
Hari itu Jaya pamit bekerja seperti biasa. Ning pun mengingatkan suaminya agar pulang lebih awal karena ia perlu uang untuk membayar hutang di warung.
“ Kan Kamu waktunya gajian hari ini Mas. Langsung pulang ya, ga usah mampir kemana-mana dulu. Bu Icih udah ngoceh mulu tuh, Aku kan ga enak jadinya...,” kata Ning pagi itu.
“ Iya Ning, Kamu ga usah khawatir...,” sahut Jaya sambil menciumi Janisa, anak perempuan yang ada di pangkuannya.
Namun beberapa hari ini tingkah Janisa sedikit aneh. Selain rewel, Janisa juga sering memanggil sang papa jika sedang menangis. Meski agak cemas namun Ning mencoba maklum.
“ Papa..., Papa...,” panggil Janisa sambil menggelayuti Jaya yang hendak berangkat kerja.
“ Papa pergi dulu ya Sayang, Janisa sama Mama di rumah...,” bujuk Jaya.
“ Ga..., Papa..., Papa...,” sahut Janisa sambil mencengkram kuat kerah baju yang dipakai Jaya.
Setelah membujuk dengan berbagai cara, akhirnya Jaya bisa lepas dari cengkraman Janisa. Jaya pun pergi dengan langkah tergesa-gesa. Sebelum pergi Jaya sempat menoleh kearah Ning dan anaknya lalu tersenyum.
“ Aku menyayangi Kalian, selalu dan selamanya...,” kata Jaya sambil tersenyum.
“ Iya iya, Aku juga sayang sama Kamu. Hati-hati ya Mas, jangan lupa berdoa...,” sahut Ning dengan wajah merona.
Jaya mengangguk lalu pergi. Ning tak menyangka jika itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Jaya untuknya.
Malam harinya Ning mondar mandir di teras rumah sambil sesekali menoleh kearah gang depan rumah berharap sang suami kembali dengan membawa uang yang ia janjikan tadi. Tapi hingga jauh malam Jaya tak juga kembali. Hingga beberapa hari kemudian Jaya tak juga menampakkan batang hidungnya. Ning mulai kesal dan malu. Beruntung sang ibu mendapat rezeki nomplok hingga bisa membantunya membayar hutang di warung bu Icih.
Saat Ning sedang ke warung, ibu Ning duduk menemani sang cucu di dalam rumah. Pintu terbuka dengan sendirinya hingga membuat ibu Ning dan Janisa menoleh bersamaan. Tak ada apa pun di sana dan ibu Ning kembali menatap layar televisi. Sedangkan Janisa nampak tertawa senang sambil melonjak gembira.
“ Papa..., Papa uwang..., Papa nini...,” kata Janisa dengan cadel sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Ibu Ning terkejut dan merasa jika bulu kuduknya meremang saat mendengar ucapan Janisa tadi. Apalagi sang cucu
nampak berceloteh riang dengan ‘bahasa planet’nya itu. Ibu Ning makin cemas saat melihat Janisa berdiri lalu berlari ke kamar sambil memanggil papanya berulang kali.
“ Janisa sini Nak, Kamu mau kemana...?” tanya ibu Ning sambil meraih Janisa lalu menggendongnya dan membawanya menjauh dari kamar.
“ Nenek..., Papa. Ada Papa di nana...,” sahut Janisa hingga mengejutkan ibu Ning.
“ Ga ada Papa di sana Sayang, Papa Janisa kan lagi kerja...,” kata ibu Ning.
__ADS_1
“ Ada Papa di nana Nenek...,” sahut Janisa berulang-ulang lalu menangis keras.
Tiba-tiba Ibu Ning merasakan hembusan angin melintas di depannya bersamaan dengan aroma busuk yang menyeruak hingga membuat ibu Ning menahan nafas sejenak. Sesaat kemudian pintu rumah terbuka lalu tertutup dengan sendirinya seolah ada seseorang yang baru saja membuka dan menutup pintu.
Janisa makin keras menangis hingga membuat Ning lari tergopoh-gopoh ke rumah. Ning segera meraih Janisa dari gendongan ibunya dan membawanya keluar rumah.
“ Saat itu Saya berharap kalo dugaan Saya salah Mas, tapi nyatanya semua benar...,” kata ibu Ning sambil mengusap air matanya yang menderas di wajahnya.
Ning yang duduk di samping sang ibu nampak mencoba mengingat firasat yang ia terima saat Jaya tak kunjung kembali dan memberi kabar.
Ning ingat jika ia selalu terbangun saat tengah malam. Suara Jaya yang merintih di belakang kepalanya membuat Ning terbangun. Saat menoleh Ning tak melihat apa pun. Padahal Ning jelas merasakan tangan Jaya baru saja memeluk erat tubuhnya.
Hingga suatu malam Ning yang sedang menemani Janisa tidur tak sengaja melihat sekelebat bayangan melintas di depan pintu kamar. Ning tersenyum mengira jika bayangan itu adalah Jaya.
“ Mas..., Kamu udah pulang ya Mas. Mas...,” panggil Ning.
Karena tak ingin membangunkan Janisa yang baru saja terlelap, Ning pun turun dari tempat tidur lalu mengikat
rambutnya asal. Kemudian Ning pergi ke ruang tamu dan melihat Jaya sedang duduk sambil menunduk.
Jaya hanya diam dan tak menjawab hingga membuat Ning salah tingkah. Apalagi saat itu Ning merasa jika aura dalam ruangan itu sedikit berbeda, terasa mencekam dan jauh lebih dingin.
“ Mas...,” panggil Ning lembut sambil menyentuh tangan Jaya.
Ning terkejut saat menyentuh tangan Jaya yang dingin itu. Ning mengira jika suaminya kedinginan akibat udara malam dan berniat beranjak ke dapur untuk membuat kopi.
“ Aku buatin kopi dulu ya Mas...,” kata Ning dengan jantung yang berdetak tak menentu.
Namun saat Ning melangkah ke dapur Jaya terdengar mengatakan sesuatu yang membuat bulu kuduk Ning meremang.
“ Ga usah Ning, Aku udah ga bisa minum kopi buatanmu lagi. Maafin semua kesalahanku ya Ning. Dan tolong jaga Anak Kita baik-baik, didik dia jadi Anak yang sholehah...,” kata Jaya.
“ Kamu nyuruh Aku jagain Janisa sendirian Mas, enak aja. Kewajiban Kita buat menjaga dan mendidik dia, bukan cuma Aku Mas...,” protes Ning.
“ Aku juga maunya gitu Ning, tapi apa daya. Aku udah ga bisa ngelakuin itu...,” sahut Jaya dengan suara lirih.
Ning pun mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jaya yang terasa makin jauh itu. Saat Ning menoleh, ia tak melihat siapa pun di sana. Ning terpaku menatap kursi tempat Jaya duduk dan menghilang itu dengan perasaan berkecamuk. Untuk beberapa saat Ning tetap dalam posisi seperti itu. Suara tangis Janisa menyadarkan Ning hingga membuatnya bergegas ke kamar untuk menemui anaknya.
__ADS_1
Sambil menepuk lembut punggung Janisa, Ning melirik kearah jam dinding dan terkejut saat melihat jam menunjukkan pukul dua dini hari.
“ Apa ini artinya Kamu udah pergi Mas. Apa Kamu udah meninggalkan Aku dan Janisa selamanya. Ya Allah..., jika memang Mas Jaya telah meninggal dunia, tolong beri Aku kepastian. Tolong beritahu Aku dimana kuburnya...,” gumam Ning sambil menangis pasrah.
Malam itu Ning lewati dengan menangis sambil memeluk Janisa erat. Doa pun terus ia lantunkan agar ia bisa segera mengetahui keberadaan suaminya.
Kini tangis Ning kembali memenuhi ruangan. Doa Ning terjawab. Ia baru saja mendengar tentang kabar kematian suaminya dari Iyaz dan Izar. Ning pun berusaha meredam tangisnya namun gagal. Janisa yang ada di pangkuannya pun merosot turun lalu berjalan mendekati Iyaz dan Izar.
“ Papa..., Papa...,” panggil Janisa sambil menatap arwah Jaya yang ada di belakang Iyaz dan Izar.
“ Iya Nak, Papamu ada di sini...,” bisik Izar sambil meraih Janisa ke dalam pelukannya.
Mendengar ucapan Izar membuat Ning dan ibunya terkejut. Keduanya saling menatap sejenak lalu menoleh kearah Izar.
“ Apa Mas Jaya ada di sini...?” tanya Ning dengan suara bergetar.
“ Iya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Tolong katakan padanya jangan ganggu Janisa lagi. Kasian dia masih kecil. Biarkan Janisa hidup dengan normal tanpa bayang-bayang Papanya. Cukup melihat aja dari jauh tapi jangan ganggu Janisa...,” pinta Ning sambil menangis.
Mengerti dengan permintaan Ning, Iyaz dan Izar pun mengangguk. Kemudian Iyaz dan Izar membantu Jaya berkomunikasi dengan anaknya untuk terakhir kali. Percakapan Janisa dengan arwah papanya membuat Ning dan ibunya menangis meski pun mereka tak tahu persis apa yang diucapkan arwah Jaya pada anaknya.
“ Papa pergi dulu, Janisa ga boleh nakal ya. Janisa harus nurut sama Mama dan Nenek...,” kata arwah Jaya.
“ Papa nana...?” tanya Janisa dengan bola mata yang membulat menatap arwah sang papa.
“ Papa harus pergi Sayang. Janisa jadi Anak yang pinter dan sholehah ya, jangan cengeng. Jangan lupa doain Papa ya...,” kata arwah Jaya sambil memeluk dan menciumi sang anak.
“ Iya Papa. Dada Papaaa...,” sahut Janisa sambil melambaikan tangan mungilnya.
Jaya balas melambaikan tangan lalu perlahan pergi dan hilang ditelan gelapnya malam. Ajaibnya Janisa tak lagi
menangis. Ia mendekat kearah Ning, naik ke atas pangkuannya lalu mengecup pipi sang mama dengan lembut seolah ingin mengatakan jika semua akan baik-baik saja walau pun tanpa papa di samping mereka.
Ning dan ibunya pun kembali menangis. Iyaz dan Izar memberikan sejumlah uang dan berjanji akan kembali lagi. Mereka bermaksud menjadikan Janisa sebagai anak asuh agar masa depan Janisa lebih terjamin nanti.
Bersambung
__ADS_1