
Hukuman untuk Malhaj dan Mardiyah pun dijatuhkan. Malhaj divonis delapan belas tahun penjara potong masa tahanan karena terbukti menjadi otak pembunuhan Marwah. Sedangkan Mardiyah divonis dua belas tahun penjara karena selain terbukti memalsukan tulisan Marwah hingga mengacaukan penyelidikan polisi, Mardiyah juga harus menerima hukuman karena telah mempekerjakan anak di bawah umur dan mengekploitasi anak demi kepentingan pribadi. Yang lebih memprihatinkan anak-anak itu adalah anak kandungnya sendiri yaitu Salman dan Najas yang diperbudak olehnya ketika mereka masih berusia sebelas dan delapan tahun.
“ Aku belajar meniru tulisan Marwah selama beberapa tahun. Bagaimana mungkin ada yang tau itu bukan tulisan Marwah padahal tulisan itu sama persis dengan tulisan Marwah...,” gumam Mardiyah tak percaya saat keaslian pesan Marwah diragukan.
“ Sahabat sekaligus teman sekamar Marwah lah yang mengungkapkan kebenarannya Nyonya. Namanya Raqiya, apa Anda ingat dia...?” tanya pengacara Marwah.
“ Raqiya...?” tanya Mardiyah mencoba mengingat.
“ Betul. Suami Raqiya adalah Polisi handal yang memiliki banyak prestasi Nyonya. Dan Anda paham kan kenapa Anda sekarang ada di sini...?” tanya sang pengacara.
Mardiyah membeku di kursi yang ia duduki. Ia geram karena melewatkan satu sosok penting dalam kasus kematian
Marwah. Mardiyah dan pengacaranya tak pernah tahu jika arwah Marwah lah yang telah mengatakan bahwa tulisan dalam secarik kertas itu bukan lah coretan tangannya. Pihak kepolisian sengaja mengaburkan hal itu dan menjadikan Raqiya sebagai orang yang membuktikan kepalsuan tulisan itu mengingat hubungan dekatnya dengan Marwah. Apalagi ditemui banyak sidik jari Mardiyah di kertas itu yang makin menguatkan dugaan polisi.
Mardiyah makin tak berdaya saat semua pengunjung bertepuk tangan menyambut putusan hakim. Tak ada satu pun yang bersimpati pada kisah cinta absurd Mardiyah dan Malhaj. Bahkan mereka terus membully Mardiyah dan Malhaj saat keduanya diarak menuju ke mobil tahanan.
\=====
Hari-hari Mardiyah pun harus dilewati dalam kesepian dan kesendirian. Jika tahanan lain akan bahagia menyambut hari kunjungan tapi tidak dengan Mardiyah. Tak ada yang mengunjunginya di penjara. Meski pun statusnya masih istri Gusman, namun Gusman tak peduli dengannya apalagi Najas dan Salman. Mereka terlanjur sakit hati dengan sikap Mardiyah. Dan nampaknya mereka masih perlu waktu untuk bisa memaafkan Mardiyah.
Mardiyah menangis saat menyaksikan para napi dikunjungi keluarganya. Ia pun rindu pada anak dan suaminya itu. Namun Mardiyah hanya bisa menunggu tanpa tahu kapan bisa melihat mereka lagi. Setelah beberapa waktu menjalani hukuman di penjara Mardiyah sadar betapa bodohnya dia dahulu. Karena rayuan seorang pria tak bertanggung jawab membuatnya tega menghancurkan hidup orang-orang yang menyayanginya.
“ Maafkan Aku...,” gumam Mardiyah berkali-kali di sela isak tangisnya.
“ Sia-sia penyesalanmu Ibu...,” kata suara hantu Marwah dari sudut ruangan.
“ Kau betul. Mereka ga pernah bisa memaafkan Aku...,” sahut Mardiyah sedih.
__ADS_1
“ Apa kau merindukan mereka Ibu...?” tanya hantu Marwah.
“ Sangat...,” sahut Mardiyah cepat.
“ Sayangnya mereka tak merindukanmu Bu. Mereka bahkan melupakanmu. Mereka kini tengah bahagia dengan kelahiran anak pertama Najas. Cucumu...,” ejek hantu Marwah.
“ Benar kah...?” tanya Mardiyah dengan suara parau.
“ Iya...,” sahut hantu Marwah.
Mardiyah merasa sakit hati karena dilupakan oleh anak dan suaminya namun ia tak sanggup berbuat apa pun. Kesedihannya makin bertambah saat ia mendengar Malhaj mengajukan banding karena tak terima dengan vonis hakim. Mardiyah merasa ditinggalkan oleh pria yang selalu ia perjuangkan itu.
“ Kalo Aku jadi Ibu, lebih baik Aku mengakhiri hidupku daripada Aku berjuang sendiri tanpa tau untuk apa dan untuk siapa Aku bertahan...,” kata hantu Mardiyah sambil melayang menembus dinding.
“ Dia benar. Aku hidup atau mati pun tak akan ada bedanya. Tak ada yang peduli padaku atau mengharapkan Aku kembali. Jadi rasanya lebih baik menyudahi semuanya. Secepatnya...,” batin Mardiyah sambil mengepalkan tangannya.
Tanpa sepengetahuan siapa pun Mardiyah mencari tempat dan waktu yang pas untuk melancarkan aksinya. Hingga suatu hari Mardiyah ditemukan tewas gantung diri dengan seutas selendang di kamar mandi. Tak ada tangis yang mengiringi kepergiannya.
“ Kami serahkan semua urusan ini kepada Bapak dan Ibu selaku petugas di penjara ini...,” kata Gusman didampingi
Salman.
“ Tapi dia masih berstatus Istri Anda Pak Gusman. Dan kewajiban Anda mengurus jenasahnya karena dia keluarga Anda...,” sahut kepala penjara.
“ Tapi dunia tau seperti apa wanita ini. Saya memang belum sempat menceraikannya karena Saya sibuk menyambut kelahiran Cucu pertama Saya. Jadi tolong mengerti lah. Bukan kah negara juga menyediakan lahan untuk para napi yang meninggal tanpa memiliki keluarga. Makamkan saja dia di sana...,” sahut Gusman.
Kepala penjara dan beberapa petugas penjara saling menatap lalu menghela nafas pasrah. Gusman dan Salman memberi sejumlah uang kepada para petugas penjara itu sehingga mereka tak keberatan mengurus jenasah Mardiyah.
__ADS_1
“ Apa Ayah mau menyaksikan proses pemakamannya...?” tanya Salman hati-hati.
“ Aku bukan malaikat Nak, Aku ga punya hati seluas samudra untuk bisa menyaksikan pemakaman wanita yang telah mengkhianatiku itu. Lebih baik Kita pergi dari sini. Doakan saja Ibumu supaya Allah mengampuni segala dosanya...,” sahut Gusman dengan enggan.
Salman terdiam dan tak menjawab ucapan ayahnya itu karena tahu betapa kecewanya Gusman pada sang ibu. Kemudian Salman dan Gusman meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat seolah enggan melihat ke belakang lagi.
Hal berbeda terjadi saat Iyaz dan Osman mendengar berita kematian Mardiyah akibat bunuh diri. Mereka nampak terdiam sambil saling menatap. Mereka tahu jika hasutan Marwah lah yang telah menyebabkan Mardiyah nekad bunuh diri.
“ Kamu menghasut Bu Mardiyah untuk mengakhiri hidupnya kan Marwah...?” tanya Iyaz.
“ Iya. Aku mau dia juga merasakan apa yang Aku rasakan. Mati penasaran karena dibunuh atau dibunuh itu sama saja bukan. Aku puas bisa menyaksikan sakaratul mautnya itu...,” kata hantu Marwah.
“ Sudahi dendammu Marwah, tak ada lagi yang membebanimu. Sekarang pergi lah dengan tenang...,” bujuk Iyaz.
“ Iya, Aku bakal pergi Iyaz. Terima kasih karena telah membantu mengungkap kematianku. Tolong sampaikan salamku untuk Raqiya dan Suaminya juga untuk Ayah dan Adikku...,” sahut hantu Marwah.
“ Apa Kau lupa sama Aku Marwah...?” tanya Osman sambil tersenyum hingga membuat hantu Marwah ikut tersenyum.
“ Terima kasih Osman, Kau pria yang baik. Aku beruntung mengenalmu...,” sahut hantu Marwah dengan tulus.
“ Aku juga bahagia bisa membantumu Marwah. Pergi lah...,” kata Osman dengan mata berkaca-kaca.
Hantu Marwah mengangguk lalu menundukkan wajahnya. Sesaat kemudian Iyaz dan Osman pun berdzikir mengantar kepergian Marwah yang tampil dengan penampilan terbaiknya sama persis seperti saat terakhir ia hidup. Mengenakan gaun pink dengan rambut tergerai indah dan senyum merekah di wajah cantiknya itu, Marwah pun pergi ke haribaan Allah.
“ Terima kasih...,” kata suara tanpa wujud itu sekali lagi.
“ Al Fatihah...,” sahut Iyaz dan Osman bersamaan sebagai jawaban atas ucapan Marwah.
__ADS_1
Marwah pergi dengan tenang setelah menyelesaikan urusan yang membebani langkahnya selama belasan tahun kematiannya meski pun harus membuat Mardiyah putus asa dan memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya. Sedangkan lyaz dan Osman pun nampak tersenyum lega setelah berhasil mengantar Marwah pergi ke tempat yang seharusnya.
Bersambung