
Kondisi Hara membaik setelah menjalani pengobatan yang dilakukan oleh tiga bersaudara itu. Bahkan kini Hara mampu menggerakkan kakinya dan kembali berjalan meski pun masih dipapah. Hal ini membuat Graha dan Gayatri sangat bahagia dan berjanji akan memberikan apa pun yang diminta oleh Iyaz, Izar dan Hanako.
“ Kami ga minta apa-apa, Kami hanya ingin pulang Tuanku...,” kata Hanako.
“ Itu gampang. Kami pasti mengantarmu pulang...,” kata Gayatri cepat.
Tiba-tiba seorang pengawal pribadi raja Graha datang dan menyampaikan berita yang mengejutkan. Benda pusaka kerajaan dinyatakan hilang. Raja Graha dan istrinya nampak terkejut hingga terlonjak dari kursinya.
“ Bagaimana bisa hilang...?!” tanya raja Graha dengan gusar.
“ Pasti ada seseorang yang mencurinya Suamiku...,” kata Gayatri.
“ Iya, tapi siapa...?” tanya Graha.
Semua mata menatap kearah Iyaz, Izar dan Hanako seolah mencurigai ketiganya. Mendapat tatapan tak bersahabat membuat tiga bersaudara itu tersinggung.
“ Kalian bukan sedang menuduh Kami kan...?” tanya Izar sambil menatap tajam ke semua orang.
“ Kami memang orang asing di sini, tapi Kami datang kan karena dijemput oleh Raja Kalian langsung...,” kata Iyaz menambahkan.
“ Lagipula Kami ga tau dan ga pernah melihat benda pusaka milik kerajaan Kalian, jadi bagaimana bisa Kami mencurinya...,” kata Hanako.
“ Benda pusaka kerajaan Kami adalah sebuah batu permata berwarna biru safir berbentuk bola seukuran kepalan tangan orang dewasa. Bola permata itu ada di dalam mulut miniatur buaya yang ada di ruang penyimpanan benda pusaka...,” kata Gayatri.
“ Dan hanya orang dengan kekuatan khusus yang bisa menembus penjagaan ruang itu dan mengambil benda pusaka itu...,” kata raja Graha.
Iyaz, Izar dan Hanako saling menatap sejenak lalu mengangguk. Ketiganya mempersilakan para pengawal pribadi raja untuk menggeledah ketiganya.
“ Kalo kalian mencurigai Kami, Kalian bisa menggeledah Kami...,” kata Iyaz mempersilakan.
Terlihat jelas raut wajah Graha merah padam. Selain tak enak hati karena telah menuduh ketiga tamu yang ia bawa sendiri, ia juga terdesak oleh keadaan dan statusnya sebagai raja.
“ Maafkan Saya...,” kata raja Graha penuh sesal.
“ Kami maklum Tuan, gapapa lakukan saja...,” sahut Izar yang diangguki Iyaz dan Hanako.
__ADS_1
Ucapan Izar menguatkan Graha. Akhirnya ia mengangguk sam bil tersenyum lalu memerintahkan dua pengawal pribadinya dan dayang setia Gayatri untuk menggeledah ketiga bersaudara itu.
“ Pengawal geledah mereka...!” kata Graha tegas.
“ Baik Tuanku...,” sahut pengawal pribadi raja Graha.
Iyaz dan Izar pun digeledah oleh pengawal pribadi raja Graha, sedangkan Hanako digeledah oleh dayang setia Gayatri. Ketiga abdi dalam istana raja Graha itu nampak gugup saat melaksanakan perintah raja mereka. Sama seperti sang raja, ketiganya juga merasa tak enak hati saat harus menggeledah Iyaz, Izar dan Hanako yang telah berjasa menyembuhkan penyakit putri raja mereka.
“ Tak ada apa pun Tuanku...,” kata pengawal pribadi raja bersamaan.
“ Di tubuh Nona Hanako juga kosong Tuanku...,” kata dayang setia Gayatri.
Mendengar ucapan ketiga abdi dalam itu membuat Graha dan ketiga bersaudara itu bernafas lega. Kemudian raja Graha mempersilakan ketiga bersaudara itu masuk ke kamar mereka.
“ Sebaiknya Kalian tunggu di kamar dan jangan kemana-mana. Aku ga ingin para pengawal atau rakyatku mencurigai dan menyakiti Kalian. Karena Aku yakin mereka pasti juga telah mendengar hilangnya batu permata dari ruang penyimpanan...,” kata raja Graha.
“ Baik, terima kasih Tuan...,” kata Izar mewakili kedua saudaranya.
Kemudian Iyaz, Izar dan Hanako diantar kembali ke kamar oleh dua pengawal pribadi raja Graha. Mereka paham, itu adalah cara halus yang digunakan raja Graha untuk menahan mereka.
“ Sabar Ci. Aku yakin Raja Graha ga menuduh Kita. Dia justru menyelamatkan Kita dari tindakan main hakim sendiri yang bisa saja dilakukan rakyat atau pengawal yang marah...,” kata Iyaz dengan tenang.
“ Kamu betul. Kalo Aku merasa jika kasus ini adalah kasus sesungguhnya yang membuat Raja Graha menjemput Kita untuk datang ke sini. Penyakit putri Hara hanya permukaan sedangkan hilangnya permata itu adalah intinya...,” kata Izar sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“ Maksudmu Raja Graha tau kalo permata itu bakal hilang...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Bukan gitu Ci. Maksudku Raja Graha pasti telah mencium gelagat adanya pengkhianatan dari orang dalam istana. Cuma beliau belum tau siapa aja yang terlibat. Kebetulan putrinya juga sakit. Jadi dia lebih fokus mengupayakan kesembuhan putri Hara dibanding sibuk mencari tau tentang pengkhianat itu...,” sahut Izar.
“ Menurutku justru karena Raja Graha udah tau siapa pengkhianatnya makanya beliau bersikap pura-pura ga tau dan fokus sama penyakit putri Hara...,” kata Iyaz.
“ Betul Yaz. Keliatannya beliau memerlukan Kita untuk membantunya memecahkan kasus ini dan menemukan siapa pengkhianat sesungguhnya...,” kata Izar sambil menatap Iyaz dan Hanako bergantian.
“ Jadi Kita pasrah aja dan ga usah berusaha kabur gitu...?” tanya Hanako.
“ Iya...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
__ADS_1
“ Tapi sampe kapan...?” tanya Hanako gusar.
“ Kenapa Ci, udah kangen ya sama Mas Pandu...?” goda Izar sambil mengedipkan matanya.
“ Pasti dong Zar. Selain itu statusku sekarang kan seorang Istri bukan lagi gadis, Aku juga punya tanggung jawab yang harus Aku penuhi. Dan Aku ga mau Suamiku repot dan cemas mikirin Aku...,” sahut Hanako jujur dengan wajah yang merona hingga membuat Iyaz dan Izar pun tersenyum maklum.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh seseorang. Hanako maju untuk membuka pintu. Di balik pintu terlihat putri Hara tengah berdiri sambil membawa makanan untuk ketiga bersaudara itu.
“ Putri Hara, ada apa...?” tanya Hanako.
“ Mmm..., Aku mengantar makanan untuk Kalian. Apa Aku boleh masuk...?” tanya putri Hara sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah khawatir terlihat oleh orang lain.
Hanako menoleh kearah Iyaz dan Izar untuk minta pendapat mereka. Hanako tak ingin menimbulkan masalah dengan membiarkan putri Hara masuk ke dalam kamar yang mereka tempati.
“ Gapapa Ci, biarkan aja Hara masuk...,” kata Iyaz yang diangguki Hanako.
“ Masuk lah...,” kata Hanako sambil tersenyum.
Putri Hara mengangguk dan balas tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. Kemudian Putri Hara meletakkan nampan berisi makanan di atas meja.
“ Tolong maafkan sikap Ayah. Beliau tak bermaksud menuduh Kalian mencuri. Kami percaya Kalian bukan lah pencuri dan ga mungkin melakukan itu. Ayah hanya terdesak dengan keadaan. Aku sendiri juga kaget waktu dengar Kalian dituduh mencuri padahal Aku yakin itu bukan ulah Kalian...,” kata putri Hara.
“ Alhamdulillah Kami senang jika Kalian percaya kalo Kami ga mungkin melakukan hal itu...,” sahut Hanako.
“ Tolong bertahan lah sebentar lagi. Kalian mau kan...?” tanya putri Hara.
“ Untuk apa...?” tanya Iyaz.
“ Untuk membantu Ayahku menemukan siapa pencuri sesungguhnya. Bisa kan...?” tanya putri Hara penuh harap.
Iyaz, Izar dan Hanako saling menatap sejenak kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala.
“ Terima kasih...,” kata putri Hara terharu.
Setelah mengatakan hal itu putri Hara pun keluar dari kamar dengan wajah berbinar bahagia.
__ADS_1
\=====