
Setelah usai jam kerja proyek, semua pekerja pun meninggalkan proyek pembangunan ruko itu satu per satu. Rusdi
pun beranjak pergi usai melepas kepergian Iyaz dan Izar. Hanya tinggal dua security proyek yang berjaga saat itu. Dan biasanya saat menjelang tengah malam security akan ditemani oleh beberapa orang yang dikenal sebagai preman kampung yang memang sengaja dipekerjakan untuk membantu menjaga keamanan proyek.
Iyaz dan Izar memang menepati janjinya untuk kembali ke proyek. Bukan lewat jalan depan tapi lewat jalan samping. Mereka sengaja menggunakan motor agar tak terlalu menarik perhatian.
Dari samping proyek yang berbatasan langsung dengan perkebunan warga itu Iyaz dan Izar melihat jika para security sedang berbincang akrab dengan para preman kampung itu. Bahkan salah seorang preman kampung ikut menemani saat salah seorang security mengontrol keamanan di malam hari.
“ Keliatannya mereka preman ya Zar...?” tanya Iyaz.
“ Iya...,” sahut Izar.
“ Kok ada preman di proyek ini, bisa gawat dong Zar...,” kata Iyaz.
“ Jangan salah Yaz. Mereka sengaja dibayar untuk membantu menjaga keamanan proyek. Hal yang beginian mah udah biasa di lapangan Yaz. Justru dengan melibatkan keamanan dari warga sekitar,,proyek Kita lebih aman karena mereka juga bertanggung jawab menjaga keamanan proyek yang ada di wilayah tempat tinggalnya...,” sahut Izar santai sambil mencari jalan masuk ke dalam proyek.
“ Maksud Kamu, Opa juga udah tau soal ini dan setuju gitu aja...?” tanya Iyaz.
“ Iya, udah ga usah cerewet. Yuk Kita ke sana...,” ajak Izar.
Iyaz mengangguk lalu mengikuti Izar dan berhenti di dekat pagar pembatas proyek yang terbuat dari seng itu. Setelah menunggu beberapa saat dua kepala tanpa tubuh yang mereka tunggu tadi pun memperlihatkan diri.
Tanpa basa basi Izar pun bertanya pada kedua hantu kepala itu.
“ Jadi Kalian ini sebenarnya apaan...?” tanya Izar.
“ Kami adalah tumbal proyek ini...,” sahut salah satu diantara dua kepala itu hingga membuat Iyaz dan Izar terkejut bukan kepalang.
“ Tumbal proyek, ga mungkin. Kalian jangan bohong ya. Kami ga pernah kasih perintah untuk numbalin sesuatu apalagi manusia...!” kata Iyaz lantang.
“ Kalian para petinggi di kantor tau apa sih soal proyek lapangan kaya gini...,” sahut salah satu kepala sambil mencibir kesal.
“ Kami memang ga tau apa-apa. Jadi tolong bicara yang benar...!” kata Izar galak.
__ADS_1
“ Kalo Kami bicara yang benar atau jujur, apa Kalian bisa mengembalikan hidup Kami. Apa Kalian juga bisa menjamin keselamatan keluarga Kami...?” tanya dua kepala itu sambil menatap Iyaz dan Izar bergantian.
Iyaz dan Izar pun terdiam sambil menatap kedua kepala yang berada di ujung kaki mereka. Sesaat kemudian keduanya pun berjongkok agar bisa menatap kedua kepala itu lebih intens. Wajah kedua kepala itu terlihat membiru tanda mereka telah menerima pukulan sebelum dihabisi. Ada luka di kening dan darah kering yang mengalir dari lubang telinga, hidung dan mulut. Bahkan salah satu kepala itu kehilangan bola matanya dan yang satu lagi tak memiliki bola mata sama sekali karena bola matanya hancur.
Izar memberanikan diri menyentuh salah satu kepala itu untuk melihat apa yang terjadi sebelumnya hingga kedua kepala itu mengaku telah ditumbalkan untuk kelangsungan proyek milik sang opa.
Peristiwa itu pun tergambar nyata di depan Izar. Ia melihat seorang pria tengah disandera dan dipukuli oleh sekelompok orang. Mereka terus memukul meski pun pria itu sudah meohon ampun dengan suara lirih.
“ Bayar hutangmu sia*an...!” maki seorang pria bertubuh tambun berkulit gelap dan berambut keriting yang dikenali sebagai Rusdi si mandor proyek.
“ Saya kan udah bayar Pak. Tapi kenapa hutang Saya ga pernah lunas, kan Saya mencicilnya tiap Minggu...,” sahut pria bernama Jaya itu sambil meringis menahan sakit.
“ Dasar bodoh, gimana mau lunas kalo bunganya aja Kamu ga sanggup bayar. Yang Kamu cicil tiap Minggu itu baru bunganya belum termasuk pokoknya. Jangan pura-pura ga tau ya Kamu...!” kata Rusdi kesal.
“ Jadi Saya harus bayar berapa lagi Pak...?” tanya Jaya.
“ Dua juta tiga ratus ribu lagi cash tanpa cicilan. Setelah itu Kau bebas...,” sahut Rusdi.
“ Dua juta tiga ratus ribu, kan Saya cuma pinjem sejuta Pak. Kenapa bengkak jadi segitu, terus bunga yang tadi katanya Saya cicil itu apa lagi pak...?” tanya Jaya tak mengerti.
“ Aku ada ide. Kebetulan proyek ruko yang di jalan X itu kan lagi kekurangan batu kali untuk pondasi. Jadi kayanya kepala Jaya bisa lah dijadiin pengganti batu kali yang belum dipasang itu...,” sahut Rusdi sambil menyeringai.
Mendengar ucapan Rusdi membuat Jaya ketakutan. Ia menjerit sekuat tenaga dan meminta tolong hingga pipis di celana saking takutnya. Sedangkan anak buah Rusdi pun tertawa geli melihat kepanikan Jaya. Rusdi nampak tak peduli. Sambil melangkah pergi ia mengatakan sesuatu yang menjadi tanda akhir hidup Jaya.
Jaya dipenggal hidup-hidup. Kemudian tubuhnya dilarung ke laut dan kepalanya dibungkus dengan kain lalu dimasukkan ke dalam plastik. Setelahnya potongan kepala Jaya dibawa ke proyek dan dimasukkan ke dalam lubang tiang pancang yang sedianya akan dicor keesokan harinya. Tak ada yang melihat apa yang dilakukan Rusdi. Dan kekejaman Rusdi juga berlaku pada sosok kepala lainnya.
“ Jadi hutang itu hanya modus untuk menjeratmu...,” kata Izar sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
“ Mungkin begitu...,” sahut kepala Jaya sedih.
“ Iya. Keliatannya sejak awal dia memang menginginkan Jaya sebagai tumbal dari proyek ini...,” sahut Iyaz.
“ Tapi kenapa Aku...?” tanya Jaya tak mengerti.
__ADS_1
“ Karena hari lahirmu sama dengan tumbal yang diinginkan oleh makhluk yang disembah oleh Rusdi...,” sahut Izar yang diangguki Iyaz.
“ Jadi Aku juga begitu...?” tanya kepala lainnya.
“ Apa weton atau hari lahirmu...?” tanya Iyaz.
“ Juma’at Kliwon...,” sahut kepala pria bernama Boril itu sendu.
“ Kita sama. Itu artinya tebakan mereka benar...,” kata Jaya gusar.
“ Aku kasian sama Anak dan Istriku. Mereka pasti mencariku. Aku pamit kerja dan meninggalkan mereka dengan janji akan bawa uang banyak jika pulang nanti. Tapi ternyata Aku mati sia-sia dan jasadku ga bisa diurus dengan layak...,” kata Boril sedih.
“ Apa Kau berhutang juga sama si Rusdi itu...?” tanya Iyaz.
“ Aku hanya minta gajiku di awal karena waktu itu Anakku sakit. Rusdi memang memberikannya tanpa syarat, jadi Aku pikir semua baik-baik saja. Ternyata seminggu setelah menerima uang itu Aku dibunuh dengan keji lalu kepalaku dipenggal dan dimasukkan ke dalam lubang di sana...,” sahut Boril sambil menatap kearah sumur tua yang terdapat di dalam proyek.
“ Kejam banget sih dia...!” kata Iyaz kesal.
“ Apa Rusdi tau kalo Kalian menerror para pekerja di sini...?” tanya Izar.
“ Tau Mas. Tapi kayanya dia malah senang...,” sahut Jaya.
“ Aneh. Pasti ada sesuatu yang salah sama otaknya si Rusdi itu...,” kata Izar sambil berdiri.
Iyaz pun ikut berdiri di samping Izar. Keduanya mengamati sekeliling proyek dengan kedua kepala buntung di hadapannya.
“ Baik lah. Tolong kasih kami waktu untuk mengurus semuanya. Tapi Kami ga akan bisa menyelamatkan jasad atau kepala Kalian lagi karena telah hancur dan membaur dengan cor-coran beton. Yang bisa Kami lakukan hanya menemui keluarga Kalian dan menceritakan kepergian Kalian dan memberi sedikit bantuan finansial...,” kata Izar yang diangguki Iyaz.
Kepala Jaya dan Boril nampak saling menatap lalu tersenyum. Mereka mengangguk cepat pertanda setuju dengan apa yang akan dilakukan Izar.
“ Terima kasih...,” kata kepala Jaya dan Boril lalu keduanya menggelinding kearah proyek dan hilang begitu saja.
Iyaz dan Izar masih berdiri sesaat di sana sambil mengepalkan kedua tangan. Setelahnya mereka memutuskan pergi dari sana dengan membawa amarah dan iba yang bercampur jadi satu.
__ADS_1
\=====