
Hanako memeluk erat Paundra sambil berdzikir untuk menetralisir aura mistis yang ada di sekitar rumah yang tengah direnovasi itu. Setelah mobil menjauhi rumah itu, Hanako nampak bernafas lega.
Hanako disambut Erik dan Farah di depan rumah. Bahkan Farah langsung meraih Paundra dari gendongan Hanako saat Hanako membuka pintu mobil. Setelah membayar tarif Taxi online itu Hanako pun mengekori sang Oma yang memboyong bayinya ke dalam rumah.
“ Maaf Bu Hanako...,” panggil Rahmat dengan santun hingga membuat Hanako menoleh.
“ Iya, ada apa Pak...?” tanya Hanako.
“ Ongkosnya kebanyakan Bu. Kan cma seratus dua puluh ribu aja. Ini Ibu bayarnya tiga ratus ribu, kelebihan Bu...,” sahut Rahmat sambil mengulurkan uang kembalian kepada Hanako.
“ Oh gapapa Pak Rahmat. Anggap aja itu hadiah dari Saya buat Anak-anak Pak Rahmat...,” kata Hanako sambil tersenyum.
“ Alhamdulillah..., makasih ya Bu...,” sahut Rahmat dengan mata berkaca-kaca.
“ Sama-sama Pak. Maaf Saya masuk dulu ya, Anak Saya nangis tuh...,” pamit Hanako sambil bergegas masuk ke dalam rumah untuk menyusui bayinya.
Rahmat hanya tersenyum lalu kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya perlahan meninggalkan rumah Erik dengan mengucap hamdalah berkali-kali.
Sedangkan di dalam rumah terlihat Farah dan Shera yang berebut menggendong Paundra. Erik dan Hanako hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya. Hanako pun menyampaikan keinginannya kepada sang opa untuk membawa Paundra ke kantor saat ia mulai bekerja nanti.
“ Boleh, Opa setuju. Tapi yang Pandu bilang juga benar. Apa Kamu bisa fokus bekerja kalo Paundra ada sama Kamu sepanjang hari...?” tanya Erik.
“ Terus Aku harus gimana dong Opa...?” tanya Hanako bingung.
“ Kenapa ga pake jasa baby sitter aja sih Ci. Biar dia ngawasin dan jagain Paundra selama Kamu kerja...,” kata Shera.
“ Tapi...,” ucapan Hanako terputus karena dipotong cepat oleh Farah.
“ Maksud Mama Kamu, baby sitternya ajak juga ke kantor Ci. Jadi Kamu bisa tetap kerja tanpa kehilangan kesempatan mengawasi Paundra...,” kata Farah.
“ Nah itu jauh lebih baik. Opa setuju...,” kata Erik sambil tersenyum.
“ Kalo gitu Aku harus cari baby sitter dulu baru bisa balik ke kantor dong...,” kata Hanako.
“ Iya...,” sahut Erik dan Farah bersamaan.
Hanako hanya menghela nafas panjang karena harus menunda keinginannya bekerja di kantor seperti dulu.
\=====
Izar nampak senang menggoda Paundra yang sedang disuapi Farah. Hanako pun berdecak kesal melihatnya karena Paundra lebih banyak tertawa daripada menghabiskan makanannya.
“ Udah dong Om, Aku mau makan dulu ya...,” kata Hanako mewakili sang anak.
__ADS_1
“ Mami Kamu pelit banget ya Nak...,” sahut Izar sambil mencubit gemas pipi Paundra hingga membuat Hanako mendelik.
“ Jangan biasain ribut di depan Paundra, nanti dia meniru kejelekan Kalian. Sebaiknya Kalian ke sana dulu
biar Paundra bisa makan dengan nyaman...,” kata Farah sambil menatap tajam Hanako dan Izar bergantian.
“ Iya Oma...,” sahut Hanako dan Izar bersamaan.
Keduanya bergeser menjauh dari Farah dan Paundra menuju teras samping. Kesempatan itu digunakan Hanako
untuk membahas keanehan yang dijumpainya di jalan tadi.
“ Eh Zar, Kamu pernah denger ga pesugihan yang syaratnya ngerenovasi rumah dalam kurun waktu tertentu...?” tanya Hanako.
“ Pernah denger sih, tapi namanya lupa. Kenapa emangnya...?” tanya Izar.
Hanako pun mulai menceritakan keanehan yang dilihatnya termasuk cerita Rahmat sang supir taxi online tadi.
“ Rumah yang mana sih Ci...?” tanya Izar yang hapal daerah rumah Hanako dan Pandu karena seringnya ia berkunjung ke sana.
“ Yang deket belokan itu Zar...,” sahut Hanako.
“ Yang ada deretan pohon palem di depannya ya...?” tanya Izar ragu.
“ Iya betul...,” sahut Hanako cepat.
“ Apa menurut Kamu penghuninya ngelakuin pesugihan Zar...?” tanya Hanako.
“ Belum tentu. Mungkin pemilik rumah itu lah yang ngelakuinpesugihan...,” sahut Izar.
“ Kok gitu...?” tanya Hanako.
“ Karena setau Aku rumah itu disewain ke orang lain. Dijadiin kost-kost an juga kok...,” sahut Izar.
“ Kasian penghuninya dong. Kalo makhluk itu minta tumbal, mereka yang ditumbalin gitu...?” tanya Hanako sambil mengerutkan keningnya.
Pembicaraan keduanya didengar oleh Faiq yang baru saja tiba. Setelah membasuh tangan dan wajahnya Faiq bergabung dengan Izar dan Hanako.
“ Pesugihan kaya gitu ga minta tumbal manusia Ci. Tapi tetep aja ada makhluk halus yang mengawasi rumah itu seperti yang Kamu liat tadi..,” kata Faiq yang langsung duduk di samping Izar.
“ Ayah, Papa...,” panggil Izar dan Hanako bersamaan hingga membuat Faiq tersenyum.
Sebelum Faiq menjelaskan lebih lanjut, Shera datang dengan membawa secangkir kopi dan sepiring pisang goreng untuk suaminya. Seperti biasa Izar dan Hanako berebut mengambil pisang goreng sedangkan Faiq meraih cangkir dan meneguk isinya.
__ADS_1
“ Kalian kan baru aja dimarahin sama Oma, kok diulangin lagi sih...,” kata Shera sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hanako dan Izar.
Hanako dan Izar pun terkejut lalu segera memperbaiki sikap mereka. Bahkan mereka saling menjauh supaya tak berselisih lagi. Shera memilih duduk diantara keduanya untuk menjadi penengah.
“ Terus kalo bukan manusia, tumbalnya apaan Pa...?” tanya Hanako.
“ Tumbalnya ya rumah mereka sendiri. Namanya pesugihan kandang bubrah...,” sahut Faiq.
“ Kandang apa Pa...?” tanya Hanako.
“ Kandang bubrah Cici...,” sahut Izar gemas hingga membuat Faiq tersenyum.
“ Pesugihan itu mengharuskan para penganutnya melakukan renovasi rumah secara terus menerus. Walau pun rumah itu udah bagus dan dirombak sana sini, selama penganutnya masih hidup ya harus terus merenovasi rumah. Entah bagian dapur, bagian teras, ganti kusen dan lain sebagainya. Ga perlu secara bersamaan, yang penting selalu ada proses pengerjaan renovasi di rumah itu. Makanya kadang-kadang bentuk rumah yang pemiliknya menganut pesugihan kandang bubrah itu tak beraturan alias tak terkonsep. Bahkan akan saling tumpang tindih dengan ruangan yang udah ada. Kadang ada tiga dapur atau empat kamar mandi di dalam satu rumah yang semuanya kadang jarang digunakan...,” kata Faiq menjelaskan.
Mendengar penuturan Faiq membuat mata Hanako membulat karena teringat dengan rumah yang sedang ia bicarakan dengan Izar.
“ Jadi pemilik rumah itu beneran ngelakuin pesugihan aneh itu...,” gumam Hanako sambil mengunyah pisang goreng dengan lambat.
\=====
Malam itu Izar dan Faiq mengantar Hanako pulang ke rumahnya dengan menggunakan mobil. Saat mobil yang
dikendarai Izar melintas di depan rumah yang dimaksud Hanako tadi, terlihat seorang wanita memakai piyama berlari keluar rumah tanpa alas kaki. Wajahnya terlihat sangat pucat dengan rambut yang berantakan. Wanita itu menghadang laju mobil dengan merentangkan kedua tangannya hingga mengejutkan Izar. Beruntung ia berhasil menghentikan mobil.
“ Tolong Saya, tolong...,” pinta wanita itu menghiba sambil menangis.
Izar, Hanako dan Faiq saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Setelah mendapat persetujuan dari tiga orang di dalam mobil, wanita itu bergegas masuk. Setelahnya Izar melajukan mobil menuju ke rumah Hanako.
“ Kamu siapa dan kenapa...?” tanya Hanako sambil memeluk bayinya erat.
“ Nama Saya Ratih, Saya kabur dari rumah itu karena Saya ga tahan terus diterror oleh jin penunggu rumah itu...,” sahut Ratih sambil sesekali menoleh ke belakang karena khawatir diikuti oleh sesuatu.
“ Jin apa. Kamu jangan bercanda ya. Mana ada jin di sini..,” sergah Hanako pura-pura tak percaya.
“ Saya ga bohong Mbak. Saya baru aja lolos dari serangan ghaib. Saya aja ga tau gimana nasib teman satu kost yang lain...,” sahut Ratih gusar.
“ Itu artinya Kamu egois karena kabur sendiri tanpa ngajak teman-teman Kamu...,” kata Izar sinis.
“ Saya udah ngajak mereka keluar berkali-kali, tapi mereka malah ngetawain Saya Mas. Mereka kira Saya lagi halu atau semacamnya. Makanya Saya keluar sendiri aja tadi...,” kata Ratih menjelaskan.
Mendengar penjelasan Ratih Izar pun terdiam. Tak lama kemudian mereka tiba di rumah Hanako. Saat Ratih hendak turun mengikuti Hanako, Faiq menahannya.
“ Kamu ga usah masuk Ratih. Biar Kami antar Kamu ke rumah familimu atau temanmu...,” kata Faiq tegas.
__ADS_1
Izar dan Hanako menoleh namun mereka mengerti mengapa Faiq memutuskan hal itu. Setelah menurunkan Hanako dan menyapa Pandu yang menyambut mereka di depan pintu, Izar pun kembali melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Bersambung