Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
262. Ketemu Vena


__ADS_3

Kereta kencana yang membawa Hanako dan seorang pria di dalamnya itu kini memasuki sebuah istana yang menyerupai goa batu besar dan tinggi. Di sebut istana karena begitu lah orang-orang yang berdiri menyambut itu berkata.


“ Selamat datang di istana Tuanku Raja dan permaisuri...,” kata dua orang penjaga sambil membungkukkan tubuhnya.


Pria di samping Hanako menganggukkan kepalanya lalu kereta kencana kembali bergerak. Sedangkan Iyaz dan Izar nampak terkejut saat mendengar sebutan permaisuri yang ditujukan pada Hanako.


“ Permaisuri..., gimana reaksi Mas Pandu pas tau Istri tercintanya dijadiin pemaisuri di kerajaan ghaib ya...,” gumam Izar sambil tersenyum usil.


“ Pasti ngamuk lah...,” sahut Iyaz cepat hingga membuat Izar nyaris tertawa.


Namun deheman Hanako dan tatapan tajam Iyaz berhasil menyadarkan Izar. Rupanya saat itu Hanako dalam keadaan sadar dan tak terpengaruh oleh siluman itu. Bahkan Hanako mengenali Iyaz dan Izar sebagai sepupunya dan sedang merencanakan sesuatu agar bisa lari dari tempat itu.


Sesaat kemudian kereta kencana itu berhenti dan kedua penumpangnya pun turun. Hanako mengamati sekelilingnya dengan seksama. Melihat bangunan istana yang hanya berupa bebatuan itu membuat Hanako pesimis akan bisa melarikan diri dari tempat itu.


Diam-diam Hanako melirik ke atas kereta kencana untuk memastikan keadaan kedua sepupunya. Iyaz dan Izar mengacungkan jempolnya pertanda mereka aman di atas kereta kencana yang bergerak menjauh itu.


Raja melangkah lebih dulu diikuti Hanako. Saat melewati barisan para pengawal Hanako nampak bergidik karena wajah mereka tak lagi menyerupai manusia tapi lebih mirip biawak. Hanako menelan salivanya dengan sulit membayangkan bagaimana kehidupan mereka di tempat itu.


Raja pun duduk di singgasana sedangkan Hanako duduk di kursi batu tak jauh dari Raja. Kemudian Raja memberi


aba-aba dan masuk lah dua orang pengawal dengan membawa satu tawanan.


“ Apa kesalahannya...?” tanya sang Raja.


“ Dia telat menyerahkan tumbal Tuanku...,” sahut sang pengawal.


“ Cambuk seribu kali, potong tangannya untuk makanan peliharaanku lalu kirim dia ke bukit untuk mengangkat batu...,” kata sang raja.


Mendengar ucapan sang raja membuat Hanako terkejut apalagi sang tawanan.


“ Dasar bod*h, kalo ga punya tangan gimana mau ngangkat batu. Dasar iblis kejam...,” batin Hanako sambil menoleh kearah sang raja.


Hanako pun terkejut saat melihat detail wajah sang raja yang ternyata memiliki kepala berbentuk lonjong pipih seperti kepala biawak dengan tubuh manusia seperti dirinya. Kedua bola mata sang raja berwarna kuning, dengan hidung yang hanya berupa dua lubang dan seluruh permukaan kulitnya nampak menebal.

__ADS_1


Hanako pun melihat semua orang di istana itu memiliki bola mata berwarna kuning sama seperti sang raja. Tak lama kemudian kembali masuk dua orang pengawal yang membawa seorang tawanan. Kali ini Hanako bahkan terlonjak dari duduknya saat mengenali tawanan yang dibawa menghadap raja.


“ Tante Vena, kok dia ada di sini. Pantesan aja dicari kemana-mana ga ketemu, rupanya udah tertangkap sama pengawal sembahannya toh...,” batin Hanako sambil menatap Vena lekat.


“ Ada apa Permaisuriku, apa Kamu mengenali tawanan itu...?” tanya sang raja sambil menatap Hanako.


“ Oh, maaf. Hamba ga kenal dia Tuanku...,” sahut Hanako cepat.


Sedangkan Vena nampak mendongakkan wajahnya dan terkejut melihat kehadiran Hanako di sisi sang raja.


“ Apa yang dilakukan Anak itu sampe bisa duduk di samping sang Raja dengan nyaman. Padahal selama ini Aku telah  berusaha melaksanakan semua perinta sang Raja agar Aku layak dan sepadan dengannya...,” batin Vena kesal.


Selama ini Vena berambisi menjadi pendamping sang raja. Vena ingin memiliki kekuasaan tak terbatas yang setara


dengan raja agar bisa menguasai dunia. Karenanya Vena selalu memberikan tumbal yang terbaik untuk sang raja bahkan jumlahnya pun lebih dari yang seharusnya. Vena berharap bisa menarik perhatian raja. Namun sayangnya apa yang dilakukan Vena tak berarti apa pun untuk sang raja dan itu terbukti dengan hadirnya Hanako di sisi sang raja.


“ Apa kesalahannya...?” tanya sang raja pada dua pengawalnya.


“ Dia menyusup masuk dengan membawa seorang pria yang diakuinya sebagai kekasih Tuanku...,” sahut sang pengawal.


" Tapi Aku membawanya karena terdesak Tuanku...," kata Vena mencoba menjelaskan.


“ Seorang pria, bawa ke sini...!” perintah sang raja.


“ Baik Tuanku...,” sahut salah seorang pengawal.


Tak lama kemudian masuk lah dua orang pengawal sambil menarik seorang pria yang tubuhnya nyaris telan*ang dan berlumuran darah. Rupanya pria itu baru saja mengalami penyiksaan akibat mengikuti Vena masuk ke alam ghaib. Pria yang tak lain adalah Vincent itu terluka parah akibat dicambuk oleh para algojo yang menangkapnya.


“ Siapa dia...?” tanya sang raja sambil menatap lekat kearah Vincent.


“ Dia bukan siapa-siapa Tuanku. Dia hanya kacung yang kujadikan alat untuk memuaskan keinginanku...,” sahut Vena cepat.


Ucapan Vena membuat Vincent terkejut sekaligus marah. Bagaimana mungkin wanita yang telah membuatnya mabuk kepayang itu kini menolak kehadirannya dan jasanya selama ini.

__ADS_1


“ Sia*an Kau Vena\, dasar perempuan ja*ang. Setelah apa yang Kulakukan untukmu\, begini kah caramu membalas


kebaikanku...?!” tanya Vincent marah.


“ Apa maksudmu Vincent. Aku telah membayar semua kebaikanmu itu dengan tubuhku. Jadi semua impas dan Aku tak berhutang apa pun sama Kamu...,” sahut Vena sambil melengos.


“ Yang Kau lakukan tak seberapa Vena. Kau kan juga menikmati percintaan panas Kita. Jadi Kita sama-sama untung bukan...?” tanya Vincent sambil tersenyum penuh makna hingga membuat Vena malu.


“ Tutup mulutmu Vincent. Aku bukan wanita murahan...!” kata Vena gusar.


Perdebatan Vena dan Vincent terus berlanjut. Tak ada yang melerai. Masing-masing bersikeras dengan pendapatnya dan tak ada yang mau mengalah. Hanako yang juga mendengar langsung isi perdebatan Vena dan Vincent nampak risih. Beberapa kali Hanako mengalihkan tatapannya kearah lain berharap adu mulut itu selesai dengan cepat.


Melihat ketidaknyamanan Hanako membuat raja menghentikan perdebatan itu.


“ Hentikan !. Kalian hanya dua orang tak tahu malu yang menceritakan aib sendiri. Dasar sampah...,” maki sang raja dengan marah.


Vena dan Vincent pun terdiam. Lalu saat raja menjatuhkan hukuman pada Vincent, Vena pun terkejut. Bagaimana tidak, Vincent dijatuhi hukuman dengan cara diseret dengan kereta kencana. Sedangkan Vena masih harus menjalani sidang lanjutan dan dikembalikan ke penjara.


“ Seret dia dengan kereta selama satu hari. Jika masih hidup usai menjalani hukuman,lemparkan dia ke ladang untuk bekerja. Jika dia mati usai menjalani hukuman, lemparkan ke kandang peliharaanku untuk makan malam...,” kata sang raja dengan tenang.


“ Bagaimana dengan tawanan ini Tuanku...?” tanya sang pengawal.


“ Kembalikan dia ke penjara bawah tanah...,” sahut sang raja sambil menatap tajam kearah Vena.


Vincent menjerit keras saat tubuhnya diseret menjauh dari hadapan sang raja dan permaisurinya. Sedangkan Vena mencoba menghiba memohon belas kasihan sang raja.


“ Tolong ampuni selembar nyawaku yang hina ini Tuanku. Aku janji ga akan buat kesalahan lagi...,” pinta Vena lirih.


“ Pergi lah. Biar Kupikirkan hukuman yang layak untukmu nanti...,” sahut sang raja dengan enggan.


Setelah mengucapkan hal itu, raja pun bangkit dari duduknya lalu bersiap melangkah meninggalkan tempat itu diikuti Hanako. Melihat Hanako mengikuti sang raja, darah dalam diri Vena pun mendidih. Vena pun serasa dibakar oleh api cemburu dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua pengawal raja.


Kemudian dengan beringas Vena menyerang Hanako saat Hanako melintas di hadapannya. Suasana pun menjadi kacau akibat pertarungan Vena dengan Hanako. Dari pertarungan itu sekilas bisa dipastikan jika Vena lah pemenangnya.

__ADS_1


\=====


__ADS_2