Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
304. Liburan Bersama


__ADS_3

Setelah acara resepsi pernikahan selesai, keluarga Faiq dan keluarga Adam bersiap untuk berlibur bersama. Mereka berencana berlibur ke tempat yang tak terlalu jauh dari Jakarta dan pilihan mereka jatuh ke kota Tasik Malaya.


Selama mempersiapkan keberangkatan mereka, Iyaz membawa Nuara pulang ke rumah sang Opa, tempatnya tinggal selama ini. Kamar Iyaz telah lebih dulu dihias untuk menyambut kedatangan Nuara.


“ Kalian pulang dulu ke rumah Oma ya, nanti pulang dari liburan baru Kalian pindah ke rumah sendiri...,” pinta Farah usai acara resepsi malam itu.


“ Iya Oma, Aku ikut aja apa kata Mas Iyaz...,” sahut Nuara sambil tersenyum.


“ Anak pintar. Makasih ya...,” kata Farah sambil memeluk Nuara erat.


“ Sekarang Oma udah punya cucu baru, cucu yang lama dilupain deh...,” kata Hanako merajuk hingga membuat semua orang tertawa.


Farah menoleh lalu tersenyum. Kemudian Farah merentangkan tangannya untuk memeluk Hanako yang tengah hamil besar itu.


“ Udah mau jadi calon ibu masih aja manja...,” kata Farah sambil memeluk Hanako.


“ Ini kan bawaan bayi Oma...,” gurau Hanako sambil tersenyum.


“ Bukan bawaan bayi Oma, Cici lagi nyindir Mas Pandu yang belakangan sibuk dan sering pulang malam. Makanya Cici jadi kesepian deh...,” kata Izar hingga membuat Pandu tersenyum.


“ Emang gitu Ci...?” tanya Farah sambil menatap Hanako.


“ Ga ada Oma. Itu bisa-bisanya si Izar aja kok...,” sahut Hanako.


“ Tapi itu kan isi curhatan Kamu sama Aku di kantor kemerin Ci...,” kata Izar tak mau kalah.


“ Izaaarrr...!, jangan bikin gosip baru Kamu ya...!” kata Hanako lantang sambil bersiap mengejar Izar.


“ Udah dong Sayang, jangan lari-lari lagi. Ingat, Kamu sedang hamil besar lho sekarang...,” kata Pandu mengingatkan istrinya.


Hanako pun mengurungkan niatnya mengejar Izar yang nampak menjauh sambil tertawa. Sedangkan semua orang kembali tertawa melihat sikap Izar dan Hanako. Adam dan istrinya pun nampak ikut tertawa. Dalam hati mereka merasa bahagia karena Nuara mendapatkan suami dan keluarga yang baik.


\=====


Malam itu Nuara yang kelelahan nampak terlelap di atas tempat tidur. Iyaz yang baru saja pulang dari masjid usai menunaikan sholat Isya berjamaah pun masuk ke dalam kamar. Iyaz tersenyum saat melihat Nuara yang berbaring tanpa sempat mengganti gaun pengantinnya.


Kemudian Iyaz mendekati istrinya lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Nuara.


“ Sayang bangun, apa Kamu ga mau ganti baju dulu...?” tanya Iyaz sambil menyentuh pipi Nuara dengan punggung tangannya.

__ADS_1


Mendapat sentuhan di wajahnya membuat Nuara terbangun. Ia mengerjapkan matanya lalu  menatap Iyaz yang tengah berbaring di sampingnya.


“ Mas Iyaz...,” panggil Nuara lirih.


“ Iya. Udah sholat Isya belum...?” tanya Iyaz dengan suara lembut.


“ Belum. Maaf Mas Aku ketiduran...,” kata Nuara sambil berusaha bangun dari tidurnya.


“ Gapapa. Pasti capek banget ya seharian pake high heels...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.


“ Iya sih..., tapi Aku seneng kok makenya...,” kata Nuara sambil memijit kakinya sendiri.


“ Biar Aku aja yang mijit...,” kata Iyaz sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh betis Nuara.


Nuara nampak berjingkat kaget saat tangan Iyaz memijit betisnya. Nuara pun berusaha menepis tangan Iyaz karena tak enak hati membiarkan sang suami memijit kakinya.


“ Jangan Mas...,” kata Nuara lirih.


“ Kenapa...?” tanya Iyaz tanpa melepaskan tangannya dari betis Nuara.


“ Kata Mama ga sopan. Kan harusnya Istri yang mijit Suami, masa ini malah terbalik Kamu yang mijit Aku...,” sahut Nuara malu.


“ Gitu ya. Kita juga bisa bikin rumah tangga Kita sesuai dengan keinginan Kita. Santai tapi beradab dan ga bertentangan dengan agama. Termasuk ini, ga ada aturan dalam agama siapa yang mijit siapa. Selagi Kita melakukannya dengan senang hati ya lakuin aja. Kamu setuju ga...?” tanya Iyaz sambil mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nuara yang tampak bersemu merah itu.


Nuara tampak terkejut, namun itu hanya sesaat. Detik berikutnya Nuara memejamkan matanya saat Iyaz menahan tengkuknya dan menciumnya lebih intens.


Setelah beberapa saat mereka pun menghentikan ciuman itu. Nuara langsung menyusupkan wajahnya ke dalam pelukan Iyaz karena malu. Iyaz nampak tersenyum bahagia sambil memeluk Nuara dengan erat. Sesekali Iyaz mendaratkan ciuman di kening sang istri.


“ Aku mau mandi Mas, gerah...,” kata Nuara sambil mengurai pelukannya.


“ Pake air hangat aja ya supaya ga masuk angin...,” kata Iyaz mengingatkan.


“ Iya Mas...,” sahut Nuara sambil berusaha melepas hiasan kepala yang memenuhi hijabnya.


“ Sini Aku bantu...,” kata Iyaz sambil mulai melepas hiasan di kepala Nuara.


Melihat Nuara yang tanpa hijab membuat Iyaz terpana hingga tak sadar jika Nuara telah menghilang di balik pintu kamar mandi. Iyaz pun menanti Nuara selesai mandi dengan sabar.


Setelah mandi Nuara pun menunaikan sholat Isya lalu menyusul Iyaz yang nampak menantinya di atas tempat tidur. Mereka saling menatap sambil tersenyum. Malam itu Nuara memenuhi hak Iyaz sebagai suaminya sesuai permintaan Iyaz saat penyematan cincin pernikahan tadi.

__ADS_1


Di luar sana langit malam nampak tenang ditemani bulan dan bintang yang bersinar redup mengiringi penyatuan cinta Iyaz dan Nuara.


( Puasa..., puasa..., segini aja ya readersku, khawatir dosa. He he he.... )


\=====


Rencana liburan keluarga Faiq dan keluarga Adam dilakukan sebagai sarana mendekatkan diri. Pernikahan Iyaz dan Nuara yang mendadak membuat kedua keluarga itu butuh waktu untuk saling mengenal dan menyesuaikan diri. Karenanya saat Farah mengusulkan liburan bersama, semua orang pun menyambutnya dengan antusias.


“ Ga usah jauh-jauh dan lama-lama juga. Cukup di daerah sekitar Jakarta aja. Satu dua hari cukup lah...,” kata Farah waktu itu.


“ Aku setuju Ma, itu bagus untuk keluarga Kita biar bisa saling kenal dan dekat. Iya kan Bu...?” tanya Shera pada mama Nuara.


“ Iya Bu, Saya juga setuju...,” sahut mama Nuara sambil tersenyum.


“ Kalo pengantinnya mau ikut boleh, atau kalo punya rencana liburan ke tempat lain berdua aja juga boleh...,” kata Farah.


“ Kami ikut gabung aja Oma...,” sahut Iyaz yang diangguki Nuara.


“ Serius mau ikutan. Ntar nyesel lho...,” kata Hanako mengingatkan.


“ Nyesel kenapa Ci...?” tanya Nuara tak mengerti.


“ Nyesel karena Kalian ga bisa berduaan karena tiap ada kesempatan pasti bakal Kami gangguin...,” sahut Hanako


santai sambil tersenyum penuh makna.


“ Aku tau siapa yang bakal gangguin...,” kata Iyaz.


“ Siapa Mas...?” tanya Nuara.


“ Pasti Izar dan Cici lah, siapa lagi emangnya selain mereka...,” sahut Iyaz cepat hingga membuat Hanako dan Izar tertawa puas.


Semua orang yang mendengar jawaban Iyaz pun ikut tertawa termasuk Nuara. Pandu nampak menggelengkan kepalanya melihat sang istri masih saja menggoda Iyaz dan Nuara padahal kondisinya sedang hamil besar.


“ Itu lah resiko kalo Kalian ikut liburan sama Kami. Harusnya Kalian tuh honey moon ke tempat yang romantis berdua aja. Bukannya malah ikut sama Kami yang berisik dan ribet...,” kata Hanako.


“ Gapapa Ci, Kami senang kok bisa gabung sama Kalian. Iya kan Mas...?” tanya Nuara.


“ Iya...,” sahut Iyaz pasrah.

__ADS_1


Jawaban Iyaz membuat Hanako, Pandu dan Izar kembali tertawa. Mereka tahu jika Iyaz sebenarnya  ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Nuara namun sayangnya Nuara tak menyadari hal itu.


\=====


__ADS_2