
Dalam penglihatan Iyaz dan Izar mereka melihat jika Nadifa meninggal dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Jasad Nadifa pun belum ditemukan hingga sekarang dan itu sebabnya hantu Nadifa masih berkeliaran untuk mencari bantuan.
“ Terakhir kali Kamu pergi kemana Nadifa...?” tanya Izar.
“ Mami memintaku menemui seseorang...,” sahut hantu Nadifa.
“ Mami siapa...?” tanya Iyaz tak mengerti.
“ Mucikari yang membawahi semua PSK di club malam itu Yaz. Kami memanggilnya Mami...,” sahut hantu Nadifa.
“ Oh gitu...,” kata Iyaz yang diangguki hantu Nadifa.
“ Mami memberi alamat pria yang membookingku. Dan saat itu Aku pergi ke sana diantar salah satu bodyguard Mami. Setelah menyerahkan Aku pada pria yang membookingku, bodyguard itu kembali ke club. Kemudian pria itu membawaku pergi menghadiri jamuan makan malam di sebuah hotel. Setelahnya ia membawaku ke sebuah villa di luar kota dan Kami menginap beberapa hari di sana. Selama bersama dengannya Aku melayaninya dengan baik. Hingga hari terakhir saat hendak kembali ke Jakarta terjadi hal yang membuatku malu...,” kata hantu Nadifa lalu menghentikan ceritanya.
“ Apa yang terjadi...?” tanya Izar tak sabar.
“ Istri pria itu datang dan melabrak Kami. Perempuan itu menarik rambutku dengan kasar lalu membawaku masuk ke dalam mobil dan memukuliku sepanjang perjalanan. Pria yang membookingku mencoba mengejar namun sayangnya dia kehilangan jejak...,” sahut hantu Nadifa dengan wajah sendu.
“ Kau dibawa kemana...?” tanya Izar.
“ Aku dibawa ke suatu tempat lalu Aku dipaksa keluar dari mobil. Perempuan itu terus memaksaku mengakui sesuatu yang tak kumengerti...,” sahut hantu Nadifa.
“ Mengakui apa...?” tanya Iyaz penasaran.
“ Aku dipaksa mengaku telah merayu Suaminya untuk mencuri dokumen penting perusahaan. Aku ga ngerti apa yang perempuan itu bilang, makanya Aku menolak. Aku udah bilang kalo Aku hanya wanita penghibur yang dibooking dan dibayar Suaminya untuk menemaninya selama beberapa hari. Mendengar pengakuanku perempuan itu makin marah lalu mendorongku ke jurang...,” sahut hantu Nadifa.
“ Setelahnya Kamu ditinggalkan begitu saja di sana. Lalu seorang pencari kayu menemukanmu dan berusaha membantumu. Namun sayangnya dia tergiur dengan kemolekan tubuhmu lalu memperk*samu saat Kamu sekarat...,” kata Izar.
“ Iya...,” sahut hantu Nadifa sedih.
“ Biadab sekali mereka...,” kata Iyaz sambil mengepalkan tangannya karena kesal
“ Aku memaafkan mereka dan menganggap itu hanya bagian dari takdir hidupku. Aku tau akan sulit bagi Kalian menemukan jasadku, makanya Aku memutuskan Kalian tak perlu mengurus jasadku. Aku hanya ingin Kalian memberi tahu Nuara kejadian sebenarnya. Tolong kasih tau Nuara dan kedua orangtuaku juga Ibu angkatku...,” pinta hantu Nadifa sambil berlinang air mata.
“ Kau lupa menyebut nama Ayah angkatmu...,” kata Izar mengingatkan.
“ Aku membencinya. Dia yang telah menjerumuskanku ke lembah nista dan menjadikanku seorang pelac*r. Sampe kapan pun Aku ga akan pernah memaafkannya...!” sahut hantu Nadifa lantang.
__ADS_1
Iyaz dan Izar saling menatap lalu mengangguk. Mereka pun berjanji akan menyampaikan semua pesan hantu Nadifa pada Nuara, orangtua kandungnya juga ibu angkatnya.
\=====
Ketegangan nampak memenuhi ruangan Hanako. Saat itu ada Hanako, Iyaz, Izar dan Nuara yang berkali-kali menghapus air matanya. Ia baru saja mendengar pesan Nadifa yang disampaikan oleh Iyaz.
“ Jadi hantu wanita itu Nadifa, kembaran Saya Pak...?” tanya Nuara dengan suara bergetar.
“ Iya...,” sahut Iyaz cepat.
“ Orangtua Saya pasti sedih kalo tau Nadifa udah meninggal. Selama ini mereka selalu berharap bisa ketemu lagi sama Nadifa untuk meluruskan semuanya...,” kata Nuara parau.
“ Ijinkan Saya bantu ngomong sama orangtua Kamu ya Ra...,” pinta Hanako.
Nuara tak dapat menolak karena ia pun merasa tak sanggup menyampaikan berita buruk itu. Mama Nuara histeris dan berusaha menyakiti diri sendiri saat Hanako menyampaikan berita duka itu hingga membuat semua orang panik. Setelah berhasil ditenangkan, papa Nuara pun menjelaskan semuanya.
“ Dulu Kami memang hidup susah tapi ga pernah terbersit dalam hati Kami untuk menjual apalagi membuang salah satu Anak Kami. Saat itu tetangga Kami yang bernama Bu Nur merasa iba karena melihat Istri Saya kerepotan mengasuh si kembar. Makanya dia berinisiatif membantu mengasuh Nadifa sampe Saya pulang kerja. Itu terjadi hampir tiap hari. Kami ga curiga sama sekali karena melihat Nadifa juga nyaman bersama Bu Nur. Hingga suatu hari Nuara sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit. Kami terpaksa menitipkan Nadifa sama Bu Nur karena khawatir Nadifa ga nyaman jika harus menginap di Rumah Sakit. Sayangnya saat Nuara sembuh dan Kami hendak menjemput Nadifa, Bu Nur udah pindah. Dia membawa serta Nadifa dan ga mengabari Kami sama sekali hingga hari ini...,” kata ayah Nuara sambil mengusap matanya yang basah.
“ Kami udah lapor Polisi tapi bayi Kami raib entah kemana. Apalagi Kami juga ga punya foto Nadifa sama sekali. Sampe akhirnya Nuara cerita kalo dia ketemu sama anak perempuan yang mirip sekali sama dia. Akhirnya Kami bisa melihat Nadifa. Kami bertemu untuk pertama dan terakhir kalinya dengan Nadifa saat merayakan kelulusan Nuara di restoran. Saat Saya akan memeluknya, tangan Nadifa ditarik oleh pria yang mengaku sebagai Ayahnya. Saya kaget karena ga menyangka kalo Suami Bu Nur bukan lah Pria yang kami kenal dulu. Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh pria itu untuk membawa Nadifa pergi entah kemana...,” kata mama Nuara.
“ Jadi Nadifa salah paham selama ini. Dia pikir Kalian membuangnya atau menjualnya kepada Bu Nur...,” kata Iyaz.
Hantu Nadifa yang saat itu berdiri di dekat Iyaz mendengar semuanya dengan jelas, ia pun nampak sedih.
“ Tapi Nadifa bilang Bu Nur menyayanginya dengan tulus. Nadifa minta Kami pergi ke rumah Bu Nur untuk menyampaikan berita ini...,” kata Iyaz.
“ Saya ga akan ikut ke rumah Bu Nur karena Saya ga mau lepas kendali nanti. Jujur Saya masih sakit hati sama Bu Nur yang udah tega misahin Nadifa dari Kami. Demi Nadifa Saya akan mencoba berdamai dan mengijinkan Kalian mengabari dia...,” kata papa Nuara dengan suara bergetar.
Iyaz, Izar dan Hanako pun maklum dengan keputusan papa Nuara. Bersama Nuara mereka memutuskan mendatangi rumah Bu Nur atas petunjuk hantu Nadifa.
Tiba di rumah bu Nur terlihat rumah dalam keadaan tertutup. Sayup-sayup terdengar tangisan dari dalam rumah diiringi racauan bu Nur.
“ Kemana Kamu Nak, kenapa ga pulang ke rumah. Apa Kamu marah sama Ibu karena ga mau jawab pertanyaanmu itu. Kalo Kamu pulang nanti, Ibu bakal bilang semuanya. Iya Kamu memang bukan Anak kandung Ibu. Kamu anak orang lain yang Ibu bawa lari karena Ibu sangat menyayangimu...,” kata bu Nur sambil memandangi foto Nadifa.
Mendengar pengakuan bu Nur membuat hantu Nadifa sedih. Nuara pun mengetuk pintu sambil mengucap salam. Bu Nur bergegas berlari membuka pintu. Saat melihat Nuara di depan pintu, bu Nur pun memeluknya erat sambil menangis. Namun sesaat kemudian bu Nur mengurai pelukannya karena menyadari gadis di hadapannya itu bukan lah Nadifa.
“ Kamu bukan Nadifa. Siapa Kamu...?” tanya bu Nur sambil mengamati Nuara yang mengenakan gamis panjang dan berhijab itu.
__ADS_1
“ Saya Nuara Bu...,” sahut Nuara.
“ Nuara, Kamu Nuara kembarannya Nadifa ?. Kok Kamu bisa tau Kami tinggal di sini...?” tanya bu Nur sambil
mundur beberapa langkah ke belakang.
“ Nadifa yang ngasih tau Bu...,” sahut Nuara dengan suara tercekat di tenggorokan.
“ Kalian udah ketemu ya. Sekarang mana Nadifa...?” tanya bu Nur sambil mencari-cari Nadifa di belakang Hanako dan si kembar.
“ Nadifa ga ikut Bu...,” sahut Hanako.
“ Kenapa, apa dia masih marah sama Saya...?” tanya bu Nur dengan nada kecewa.
“ Bukan itu. Maaf, apa Kami boleh masuk...?” tanya Hanako.
“ Oh tentu saja. Mari silakan masuk...,” sahut bu Nur antusias.
“ Terima kasih...,” kata Hanako dan Nuara bersamaan.
Kemudian mereka duduk berhadapan di ruang tamu yang sederhana itu. Nuara pun menceritakan apa yang terjadi pada Nadifa secara gamblang. Mendengar cerita Nuara, Bu Nur pun menangis histeris hingga Nuara pun tergerak memeluknya.
Setelah selesai menyampaikan pesan Nadifa, keempatnya pun undur diri. Bu Nur pun melepas kepergian tamunya dengan mata sembab. Sebelum Nadifa masuk ke dalam mobil bu Nur memeluknya sekali lagi.
“ Maafkan Saya karena telah memisahkanmu dengan Saudari kembarmu itu. Maaf. Tapi bisakah Saya menemuimu kalo Saya kangen sama Nadifa...?” tanya bu Nur penuh harap.
“ Iya Bu. Ibu bisa hubungi Saya atau temui Saya kapan aja...,” sahut Nuara sambil tersenyum.
“ Makasih Nuara, Kamu memang anak baik. Makasih...,” kata bu Nur sambil menangis.
“ Sama-sama Bu. Insya Allah Saya akan menyayangi Ibu sepert Nadifa menyayangi Ibu, jadi Ibu ga perlu khawatir. Kalo gitu saya pamit ya Bu. Assalamualaikum...,” sahut Nuara santun.
“ Wa alaikumsalam, hati-hati ya...,” kata bu Nur sambil melambaikan tangannya.
Nuara pun balas melambaikan tangannya sambil tersenyum. Kelegaan nampak menghiasi wajahnya. Meski pun sedih karena tak bisa memeluk Nadifa, namun Nuara bersyukur bisa membantu Nadifa. Dan semua berkat bantuan Iyaz, Izar dan Hanako.
Diam-diam Nuara pun menoleh kearah Iyaz yang saat itu juga tengah menatapnya dengan lembut. Nuara terkejut lalu mengalihkan tatapannya kearah lain dengan wajah merona. Iyaz pun nampak tersenyum melihat Nuara yang salah tingkah karena ulahnya.
__ADS_1
Bersambung