
Faiq dan Shera mengantarkan kedua anaknya pergi ke pondok pesantren tempat Faiq mengenyam pendidikan dulu. Tiba di sana Shera, Iyaz dan Izar merasa takjub. Mereka mengira jika bangunan pesantren adalah bangunan
pondok yang kumuh, berdinding anyaman bambu , tanpa aliran listrik dan tempatnya terpencil. Tapi mereka salah.
Komplek pesantren itu merupakan bangunan modern yang didominasi gaya arsitektur Arab. Ada kelas-kelas untuk belajar yang mirip sekolah umum, di sampingnya ada masjid besar sebagai pusat kegiatan pesantren. Dilengkapi fasilitas penunjang lainnya seperti perpustakaan, ruang kesehatan dan kantin. Ada taman bunga yang dilengkapi kolam ikan tempat favorit para santri duduk sambil menghapal materi pelajaran. Juga mess untuk tempat tinggal
para santri yang terletak di bagian kanan sekolah.
Faiq nampak tersenyum melihat bangunan pesantren yang terlihat makin bagus. Faiq memang masih rutin mendonasikan sebagian penghasilannya untuk memajukan pesantren meski pun ia jarang berkunjung ke sana.
Kemudian Faiq membawa keluarganya pergi ke kantor guru untuk menemui kepala pondok pesantren yaitu Ustadz Hamzah, anak kandung almarhum Kyai Saad.
“ Assalamualaikum Ustadz Hamzah...,” sapa Faiq.
“ Wa alaikumsalam, Mas Faiq. Masya Allah, akhirnya Saya bisa melihat Kamu lagi setelah sekian tahun ga ketemu...,” sahut ustadz Hamzah antusias sambil memeluk Faiq erat.
Shera dan kedua anaknya ikut tersenyum saat melihat interaksi Faiq dengan ustadz Hamzah. Sesaat kemudian Faiq dan ustadz Hamzah saling mengurai pelukan dengan mata berkaca-kaca.
“ Semua tetap sama Mas Faiq, ga ada yang berubah. Fisik pesantren memang berubah, tapi hati Kami insya Allah ga akan berubah. Kami menjalankan pesantren sesuai amanah Abah...,” kata ustadz Hamzah sambil tersenyum.
“ Iya, Saya percaya Ustadz. Semoga amal jariyah Kyai Saad dan Pak Saman bermanfaat untuk umat dan diterima oleh Allah Swt. Aamiin...,” sahut Faiq sambil mengusap wajahnya.
“ Aamiin...,” sahut Ustadz Hamzah sambil tersenyum lalu mempersilakan Faiq dan keluarga kecilnya untuk duduk.
“ Oh iya, Saya ke sini sama Istri dan Anak-anak Saya Pak Ustadz. Iyaz dan Izar ingin belajar di sini...,” kata Faiq sambil melirik kearah kedua anaknya.
“ Semoga Kalian betah di sini sampe lulus nanti ya...,” kata ustadz Hamzah sambil mengusap kepala Iyaz dan Izar bergantian.
“ Insya Allah, aamiin...,” sahut Faiq dan keluarganya bersamaan.
Kemudian mereka terlibat pembicaraan santai sambil mengenang kebaikan Kyai Saad dan Pak Saman. Iyaz dan Izar terlihat tak nyaman dan berkali-kali melihat kearah luar.
“ Mmmm, Kami boleh liat-liat dulu ga Bun...?” tanya Izar sambil berbisik.
“ Boleh, tapi jangan nakal ya...,” sahut Shera.
“ Yeeyy..., makasih Bunda...,” kata Iyaz dan Izar antusias lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
Ustadz Hamzah nampak menggelengkan kepalanya melihat tingkah Iyaz dan Izar.
“ Mereka mirip banget sama Kamu waktu kecil Mas Faiq...,” kata ustadz Hamzah yang memang menambahkan panggilan ‘Mas’ untuk menghormati Faiq yang kini telah berkeluarga dan memiliki status sosial yang baik.
“ Alhamdulillah, makasih Ustadz...,” sahut Faiq bangga.
“ Masa mirip sama Ayahnya aja Pak Ustadz, padahal Saya yang mengandung lho...,” sela Shera pura-pura marah.
“ Tentu mirip Mbak Shera juga, tapi cuma sedikit...,” gurau ustadz Hamzah.
“ Gapapa deh, daripada ga sama sekali...,” sahut Shera cuek hingga membuat ustadz Hamzah dan Faiq tertawa.
Sementara itu Iyaz dan Izar tengah berkeliling mengamati lingkungan pesantren. Mereka nampak tersenyum karena merasa akan ‘betah’ mondok di pesantren itu. Kemudian Iyaz dan Izar pergi ke kantin untuk membeli minuman dan makanan ringan. Di sana mereka melihat gerombolan santri yang nampak mengantri di depan kios penjual makanan.
“ Kamu beli makanannya, Aku yang ngantri beli minumannya ya Zar...,” kata Iyaz.
“ Ok...,” sahut Izar lalu pergi ke kios lain yang menjual aneka makanan.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Iyaz pun duduk menunggu kembarannya di salah satu meja. Tak lama kemudian Izar menghampiri Iyaz sambil membawa dua piring siomay. Mereka pun menikmati makanan mereka dengan lahap tanpa menyadari jika mereka menjadi pusat perhatian di kantin itu. Salah seorang santri menghampiri mereka untuk berkenalan.
“ Assalamualaikum, maaf kalo mengganggu. Kalian ini kembar yaa...,” sapa santri itu ramah hingga mengejutkan Iyaz dan Izar.
__ADS_1
“ Wa alaikumsalam, iya Kak Kami kembar. Aku Iyaz dan ini Adikku Izar...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
“ Namaku Bandung, tapi bukan dari Bandung ya. Aku dari Bali...,” kata Bandung memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
Iyaz dan Izar tertawa lalu menyambut uluran tangan Bandung. Kemudian Bandung juga memperkenalkan teman-temannya kepada Iyaz dan Izar.
“ Nah, ini teman-temanku. Kami emang berasal dari daerah yang berbeda, tapi Kami udah kaya sodara. Yang ini Saeful, itu Aji dan yang besar itu Ahmad Roziq tapi biasa dipanggil Mat Roziq...,” kata Bandung.
Melihat postur tubuh Mat Roziq mengingatkan Iyaz dan Izar pada sahabat mereka Matheo. Dan itu membuat keduanya tersenyum sambil saling menatap penuh arti.
Setelah saling memperkenalkan diri, keenam anak laki-laki itu pun bergabung dan duduk bersama sambil menikmati sepiring siomay dan teh manis hangat. Sesekali tawa terdengar saat Mat Roziq menceritakan pengalamannya selama mondok di pesantren itu.
Rupanya Bandung cs adalah santri ‘senior’ karena sudah dua tahun mondok di pesantren yang dipimpin ustadz Hamzah itu. Dari kejauhan Faiq dan Shera nampak mengamati tingkah Iyaz dan Izar saat berada di tengah teman-teman barunya itu.
“ Gimana Bun, apa Kamu masih ga yakin untuk ngijinin mereka belajar di sini...?” tanya Faiq.
“ Awalnya Aku ragu, tapi sekarang ga lagi. Apalagi keliatannya si kembar mudah beradaptasi sama lingkungan yang baru ya Yah...,” sahut Shera.
“ Betul. Aku pikir ini baik untuk melatih kepekaan dan kemandirian mereka Bun. Apalagi Ustadz Hamzah juga bersedia membimbing mereka secara pribadi nanti. Insya Allah Anak-anak udah ada di tangan yang tepat, jadi Kita ga usah terlalu khawatir lagi Bun...,” kata Faiq menenangkan istrinya.
“ Ok, kalo gitu Aku setuju mereka mondok di sini Yah...,” sahut Shera mantap hingga membuat Faiq senang. Kemudian Faiq mengusap pipi istrinya itu dengan lembut sambil tersenyum.
“ Jadi Anakmu juga nyantri di sini Iq...?” tanya hantu Amsir tiba-tiba.
“ Insya Allah. Bukan Aku yang maksa tapi ini murni kemauan mereka sendiri lho...,” sahut Faiq cepat.
“ Aku tau. Aku senang karena sebentar lagi bakal punya teman baru yang seru kaya Kamu Iq...,” kata hantu Amsir sambil melayang mendekati Iyaz dan Izar.
“ Jangan ganggu mereka Sir. Mereka ke sini mau belajar bukan mau berpetualang...!” kata Faiq setengah berbisik.
Namun hantu Amsir mengabaikan ucapan Faiq dan memilih menyapa Iyaz dan Izar. Faiq hanya menghela nafas panjang karena tahu tak akan bisa mencegah hantu Amsir mendekati kedua anaknya.
\=====
“ Ini kamar Kalian. Kalo perlu apa-apa Kalian bisa ke kamarku yang pintunya warna hijau itu ya...,” kata Mat Roziq sambil menunjuk kamar yang ada di seberang kamar si kembar.
“ Baik Kak, makasih...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Sama-sama. Oh iya, nanti sholat Maghrib berjamaah di masjid ya. Semua santri wajib ikut tanpa terkecuali. Jangan lupa pake baju koko dan kopyah...,” kata Mat Roziq sambil berlalu.
“ Insya Allah siap Kak...,” sahut keempat santri itu bersamaan hingga membuat Mat Roziq tersenyum diam-diam.
“ Cowok tapi kok bawel sih, kaya Emak-emak rempong...,” gerutu Lucki kesal.
“ Dia bukan bawel, tapi ngasih tau. Emangnya Kamu mau hari pertama masuk aja udah dimarahin sama guru karena ga ikut peraturan...?” tanya Mirza ketus.
“ Ga mau lah...,” sahut Lucki cepat.
“ Makanya ga usah protes, udah buruan siap-siap...,” kata Mirza lagi sambil memasukkan pakaiannya ke dalam lemari.
“ Sebaiknya Kamu aja yang jadi ketua kamar Kita Mir...,” sela Iyaz tiba-tiba.
“ Kok Aku...?” protes Mirza.
“ Soalnya Kamu paling besar diantara Kita berempat...,” sahut Izar asal sambil naik ke atas tempat tidur susun.
“ Aku setuju...,” sahut Lucki.
“ Ok, tapi Kalian jangan bikin ulah macam-macam yang bikin Aku dipanggil ke kantor ya...,” ancam Mirza.
__ADS_1
“ Siap...!” sahut Iyaz, Izar dan Lucki bersamaan lalu keempatnya pun tertawa.
\=====
Seminggu sudah Iyaz dan Izar tinggal di pesantren. Mereka sibuk mengikuti semua kegiatan di pesantren hingga bisa sedikit melupakan rasa rindu pada kedua orangtua dan keluarga mereka di Jakarta.
Di akhir pekan biasanya pesantren memberikan waktu khusus kepada para santri untuk bisa keluar dari lingkungan pesantren. Dan pesantren juga mewajibkan para santri kembali ke pesantren sebelum Maghrib. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh sebagian santri untuk mengenal lingkungan sekitar. Iyaz dan Izar termasuk santri yang memanfaatkan kesempatan itu dengan baik.
Iyaz dan Izar tahu jika selama ini mereka diikuti oleh sosok hantu penghuni pesantren yang tak lain adalah Amsir, ‘teman lama’ ayah mereka. Namun sayangnya hantu Amsir tak bisa terlalu jauh meninggalkan pesantren. Ia
hanya bisa mengawasi si kembar dari kejauhan dan berharap keduanya baik-baik saja.
Menjelang Maghrib Iyaz cs pun kembali ke pesantren. Hantu Amsir nampak menunggu mereka di pintu gerbang dengan cemas layaknya seorang ayah yang menanti kepulangan anaknya.
“ Kenapa Kamu berdiri di sini...?” tanya Izar yang berjalan paling belakang.
“ Aku nungguin Kalian, Aku khawatir...,” sahut hantu Amsir.
“ Makasih udah khawatir, tapi Kami ga pergi jauh kok...,” kata Izar lagi.
“ Iya, tapi Aku tetap khawatir karena sedang ada wabah ulat bulu di kampung sebelah. Dan Aku ga mau Kalian terluka...,” sahut hantu Amsir.
“ Wabah ulat bulu, harusnya kan bisa dibasmi pake pestisida atau obat pembasmi serangga...,” celetuk Iyaz.
“ Ini bukan sembarang ulat bulu Yaz. Karena ulat bulu ini adalah tentaranya iblis yang marah karena penduduk desa lalai mengikuti peraturan mereka yang udah turun temurun itu. Mereka ga mempan dibakar, apalagi cuma disemprot pake pestisida...,” kata hantu Amsir menjelaskan.
Iyaz dan Izar terkejut mendengar jawaban hantu Amsir. Mereka saling menatap sejenak lalu tersenyum penuh misteri.
“ Menarik...,” gumam Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Kalian jangan macam-macam ya. Tugas Kalian tuh belajar bukannya cari masalah...,” kata hantu Amsir mengingatkan.
“ Tenang aja, Kami ga bakal macam-macam kok...,” sahut Izar sambil berlalu.
Namun jawaban Izar membuat hantu Amsir cemas. Ia yakin jika Iyaz dan Izar akan melakukan sesuatu yang tak lazim dilakukan oleh anak seusia mereka. Karena tak bisa mencegah niat si kembar, hantu Amsir pun melaporkan hal ini kepada ustadz Hamzah sang pimpinan pondok pesantren.
Ustadz Hamzah terkejut melihat kehadiran hantu Amsir yang juga temannya semasa remaja itu di kamarnya. Biasanya hantu Amsir enggan menemuinya jika ia sudah ada di rumah terutama di kamar tidur seperti ini.
" Ada apa, tumben Kamu ke sini...?" tanya ustadz Hamzah sambil tersenyum.
" Aku mau Kamu bantu Anaknya Faiq...," sahut hantu Amsir.
" Bantu apa Sir....?" tanya ustadz Hamzah tak mengerti.
" Mereka kayanya tertarik sama kasus ulat bulu yang menyerang kampung sebelah...," sahut hantu Amsir lagi.
" Mereka ga akan tau kalo bukan Kamu yang ngasih tau, iya kan...," kata ustadz Hamzah santai.
" Iya. Jadi gimana...?" tanya hantu Amsir gusar.
" Insya Allah Aku bakal kawal mereka karena ini juga tanggung jawabku...," sahut ustadz Hamzah.
" Alhamdulillah, makasih Hamzah....," kata hantu Amsirr sambil berlalu.
" Sama-sama...," sahut ustadz Hamzah sambil menatap hantu Amsir yang melayang menembus dinding.
Ternyata persahabatan Faiq dengan hantu Amsir dilanjutkan oleh kedua anak kembarnya dan itu membuat ustadz Hamzah tersenyum bangga.
Bersambung
__ADS_1