Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
72. Dipaksa Melihat


__ADS_3

Saat tiba di depan rumah Neta langsung turun dari boncengan ayahnya dan segera berlari menuju ke kamarnya. Neta bahkan tak menghiraukan sapaan sang mama yang terheran-heran melihat tingkahnya itu.


“ Assalamualaikum...,” sapa Bayan.


“ Wa alaikumsalam, kok telat sih Yah. Itu Neta kenapa...?” tanya istri Bayan.


“ Oh itu. Neta tadi sempat Ayah bawa ke klinik karena ngedrop. Keliatannya sakit karena tamu bulanannya kali ini agak beda Ma...,” sahut Bayan.


“ Beda gimana Yah...?” tanya istri Bayan tak mengerti.


Bayan pun menceritakan analisa Iyaz dan Izar juga perasaannya melihat kondisi Neta tadi. Istri Bayan nampak berpikir keras mencoba mengingat penyebab penyakit Neta.


“ Mungkin ga kalo Neta diganggu sama penunggu kolam renang di villanya Pak Sumantri itu Yah...?” tanya istri Bayan hati-hati.


“ Maksud Kamu apa sih Ma...?” tanya Bayan sambil menatap lekat kearah istrinya.


Bayan ingat jika dua minggu yang lalu istrinya mengahadiri reuni di sebuah villa bersama teman-teman semasa SMAnya dulu. Karena tak bisa mendampingi istrinya, maka Bayan mengijinkan Neta ikut serta untuk menemani istrinya itu. Bayan berpikir jika Neta perlu liburan setelah menghabiskan hari yang melelahkan selama lima hari sekolah.


Saat reuni itu panitya menyiapkan villa yang terletak tak jauh dari rumah Bayan. Karenanya Bayan tak terlalu khawatir saat istri dan anaknya menginap di sana.


Namun sejak kembali dari villa yang disebut milik Pak Sumantri itu, perubahan terjadi pada diri Neta. Dia yang pendiam itu terlihat makin pendiam bahkan cenderung tertutup. Bayan tak curiga sama sekali karena mengira hal itu terjadi karena Neta kelelahan usai menemani sang mama.


“ Mmm, soalnya Anak teman Aku juga ngalamin hal yang sama kaya Neta, Yah. Kebetulan dia juga berenang bareng sama Neta kemarin...,” kata istri Bayan gusar.


Bayan nampak membulatkan matanya. Kemudian Bayan dan istrinya menatap lekat pintu kamar Neta yang tertutup itu seolah ingin melihat apa yang sedang dilakukan anaknya saat ini.


“ Kalo gitu Kita memang perlu bantuan Ma. Insya Allah besok pagi Ayah balik lagi ke pesantren. Mau ngobrol sekalian minta tolong sama Ustadz Hamzah dan santrinya itu...,” kata Bayan yang diangguki istrinya.


\=====


Malam itu Neta tengah tertidur di atas tempat tidur. Sama seperti malam-malam sebelumnya, Neta akan terbangun saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Neta berusaha memejamkan matanya karena tahu apa yang bakal ia lihat dan ia alami jika sudah terjaga seperti itu.


“ Satu...,dua..., tiga...,” kata suara tanpa wujud. Terdengar lirih dan bergetar.


Lagi-lagi Neta berusaha memejamkan matanya saat mendengar suara itu. Perlahan Neta merasa suhu udara di dalam kamarnya itu berubah menjadi lebih dingin padahal kamarnya tanpa pendingin ruangan. Suasana makin mencekam karena kamar Neta dalam keadaan gelap, Neta memang terbiasa memadamkan lampu saat tidur.

__ADS_1


Berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini Neta juga merasa ada suara tetesan air yang jatuh di dekatnya. Dan tetesan air itu mulai membasahinya juga selimut yang ia kenakan. Karena merasa terganggu Neta mulai bereaksi.


“ Kok ada air sih, perasaan ga hujan di luar. Lagian atap rumah kan baru aja diganti sama Ayah, masa udah bocor aja...,” gumam Neta sambil menepis tetesan air yang jatuh mengenainya.


Tapi tetes air itu masih ada dan makin banyak hingga membuat Neta terpaksa membuka matanya. Neta mencoba menelusuri tetesan air dan menoleh kearah sumber air yang jatuh itu. Saat menatap ke atas Neta terkejut karena air itu berasal dari rambut basah seorang wanita yang tengah melayang dengan posisi tertelungkup di atas tubuhnya. Tubuh Neta pun terasa membeku seolah dipaksa menyaksikan sesuatu yang tak ingin ia lihat.


Neta menatap wanita itu yang juga tengah menatap kearahnya dengan kedua matanya yang hanya berupa rongga kosong dan hitam itu. Kemudian hantu wanita itu mendekatkan wajahnya sambil berbisik.


“ Satu..., dua..., tiga...,”


Setelah hitungan mencapai angka tiga wajah wanita itu menyeringai lalu mulutnya terbuka lebar memperlihatkan isi di dalam mulutnya yang berupa ratusan belatung. Neta menjerit saat wajah itu terkoyak dan hancur tiba-tiba dengan isi kepala memburai keluar.


Jeritan Neta terdengar oleh semua penghuni rumah. Bayan langsung mendobrak pintu kamar Neta yang terkunci itu dalam sekali tendangan hingga pintu itu hancur. Kemudian Bayan menghambur masuk dan menjumpai Neta tengah terbaring terlentang dengan mulut menganga dan mata melotot menatap kearah atas. Tubuh Neta bergetar hebat dengan kedua tangan yang tertahan di atas kepalanya seolah terpasung di sana.


Bayan langsung mendekat dan meraih tubuh Neta ke dalam pelukannya. Saat itu lah Neta kembali menjerit lalu menangis.


“ Ayah...,Ayah...,” kata Neta sambil menangis.


“ Iya, iya. Menangis lah Nak, menangis lah. Ayah di sini...,” sahut Bayan sambil mengusap punggung Neta yang bergetar hebat itu.


“ Neta kenapa Ma...?” tanya kakak sulung Neta.


“ Mama juga ga tau...,” sahut sang mama.


Tangis Neta perlahan mereda. Bayan mengurai pelukannya sambil mengusap air mata di wajah Neta dengan jari tangannya.


“ Ayah, a..., ada hantu di si..., sini...,” kata Neta sambil terisak.


“ Hantu apa sih Net. Jangan nakut-nakutin dong...,” sahut kakak perempuan Neta.


“ Sssttt..., Kalian keluar dulu. Ayah mau bicara sama Neta...,” pinta Bayan sambil menoleh kearah tiga kakak Neta.


Ketiga kakak Neta langsung keluar dari kamar dan meninggalkan Neta bersama kedua orangtua mereka. Kemudian Bayan menyerahkan Neta pada istrinya. Neta pun langsung memeluk sang mama dengan erat sambil memejamkan matanya.


Bayan nampak mengamati kamar putrinya itu dengan seksama. Ia mengecek jendela dan melihat ada tetesan air di sana padahal saat itu tak sedang hujan. Kemudian Bayan menoleh kearah tempat tidur dan melihat jika selimut dan sprei basah seperti disiram air.

__ADS_1


“ Kamu tidur pake kasur basah kaya gini Nak...?” tanya Bayan heran.


“ Kasurnya ga basah tadi Yah, itu baru aja. Hantu itu yang bikin kasur Aku basah...,” sahut Neta sambil mengusap air matanya.


“ Masa hantu bikin kasur Kamu basah sih Nak. Emangnya dia bawa ember yang isinya air ya...,” goda sang mama sambil mengusak rambut Neta.


“ Ini serius Mama...!” kata Neta tak suka hingga mengejutkan Bayan dan istrinya.


“ Ok, maafin Mama ya. Mama hanya mau menghibur Kamu aja kok...,” sahut sang mama sambil tersenyum dan diangguki Neta.


Malam itu Bayan meminta Neta pindah dari kamarnya dan tidur di kamar mereka namun Neta menolak. Neta lebih memilih tidur di sofa ruang tengah karena merasa lebih nyaman.


“ Aku gapapa Yah, Aku di sini aja. Aku kan udah besar masa masih tidur sama Ayah dan Mama...,” kata Neta sambil menggelengkan kepalanya.


“ Tapi ini kan darurat Nak. Gapapa dong...,” bujuk sang mama tapi Neta tetap menggeleng.


“ Ya udah gapapa Ma. Kita aja yang pindah buat nemenin Neta tidur di ruang tengah...,” kata Bayan sambil membawa perlengkapan tidur Neta.


“ Sebentar Ma...,” kata Neta sambil menggamit tangan sang mama.


“ Ada apa lagi...?” tanya sang mama.


“ Aku mau ganti pembalut dulu Ma. Ga enak rasanya...,” bisik Neta dan diangguki sang mama.


Neta bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya sambil membawa pembalut. Dua menit kemudian terdengar jeritan Neta dari kamar mandi. Bayan dan istrinya kembali terkejut lalu bergegas mendekat dan mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.


“ Neta, buka pintunya sekarang...!” kata Bayan berulang kali.


“ Neta, jangan bikin Mama takut dong. Kamu kenapa Neta...?!” tanya istri Bayan panik karena tak ada sahutan dari dalam kamar mandi.


Sedangkan di dalam kamar mandi Neta nampak berdiri di balik pintu dengan tubuh gemetar ketakutan dan wajah basah dengan air mata. Lagi-lagi Neta tak bisa menggerakkan tubuhnya seolah dipaksa melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat. Neta melihat dengan jelas jika hantu wanita yang tadi mengganggunya kini sedang menelungkup di


lantai sambil menjilati pembalut yang bekas dipakai Neta tadi !.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2