Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
87. Absensi


__ADS_3

Keluarga besar Darius nampak berkumpul di ruangan rawat inap Darius. Beruntung Farah telah mengatur agar


sang papa dirawat di ruang VIP hingga keluarga mereka bisa berkunjung kapan pun.


Darius membuka matanya lalu tersenyum saat melihat kehadiran anak, menantu, cucu dan buyutnya di ruangan itu. Karena daya lihatnya yang sudah berkurang di usia senjanya, Darius pun meminta mereka mendekat bersama keluarga mereka masing-masing.


Fajar sebagai anak lelaki tertua dalam keluarga Darius maju pertama kali sambil menggandeng istri dan kedua anaknya.


“ Papa ini Fajar. Aku ajak Istriku Inez juga Anakku Inka dan Farzan...,” kata Fajar.


“ Assalamualaikum Opa...,” sapa Inka dan Farzan bersamaan sambil mencium pipi Darius.


“ Wa alaikumsalam Cucu Opa sayang. Sehat terus ya...,” sahut Darius sambil tersenyum yang diangguki oleh Inka dan Farzan.


Kemudian Fajar dan keluarga kecilnya mundur untuk memberi kesempatan pada Farah dan keluarganya mendekati


Darius.


“ Papa ini Farah. Aku ngajak Suamiku Bang Erik juga Anak dan Cucuku...,” kata Farah sambil menahan tangis.


“ Assalamualaikum Opa, Aku Faiq dan ini Istriku Shera. Nah yang ini buyutnya Opa Iyaz sama Izar. Opa ingat kan...?” tanya Faiq.


“ Wa alaikumsalam. Iya, iya Opa ingat dong. Anak kembar laki-laki yang juga bisa ngeliat makhluk halus kaya Kamu itu kan...,” sahut Darius sambil tersenyum.


“ Iya, betul Opa. Nah ini Adikku Eliya sama Suami dan Anaknya...,” kata Faiq lagi.


Kemudian Efliya mendekat kearah Darius didampingi Heru dan kedua anak mereka.


“ Assalamualaikum Opa. Aku Efliya Anaknya Mama Farah ya. Aku ke sini sama Suamiku Kak Heru juga Anak Kami Hanako dan Haikal...,” kata Efliya kocak.


“ Wa alaikumsalam Efliya. Maafin Opa ya kalo terkesan pilih kasih sama Kamu dan Faiq. Opa sayang sama Kamu dan ga mau Kamu digangguin makhluk halus yang ngikutin Faiq. Makanya Opa lebih sering sama Abang Kamu sekalian berjaga supaya Kamu tetap aman. Tapi jangan raguin kasih sayang Opa ya Nak...,” kata Darius dengan mata berkaca-kaca.


“ Iya Opa, Aku ngerti kok. Aku ga pernah ngerasa Opa pilih kasih, Aku tau Opa juga pasti sayang sama Aku. Kan Opa juga sering marahin Abang kalo nakalin Aku...,” sahut Efliya sambil berusaha menahan tangis.


“ Iya Kamu benar. Abang Kamu emang usil dan suka sekali bikin Kamu nangis ya...,” kata Darius sambil tersenyum mengenang masa kecil Faiq dan Efliya.

__ADS_1


Kemudian Efliya pun mundur untuk memberi kesempatan Fatur dan keluarganya mendekati Darius.


“ Assalamualaikum Papa. Aku Fatur dan...,” ucapan Fatur terputus saat Darius memeluknya erat.


“ Wa alaikumsalam Fatur, Anak bungsuku, buah cintaku dengan Gendis...,” kata Darius lirih sambil menitikkan air mata.


Suasana di dalam kamar pun menjadi hening tiba-tiba. Darius dan Fatur saling memeluk erat seolah lama tak bertemu. Padahal selama ini Fatur dan keluarganya tinggal bersama Darius di rumah besar mereka, tempat dimana Fatur dan kedua kakak kembarnya tumbuh dan besar.


“ Maafin Papa karena terlambat menyadari kelebihanmu ya Nak. Maafkan Mama juga ya...,” kata Darius di sela isak tangisnya.


“ Iya Pa, Aku ga pernah masukin ke hati semua ucapan Papa sama Mama. Bagiku Papa dan Mama adalah orangtua terhebat...,” sahut Fatur sambil mengusap punggung sang papa dengan lembut.


“ Papa udah ingetin Mama Kamu supaya ga terlalu menekan Kamu dulu. Tapi Kamu tau kan gimana keras kepalanya Mama Kamu itu...,” kata Darius sambil tersenyum.


“ Iya, iya Pa. Aku tau Mama itu cerewet, banyak ngatur, tapi cantik dan penuh kasih sayang. Makanya Papa jatuh hati sama Mama dulu, iya kann...?” goda Fatur sambil mengedipkan matanya.


Darius tertawa mengenang almarhumah Gendis yang telah lebih dulu pergi menghadap Allah. Semua orang di dalam ruangan itu pun ikut tertawa mendengar ucapan Fatur tadi.


“ Oh iya, Aku ga sendiri lho Pa. Aku ngajak Bilqis dan kedua Anak Kami, Fabian dan Diandra...,” kata Fatur setelah tawanya reda.


“ Iya Papa. Tapi Aku ga imut lagi kaya dulu ya. Kan udah punya Anak dua...,” sahut Bilqis sambil menggenggam tangan Darius erat.


“ Iya, iya. Papa ingat kok. Fabian dan Diandra kan...?” kata Darius sambil tersenyum.


“ Betul Pa. Ayah sama Bunda juga datang lho Pa. Basith juga...,” kata Bilqis sambil menoleh kearah Patih, Yasmine dan Basith.


“ Apa kabar Bang...?” sapa Patih dengan suara serak.


“ Alhamdulillah baik. Sini peluk Aku dulu Tih. Aku kangen sama Kamu...,” kata Darius sambil merentangkan kedua tangannya.


Semua orang nampak terharu melihat sikap Darius. Yasmine bahkan menitikkan air mata melihat kasih sayang Darius pada suaminya itu. Meski pun mereka tak lagi muda, namun hubungan keduanya tetap hangat dan dekat.


“ Hmmm, kenapa aroma tubuhmu sama persis kaya Gendis ya Tih...,” kata Darius sambil mencium kepala dan pundak Patih.


“ Aku kan Adiknya Kak Gendis Bang, masa Kamu lupa sih...,” sahut Patih pura-pura marah.

__ADS_1


“ Iya Aku ingat. Adik yang selalu takut kalo Aku bakal menculik dan membawa Kakaknya pergi jauh...,” kata Darius sambil tertawa hingga membuat Patih tersipu malu.


“ Itu karena Aku sayang sama Kakak Bang...,” sahut Patih cepat.


“ Betul. Tapi ternyata malah Kakakmu yang pergi lebih dulu dan ninggalin Aku ya Tih...,” kata Darius dengan suara lirih.


“ Jangan ngomong kaya gitu Bang. Kakak udah tenang di sana dan hanya perlu doa Kita untuk membuktikan kasih sayang Kita sama Kakak...,” sahut Patih tak enak hati.


“ Iya Tih. Gendisku hanya butuh doa sekarang, hanya doa...,” kata Darius sambil memejamkan matanya lalu terkulai lemah di tempat tidur.


Melihat kondisi Darius yang mengkhawatirkan membuat Patih menoleh kearah Farah.


“ Papa Kamu kenapa Far...?” tanya Patih cemas.


“ Sebentar Aku cek dulu ya Om...,” sahut Farah.


Kemudian Farah mengeluarkan stestoskopnya. Mengecek infus dan nadi sang papa. Air mata nampak mengambang di kedua matanya pertanda kondisi sang papa hampir tak punya harapan.


“ Papa..., Papa...,” panggil Farah sambil mengguncang tangan Darius lembut.


“ Hmmm..., iya Ma. Papa mau ikut...,” sahut Darius sambil tersenyum.


“ Papa ini Farah bukan Mama...,” kata Farah sambil menitikkan air mata.


“ Iya Nak. Tapi Mama Kamu dan Mama Gendis udah datang tuh. Mereka titip salam untuk Kalian semua. Sekarang Papa pamit ya, Papa mau pergi ikut Mama. Maafin Papa dan terima kasih..,” sahut Darius dengan suara parau.


Fatur dan Fajar mendekat lalu menunutun Darius untuk mengucap kalimat syahadat sebelum pergi.


“ Asyhadu ala ilaha ilallah....Wa asyhadu... ana... Mu... Muham... Muhammadur ... Ro... Rosulullah...,” kata Darius terbata-bata lalu memejamkan matanya.


Farah bergegas mengecek nadi sang papa, melihat kedua bola matanya lalu menggeleng pertanda Darius telah tiada.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi roji’uun...,” istirja pun menggema di ruangan itu disusul suara isak tangis yang mengiringi kepergian Darius.


Darius pun meninggal dunia dengan wajah tersenyum bahagia dikelilingi anak, menantu, cucu dan buyutnya yang selalu menyayanginya hingga akhir.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2