
Jika Iyaz dan Izar masih berkutat dengan cinta remaja yang tak terbalas, maka berbeda dengan Hanako. Saat ini Hanako tengah jatuh hati pada seorang pria di kampusnya.
Perasaan Hanako kali ini berbeda dengan perasaan yang pernah dimiliki Hanako untuk lawan jenisnya dulu. Kali ini Hanako hanya berani menatap pria itu dari kejauhan tanpa berani mendekat. Hanako merasa jantungnya berdetak lebih cepat dan wajahnya terasa memanas jika pria itu menatap kearahnya walau pun belum tentu tatapan itu tertuju padanya.
Pria itu bernama Albani yang merupakan senior Hanako dan mahasiswa terpandai di kampus. Selain pandai, Albani juga menjabat sebagai asisten dosen untuk mata kuliah Hukum Tata Negara. Albani yang pandai, sederhana dan murah senyum itu telah membuat Hanako jatuh hati.
Jika gadis lain akan berusaha menarik perhatian Albani secara terang-terangan, Hanako hanya berani mengagumi Albani dari jauh. Bagi Hanako bisa mendengar sapaan dan melihat senyum Albani saja sudah sebuah pencapaian besar. Apalagi jika bisa berbincang akrab seperti yang lain.
\=====
Hari itu adalah hari yang tak kan terlupakan oleh Hanako. Bagaimana tidak. Hari itu secara tak sengaja Hanako bisa berdiri dekat dan berbincang banyak hal dengan Albani.
Hanako melangkah cepat usai meminjam buku di perpustakaan menuju ke tempat parkir. Bukan tanpa alasan Hanako bertingkah seperti itu. Sore itu langit tampak mendung. Awan hitam menggantung di langit seolah bersiap menurunkan hujan yang volumenya lebih besar dari biasanya. Dan Hanako tak mau menanggung resiko tinggal di kampus beberapa waktu hanya karena cuaca yang tak bersahabat itu.
Namun rupanya Hanako memang harus menunda niatnya pulang karena hujan mulai turun dengan deras tanpa aba-aba. Padahal saat itu Hanako telah menggunakan jaket dan helmnya. Tak ingin menembus hujan karena bahaya untuknya, Hanako pun memilih menjauh dari tempat parkir.
“ Ya Allah, hujannya gede banget...,” gumam Hanako sambil menatap langit.
“ Kenapa ga jadi keluar, takut ya sama hujan...?” tanya seorang pria tiba-tiba hingga membuat Hanako menoleh.
Untuk sejenak Hanako merasa jantungnya berhenti berdetak karena tak menyangka jika pria yang menyapanya
adalah Albani. Wajah Hanako pun terasa panas dan Hanako tahu jika kulit wajahnya saat ini pasti sudah bersemu merah. Apalagi saat Albani berjalan mendekat kearahnya. Hanako berusaha mengendalikan kegugupannya dengan mengalihkan tatapannya kearah lain.
“ Oh ga Kak. Cuma nunda sebentar daripada jatuh karena biasanya jalanan kan licin kalo hujan kaya gini...,” sahut Hanako asal hingga membuat Albani tersenyum.
“ Albani...,” kata Albani memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
“ Hanako...,” sahut Hanako sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
__ADS_1
Albani nampak mengerutkan keningnya sejenak kemudian tersenyum. Albani juga menarik tangannya sambil menganggukkan kepalanya seolah mengerti mengapa Hanako tak menyambut salam perkenalannya.
“ Oh gitu ya. Kamu Anak hukum juga kan, kayanya Saya pernah liat Kamu di kelas yang Saya ajar...?” tanya Albani.
“ Iya Kak...,” sahut Hanako sambil menganggukkan kepalanya.
“ Jarang-jarang ngeliat mahasiswi yang kuliah pagi bertahan sampe sore di kampus. Biasanya masuk Ashar aja mereka udah kalang kabut pengen cepet pulang, tapi Kamu malah di sini. Apa Kamu ga takut kalo tinggal di kampus sampe malam...?” tanya Albani.
“ Kan mahasiswa yang kuliah sore juga banyak Kak, jadi Saya ga sendirian. Emang apa yang harus ditakutin...?” tanya Hanako tak mengerti.
“ Mmm..., ada rumor yang lumayan meresahkan belakangan ini. Apa Kamu belum tau...?” tanya Albani hati-hati.
“ Belum tau, rumor apa sih Kak...?” tanya Hanako penasaran sambil menatap Albani.
Sejenak Albani dan Hanako saling menatap. Keduanya pun saling mengagumi satu sama lain. Tersadar dengan sikapnya, Hanako segera membuang tatapannya kearah lain hingga membuat Albani tersenyum.
Belum lagi Albani membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Hanako, tiba-tiba petir menggelegar hingga mengejutkan Hanako dan Albani. Kilatan cahaya petir juga menerangi area kampus untuk sejenak. Dan saat itu lah Hanako melihat penampakan makhluk halus yang tengah berdiri mematung di tengah lapangan basket yang ada di dalam kampus.
“ Ya Allah, apalagi ini...,” gumam Hanako sambil menekan dadanya yang terasa berdebar-debar.
“ Hei Hanako, Kamu dengar ga sih apa yang Saya bilang tadi...?” tanya Albani.
“ Maaf Kak, emangnya Kakak ngomong apa ya...?” tanya Hanako tak enak hati.
“ Saya bilang, ada penampakan makhluk halus yang lumayan mengganggu. Wujudnya sih cowok, pake pakaian serba hitam dan biasanya nongol menjelang Maghrib kaya gini. Biasanya juga dia gangguin cewek-cewek yang pulang kesorean kaya Kamu...,” kata Albani sambil menatap Hanako lekat.
Albani ingin melihat ekspresi ketakutan Hanako namun ia salah besar. Hanako justru terlihat santai dan nampak tak terpengaruh dengan cerita Albani tadi.
“ Oh itu. Aku udah liat Kak...,” sahut Hanako santai.
__ADS_1
“ Kapan...?” tanya Albani.
“ Barusan, di tengah lapangan itu...,” sahut Hanako sambil menunjuk kearah lapangan di dalam kampus.
“ Kamu serius Hanako...?” tanya Albani tak percaya.
“ Serius Kak. Aku mau nambahin info yang penting tentang dia supaya Kak Al dan semua mahasiswa paham...,” sahut Hanako yakin.
“ Info apa...?” tanya Albani penasaran.
“ Makhluk halus itu juga berwajah rusak, bola matanya berwarna putih dan tinggi badannya sedikit lebih tinggi dari manusia pada umumnya...,” sahut Hanako hingga mengejutkan Albani.
“ Kamu beneran bisa ngeliat dia Hanako, apa Kamu ga takut...?” tanya Albani.
“ Dia yang memperlihatkan diri Kak, terus terang Saya ga nyangka kalo itu makhluk halus. Soalnya dia berdiri di tengah hujan deras di tengah lapangan pula. Terus pas dia ngeliat ke sini Saya baru tau kalo warna bola matanya putih semua. Nah kalo gitu apa namanya kalo bukan hantu. Apalagi dia juga menghilang dengan cepat ga tau kemana...,” ralat Hanako karena tak ingin Albani mengetahui kelebihan yang ia miliki.
Mendengar penjelasan Hanako membuat Albani merasa takjub. Apalagi Hanako menjelaskan dengan santai dan tanpa beban. Tak lama kemudian hujan pun reda.
“ Alhamdulillah hujannya udah berhenti. Kalo gitu Saya duluan ya Kak, Assalamualaikum...,” pamit Hanako.
“ Oh iya, wa alaikumsalam. Hati-hati ya Hanako...,” sahut Albani.
“ Insya Allah, makasih Kak...,” kata Hanako yang diangguki Albani.
Kemudian Hanako melajukan motornya perlahan meninggalkan parkiran kampus. Senyum nampak menghiasi wajahnya yang bersemu merah bersama perasaannya yang membuncah bahagia karena bisa berbincang akrab dengan Albani. Senyum juga menghiasi wajah Albani saat melepas kepergian Hanako. Ia tak menyangka bisa bicara dengan gadis setangguh Hanako. Meski pun terlihat feminim, namun Hanako ternyata cukup berani saat melihat penampakan makhluk halus di depan matanya. Mungkin akan berbeda jika wanita lain yang melihat penampakan hantu itu tadi.
“ Menarik...,” gumam Albani sambil tersenyum lalu melajukan motornya meninggalkan kampus.
Sedangkan hantu pria berpakaian serba hitam itu nampak berdiri menatap kepergian Hanako dan Albani sambil menyeringai.
__ADS_1
Bersambung