
Setelah sidang yang panjang, akhirnya vonis hukuman untuk Irwandi dan Meila pun dijatuhkan. Irwandi harus menerima hukuman penjara selama dua puluh tahun untuk kasus penggelapan uang dan pemerko**an yang menyebabkan Tania meninggal dunia. Sedangkan Meila diganjar hukuman sembilan tahun penjara karena terbukti melakukan penggelapan dan menghasut Irwandi untuk melenyapkan Tania. Keduanya juga diwajibkan mengembalikan uang toko yang telah mereka curi selama ini.
Usai vonis dibacakan Meila menangis histeris, sedangkan Irwandi nampak menundukkan wajahnya seolah menyesal dengan apa yang telah ia lakukan dulu. Apalagi di luar sana Nadifa juga telah bersiap menggugat cerai ditambah bukti KDRT yang telah ada dalam genggaman tangannya hingga membuat Irwandi merasa tak punya semangat hidup lagi.
Sedangkan Wina nampak tersenyum puas sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
“ Dia udah dihukum Tania, Kamu bisa tenang sekarang...,” gumam Wina di sela isak tangisnya sambil menatap iringan polisi yang membawa Irwandi dan Meila menuju mobil tahanan.
Kemudian Wina melangkahkan kakinya meninggalkan pengadilan dengan perasaan lega. Ia memang sengaja ijin satu hari agar bisa menyaksikan langsung reaksi Irwandi dan Meila saat vonis hakim dibacakan. Bahkan Wina sengaja merekam moment itu dengan kamera ponselnya untuk ia perlihatkan pada ketiga rekan kerjanya nanti.
\=====
Irwandi tersenyum bahagia saat mendengar sipir penjara mengatakan jika Nadifa dan kedua anak mereka datang untuk menjenguknya.
“ Papa...!” panggil Irna dan Irgi bersamaan.
“ Anak-anak. Papa kangen banget sama Kalian, apa kabar...?” tanya Irwandi sambil menciumi kedua anaknya bergantian.
“ Alhamdulillah Kami baik Pa...,” sahut Irna.
“ Iya, apalagi Kami udah pindah dari rumah Papa. Walau pun kecil tapi lebih nyaman daripada rumah besar Papa itu...,” kata Irgi dengan polosnya.
“ Pindah, kemana ?. Kenapa pindah, ada apa ini Ma...?” tanya Irwandi sambil menatap Nadifa.
“ Aku ga nyaman di sana Mas. Apalagi proses perceraian Kita juga hampir rampung. Aku cuma mau ngasih tau kalo hak asuh Anak-anak jatuh sama Aku...,” sahut Nadifa.
Irwandi terduduk lemas. Ia mengira Nadifa akan memberinya kesempatan kedua. Ternyata dia salah duga. Mengerti apa yang ada dalam benak Irwandi, Nadifa pun menjelaskannya perlahan.
“ Aku sengaja datang membawa Anak-anak supaya kamu tau kalo Aku ga bakal mutusin hubungan Kalian. Bagaimana pun Kalian adalah Ayah dan Anak yang ga akan bisa dipisahin dengan apa pun...,” kata Nadifa.
“ Apa ga ada kesempatan buat Aku Ma. Aku menyesal, Aku ga tau harus kemana saat Aku bebas nanti. Tolong kasih Aku kesempatan...,” kata Irwandi menghiba sambil menggenggam kedua tangan Nadifa erat.
“ Aku udah sering kasih Kamu kesempatan Mas. Tapi Kamu selalu mengkhianati Aku, lagi dan lagi. Kamu punya
__ADS_1
rumah dulu karena Kami selalu nunggu Kamu, tapi Kamu juga malah mencari rumah lain yang lebih nyaman untukmu karena merasa rumah dimana ada Aku dan Anak-anak itu ga menyenangkan...,” sahut Nadifa dingin sambil menarik tangannya dari genggaman Irwandi.
Irwandi nampak malu saat mendengar ucapan Nadifa. Tak ingin kehilangan kesempatan, Irwandi mulai merayu Irna dan Irgi. Ia berharap kedua anaknya bisa menjadi jembatan penghubung untuk meluluhkan hati Nadifa.
“ Irna dan Irgi sayang sama Papa dan Mama kan...?” tanya Irwandi.
“ Iya Pa...,” sahut Irna dan Irgi bersamaan.
“ Kalo gitu Kalian pasti mau kan kalo Papa sama Mama bersatu lagi...?” tanya Irwandi penuh harap.
“ Aku ga mau Pa...,” sahut Irgi hingga membuat Irwandi terkejut.
“ Kenapa...?” tanya Irwandi tak mengerti.
“ Kan Papa ga pernah sayang sama Mama. Lagian Papa cuma bisa bikin Mama nangis tiap hari. Aku ga suka ngeliat Mama sedih terus nangis. Makanya Papa ga usah balikan sama Mama lagi ya. Selama Papa ga tinggal sama Kami, Mama malah sering tersenyum dan keliatan cantik. Aku suka ngeliatnya...,” sahut Irgi dengan lugunya.
“ Iya Pa. Lagian Kami juga udah biasa tanpa Papa kok. Kan Papa jarang pulang juga. Tapi Aku janji bakal sering
jenguk Papa ke sini. Sama Irgi dan Mama atau sama siapa aja yang bisa anterin Kita. Iya kan Ma...?” tanya Irna sambil menatap Nadifa.
Mendengar ucapan kedua anaknya membuat Irwandi shock. Ia tak menyangka jika telah melukai hati Nadifa dan kedua anaknya teramat dalam. Irwandi pun tersenyum sambil menitikkan air mata saat Nadifa membawa kedua anaknya pergi meninggalkannya di balik jeruji besi. Dari kejauhan Irwandi melihat jika Nadifa dan kedua anaknya tertawa bahagia meski pun tanpa dirinya.
\=====
Meski pun Irwandi dan Meila telah dijatuhi hukuman dan kini sedang menjalani hukuman di penjara, ternyata suara berdetak itu masih kerap terdengar di dalam toko buku. Walau tak lagi menakutkan namun membuat Hanako bertanya-tanya.
“ Harus lakukan satu hal lagi supaya suara itu lenyap sama sekali. Dan ini sedikit riskan karena harus melibatkan Irwandi...,” kata Faiq saat Hanako menceritakan temuannya.
“ Gapapa Bang, biar Gue yang tanggung jawab...,” sahut Heru.
“ Ok. Kita tuntaskan semuanya besok...,” kata Faiq yang diangguki Heru dan Hanako.
Keesokan harinya Faiq dan Heru datang berkunjung ke toko buku dengan membawa Irwandi yang juga ada dalam pengawalan ketat polisi berseragam.
__ADS_1
Kemudian Hanako menunjukkan tempat dimana ia dan ketiga rekannya sering mendengar suara berdetak itu. Gofar yang juga hadir nampak menatap Irwandi dengan kesal.
“ Baik lah. Begini Pak Irwandi, kalo hantu Tania menampakkan diri nanti, tugasmu hanya satu. Bilang sama dia bahwa tugasnya sudah selesai...,” kata Faiq.
“ Baik Pak...,” sahut Irwandi sambil mengangguk karena merasa tak punya pilihan.
Tak lama kemudian proses pemanggilan arwah pun dimulai. Semua orang yang hadir di gudang pun ikut berdzikir. Perlahan arwah Tania menampakkan diri dalam keadaan sedang berdiri sambil menundukkan wajahnya seolah sedang berhitung menggunakan mesin hitung.
“ Sekarang...,” bisik Faiq yang diangguki Irwandi,
“ Ta..., Tania. Su..., sudah cukup. Tugasmu sudah selesai. Kamu bisa pergi sekarang. Saya bangga memiliki karyawan seperti Kamu. Ma..., maafkan Saya dan terima kasih...,” kata Irwandi terbata-bata.
Seolah mengerti apa yang diucapkan Irwandi, arwah Tania menghentikan aksinya lalu mendongakkan wajahnya. Irwandi nampak gemetar ketakutan karena melihat penampilan arwah Tania yang sangat mengerikan. Namun sesaat kemudian arwah Tania perlahan berubah menjadi Tania seperti saat ia sehat dan hidup dengan mengenakan seragam mini market tempatnya bekerja dulu. Irwandi tersenyum saat arwah Tania tersenyum padanya.
Perlahan arwah Tania menghilang menjadi asap putih lalu melayang di udara dan terbang terbawa angin melalui ventilasi di gudang itu.
“ Alhamdulillah...,” kata semua orang yang ada di dalam gudang bersamaan.
“ Insya Allah setelah ini Tania ga akan datang lagi Nak...,” kata Faiq sambil merangkul pundak Hanako.
“ Alhamdulillah, makasih Papa. Ternyata kalimat sederhana dari Pak Irwandi bisa membuat arwah Tania benar-benar pergi...,” sahut Hanako kagum.
“ Itu karena Tania adalah orang yang bertanggung jawab semasa hidupnya. Ia akan mengerjakan tugasnya dengan
baik dan sampai selesai. Tania merasa tugasnya belum selesai sebelum ada perintah selesai dari atasannya yaitu Pak Irwandi. Kita patut acungkan jempol buat prinsip Tania itu Nak...,” kata Faiq sambil tersenyum.
“ Iya Pa. Terima kasih ya Pak Irwandi karena udah mau bantu nganterin arwah Tania pergi...,” kata Hanako sambil tersenyum kearah Irwandi yang nampak salah tingkah itu.
“ Sama-sama Mbak...,” sahut Irwandi malu-malu.
“ Karena urusan Kita udah selesai, sekarang biar Pak Irwandi kembali ke lapas ya Bang...,” kata Heru yang diangguki Faiq.
Sesaat kemudian Irwandi pun diantar kembali ke lapas dengan dikawal polisi berseragam lengkap. Keempat karyawan toko buku nampak melepas kepergian Irwandi dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun dalam hati mereka berterima kasih karena Irwandi bersedia membantu Tania pergi setelah ‘menyelesaikan’ semua tugasnya.
__ADS_1
Bersambung