
Sejak Qiana diantar dan dijemput sang abi, gangguan dari pengagum rahasia pun perlahan berkurang bahkan berhenti sama sekali. Hal itu membuat semua orang yang dekat dengan Qiana pun heran termasuk Nita dan Desi.
“ Alhamdulillah sekarang gangguan dari mister X ga ada lagi. Keliatannya kehadiran Abiku bikin orang itu gentar
juga ya...,” kata Qiana sambil tersenyum saat Desi menanyakan perihal gangguan si pengagum rahasia itu.
“ Emang gitu Qi...?” tanya Nita tak percaya.
“ Iya...,” sahut Qiana cepat.
“ Alhamdulillah. Jadi aman dong kalo Kita hang out bareng lagi...?” tanya Desi penuh harap.
“ Insya Allah...,” sahut Qiana sambil tersenyum.
“ Yeeyy..., ayo Kita makan siang di luar buat ngerayain lepasnya Qiana dari kejaran si pengagum sakit itu...,” ajak Desi antusias.
“ Aku sik ok aja. Kamu gimana Qi...?” tanya Nita.
“ Mmm..., boleh lah. Tapi jangan terlalu jauh ya. Di tempat biasa aja mau ga...?” tanya Qiana sambil menoleh kearah Desi.
“ Boleh, yang penting kan bisa cari suasana baru. Sumpek juga lah Qi makan di kantin terus...,” kata Desi
dengan mimik lucu.
“ Halah, itu kan alasanmu aja. Bilang aja kalo Kamu ga siap kan ngeliat si Iwan sama gebetan barunya...,” sindir Nita sambil mencibir.
“ Emangnya Iwan udah punya gebetan baru, terus gimana dong sama Desi...?” tanya Qiana tak percaya.
“ Salah sendiri pake sok jual mahal. Akhirnya sekarang Iwan malah udah jalan sama cewek lain. Yah, walau ga secantik Desi tapi dia lumayan imut juga kok. Dan keliatannya si Iwan juga nyaman sama dia...,” sahut Nita sambil berdecak sebal.
Qiana menatap iba kearah Desi yang terlihat murung itu. Qiana dan Nita tahu betul bagaimana perasaan Desi kepada Iwan. Hanya karena Desi terlalu mengulur waktu, akhirnya sang pujaan hati pun melayang ke pelukan wanita lain.
“ Sebenernya ini pelajaran juga buat Kalian berdua. Jangan kebanyakan gengsi deh. Kalo Kita masih bertahan
dengan prinsip ‘wanita itu dikejar bukan mengejar’ ya liat sendiri endingnya. Cowok yang Kita taksir malah terbang ke pelukan cewek lain. Seediihhh tau gaa...,” kata Desi sambil tersenyum kecut.
“ Jadi dalam cinta ada juga istilah emansipasi wanita ya Des...?” tanya Qiana sambil tersenyum menggoda Desi yang patah hati itu.
“ Betul, seribu buat Qiana. Jadi berusaha lah, karena siapa tau cowok yang Kamu suka itu type menunggu buruan
dan bukan mengejar buruan...,” sahut Desi hingga membuat Nita dan Qiana tertawa.
“ Singa kali ah, pake memburu segala...,” kata Qiana di sela tawanya.
__ADS_1
“ Aku serius Qi, Nit...!” sergah Desi lantang.
“ Iya iya. Ya udah, sekarang Kita lanjut kerja dulu ya...,” kata Nita sambil menepuk pipi Desi hingga membuat
Desi kesal.
Qiana pun mengikuti Nita untuk kembali ke meja kerjanya dan bersiap melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
\=====
Saat jam makan siang Nita, Desi dan Qiana pun segera meluncur ke rumah makan yang biasa mereka datangi. Hanya rumah makan sederhana dan bukan rumah makan mewah. Yang membuat ketiganya nyaman adalah dekorasi di dalam ruangan yang terlihat klasik dan hangat hingga membuat ketiganya betah berlama-lama di sana.
Karena mereka langganan tetap di sana, mereka sengaja membooking tempat khusus untu mereka makan siang nanti.
Saat tiba di depan rumah makan, mereka sedikit terkejut karena rumah makan itu terlihat lebih ramai dari biasanya.
“ Rame banget sih, kayanya Kita ga kebagian tempat deh...,” keluh Nita.
“ Tenang aja Nit. Aku udah booking tempat duluan kok buat Kita. Yuk masuk...,” ajak Desi.
Qiana, Nita dan Desi pun masuk ke dalam rumah makan lalu duduk di tempat yang tersedia.
“ Fiuhh, aman deh kalo udah duduk kaya gini...,” kata Qiana sambil meletakkan tas yang dibawanya.
“ It’s Ok...,” sahut Qiana dan Nita bersamaan hingga membuat ketiganya tertawa.
Tak lama kemudian makanan dan minuman pesanan Desi pun diantar ke meja mereka. Keseruan pun terjadi saat mereka melahap makanan itu sambil bercerita banyak hal. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata tengah mengawasi ketiganya. Bukan, hanya mengawasi Qiana tepatnya. Hanya Qiana.
Sepasang mata milik seorang pria itu nampak berbinar melihat Qiana yang tertawa lepas. Ia pun ikut tersenyum
saat melihat gadis yang ditatapnya itu tersedak karena terkejut mendengar pertanyaan temannya.
“ Kebiasaan nih kalo ngomong ga pake filter...,” kata Qiana kesal.
“ Apaan sih Qi. Aku kan Cuma nanya Kamu udah berapa kali dikiss sama cowok yang bukan Abi Kamu. Emangnya aneh ya, ga kan...?” tanya Nita sambil menoleh kearah Desi.
“ Ga lah. Kan selain Abi Kamu bisa aja itu Kakek, Paman atau sepupu Kamu...,” sahut Desi mantap.
“ Oh Aku tau. Jangan-jangan Qiana ngumpetin sesuatu nih dari Kita. Pacar, iya pasti Qiana punya pacar nih
sekarang...,” goda Nita disambut tawa Desi.
“ Ish apaan sih. Aku ga punya pacar...!” sahut Qiana sambil membulatkan matanya.
__ADS_1
“ Masa sih. Aku ga percaya...,” kata Nita sambil mengamati Qiana dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“ Aku juga ga percaya...,” sela Desi dengan cepat.
“ Dasar kompor. Berhenti ya bikin suasana tambah panas...,” kata Qiana sambil mencubit lengan Desi dengan gemas.
“ Awww..., sakit dong Qi...!” jerit Desi sambil mengusap bekas cubitan Qiana yang memerah di kulit lengannya.
“ Rasain...,” sahut Qiana cuek hingga membuat Nita tertawa terbahak-bahak.
Suasana meja mereka yang terlihat ramai juga menarik perhatian pengunjung lainnya. Salah satunya Izar dan Usep
yang baru saja tiba di rumah makan itu.
“ Penuh banget Mas, kayanya Kita harus nunggu nih...,” kata Usep.
“ Keliatannya Kita ga perlu nunggu Pak. Ada tempat kosong kok di sebelah sana...,” sahut Izar sambil tersenyum
simpul.
“ Semua meja terisi Mas. Mana ada yang kosong. Kalo ada juga di luar bareng sama tukang parkir...,” gurau Usep sambil tertawa.
“ Pak Usep ga percaya, ayo ikut Saya...,” ajak Izar sambil melangkah mendekati meja Qiana dan dua temannya itu.
Usep pun mengekori Izar tanpa mengerti siapa yang akan didatangi oleh Izar. Saat tiba di dekat meja Qiana,
Izar pun menyapa Qiana.
“ Boleh ga Kami ikut gabung di sini, Qiana...?” tanya Izar tiba-tiba hingga mengejutkan Qiana dan kedua temannya.
Suasana hening sesaat. Qiana menatap kedua temannya bergantian seolah minta pendapat mereka. Desi dan Nita
juga telah mengenal Izar saat mereka menghadiri pembukaan kantor cabang di Cilodong tempo hari.
“ Boleh Pak Izar, mari silakan duduk...,” sahut Nita mewakili kedua temannya.
“ Tapi Saya ga sendiri lho. Saya sama teman Saya nih...,” kata Izar.
“ Iya gapapa...,” sahut Qiana sambil tersenyum.
Melihat senyum Qiana, Izar pun tersenyum. kemudian Izar dan Usep duduk di samping Qiana dan Nita.
\=====
__ADS_1