Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
210. Nangkap Tuyul


__ADS_3

Setelah Pita selesai menyusui bayinya, ia dan suaminya ikut bergabung bersama yang lainnya di ruang tamu. Kali ini Pita membawa serta bayinya karena tak ingin jika kejadian sebelumnya terulang lagi.


Kemudian Ramdan mulai menceritakan bagaimana awalnya ia bisa membeli rumah yang sekarang mereka tempati itu. Pandu, Iyaz dan Izar nampak mendengarkan dengan seksama.


“ Saya beli rumah ini dari kenalan teman Saya. Katanya sih dia lagi butuh uang gitu lah. Makanya rumah dan tanah ini dijual dengan harga murah. Saya dan Pita pengen mandiri setelah menikah, makanya Kami mutusin beli rumah ini. Sedikit renovasi dan bikin kamar bayi aja rumah ini udah keliatan bagus dan sesuai dengan impian Kami...,” kata Ramdan mengawali ceritanya.


“ Terus kenapa ga ngadain syukuran dulu sebelum nempati rumah ini...?” tanya Pandu tak sabar.


“ Kami emang salah Mas. Kami ga berpikir jauh. Kami pikir karena Kami udah sering ke sini buat ngeliat tukang yang kerja, jadi ga perlu ngadain syukuran lagi. Toh ini kan bukan rumah yang baru dibangun dari nol. Lagi pula Kami juga lagi berhemat dan fokus nyiapin biaya melahirkan sama aqiqah si kecil...,” sahut Ramdan dengan nada penyesalan.


“ Terus sejak kapan Kalian mengalami gangguan itu...?” tanya Iyaz.


“ Sebenernya sejak awal tinggal di sini Kami ngerasa ada yang aneh. Tapi Kami pikir itu hal biasa, namanya juga rumah baru...,” sahut Ramdan.


“ Gangguannya seperti apa...?” tanya Izar.


“ Biasa aja sih Mas. Kaya ada benda yang jatuh sendiri, atau kelebatan bayangan, atau juga suara-suara aneh. Tapi karena Pita ga protes, Saya pikir semua baik-baik aja. Sampe akhirnya hari ini setelah kedatangan Hanako yang nyuruh Kami ngadain syukuran, Saya ngeliat penampakan anak kecil dengan jelas. Mmm..., Saya nyebutnya sih tuyul, walau pun Saya ga yakin kalo itu tuyul...,” sahut Ramdan gusar.


“ Itu emang tuyul, tapi bukan penghuni asli rumah ini...,” kata Iyaz tiba-tiba.


“ Maksud Lo ada penghuni lainnya di rumah ini selain yang disebut Ramdan tadi...?” tanya Pandu.


“ Betul Mas. Walau ga bahaya tapi tetap aja keberadaannya mengganggu apalagi untuk si bayi...,” sahut Iyaz.


“ Jadi Saya harus gimana Mas. Saya ga mungkin pindah dari sini, karena hampir semua tabungan Saya udah kepake buat ngerenovasi rumah ini. Tapi saya juga ga mau kalo Anak Istri Saya diterror sama makhluk itu...,” kata Ramdan gusar.


“ Jangan serakah lah Dan, masa semuanya mau Lo pegang. Harus ada salah satu yang dikorbanin...,” kata Pandu sebal.

__ADS_1


“ Bukan serakah Mas. Gue cuma mau jujur aja sama Kalian tentang kondisi keuangan Gue saat ini...,” sahut Ramdan tak enak hati.


“ Insya Allah Kami bisa bantu, tapi Kalian juga harus ngikutin cara Kami...,” kata Izar.


“ Saya setuju, makasih ya Mas Izar...,” sahut Ramdan.


“ Jangan terima kasih dulu, kan Kami belum ngapa-ngapain...,” kata Izar sambil tertawa disambut tawa semua orang.


“ Sebaiknya Kalian ngungsi dulu ke rumah lainnya sampe Kami selesai meruqyah rumah ini...,” kata Iyaz.


“ Maaf Mas, apa ngeruqyah itu butuh waktu lama. Soalnya Kami mau ngadain aqiqah di sini minggu depan...?” tanya Pita.


“ Kami belum bisa jawab sekarang Mbak. Karena semua kan di luar kendali Kami...,” sahut Izar.


“ Gapapa Ma, biar selesai aja dulu urusan rumah ini. Aqiqah kan bisa Kita gelar di rumah Kakek Neneknya si kecil...,” kata Ramdan menengahi.


Malam itu Pandu membawa Ramdan, Pita dan bayinya pulang ke rumah orangtuanya. Sedangkan Iyaz dan Izar berjanji akan kembali keesokan harinya.


\=====


Keesokan harinya Iyaz dan Izar mengajak Hanako ikut serta meruqyah rumah Pita. Pandu dan Ramdan telah lebih dulu tiba di sana. Pandu nampak tersenyum melihat Hanako hadir bersama Iyaz dan Izar. Bagi Pandu kehadiran Hanako adalah bentuk dukungan untuknya dalam membantu mendamaikan rumah tangga sang adik.


Kemudian Iyaz dan Izar mulai mempersiapkan sebuah wadah berisi air dengan beberapa mainan di dalamnya. Jika biasanya orang menggunakan kepiting untuk menarik minat tuyul, tapi Iyaz dan Izar menggunakan mainan dan kelereng milik Haikal untuk menarik perhatian tuyul itu nanti. Pandu dan Ramdan hanya memperhatikan si kembar yang tengah menyusun mainan dan wadah berisi air itu sedemikian rupa agar menarik dilihat.


“ Kita mulai sekarang ya...,” kata Iyaz yang diangguki semua orang.


“ Kamu jangan jauh-jauh dari Aku ya Ci...,” pesan Izar yang diangguki Hanako.

__ADS_1


Kemudian mereka membagi tugas.Pandu dan Iyaz membaca Al Qur’an. Sedangkan Iyaz, Hanako dan Ramdan berdzikir.


Saat mendengar Pandu melantunkan ayat Al Qur’an, Hanako nampak terkesima. Jantungnya pun berdetak lebih cepat dan itu membuat wajahnya merona dengan mulut setengah terbuka. Hanako  tak menyangka jika Pandu mampu membaca Al Qur’an sebagus itu. Sifat usil Izar pun muncul saat melihat Hanako yang mematung mendengarkan suara Pandu.


“ Jangan nganga gitu Ci, biasa aja dong...,” bisik Izar di telinga Hanako.


“ Apaan sih Zar...,” sahut Hanako sambil menepuk lengan Izar dengan keras hingga membuat Izar tertawa.


“ Ehm. Serius lah Zar, Ci...,” kata Iyaz sambil menatap kembarannya itu dengan tatapan tajam.


“ Ups, sorry...,” sahut Izar lalu melanjutkan dzikirnya.


Tiba-tiba sekelebat angin menerpa mereka berlima yang tengah fokus dengan Al Qur’an dan dzikir. Mereka berlima nampak tak terusik dan tetap melanjutkan kegiatan mereka walau pun Ramdan sudah merasa tak nyaman karena bulu kuduknya meremang.


Sesaat kemudian Iyaz, Izar dan Hanako melihat dua tuyul mendekat kearah mainan yang berserakan di lantai. Seperti anak kecil pada umumnya, kedua tuyul itu juga tertarik dengan mainan yang beraneka bentuk dan warna itu. Keduanya sibuk bermain hingga tak menyadari jika mereka sudah masuk dalam perangkap.


Ramdan nampak panik saat melihat mainan di hadapannya bergerak-gerak tanpa disentuh. Ia melirik kearah Iyaz dan Izar karena khawatir. Namun saat melihat wajah si kembar terlihat santai, Ramdan pun berusaha tenang karena yakin tak akan terjadi sesuatu yang buruk nanti. Sedang di sampingnya Pandu nampak khusu melantunkan ayat Al Qur’an tanpa sekali pun terusik dengan gerakan mainan dan air dalam wadah.


Kemudian Izar memberi kode pada Iyaz untuk mulai bergerak. Sambil terus berdzikir keduanya mendekati kedua tuyul yang sedang asyik bermain itu. Mereka berhenti saat salah satu tuyul menoleh seperti menyadari kehadiran mereka. Dari jarak sedekat itu Iyaz dan Izar bisa melihat penampilan tuyul yang berkepala botak, berwajah tua dengan kulit mengeriput, kedua mata bulat besar dan dua taring kecil nampak menyembul di ujung bibirnya. Iyaz dan Izar menahan nafas untuk mengecoh sang tuyul, dan berhasil. Tuyul itu kembali fokus pada mainan karet berbentuk laba-laba yang ada dalam wadah.


Dengan mudah Iyaz dan Izar menangkap kedua tuyul itu lalu memasukkannya ke dalam dua botol kaca yang berbeda. Jeritan pun terdengar saat kedua tuyul itu dimasukkan ke dalam botol. Mereka meronta dan terus menggedor dinding botol dari dalam. Namun perlahan jeritan itu menghilang karena kedua tuyul itu jatuh tak sadarkan diri di dalam botol. Melihat hal itu Iyaz dan Izar saling menatap lalu tersenyum. Namun senyum mereka memudar saat mendengar jeritan Hanako.


“ Iyaz.., Izar..., awas di belakang Kalian...!” seru Hanako sambil bangkit dari duduknya.


Mendengar jeritan Hanako membuat Pandu menghentikan bacaannya karena khawatir pada gadis itu. Pandu melihat Hanako berdiri sambil menunjuk ke belakang Iyaz dan Izar. Pandu mengerutkan keningnya karena tak melihat apa pun di sana. Sedangkan wajah Ramdan nampak sudah memucat karena takut.


Pandu pun meletakkan Al Qur’an di atas meja lalu ikut berdiri di samping Hanako karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis yang ia cintai itu. Sedangkan Iyaz dan Izar dengan tenang membalikkan tubuh mereka untuk melihat  makhluk apa yang baru saja tiba di ruangan itu hingga membuat Hanako menjerit mengingatkan mereka tadi.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2