
Saat pertemuan di kafe sore itu, Izar dan Alya saling bertukan nomor ponsel. Selanjutnya mereka saling berkabar dengan intens. Alya kerap bertanya pada Izar jika melihat sesuatu yang aneh di dalam rumah termasuk saat ia mendengar suara aneh dari luar kamarnya malam itu.
Saat itu jam menunjukkan pukul satu dini hari. Sedangkan Iyaz dan Izar sengaja menginap di rumah baru Hanako
untuk mengawasi Alya. Alya yang terbangun karena mendengar suara aneh itu pun langsung menghubungi Izar.
“ Assalamualaikum Bang Izar...,” kata Alya.
“ Wa alaikumsalam, kenapa Al...?” tanya Izar.
“ Aku denger suara aneh di luar kamar nih Bang...,” kata Alya.
“ Suara aneh apa, lebih spesifik dong Al...,” pinta Izar.
“ Suara kaya orang menggumam gitu Bang, tapi kayanya dilakukan lebih dari satu orang Bang. Terus hawa di dalam kamar juga terasa panas banget...,” kata Alya.
“ Kamu wudhu dan dzikir ya Al. Jangan lengah...,” kata Izar mengingatkan.
“ Aku udah wudhu Bang, ini Aku mau keluar kamar boleh ga...?” tanya Alya.
“ Boleh, tapi hati-hati ya Al. Jangan gegabah. Tunggu Abang kalo mau melakukan sesuatu, Abang juga mau ke sana...,” sahut Izar.
“ Ok Bang. Ruangan tengah gelap Bang, tapi ada lilin sama sajen bunga-bunga gitu di lantai. Kemenyan juga ada...,” kata Alya sambil berjinjit menghindari bunga-bunga yang bertebaran di lantai.
“ Stop Alya. Jangan ke sana...!” kata Izar.
Namun tak ada jawaban. Izar mencoba menghubungi ponsel Alya namun tak juga mendapat respon. Merasa khawatir dengan keselamatan gadis itu, Izar pun bangkit dan bergegas keluar dari rumah Pandu.
“ Mau kemana Zar...?” tanya Pandu.
“ Mau ke rumahnya Alya Mas...,” sahut Izar cepat.
“ Aku ikut Zar...,” kata Iyaz sambil bergegas mengikuti Izar.
__ADS_1
“ Ayo lah...,” sahut Izar.
“ Aku juga mau ikut mereka ya Mas...,” kata Hanako.
“ Ok, tapi Kamu jangan jauh-jauh dari Aku ya...,” sahut Pandu yang mengerti jika istrinya tak akan mungkin dilarang membantu Alya.
“ Siap Ndan...!” sahut Hanako hingga membuat Pandu tersenyum.
Kemudian Hanako dan Pandu bergegas menyusul Iyaz dan Izar. Mereka melihat Iyaz dan Izar pergi ke bagian samping rumah Vena tepat dimana Alya hendak melompati pagar tempo hari.
“ Kenapa Kalian lewat sini...?” tanya Hanako.
“ Ini jalan yang ditunjukin Alya saat pertama kali Kami ngeliat dia Ci. Kami rasa di sini lah semuanya berasal...,” sahut Izar.
“ Kalo gitu Aku sama Mas Pandu lewat depan aja ya...,” kata Hanako.
“ Ok, itu lebih baik. Jadi Kita ga kumpul di satu titik...,” sahut Izar.
“ Hati-hati ya Ci. Jangan melakukan sesuatu yang berlebihan. Ingat calon bayimu...,” bisik Iyaz.
“ Iya iya, udah sana gih...,” sahut Iyaz sambil tersenyum.
Hanako mengangguk lalu mengikuti suaminya yang berjalan kearah depan rumah.
Sedangkan di dalam rumah terlihat Alya tengah mengamati keadaan sambil sesekali mengabadikannya dengan kamera ponsel miliknya. Tiba-tiba Alya mendengar suara langkah kaki dari dalam kamar sang mama tiri. Alya pun bergegas sembunyi di balik lemari hias besar yang ada di ruang tengah itu. Dari balik lemari Alya bisa melihat Vena tengah menggandeng tangan seorang pria yang ia kenali sebagai Vincent, tetangga sekaligus rekan kerja sang ayah. Saking terkejutnya Alya menutup mulut untuk meredam suara yang akan keluar dari mulutnya.
Alya masih bertahan di tempat persembunyiannya sambil mengamati apa yang dilakukan Vena dan Vincent. Saat itu lah Alya sadar jika selama ini Vena telah mengkhianati ayahnya. Vena berselingkuh dengan Vincent di rumah ayahnya.
Alya mengepalkan jari tangannya karena merasa sakit hati dengan perilaku Vena. Saat itu lah Alya tersadar jika ruang di balik lemari itu terasa makin sempit dan pasokan oksigen sedikit berkurang. Alya terkejut saat ada sosok lain bersamanya saat itu. Sosok wanita berambut kusut, dengan kulit yang pucat dan kedua mata yang berlubang tengah menatap Alya lekat.
“ Astaghfirullah aladziim. Audzubikalimatillahi tammati min syarri maa kholaq...,” kata Alya berulang kali sambil memejamkan matanya.
Namun Alya hanya lah gadis biasa yang juga punya rasa takut. Saat hantu wanita di hadapannya itu memperlihatkan perubahan wujudnya perlahan, Alya masih berusaha bertahan. Namun saat hantu wanita itu mendekatkan wajahnya yang menyeramkan itu kearahnya, Alya pun akhirnya jatuh pingsan dengan menimbulkan suara berdebum.
__ADS_1
Suara berdebum dari balik lemari hias mengejutkan Vena dan Vincent yang sedang melakukan ritual. Keduanya saling menatap sejenak. Bahkan Vincent bermaksud menyelidiki asal suara itu. Tapi dengan sigap Vena menahan tangannya sambil menggelengkan kepala.
“ Ga usah diliat, Kamu di sini aja...,” pinta Vena.
“ Tapi suara itu...,” ucapan Vincent terputus.
“ Cuekin aja. Liat dia udah datang...,” kata Vena sambil memberi kode kedatangan makhluk halus yang mereka tunggu sejak tadi.
Vincent pun menghela nafas panjang lalu kembali duduk meski pun kepalanya dipenuhi dengan tanya tentang benda apa yang jatuh dan menimbulkan suara berisik tadi. Vincent tak ingin ada orang lain yang mengetahui apa yang ia dan Vena lakukan. Namun rupanya Vena punya pemikiran lain dan lebih memilih fokus pada ritual mereka dibanding suara berdebum tadi.
Sementara itu Iyaz dan Izar bergerak cepat memanjat dinding rumah mama tiri Alya. Setelah berhasil memanjat, keduanya pun melompat turun. Kini Iyaz dan Izar tepat berada di teras samping yang berdekatan dengan ruang tengah. Dari balik jendela mereka bisa melihat suasana dalam ruangan itu. Sangat gelap dan hanya diterangi cahaya lilin yang menyala.
Hanako dan Pandu berhasil masuk ke dalam rumah atas ijin Atmo yang juga curiga dengan kedatangan Vincent ke rumah majikannya malam itu. Melihat kehadiran Hanako dan Pandu ditambah Atmo membuat si kembar tersenyum.
“ Lewat sini Mas...,” ajak Atmo sambil memberi kode pada Pandu yang dikuti Hanako dan si kembar.
Kemudian mereka berlima masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang yang tak terkunci. Atmo membawa mereka menuju ruang tengah dimana ritual tengah berlangsung. Saat melihat apa yang dilakukan Vincent dan Vena, kelimanya nampak menggelengkan kepala.
Izar mengedarkan pandangan untuk mencari sosok Alya. Saat itu lah ia melihat sosok hantu Tina berdiri di samping
lemari hias sambil menunjuk kearah tubuh Alya yang terbaring di balik lemari. Hanako dan Iyaz yang juga melihat hantu Tina pun mengangguk tanda mengerti.
“ Tolong Kamu urus Alya ya Ci, dua orang itu biar Aku sama Iyaz yang ngurus...,” kata Izar.
“ Ok...,” sahut Hanako sambil mendekat kearah Alya.
Dibantu Atmo, Hanako berhasil memindahkan tubuh Alya dari balik lemari hias. Sedangkan Pandu nampak mendampingi Iyaz dan Izar yang melangkah menuju ruang tengah dimana Vincent dan Vena berada.
Vincent dan Vena tengah berdiri berhadapan sambil melakukan gerakan aneh diiringi bacaan mantra yang mereka gumamkan. Perlahan mereka pun menanggalkan kain penutup yang mereka kenakan secara bertahap hingga kini keduanya nyaris telan*ang.
Namun sebelum tubuh mereka benar-benar telan*ang, mereka dikejutkan dengan suara lantang Izar yang membahana di ruangan itu.
“ Iblis laknat, hentikan semuanya...!” kata Izar sambil merangsek maju dan menendang tubuh Vincent hingga tersungkur ke lantai.
__ADS_1
Vena dan Vincent yang hampir melakukan penyatuan itu pun terkejut, begitu pun siluman sembahan keduanya.
\=====