
Sore itu Iyaz memenuhi janjinya untuk menemui kedua orangtua Nuara. Iyaz mengantar Nuara dengan menggunakan Taxi. Meski pun keduanya duduk terpisah, namun kebahagiaan tetap terpancar di wajah mereka.
“ Assalamualaikum...,” sapa Nuara dan Iyaz bersamaan.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut kedua orangtua Nuara sambil tersenyum.
“ Lho ada Mas Iyaz. Mari silakan masuk Mas...,” kata papa Nuara ramah.
“ Makasih Pak...,” sahut Iyaz.
Iyaz pun mengekori papa Nuara masuk ke ruang tamu, sedangkan Nuara dan mamanya pergi ke dapur untuk menyiapkan kopi dan makanan ringan.
“ Alhamdulillah Kamu bisa pulang cepet. Tapi kenapa ngajak Mas Iyaz segala Nak...?” tanya sang mama.
“ Katanya Mas Iyaz mau ngomong sesuatu sama Papa dan Mama...,” sahut Nuara.
“ Ngomong apa...?” tanya mama Nuara.
“ Nanti Mama juga tau...,” sahut Nuara sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi itu menuju ruang tamu.
Nuara meletakkan cangkir kopi di meja kemudian duduk di samping sang mama. Setelah berbasa-basi sejenak, Iyaz pun menyampaikan niat kedatangannya sore itu.
“ Saya dengar malam ini akan ada tamu yang mau melamar Nuara. Apa itu benar Pak...?” tanya Iyaz hati-hati.
“ Iya, betul Mas...,” sahut papa Nuara cepat.
“ Sejujurnya Saya keberatan Pak...,” kata Iyaz.
“ Maaf, maksudnya gimana ya Mas...?” tanya papa Nuara tak mengerti.
“ Saya keberatan karena kedatangan Saya ke sini justru ingin melamar Nuara untuk jadi Istri Saya Pak...,” sahut Iyaz tegas hingga mengejutkan kedua orangtua Nuara.
Keduanya saling menatap seolah tak percaya dengan pendengaran mereka. Kemudian keduanya menatap Nuara yang tengah menunduk sambil meremas jemarinya. Dan saat itu lah mereka melihat kilauan cincin yang melingkar manis di jari Nuara.
“ Nuara...,” panggil sang papa.
“ Iya Pa. Yang Mas Iyaz bilang itu benar. Bukannya tadi pagi Papa bilang kalo Aku boleh nolak perjodohan itu asal ada seorang yang Aku sukai melamar Aku ?. Dan Aku udah nerima lamaran Mas Iyaz tadi...,” sahut Nuara sambil menatap sang papa.
“ Tapi ini...,” ucapan papa Nuara terputus saat Iyaz memotong dengan cepat.
“ Maafkan Saya jika kurang sopan. Tapi tolong jangan salahkan Nuara. Saya yang lamban karena tak memberi kepastian sama Nuara. Selama ini Saya mencintai Nuara dan sengaja menunggu waktu yang pas untuk memberitahu perasaan Saya. Tapi saat Saya dengar Nuara akan dijodohkan dengan pria lain, Saya sadar kalo Saya harus bertindak cepat. Saya ga mau kehilangan Nuara karena Saya sangat mencintainya. Jadi Saya mohon, tolong batalkan perjodohan itu...,” kata Iyaz sambil menggenggam tangan papa Nuara.
“ Kalian ga sedang membohongi Kami kan. Siapa tau Kalian sedang berakting supaya Nuara bisa menolak lamaran mereka...?” tanya papa Nuara sambil menatap Iyaz lekat.
__ADS_1
“ Kami ga sedang berakting Pak. Insya Allah Saya akan datangkan orangtua dan keluarga Saya untuk melakukan
lamaran resmi secepatnya Pak...,” sahut Iyaz mantap.
Papa Nuara nampak berpikir sambil menatap Iyaz dan Nuara bergantian. Dan itu membuat suasana dalam ruangan menjadi hening. Hanya suara detak jam dinding yang memenuhi ruangan. Sesaat kemudian papa Nuara pun mengatakan sesuatu yang membuat Iyaz dan Nuara terharu.
“ Baik lah, Saya percaya. Saya akan membatalkan perjodohan Nuara dengan pria itu nanti...,” kata papa Nuara.
“ Alhamdulillah, makasih Pak...,” kata Iyaz lalu mencium punggung tangan papa Nuara sebagai ungkapan terima kasih.
Papa Nuara pun mengusap kepala Iyaz sambil tersenyum. Sedangkan Nuara dan sang mama nampak saling memeluk sambil menitikkan air mata. Setelah mengurai pelukan dengan sang mama, Nuara beralih memeluk sang papa.
“ Makasih Pa...,” kata Nuara sambil menghambur memeluk sang papa.
“ Sama-sama Nak...,” sahut papa Nuara sambil mengusap punggung Nuara dengan lembut.
Setelah mengurai pelukan dengan sang papa Nuara pun nampak menghapus air matanya. Saat itu lah tak sengaja ia melirik kearah Iyaz yang juga tengah menatapnya. Keduanya pun saling melempar senyum dan itu membuat kedua orangtua Nuara ikut tersenyum. Kini keduanya yakin jika Nuara dan Iyaz memang menjalin hubungan serius meski pun mereka saling menjaga jarak.
\=====
Malam itu tamu yang ditunggu oleh kedua orangtua Nuara pun datang. Mereka membawa serta anak laki-laki mereka yang sedianya akan dijodohkan dengan Nuara. Laki-laki bernama Diki itu memang tampan dan terlihat mapan hingga membuat kedua orangtua Nuara kagum saat pertama kali melihatnya.
“ Silakan duduk...,” kata papa Nuara ramah.
“ Terima kasih...,” sahut ayah Diki mewakili rombongan.
“ Maaf Om Adam, dimana Anak Om yang katanya mau dikenalin sama Saya itu...?” tanya Diki tak sabar.
Pertanyaan Diki membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Mereka maklum dengan sikap Diki karena sejujurnya mereka juga sedang menunggu kehadiran Nuara.
“ Maaf sebelumnya, tapi Anak Saya memang ga ada di rumah saat ini...,” sahut Adam jujur karena Nuara memang mengungsi ke rumah sang tante sesuai permintaan kedua orangtuanya.
“ Maksudnya gimana ya Pak Adam. Apa anak Pak Adam itu ga tau kalo malam ini keluarga Kami datang untuk melamarnya...?” tanya ayah Diki.
" Melamar, bukannya Kita baru akan mempertemukan mereka aja Pak...?" tanya Adam bingung.
" Iya, apa pun namanya kan sama aja. Buktinya Nuara juga ga ada di sini kan sekarang...?" tanya ayah Diki.
“ Maafkan Saya karena udah bikin kacau. Ternyata Nuara dan calon Suaminya udah punya rencana menikah dalam waktu dekat ini. Salah Saya karena ga nanya dulu sama Nuara tentang perjodohan ini dan terlanjur mengiyakan permintaan Bapak...,” sahut Adam tak enak hati.
“ Calon Suami, maksudnya Anak Pak Adam udah punya pasangan...?” tanya ayah Diki.
“ Betul Pak...,” sahut Adam.
__ADS_1
Dalam sekejap saja terjadi kegaduhan di ruang tamu. Diki dan keluarganya terlihat marah dan mulai memaki. Sedangkan mama Nuara nampak terdiam dengan tubuh gemetar karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
“ Anda mempermainkan Saya Pak Adam...?!” seru ayah Diki lantang.
“ Demi Allah Saya ga berniat mempermainkan Bapak dan keluarga. Tapi Saya juga ga tau kalo Nuara sedang menjalin hubungan dengan seorang pria bahkan mereka berniat menikah. Selama ini yang Saya tau Nuara itu sendiri dan ga punya pasangan. Jadi tolong maafkan Saya...,” kata Adam sambil menangkup kedua telapak tangannya di depan dada.
“ Saya ga mau tau. Kalian telah membuat Saya malu. Jadi tunggu apa yang bakal Kalian dapatkan nanti...!” kata ayah Diki berapi-api lalu keluar dari rumah tanpa pamit.
Diki dan keluarganya pun mengekor di belakang sang ayah. Diki sempat menoleh kearah kedua orangtua Nuara dan tersenyum sinis sebelum masuk ke dalam mobil. Kedua orangtua Nuara melepas kepergian tamunya dengan perasaan kacau. Namun dalam hati mereka senang karena batal menjodohkan Nuara dengan Diki.
“ Alhamdulillah Kita ga jadi besanan sama mereka ya Pa. Ga kebayang kalo Nuara punya Suami yang sombong dan ga punya tata krama kaya si Diki...,” kata mama Nuara.
“ Iya Ma. Ternyata Iyaz jauh lebih baik dibanding Diki...,” sahut Adam sambil tersenyum.
“ Mudah-mudahan ga ada apa-apa setelah ini ya Pa. Mama kok takut ya denger ucapan terakhir Ayahnya Diki tadi...,” kata mama Nuara sambil bergidik.
“ Aamiin...,” sahut Adam penuh harap.
\=====
Malam itu berlalu begitu saja dan kedua orangtua Nuara pun tidur dengan nyenyak. Namun keanehan terjadi saat mereka usai melaksanakan sholat Subuh.
Mama Nuara menjerit keras hingga mengejutkan Nando dan sang papa yang baru saja pulang dari masjid usai sholat Subuh berjamaah. Keduanya berlari cepat menuju ke kamar dan mendapati wanita itu terbaring di atas sajadah sambil meringis kesakitan.
“ Ada apa Ma...?” tanya Nando.
Mama Nuara tak menjawab. Ia menunjuk kearah perutnya yang membesar tiba-tiba sambil meringis menahan sakit.
“ Mama hamil...?” tanya Nando tak mengerti.
“ Bukan Nando, Mama ga tau ini kenapa. Tapi rasanya sakit banget...,” sahut sang mama dengan suara lirih.
Adam berjongkok sambil menyentuh perut sang istri yang membuncit dan berwarna kemerahan itu. Pria itu terkejut karena merasa panas saat menyentuh perut sang istri. Sedetik kemudian istrinya kembali menjerit karena merasa sesuatu menyakiti perutnya.
“ Liat Pa, perut Mama bergerak aneh kaya ada sesuatu yang bergerak di dalam sana...!” kata Nando lantang sambil
menunjuk perut sang mama yang berkedut dengan cepat dan berpindah-pindah.
Mama Nuara pun menangis karena tak kuat menahan sakit. Sesaat kemudian mama Nuara memuntahkan darah kehitaman berbau busuk dari mulutnya lalu menjerit sekali lagi dan jatuh tak sadarkan diri.
“ Mama...!” panggil Nando.
“ Astaghfirullah aladziim..., ya Allah tolong selamatkan Istriku...,” kata Adam dengan suara bergetar sambil mengangkat tubuh sang istri lalu membawanya ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Dalam perjalanan Nando menghubungi Nuara dan memintanya menyusul ke Rumah Sakit, sedangkan Adam nampak menatap lekat wajah sang istri. Adam ingat ancaman ayah Diki dan berharap jika dugaannya salah.
Bersambung