
Kepergian Iyaz ke Mesir membuat semua anggota keluarga bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena akhirnya diantara mereka ada yang memiliki kepandaian di atas rata-rata dan pergi ke universitas Al Azhar Mesir dengan beasiswa. Sedih karena harus berpisah dalam kurun waktu yang lumayan lama.
Bagi keluarga Faiq, tak bertemu apalagi berkumpul dalam waktu tiga bulan saja sudah terhitung lama. Apalagi Iyaz harus menempuh pendidikan selama tiga sampai empat tahun lamanya. Meski pun ada waktu libur nampaknya Iyaz memutuskan untuk tinggal di sana selama menempuh pendidikan.
“ Jangan nangis dong Bun. Aku kan pergi belajar bukannya pergi perang...,” goda Iyaz sambil mempererat pelukannya.
“ Kamu tuh ngeledek mulu sih Yaz. Bunda tuh sedih karena harus jauh sama Kamu...,” sahut Shera sambil mengusap air mata yang jatuh di ujung matanya.
“ Tapi kan ini bukan yang pertama kali Bun. Ini udah terjadi selama enam tahun saat Aku sama Izar di pesantren lho. Harusnya Bunda udah terbiasa dong. Sekarang malah Bunda lebih enak karena ga bakal sendirian, kan ada Izar yang bakal nemenin Bunda supaya Bunda ga kesepian lagi...,” hibur Iyaz sambil mengecup kening sang bunda dengan sayang.
Shera tahu sia-sia saja tangisnya karena tak akan merubah apa pun. Kepergian Iyaz adalah hasil musyawarah
keluarga. Rasanya tak bijak jika sekarang ia menghalangi langkah Iyaz untuk menggapai impiannya. Shera mengurai pelukannya sambil tersenyum.
“ Bunda tau Sayang. Pergi lah Nak, Bunda pasti sabar nunggu Kamu pulang. Buat Bunda sama Ayah dan keluarga Kita bangga ya Nak...,” kata Shera sambil mengusap kedua pipi Iyaz dengan lembut dan mencium kepala Iyaz dalam-dalam.
“ Insya Allah Bun...,” sahut Iyaz mantap sambil tersenyum.
Setelahnya Iyaz menghampiri Farah dan Erik. Memeluk mereka bergantian dan mendengarkan beberapa petuah singkat dari oma dan opanya. Iyaz nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Kemudian Iyaz beralih pada Hanako yang wajahnya sudah merah dan berurai air mata. Diantara semua yang mengantar Iyaz, Hanako lah yang paling benyak mengeluarkan air mata.
“ Cici, Aku pergi dulu ya sebentar...,” kata Iyaz sambil memeluk Hanako erat.
“ Iya, hati-hati di sana ya Yaz...,” sahut Hanako.
“ Titip Izar ya Ci, tolong awasin dia biar ga salah langkah...,” kata Iyaz lagi.
“ Ngapain nitipin Izar sih, dia kan udah besar. Liat badannya aja udah tinggian dia sama Aku. Harusnya Kamu yang nitipin Aku sama dia biar dia jangan usilin Aku dan mau jagain Aku kapan pun...,” sahut Hanako keberatan.
Mendengar jawaban Hanako membuat Iyaz mengurai pelukannya sambil tertawa.
“ Dia ga bakal mau ngelakuin itu Ci...,” kata Iyaz di sela tawanya hingga membuat Hanako berdecak sebal sebelum melanjutkan ucapannya.
“ Sering-sering kasih kabar ya Yaz. Jangan pacaran dulu. Kenalan boleh, dekat boleh, pacaran jangan. Awas ya kalo sampe Anak orang hamil...,” ancam Hanako sambil mengepalkan tinjunya di depan wajah Iyaz.
__ADS_1
“ Ngomong apaan sih Ci, ga jelas banget...,” kata Iyaz sebal hingga gantian Hanako lah yang tertawa.
Sesungguhnya Hanako hanya sedang menghibur diri karena tak tahu harus bicara apa pada Iyaz. Sedangkan Iyaz
justru terlihat kesal mendengar ucapan Hanako yang dianggapnya ‘ga penting’ itu.
Kemudian Iyaz menghampiri kembarannya yang nampak memisahkan diri dari keluarga mereka. Iyaz tahu jika Izar merasa sedih karena mereka harus berpisah dalam waktu lama, hal yang tak pernah mereka lakukan selama delapan belas tahun usia mereka.
“ Izar...,” panggil Iyaz sambil memeluk Izar dari belakang.
Izar menoleh sambil tersenyum. Walau keduanya tampak berusaha tegar, namun air mata luruh juga di wajah mereka.
“ Iyaz, hati-hati ya. Jangan nakal di sana...,” sahut Izar sambil membalikkan tubuhnya lalu memeluk Iyaz erat.
“ Bukannya pesan itu lebih cocok untuk Kamu ya Zar. Aku kan ga pernah nakal, beda sama Kamu...,” kata Iyaz sambil membenamkan wajahnya di pundak Izar.
“ Itu kan dulu. Siapa tau pas jauh dari rumah dan ga ada Aku yang ngawasin, Kamu malah jadi liar...,” gurau Izar sambil tertawa.
“ Insya Allah ga lah...,” sahut Iyaz cepat hingga membuat Izar tertawa.
Plaakk !.
“ Aaww..., sakit Yaz !. Kok mukul sih...?!” protes Izar sambil memegangi kepalanya yang baru saja dipukul Iyaz.
“ Lagian kalo ngomong diatur dong Zar. Aku ke sana kan mau belajar bukan mau pacaran apalagi nikah...!” kata Iyaz lantang.
“ Ya Allah, Iyaaazz..., Aku kan cuma bercanda. Sensi amat sih jadi orang...,” gerutu Izar sambil menggelengkan
kepalanya.
“ Bodo amat...,” sahut Iyaz sambil melenggang pergi.
Interaksi si kembar malah membuat semua anggota keluarga yang mengantar pun tertawa. Sedangkan si kembar terus berdebat seolah tak puas dengan jawaban masing-masing. Terus seperti itu hingga waktunya Iyaz untuk pergi pun tiba juga. Sekali lagi Iyaz dan Izar saling berpelukan erat. Lalu mereka saling mengurai pelukan sambil tersenyum.
“ See You Brother...,” kata Iyaz dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
“ See You jelek...,” sahut Izar sambil menjulurkan lidahnya hingga membuat Iyaz berdecak sebal.
“ Ngerusak moment aja sih bisanya...,” gerutu Iyaz sambil membalikkan tubuhnya.
Diantar ayahnya Iyaz pergi ke Mesir untuk mengurus administrasi pendidikannya di sana. Ustadz Hamzah pun ikut
mendampingi Iyaz sebagai bentuk tanggung jawab pesantren pada siswanya yang menerima beasiswa.
Hingga pesawat take off meninggalkan bandara Soekarno Hatta, Shera nampak masih mematung memandangi
langit tempat menghilangnya pesawat seolah ia masih bisa melihat Iyaz di sana. Air mata haru masih membayang jelas di matanya. Rasa sedih karena harus berpisah dengan salah satu anaknya membuat rasa tak nyaman dalam hati Shera. Ia menoleh saat lengan Izar memeluknya erat.
“ Udah yuk Bun. Iyaz udah berangkat daritadi...,” ajak Izar.
“ Sebentar lagi ya Nak...,” pinta Shera dengan suara bergetar menahan tangis.
“ Tadi juga Bunda bilangnya gitu. Tapi ini udah lebih dari setengah jam sejak pesawat yang ditumpangi Iyaz take
off lho Bun...,” kata Izar sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“ Masa sih...?” tanya Shera tak percaya.
“ Iya Bunda Sayang. Kalo ga pecaya tanya aja sama Cici atau Oma...,” sahut Izar.
Shera menoleh kearah Hanako dan kedua mertuanya bergantian. Ia tahu jika apa yang diucapkan Izar benar adanya. Wajah Shera nampak merona karena malu telah membuat Hanako dan kedua mertuanya itu menunggu lama.
“ Ok, Kita pulang sekarang yuk...,” kata Shera sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah, akhirnya Kita pulang juga. Ntar mampir beli makan dulu ya Bun. Aku lapar banget nih...,” pinta Izar sambil merangkul pundak sang bunda.
“ Iya iya...,” sahut Shera sambil mengacak rambut Izar dengan gemas.
Erik, Farah dan Hanako nampak tertawa melihat tingkah manja Izar. Mereka mengerti jika Izar sedang berusaha menghibur sang bunda yang sedih karena ditinggal oleh salah satu anaknya untuk sementara waktu.
\=====
__ADS_1