnya adalah Bapak, tapi malah nyasar ke Ibu...,” kata Iyaz.


“ Ya Allah, kasian banget Kamu Ma. Maafin Papa ya Ma, harusnya yang sakit itu Papa bukan Mama...,” kata Adam sambil mengusap kepala istrinya dengan sayang.


“ Jangan ngomong gitu Pa. Ini bukan salah Papa. Diantara Kita harusnya ga ada yang sakit andai orang jahat itu ga ngirim guna-guna untuk keluarga Kita...,”sahut Nuara sambil memeluk sang papa.


“ Nuara  betul. Tapi Kita harus bergerak cepat menghentikan pengaruhnya supaya ga fatal akibatnya Pak...,” kata Iyaz.


“ Terus apa yang harus Saya lakukan Mas...?” tanya Adam panik.


“ Pindahkan Ibu ke ruang rawat inap dulu Pak, insya Allah Kami akan bantu nanti...,” sahut Iyaz.


Adam mengangguk setuju. Kemudian Iyaz dan Izar mengurus pemindahan mama Nuara dari ruang UGD ke ruang rawat inap.


Setelah dipindahkan ke ruang rawat inap, mama Nuara pun siuman. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri sambil mengamati keadaan sekelilingnya.


“ Alhamdulillah Mama udah siuman, apa yang sakit Ma...?” tanya Nuara dengan mata berkaca-kaca.


“ Mmm...,” sahut mama Nuara sambil menunjuk kearah perutnya.


Nuara pun membelai perut sang mama dengan lembut dan hati-hati. Nuara sengaja memasukkan telapak tangannya ke balik pakaian sang mama untuk menyentuh langsung perut sang mama yang membuncit itu. Mama Nuara terlihat berjingkat saat telapak tangan Nuara menyentuh perutnya. Ia menggigit bibirnya saat merasa sakit dan panas bersamaan.


“ Sakit Ma...?” tanya Nuara hati-hati.


“ Mmm...,” sahut mama Nuara sambil memejamkan matanya.


Adam yang duduk tak jauh dari Nuara dan istrinya nampak cemas melihat reaksi sang istri. Nando dan Dewi nampak bingung karena tak tahu harus berbuat apa. Mama Nuara selalu histeris saat mereka mendekat, itu lah sebabnya mereka menjaga jarak dan hanya mengamati dari jauh tanpa berani mendekat.


Tak lama kemudian mama Nuara terdengar menggeram. Nuara masih berusaha tenang meski pun jantungnya berdetak cepat saat melihat wajah sang mama yang memucat. Nuara terus berdzikir dalam hati lalu menghentikan usapannya pada perut sang mama saat ada sesuatu yang bergerak di sana.


Sedetik kemudian mama Nuara menjerit keras saat sesuatu dalam perutnya bergerak liar dan mendesak


keluar hingga perut mama Nuara tertarik ke atas dan membuat posisi tubuhnya yang  telentang melayang ke atas dengan posisi menekuk seolah ada magnet yang menarik perutnya.


“ Mama...!” panggil Nuara dan Nando bersamaan.


Mendengar suara kedua anaknya mama Nuara menoleh. Wajahnya nampak bersimbah air mata. Bibirnya bergetar seolah ingin menyampaikan sesuatu. Adam pun berusaha mendekat tapi mama Nuara menghentikannya.


“ Tetap di situ, biar Aku aja...,”


kata mama Nuara lirih sambil mengembangkan telapak tangannya kearah Adam dan


kedua anaknya.


Saat sesuatu dalam perutnya bergerak, mama Nuara kembali menjerit hingga akhirnya jatuh pingsan.

__ADS_1


\=====


__ADS_2