
Mardiyah membuka matanya dan melihat Gusman yang tengah duduk di sampingnya. Mardiyah bergegas bangun karena teringat ucapan Gusman yang akan meminta penjelasan padanya.
“ Gusman...,” panggil Mardiyah lirih.
“ Kau siuman, syukurlah...,” sahut Gusman.
“ Aku..., Aku minta maaf. Tapi dengarkan penjelasanku dulu...,” kata Mardiyah sambil memegangi tangan Gusman agar tak melayang menampar wajahnya.
“ Apa yang mau Kau jelaskan Mardiyah. Kau membohongiku selama ini. Anak-anakku bodoh karena tak sekolah. Beruntung Najas menikahi pria yang baik dan mau menerimanya dengan tulus. Jika tidak, bagaimana nasib Najas kelak. Dia pasti akan menderita karena ulahmu. Lalu Salman. Kenapa juga kau menyuruhnya berhenti sekolah. Dia laki-laki, langkahnya panjang. Dia lah yang bakal jadi pundak untukku bersandar saat Aku tua nanti. Tapi kau malah menghancurkan semua impianku dan harapanku Mardiyah. Kenapa Kau lakukan ini Mardiyah. Mereka kan Anak-anakmu...,” kata Gusman sedih.
Mardiyah menangis seolah menyesali perbuatannya. Ia hanya berakting seolah ia terpaksa dan berada dalam tekanan saat melakukan itu.
“ Kau juga menyuruh Salman dan Najas bekerja. Lalu kau merampas uang mereka. Untuk apa Mardiyah, apa uang
yang Aku berikan tak cukup untukmu. Kau juga bekerja dan Aku tak pernah meminta sepeser pun uang gajimu kan. Lalu kenapa Kau perlakukan Salman dan Najas seperti itu. Kau Ibunya, Ibu kandung mereka. Aku ga nyangka Kamu bisa sejahat ini Mardiyah...,” kata Gusman sambil menatap Mardiyah lekat.
Mardiyah menundukkan wajahnya sesaat lalu memberanikan diri menatap Gusman.
“ Ceraikan Aku Gusman. Aku lelah dan muak dengan semua ini...,” kata Mardiyah tiba-tiba.
“ Kau ingin bercerai setelah Kau hancurkan keluarga ini Mardiyah. Dimana hati nuranimu...?” tanya Gusman tak percaya.
“ Aku menghancurkan keluarga ini. Itu betul. Lalu apa maumu sekarang Gusman. Bukan kah sebaiknya Kau ceraikan Aku supaya Kau bisa bebas dari orang jahat sepertiku...?” tanya Mardiyah sinis.
“ Aku ga akan menceraikanmu Mardiyah. Ini adalah hukumanmu karena telah berani bermain api di belakangku...,” sahut Gusman.
“ Main api apa maksudmu Gusman...?” tanya Mardiyah panik.
“ Aku tau Kau telah mendua Mardiyah. Tapi Aku bertahan karena Anak-anak. Karena saat ini Anak-anakku sudah menjauh dariku, jadi Aku hanya bisa mengandalkanmu untuk berada di sisiku...,” sahut Gusman.
“ Sia*an. Aku ga mau Gusman. Ceraikan Aku sekarang...!” jerit Mardiyah namun Gusman mengabaikannya lalu keluar dari kamar dan mengunci pintu kamar.
Mardiyah memaki dan melempar benda-benda yang berada di dekatnya kearah pintu. Sedangkan Gusman nampak memejamkan matanya sambil bersandar di balik pintu. Sementara itu arwah Marwah menatap iba kearah Gusman dengan penuh sesal karena tak kuasa menghiburnya.
\=====
__ADS_1
Mardiyah menemui Marwah di toko kain untuk minta sejumlah uang. Saat itu Marwah sedang bekerja paruh waktu di sana agar bisa punya uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
Jeritan dan makian Mardiyah membuat Marwah malu. Apalagi saat itu sedang banyak pembeli di toko kain itu. Karena tak enak hati akhirnya Marwah membawa Mardiyah keluar dari toko.
“ Jangan kaya gini Bu, Aku lagi kerja. Gimana kalo Aku dipecat nanti...?” tanya Marwah hampir menangis.
“ Makanya berikan uangmu sekarang. Ibu lagi perlu banget nih. Kebutuhan sekolah Adikmu sangat mendesak. Ibu ga tau harus pinjam sama siapa lagi...,” sahut Mardiyah berbohong.
“ Uang yang mana lagi Bu. Uangku kan udah Ibu ambil Minggu lalu. Ini belum sebulan tapi Ibu udah tiga kali ke sini. Ada apa sebenarnya Ibu ke sini, kan ongkos dari rumah ke sini juga lumayan besar. Kalo lbu butuh uang harusnya ga usah ke sini kan bisa telephon Aku...,” kata Marwah ketus.
“ Jangan kurang ajar Kamu ya Marwah. Usahakan uang itu secepatnya. Ibu tunggu Kamu di kamar kost...,” kata Mardiyah ketus sambil berlalu.
Marwah menatap punggung Mardiyah sambil mengepalkan tangannya. Marwah tahu jika Mardiyah berbohong. Ia tahu ibunya memberikan uang itu pada pria selingkuhannya itu. Dan kali ini Marwah tak ingin bersabar lagi.
Marwah mengikuti Mardiyah yang tengah berjalan menuju sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Di depan matanya Marwah menyaksikan sang ibu bercumbu dengan pria selingkuhannya itu. Bahkan mereka melakukan hubungan int*m layaknya suami istri. Marwah menutup mulutnya karena terkejut melihat adegan ranjang Mardiyah dan pria selingkuhannya itu dari balik jendela kamar.
Saat menyadari perbuatannya diketahui oleh Marwah, Malhaj marah dan menghubungi rekannya melalui telephon lalu menyuruh rekannya itu menghabisi Marwah tanpa sepengetahuan Mardiyah. Marwah yang tengah sembunyi di balik jendela pun dipukul dengan balok kayu hingga pingsan. Setelahnya tubuh Marwah ditinggalkan tergeletak begitu saja di dekat jendela.
Saat Mardiyah keluar dari rumah Malhaj, ia mendapati beberapa orang tengah berkerumun di dekat jendela samping rumah Malhaj. Saat mengetahui Marwah pingsan, Mardiyah pun panik. Apalagi ada darah yang keluar dari sela bibir, hidung dan telinga Marwah saat itu.
“ Antarkan pulang ke kostnya, langsung masukin ke kamarnya. Bukannya Kamu bawa kunci kamar Marwah...?” tanya Malhaj.
“ Iya...,” sahut Mardiyah cepat.
“ Bagus. Ayo Kita ke sana sekarang...,” ajak Malhaj yang diangguki Mardiyah.
Dengan menggunakan taxi Mardiyah dan Malhaj membawa tubuh Marwah pulang ke rumah kost. Saat tiba di sana, kost khusus putri itu masih sepi karena semua penghuni kost sibuk bekerja dan kuliah. Mardiyah dan Malhaj menggotong tubuh Marwah lalu memasukkannya ke dalam kamar, meletakkan di atas tempat tidur dan meninggalkan tempat itu dengan segera.
“ Ayo cepat, apalagi yang Kau cari...,” kata Malhaj.
“ Iya sebentar, Aku punya ide untuk mengelabui semua orang...,” sahut Mardiyah.
“ Apa...?” tanya Malhaj.
“ Surat...,” sahut Mardiyah sambil menulis beberapa kalimat di kertas lalu meletakkannya di dalam laci. Kertas itu lah yang jadi pegangan pihak kepolisian untuk menutup kasus kematian Marwah karena menganggap jika Marwah depresi karena persoalan keluarga. Aneh !.
__ADS_1
Mardiyah tak pernah tahu jika saat itu Marwah tengah sekarat akibat hantaman balok kayu yang menghantam kepala dan wajahnya tadi. Setelah meninggalkan Marwah di kamar kostnya, Mardiyah bergegas pulang ke rumah Gusman.
Awalnya Mardiyah tak bisa tidur karena khawatir jika Marwah akan menceritakan perselingkuhannya dengan Malhaj pada suaminya. Namun rupanya kekhawatiran Mardiyah tak terbukti. Malam itu Mardiyah bisa tidur nyenyak dan melupakan kekhawatirannya. Hingga esok harinya kabar duka itu sampai ke telinganya. Mardiyah terpukul dan tak
menyangka jika Marwah meninggal dunia. Dalam hati Mardiyah menyesal tak membawa Marwah ke Rumah Sakit untuk mengobati lukanya. Namun penyesalan itu hanya disimpan Mardiyah dalam hati.
Diagnosa team medis yang diterjunkan ke TKP mengatakan jika Marwah meninggal akibat luka parah di kepala. Pendarahan di dalam kepalanya menyebabkan kematian. Marwah tak pernah siuman sejak ia dipukul oleh orang yang tak ia kenal.
Mardiyah tersentak kaget saat melihat lagi penampakan hantu Marwah di kamarnya. Kali ini Mardiyah bertekad menghadapinya dengan berani.
“ Mau apa lagi Marwah...?” tanya Mardiyah.
“ Mau mengingatkan Ibu jika petualanganmu dan kebebasanmu akan segera berakhir...,” sahut hantu Mardiyah sambil tersenyum.
“ Kenapa menggangguku terus Marwah...?” tanya Mardiyah putus asa.
“ Karena kau juga menggangguku terus Ibu, bahkan hingga akhir hayatku...,” sahut hantu Marwah.
“ Pergi lah Marwah, pergiii...!” kata Mardiyah lantang.
“ Pasti Ibu, tapi nanti setelah melihatmu dan kekasihmu mendekam di penjara...,” sahut hantu Marwah.
“ Aku ga membunuhmu dia juga tidak. Jadi berhenti membual Marwah...!” kata Mardiyah lantang.
“ Tapi Kau tak menolongku Ibu. Kau membiarkan luka itu merenggut nyawaku. Kenapa Ibu...?” tanya hantu Marwah sedih.
“ Aku..., maafkan Aku Marwah. Aku bingung, Aku...,” ucapan Mardiyah terputus saat hantu Marwah melayang makin mendekat kearahnya dengan tatapan marah dan kecewa.
“ Aku kesakitan Bu, tubuhku terasa hancur lebur seperti ini...,” kata hantu Marwah sambil menyeringai.
Usai mengatakan itu, wajah hantu Marwah yang awalnya pucat dan lebam kebiruan itu perlahan mulai meleleh bersamaan dengan darah yang mengalir dari sela bibir, lubang hidung dan telinganya. Bukan hanya wajah yang meleleh namun semua tubuhnya. Lelehan tubuh hantu Marwah jatuh di lantai membentuk sebuah genangan berwarna kehitaman berbau busuk. Mardiyah seolah dipaksa menyaksikan semua proses melelehnya tubuh hantu Marwah dengan kedua mata terbuka dan tubuh gemetar. Dan akhirnya Mardiyah menjerit sekencang-kencangnya karena tak sanggup melihat semuanya.
Jeritan Mardiyah membuat Gusman terbangun lalu bergegas membuka pintu kamar yang sengaja dikuncinya tadi. Saat pintu terbuka Gusman bisa melihat Mardiyah duduk dengan kacau di sudut kamar. Ada rasa iba di hati Gusman namun ia juga kesal jika mengingat apa yang dilakukan Mardiyah terhadap anak-anaknya.
Bersambung
__ADS_1