Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
168. Karena Cinta


__ADS_3

Melihat goa tempatnya melakukan ritual hancur Burhan pun makin marah. Ia menjerit dan memaki. Lalu menghampiri Suraj dan Hanako dengan kemarahan yang membuncah. Namun langkah Burhan terhenti karena dihadang oleh Fatur dan Faiq.


Hanako menatap Suraj yang nampak meringis kesakitan karena harus menjadi tameng hidup untuknya dari lontaran batu sisa ambruknya goa. Saat itu Hanako merasa jika Suraj bukan lah orang jahat. Sikap Suraj yang dingin dan angkuh adalah buah dari tempaan hidup yang telah ia lalui yang nampaknya penuh dengan kekerasan.


“Mmm..., apa Pak Suraj baik-baik aja...?” tanya Hanako.


Mendengar pertanyaan Hanako membuat Suraj terkejut sekaligus senang. Ia mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Melihat Suraj mengangguk Hanako pun lega lalu mengalihkan perhatiannya pada Fatur dan Faiq yang tengah berhadapan dengan Burhan.


Kemudian Hanako merangsek maju dan meninggalkan Suraj yang terduduk sambil menyandarkan tubuhnya pada runtuhan goa. Dari tempatnya duduk Suraj melihat Hanako menggenggam keris yang dulu ia gunakan untuk menusuk jantung sang ibu. Suraj merasa sedih sekaligus cemas.


Saat melihat Hanako mendekat ke arena pertempuran membuat Fatur dan Faiq panik namun Burhan nampak bahagia. Burhan merasa misinya kali ini akan berjalan sempurna. Dengan beringas Burhan mendatangi Hanako  yang nampak berdiri dengan tenang. Dalam sekali lompatan Burhan berhasil tiba di hadapan Hanako dengan kedua tangan terkembang seolah ingin mencengkram Hanako. Namun gerakan tangan Burhan terhenti udara saat Hanako berhasil menusuk dadanya dengan keris dan tepat mengenai jantung Burhan.


Bersamaan dengan itu terdengar suara bising dari arah runtuhan goa yang berasal dari jeritan para hantu wanita yang tertawan di goa selama ini. Para hantu itu terbebas dari ikatan ghaib yang membelenggu mereka saat Burhan terluka oleh keris yang selalu digunakan untuk menghabisi korban-korbannya.


Darah merah kehitaman pun muncrat dari luka itu juga dari mulut Burhan. Hanako memejamkan matanya karena tak kuasa melihat darah yang keluar dari luka yang dibuatnya tadi.


“ Kata hantu itu Aku hanya perlu menggoresmu sedikit untuk mengalahkanmu. Tapi Kau malah datang mengantar nyawa. Jadi ini bukan salahku...,” kata Hanako lirih lalu mendorong tubuh Burhan dengan kedua tangannya hingga Burhan terjengkang jatuh ke tanah.


Gubrak !!


Tubuh Burhan yang terbanting ke tanah itu nampak bergetar hebat. Luka di dadanya mengeluarkan darah yang sangat banyak dan terus mengalir membasahi tanah layaknya kerbau yang disembelih. Lalu perlahan tubuh besar Burhan mulai berubah dan kembali ke ukuran normal. Tanduk di kepalanya pun lenyap dan berganti dengan rambut yang memutih. Wajah sangar Burhan pun berubah menjadi wajah laki-laki tua dan renta dengan kulit mengeriput. Burhan merintih kesakitan sambil mengepalkan tangannya.


Suraj yang melihat perubahan fisik sang kakek pun nampak iba. Perlahan ia menghampiri Burhan dan duduk di sampingnya.


“ Eyang...,” panggil Suraj.


“ Dasar Anak ga tau diri. Kau lah penyebab semua ini. Sia-sia Aku merawatmu selama ini...,” kata Burhan.


Ucapan Burhan membuat Suraj terkejut sekaligus kecewa. Ia merasa telah mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk membahagiakan sang kakek. Tapi sang kakek selalu meminta lebih hingga Suraj pun merasa muak.


“ Aku mengorbankan hidup Ibuku untukmu Eyang. Aku bahkan mengorbankan kebahagiaanku juga untukmu. Tapi hanya ucapan ini yang selalu kudengar. Aku tak yakin jika Kau adalah Kakekku. Karena tak ada rasa sayang sedikit pun darimu untukku...,” kata Suraj.


“ Jangan cengeng. Selama ini semua harta yang Kau nikmati Aku lah yang memberinya. Karirmu dan hidupmu Aku yang mengatur. Lalu darimana Kau bisa bilang Aku tak menyayangimu...?” tanya Burhan marah.


“ Harta yang Kau bilang itu bukan kah itu upahku karena Aku telah membantumu menyediakan wanita-wanita untuk Kau jadikan tumbal Eyang. Aku bekerja dan itu upahku. Bukan kah begitu Eyang...?” tanya Suraj tajam.

__ADS_1


“ Sampah. Kau sama saja seperti Bapakmu yang tak bisa diandalkan itu. Asal Kau tau, Bapakmu itu mati di tanganku karena dia menolak memberikan Surti sebagai persembahan. Dia bahkan menikahi Surti dan melahirkanmu. Padahal Surti adalah gadis istimewa yang akan membuatku abadi dan kaya raya. Tapi gapapa, meski pun terlambat toh akhirnya Aku bisa mempersembahkan dia pada Tuanku...,” kata Burhan sambil tersenyum sinis.


Mendengar ucapan Burhan membuat Suraj marah lalu memegang gagang keris yang tertancap di jantung Burhan.


“ Dasar pembunuh, iblis !. Mati dan pergi lah ke neraka...!” kata Suraj sambil memutar keris itu dan menggerakkannya ke sembarang arah dengan kasar hingga membuat luka itu bertambah lebar dan darah kian banyak.


Burhan menjerit kesakitan dengan mata membelalak marah menatap Suraj. Tangannya terulur seolah ingin menggapai Suraj namun tangan itu hanya menggantung di udara. Sesaat kemudian  Burhan terdiam dan mati dengan tangan menggantung di udara, mata membelalak dan dada jebol.


“ Cuihh..., selesai sudah...,” kata Suraj sambil meludahi wajah Burhan.


Kemudian Suraj meraih pemantik api dari saku celananya. Dengan santai ia menutupi mayat Burhan dengan ranting dan dedaunan kering yang berserakan di sana kemudian membakarnya. Dalam sekejap mayat Burhan pun dilalap api. Bersamaan dengan itu dari runtuhan goa berkelebat bayangan hitam yang jumlahnya sangat banyak. Rupanya mereka adalah para hantu wanita korban kekejaman Burhan selama ini.


Fatur, Faiq dan Hanako menyaksikan apa yang dilakukan Suraj. Mereka mengerti amarah Suraj dan masih bertahan di sana hingga Suraj selesai dengan aksinya itu. Perlahan Suraj membalikkan tubuhnya lalu melangkah menghampiri ketiganya.


“ Maafkan Saya Hanako. Maaf jika Kamu hampir jadi korban dari ilmu sesat iblis itu...,” kata Suraj penuh sesal.


“ Iya, gapapa Pak...,” sahut Hanako.


“ Sudah lama Saya ingin mengakhiri semuanya tapi selalu gagal. Entah kenapa sekarang Saya punya kekuatan lebih untuk melawannya dan mengakhiri semuanya...,” kata Suraj lirih.


“ Karena cinta...,” kata sebuah suara tanpa wujud.


“ Iya Nak. Kau mengakhiri semuanya karena Kau mencintai gadis itu. Cinta itu membuatmu kembali hidup dan semangat hingga Kau punya banyak harapan untuk Kau rangkai bersamanya. Dia memang wanita yang istimewa, sayangnya dia lebih layak jadi Anakmu...,” kata Surti sambil menatap Suraj iba.


Suraj menundukkan kepalanya sejenak dan mengangguk. Kemudian Suraj mendongakkan wajahnya sambil tersenyum.


“ Ibu benar, Aku memang mencintai dia. Tapi Aku tau diri dan ga akan memaksakan perasaanku ini. Melihatnya


selamat dan tetap hidup adalah sebuah anugrah terindah untukku...,” sahut Suraj sambil menatap Hanako lembut hingga membuat Hanako salah tingkah.


Fatur dan Faiq yang mendengar pengakuan Suraj pun tak bisa berbuat apa-apa. Namun mereka yakin jika Suraj tak akan menyakiti Hanako.


“ Sekarang waktunya Kita pergi. Tolong bantu Kami keluar dari tempat ini Nak...,” sela Fatur cepat hingga menyadarkan Suraj.


“ Pergi lah kearah sana dan jangan menoleh lagi...,” kata Surti sambil menunjuk ke suatu tempat.

__ADS_1


“ Gimana sama Ibu...?” tanya Suraj dengan suara serak.


“ Aku sudah lama mati Nak...,” sahut Surti mengingatkan hingga Suraj tersadar.


“ Kami akan membantu menyempurnakan jiwa Ibumu dan wanita-wanita korban Kakekmu itu nanti asal Kau bisa membawa Kami keluar dari sini secepatnya. Lihat lah kondisi Hanako sudah sangat lemah dan ga akan bisa bertahan lebih lama di sini...,” kata Fatur gusar yang diangguki Suraj.


Lalu Suraj memimpin mencari jalan keluar dari hutan itu. Sedangkan Hanako naik ke atas punggung Faiq karena tak kuasa menopang tubuhnya sendiri usai menusuk Burhan tadi. Perjalanan berlangsung cepat diiringi dzikir yang mereka lantunkan. Tak lama kemudian mereka tiba di pinggir jalan raya di dekat pintu tol. Saat menoleh ke kanan


mereka menemukan kendaraan mereka terparkir berurutan persis seperti saat mereka tinggalkan tadi. Hanya saja tiga kendaraan itu kini terparkir di atas bahu jalan.


“ Alhamdulillah...,” kata Faiq dan Fatur bersamaan.


“ Kita berhasil keluar Papa...?” tanya Hanako lirih.


“ Iya Nak...,” sahut Faiq.


Seorang security yang bertugas di pintu tol itu nampak mengerutkan keningnya karena melihat kemunculan mereka yang mendadak dari dalam rimbunan pohon yang berjajar rapi di pinggir jalan.


“ Selamat malam. Bapak-bapak ini darimana dan mau kemana ya...?” tanya sang security penasaran.


“ Kami dari rumah famili di sana Pak...,” sahut Suraj.


“ Memang ada rumah di sana...?” tanya sang security lagi sambil menatap deretan pohon di pinggir jalan.


“ Ada. Kami sengaja motong jalan biar cepat...,” sahut Suraj sambil membuka pintu mobil.


“ Maaf Pak, Kami harus segera ke Rumah Sakit karena Anak Saya sakit...,” kata Faiq.


“ Oh iya, silakan Pak...,” sahut sang security sambil menepi memberi jalan.


Faiq mendudukkan Hanako di dalam mobil lalu bergerak cepat melajukan kendaraannya diikuti Suraj. Sedangkan Fatur telah lebih dulu mengendarai motor matic Hanako dan meninggalkan tempat itu.


“ Kami permisi Pak, Assalamualaikum...,” pamit Faiq sambil melambaikan tangannya.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut sang security lalu kembali mengamati deretan pohon yang berjajar rapi di pinggir jalan itu.

__ADS_1


Karena penasaran, sang security pun mendekati deretan pohon itu dan terkejut karena tak ada apa pun di sana selain dinding pembatas terbuat dari beton yang lumayan tinggi. Ia juga tak menjumpai lubang di dinding yang menandakan pernah dilalui oleh keempat orang yang dijumpai tadi. Tiba-tiba pria itu merasa bulu kuduknya meremang. Seolah maklum jika apa yang dilihatnya tadi berhubungan dengan hal mistis, pria itu pun segera menjauhi tempat itu sambil tak henti berdzikir.


Bersambung


__ADS_2