
Pria tua itu nampak menoleh lalu tersenyum kearah Suraj. Melihat senyumnya membuat Suraj takut lalu merapat pada ibunya. Sang ibu yang bernama Surti nampak tertawa kecil melihat sikap Suraj yang menurutnya sangat aneh kala itu.
Biasanya Suraj tak pernah takut apa pun. Jika teman sebayanya memiliki phobia tertentu, tapi tidak dengan Suraj. Jika sebagian temannya takut dengan ular, kalajengking atau buaya, Suraj tak gentar melihatnya bahkan berani menyentuhnya hingga membuat orang-orang yang melihat aksinya panik dan menjerit ketakutan.
“ Kenapa, Suraj takut ya...?” tanya Surti sambil merangkul Suraj.
“ Ga takut, tapi ngeri...,” sahut Suraj lugu.
Mendengar jawaban Suraj membuat sang eyang juga warga tertawa. Saat itu warga memang sengaja menemani ibu Suraj menerima tamunya itu karena khawatir dengan keselamatan Suraj dan ibunya.
“ Jangan takut Nak. Aku ini Ayahnya Bapakmu yang udah meninggal dunia itu. Namaku Burhan. Aku datang karena baru tau jika Sabri punya Anak dan Istri di sini. Maafkan Aku yang tak bisa datang saat Kalian menikah dulu karena terhalang jarak dan kondisi kesehatanku yang memburuk...,” kata pria tua bernama Burhan itu.
“ Gapapa Pak, Kami maklum kok...,” sahut Surti sambil tersenyum.
“ Saat Sabri meninggal Aku sedang ada di Sumatra, membantu teman yang butuh pertolongan. Selain itu Aku ga punya cukup uang untuk ongkos perjalanan ke sini. Makanya saat ada uang Aku langsung pergi ke sini karena ingin ketemu keluarga Anakku...,” kata Burhan sambil menatap Suraj dan ibunya bergantian.
Selama percakapan berlangsung Suraj terus mengawasi wajah Burhan. Suraj merasa jika ekspresi wajah Burhan sangat aneh. Sebentar terlihat sedih, sebentar tertawa sumringah, sesaat kemudian menyeringai dengan sepasang matanya berbinar aneh saat menatap ibu Suraj. Hal itu membuat Suraj tak nyaman dan makin tak ingin jauh dari ibunya. Mungkin itu yang disebut insting anak kecil yang belum baligh.
Setelah merasa cukup berbincang dengan Suraj dan ibunya, Burhan pun pamit. Warga memang tak mengijinkan Burhan tinggal di rumah Suraj karena status ibunya yang janda itu. Akhirnya Burhan ditawari tinggal di rumah tetangga Suraj, namun Burhan menolak.
“ Saya bisa tidur di pos Siskamling aja nanti Pak...,” kata Burhan sambil tersenyum.
“ Kenapa ga di masjid aja Pak, tempatnya kan lebih bersih dan nyaman. Lagipula masjid di desa Kami ini biasa menerima musafir kok...,” kata warga.
“ Makasih. Saya akan ke sana nanti...,” sahut Burhan sebelum melangkah.
Setelah Burhan pergi, warga pun kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan Suraj dan ibunya masuk ke dalam rumah. Setelah meminta Suraj membersihkan diri, Surti pun menyiapkan makan siang. Saat melihat Suraj mendekat kearahnya Surti tersenyum.
“ Wah pinternya Anak Ibu. Udah mandi, ganti baju, jadi tambah ganteng lho. Mirip sama Bapak...,” puji Surti sambil mengacungkan jempolnya.
“ Tapi Aku mau makan sekarang Bu...,” sahut Suraj mengabaikan ucapan ibunya.
“ Iya Ibu tau. Sini Kita makan pake tumis kangkung sama ikan goreng ya. Suraj mau...?” tanya Surti.
“ Mau Bu...,” sahut Suraj antusias.
__ADS_1
Surti pun mengambilkan nasi dan lauk untuk Suraj lalu menyuapinya. Sambil menyuapi Suraj ingatan Surti melayang pada sosok Burhan. Pria tua yang mengaku sebagai ayah mertuanya yang tak pernah ia lihat selama menikahi Sabri. Ada sedikit keraguan menyeruak ke dalam hati Surti. Tapi saat ingat semua penjelasannya tentang sifat dan kebiasaan Sabri membuat Surti percaya. Bahkan Burhan juga mengatakan dengan jelas tanda lahir yang dimiliki almarhum Sabri hingga membuat Surti yakin.
“ Aku ga suka sama Eyang Bu...,” kata Suraj dengan mulut penuh berisi makanan.
“ Kenapa...?” tanya Surti.
“ Dia itu orang aneh Bu. Matanya seperti meloncat-loncat, kalo ketawa menyeramkan. Dan suaranya itu kenapa mendengkus kaya kerbau...,” sahut Suraj kesal.
“ Mendengkus...?” tanya Surti tak mengerti.
“ Iya. Kaya banteng kalo lagi marah Bu...,” sahut Suraj.
“ Ga boleh benci dan memperlihatkannya di depan Eyangmu ya Nak. Kasian kan dia jauh-jauh datang ke sini masa Kita tolak. Bagaimana pun dia kan Ayahnya Bapak...,” kata Surti memberi pengertian.
“ Iya Bu...,” sahut Suraj pasrah.
Selama beberapa hari Suraj terus berada di sekitar ibunya. Ia khawatir Burhan akan menyakitinya. Perlahan Suraj mulai mengenal dan dekat dengan eyangnya itu. Dan Suraj mulai percaya dengan banyak hal yang dikatakan Burhan termasuk tentang warisan peninggalan ayahnya.
“ Warisan Bapakmu ada di suatu tempat yang jauh dari sini. Kalo Kamu mau, Eyang bisa nganterin Kamu ke sana. Setelah mengambil warisan itu Kamu dan Ibumu ga perlu hidup susah lagi kaya gini...,” kata Burhan menawarkan diri.
“ Kenapa memangnya, Aku kan Kakeknya...,” sahut Burhan tak suka.
“ Saya tau, tapi tolong jangan pisahkan Saya dengan Anak Saya. Cuma dia yang Saya punya sebagai penerus Mas Sabri...,” kata Surti gusar.
“ He he he, jadi Kau takut Aku akan menculik Anakmu ini Surti. Kamu tenang aja, ga ada yang akan misahin Kalian kok. Justru Aku akan bawa Kalian pergi dari sini dan tinggal di tempat yang lebih baik nanti. Gimana, Kamu mau...?” tanya Burhan.
Surti termenung sejenak kemudian mengangguk setuju. Apalagi mereka dijanjikan mengambil warisan yang ditinggalkan Sabri telebih dulu sebelum mereka memulai kehidupan yang baru nanti.
Hari saat kepergian mereka pun tiba. Warga desa melepas kepergian Surti, Suraj dan Burhan dengan perasaan bahagia karena Suraj akan memperoleh pendidikan yang baik dan hidup enak bersama kakeknya itu.
Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh karena mereka harus menyebrangi lautan. Entah kemana Burhan membawa Surti dan anaknya pergi karena selama perjalanan Burhan menjadi sosok yang berbeda. Ia selalu diam saat Surti dan Suraj bertanya. Kedua matanya selalu tertutup hingga membuat Surti dan Suraj tak enak hati jika mengganggunya.
Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang asing. Hanya ada hutan belantara yang menyambut. Tak ada rumah atau istana seperti yang dijanjikan Burhan.
“ Kenapa Bapak menipu Kami...?” tanya Surti kecewa.
__ADS_1
“ Aku ga menipumu Surti. Harta itu ada di dalam hutan, di sebuah goa tepatnya. Kita ke sana sebentar lagi dan biarkan Suraj di sini...,” sahut Burhan.
“ Aku ga mau ninggalin Suraj sendirian di sini Pak...,” bantah Surti.
“ Ini demi kebaikannya Surti. Di dalam hutan itu banyak binatang buas. Gimana Aku bisa konsentrasi kalo harus menyelamatkan dua orang sekaligus...,” kata Burhan beralasan.
Surti nampak berpikir sejenak lalu mengikuti ajakan Burhan. Suraj yang saat itu pura-pura tidur pun mendengar semua ucapan Burhan. Saat Burhan dan Surti pergi ke dalam hutan, Suraj mengikuti mereka diam-diam.
Suraj berhenti agak jauh dari goa yang dimaksud. Dari tempatnya sembunyi Suraj bisa melihat ibunya dibawa masuk ke dalam goa. Suraj pun mengendap-endap mendekati goa itu.
Saat tiba di mulut goa darah Suraj terasa mendidih karena melihat pemandangan yang tak sepatutnya. Rupanya di dalam sana Surti sedang dilecehkan oleh Burhan. Tangisan dan jeritan Surti memenuhi goa ditingkahi tawa Burhan. Suraj tak berdaya melihat ibunya dilecehkan seperti itu. Dari tempatnya berdiri Suraj hanya bisa menyaksikan Burhan meng*gagahi ibunya berkali-kali. Karena tak kuat melihat ibunya disakiti, Suraj pun jatuh pingsan.
Suraj terbangun saat wajahnya diperciki air. Saat membuka mata ia mendapati dirinya ada di altar batu bersama Surti yang terbaring lemah dan nyaris telan*ang.
“ Kamu sudah bangun Nak. Ayo Kita lanjutkan ritualnya. Sekarang sudah waktunya menobatkanmu sebagai abdi setiaku...,” kata Burhan.
“ Kau jahat, apa yang Kau lakukan pada Ibuku...?!” tanya Suraj sambil menangis.
“ Ssssttt..., sudahi tangismu. Takdir Ibumu adalah sebagai pelengkap. Biarkan dia menjalankan tugasnya itu dan Kau ikut bersamaku...,” sahut Burhan sambil menyeringai.
“ Aku ga mau karena Kau sudah menyakiti Ibuku...!” kata Suraj.
“ Baik lah. Kita akan percepat semuanya supaya Ibumu ga merasakan sakit lagi...,” kata Burhan dingin.
Kemudian Burhan menyerahkan sebilah keris kepada Suraj. Dengan kejamnya ia memaksa Suraj menggenggam keris itu lalu mengarahkannya ke jantung Surti yang tengah sekarat itu. Lalu dengan kekuatan penuh Burhan menusukkan keris itu hingga tubuh Surti tersentak dan kedua mata membelalak menatap Suraj.
“ Ibuuu..., bukan Aku yang nusuk Ibu. Eyang pelakunya, Eyang Bu...!. Jangan pergi Ibu, Ibuuu...!” kata Suraj lantang sambil menangis menatap kedua tangannya yang berlumuran darah.
“ Kamu benar Nak. Dia memang orang jahat. Berhati-hati lah...,” kata Surti lirih.
Sesaat kemudian kepala Surti terkulai ke samping dengan mata terbuka dan dada terkoyak. Burhan tertawa puas karena telah berhasil menyelesaikan ritual sesatnya. Sedangkan Suraj terus menangis sambil memeluk tubuh sang ibu yang mulai membeku itu.
“ Ibuuu...!” panggil Suraj lantang.
Suraj menatap ke sekelilingnya dengan tatapan bingung. Sesaat kemudian ia sadar jika kini tengah berada di apartemen mewah miliknya. Suraj kembali menangis mengingat apa yang telah ia lakukan pada ibunya dulu.
__ADS_1
Bersambung