Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
33. Ternyata...


__ADS_3

Setelah melihat penampakan makhluk ghaib yang kurang bersahabat itu, Hanako memutuskan mengajak lima bocah laki-laki itu keluar dari tempat itu. Namun belum lagi niatnya terwujud, Matheo sudah menjerit keras hingga mengejutkan kelima orang yang tadi datang bersamanya.


“ Whaaa..., setaaannn...!” jerit Matheo lalu ambil langkah seribu.


Mendengar ucapan Matheo membuat Helmi dan Leo ikut panik lalu lari mengikuti Matheo, meninggalkan Hanako dan si kembar yang nampak kebingungan.


“ Ada apaan sih Ci. Ga mungkin kan mereka ngeliat apa yang Kita liat...?” tanya Izar.


“ Aku ga tau Zar. Tapi...,” ucapan Hanako terputus saat ia melihat sosok kepala berambut gimbal menyembul keluar dari balik besi penyangga permainan. Sosok kepala itu nampak bergoyang ke kanan dan ke kiri. Saat pemilik kepala itu keluar dari persembunyiannya terlihat kondisinya sangat mengenaskan. Wajahnya nampak hangus dengan mulut berwarna merah semerah darah.


Hanako, Iyaz dan Izar pun terkejut. Bahkan Iyaz dan Izar sudah pasang kuda-kuda alias posisi siap menyerang di depan Hanako. Meski pun usia mereka lebih muda dan postur tubuh mereka saat ini lebih kecil dibandingkan Hanako, namun Faiq memang mendidik si kembar untuk menjadi tameng hidup bagi Hanako. Iyaz dan Izar dididik untuk melindungi Hanako dimana pun dan kapan pun. Mengutamakan keselamatan Hanako di atas keselamatan mereka sendiri hingga mereka memiliki sikap yang patut diacungi jempol di usianya yang masih belia


“ Tenang Ci...,” kata Izar dan Iyaz bersamaan yang diangguki Hanako.


“ Iya. Tapi Aku rasa itu bukan makhluk halus deh. Kayanya itu...,” lagi-lagi ucapan Hanako terputus dan dipotong cepat oleh si kembar.


“ Orang g*laaa...!” jerit Iyaz dan Izar bersamaan hingga membuat Hanako terkejut.


Lalu Iyaz dan Izar menarik tangan Hanako agar menjauh dari tempat itu. Kemudian ketiganya berlari cepat dan tanpa arah sambil tetap bergandengan tangan untuk menghindari kejaran orang g*la itu.


Orang g*la yang dikira penampakan makhluk halus oleh Matheo itu pun tampak mengejar Iyaz, Izar dan Hanako sambil tertawa-tawa.


“ Lewat sini aja Yaz...!” kata Izar mengarahkan.


“ Itu arah kemana Zar. Yang benar tuh ke sana...,” sahut Iyaz sambil menunjuk kearah ilalang yang tadi mereka lewati.


“ Iya Aku tau. Tapi buat mengecoh orang g*la itu supaya ga ngikutin Kita keluar nanti, Kita lewat sini dan Cici langsung ke sana. Ok...?!” kata Izar mengatur siasat.


“ Ok...!” sahut Hanako dan Iyaz bersamaan.


Lalu ketiganya bergerak mengikuti arahan Izar. Saat Iyaz dan Izar berhasil mengalihkan perhatian orang g*la itu, Hanako dengan cepat berlari keluar melewati rimbunnya ilalang yang menghadang.

__ADS_1


Sementara itu Matheo, Leo dan Helmi nampak menunggu di dekat pintu keluar dengan posisi di atas sepeda masing-masing. Ketiganya nampak cemas karena sempat mendengar jeritan Iyaz dan Izar tadi.


“ Kita tunggu sampe si kembar dan Cici keluar ya...,” kata Matheo tegas.


“ Iya Math. Kita masuk sama-sama jadi keluar juga harus sama-sama...,” sahut Helmi setuju.


“ Betul. Masuk enam orang keluar pun harus enam orang, ga boleh kurang...,” kata Leo menambahkan dengan suara bergetar.


Meski pun tubuh ketiganya gemetar ketakutan karena tak lagi mendengar suara Iyaz, Izar dan Hanako lagi. Namun ketiganya bertahan di dekat pintu sambil mengawasi sekelilingnya. Tiba-tiba terdengar suara bergemerisik dari rimbunan ilalang. Matheo mengambil sebongkah batu dan bersiap menimpuk sesuatu yang mendekat kearah mereka itu. Namun Matheo mengurungkan niatnya saat melihat jilbab pink milik Hanako. Ia pun tersenyum melihat Hanako berhasil keluar dengan selamat.


“ Cici...!” panggil Matheo, Leo dan Helmi.


“ Iya...,” sahut Hanako dengan nafas tersengal-sengal.


“ Mana Iyaz sama Izar...?” tanya Matheo, Leo dan Helmi bersamaan.


“ Itu mereka...,” sahut Hanako sambil naik ke atas sepedanya.


“ Kalian bawa Cici keluar dari sini ya, cepetan...!” perintah Iyaz.


“ Ok, ayo Ci ikutin Leo sama Helmi, biar Aku di belakang Cici...,” sahut Matheo yang diangguki Leo dan Helmi.


“ Terus Kalian gimana...?” tanya Hanako sambil menoleh kearah kedua sepupunya itu.


“ Aku sama Izar yang bakal menghalangi orang itu supaya ga ngejar Kita sampe luar. Udah sana cepet keluar...,” pinta Iyaz lagi.


“ Ok, tapi Kalian hati-hati ya...,” pesan Hanako sambil mengayuh sepedanya mengikuti Leo dan Helmi.


“ Siaapp..,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.


Hanako dan tiga anak lainnya berhasil keluar lalu menunggu Iyaz dan Izar dengan cemas di depan pintu. Tak lama kemudian Iyaz dan Izar keluar lalu menarik pintu seng itu sekuat tenaga agar orang gla yang ada di dalam tidak mengikuti mereka. Saking kerasnya menarik pintu itu, telapak tangan Izar pun sobek dan berdarah. Sedangkan dari dalam orang gla itu terdengar mengamuk dan memukuli pintu seng hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.

__ADS_1


Melihat si kembar kesulitan menahan pintu, Leo pun berinisiatif memanjat pagar seng dengan bertumpu pada tubuh Matheo yang besar itu. sedangkan Helmi mengambil batu kerikil yang berserakan di luar pagar dan memberikannya kepada Leo. Leo pun mulai melempar kerikil kearah tubuh orang g*la yang mengamuk itu. Terdengar jerit kesakitan saat kerikil itu mengenai kepala dan tubuh orang  gla itu. Tak lama kemudian orang gila itu pergi dan kembali menghilang ke dalam taman bermain itu.


“ Alhamdulillah...,”kata Hanako, Iyaz dan Izar bersamaan sambil adu toast.


“ untungnya dia ga ngejar sampe luar ya Zar...,” kata Helmi.


“ Iya...,” sahut Izar sambil menekan luka di tangan kirinya dengan tangan kanan.


“ Tapi tangan Kamu berdarah Zar...,” kata Leo sambil menunjuk telapak tangan Izar yang berdarah.


“ Gapapa, ini cuma luka kecil kok...,” sahut Izar sambil tersenyum.


“ Biar luka kecil tapi harus segera diobati. Kan Kita ga tau penyebab luka Kamu itu Zar. Ya udah, Kita langsung balik aja ya...,” kata Hanako.


“ Tapi kan penyelidikan Kita belum selesai Ci, nanggung....,” sahut Izar.


“ Kita bisa balik lagi ke sini besok atau lusa Zar. Sekarang yang penting nanganin luka Kamu dulu. Ntar kalo infeksi gimana...?” tanya Hanako sambil membulatkan matanya dan menatap tajam kearah Izar.


“ Iya, Cici bener Zar. Lagian Kita ga bakal bisa masuk ke sana karena orang g*la itu pasti lagi nungguin Kita deh...,” sahut Matheo yang diangguki Leo dan Helmi.


“ Betul Zar. Terus terang Aku takut sama orang g*la, apalagi yang suka ngamuk dan ngejar orang kaya tadi...,” kata Matheo sambil menggelengkan kepalanya.


Izar nampak merenung sejenak. Sesaat kemudian Izar mengangguk tanda setuju untuk pulang dan mengobati lukanya.


“ Ok deh, Aku nurut apa kata Cici...,” kata Izar akhirnya hingga membuat lima orang yang bersamanya saat itu tersenyum.


Kemudian keenamnya kembali mengayuh sepeda dan berpisah di ujung jalan. Mereka berjanji akan menuntaskan penyelidikan mereka sebelum tahun ajaran baru dimulai.


Sambil melajukan sepedanya kearah rumah, Iyaz, Izar dan Hanako berbincang membahas makhluk astral yang mereka lihat dan nampak menatap Matheo dengan marah tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2