
Fatur mengerutkan keningnya saat melihat reaksi Faiq usai menjenguk Nadia. Wajah Faiq terlihat kesal dan membuat Fatur bingung.
“ Kenapa Bang, kayanya Kamu kesel banget...?” tanya Fatur.
“ Gimana ga kesel Om. Baru kali ini Aku liat perempuan seambisius Nadia yang gara-gara cinta buta rela ngelakuin apa pun supaya keinginannya terkabul...,” sahut Faiq.
“ Betul Bang, tapi Kita ga bisa mundur lagi. Om khawatir akan banyak korban yang jatuh kalo Kita ga segera bertindak...,” kata Fatur.
“ Kita emang harus segera bertindak Om. Siluman bayi yang udah ngambil janin Nadia adalah siluman suruhan
dukun yang dibayar Nadia untuk mencelakai Andini dulu. Jadi kesimpulannya, kematian Andini juga disebabkan oleh guna-guna yang dikirim Nadia. Dia membayar seorang dukun untuk ngerjain Andini melalui hantu berbentuk bayi yang menakut-nakuti Andini. Saat melihatnya Andini yang kaget sampe terjatuh di anak tangga dan lumpuh seumur hidup. Dan sekarang siluman bayi itu tambah liar karena udah berhasil merenggut janin Nadia yang notabene adalah Tuannya sendiri...,” sahut Faiq.
“ Jadi kapan Kita bergerak Bang...?” tanya Fatur.
“ Insya Allah secepatnya Om, walau Aku kesal tapi Kita ga bisa diem aja ngeliat orang lain kesulitan karena
dimanfaatin sama makhluk ghaib itu...,” sahut Faiq bijak.
“ Ok deh, Om senang dengarnya...,” kata Fatur sambil menepuk punggung Faiq dengan lembut.
“ Kita harus cari tau dimana Nadia nyimpen jimat yang dikasih sama dukun itu Om...,” kata Faiq.
“ Kita tanya aja sama Nadia, siapa tau dia mau jujur. Kan dia juga ketakutan karena terus menerus diterror sama makhluk ghaib itu...,” saran Fatur yang diangguki Faiq.
Fatur dan Faiq menemui dokter Paula dan meminta agar dokter Paula mau membantu mereka.
“ Jadi, Nadia pake ilmu hitam dan sekarang khodam di ilmu hitam itu menyerang dia...?” tanya dokter Paula.
“ Iya dok...,” sahut Faiq.
“ Kok bisa gitu sih...?” tanya dokter Paula tak mengerti.
“ Itu karena Nadia lalai ga ngasih tumbal. Kan udah jadi rahasia umum kalo khodam ilmu hitam itu mau melakukan tugasnya kalo ada imbalan. Nah imbalannya itu biasanya disebut tumbal, bisa berupa darah atau nyawa. Keliatannya Nadia terlena setelah berhasil menyingkirkan Andini dan lupa ngasih tumbal sesuai waktu yang telah ditentukan. Mungkin awalnya masih bisa ditolerir, tapi karena terlalu lama ga ngasih tumbal bikin khodam itu marah dan balik menyerang Nadia...,” sahut Fatur.
“ Hiiiyy, serem banget ya kalo kerjasama sama setan...,” kata dokter Paula sambil meggedikkan bahunya.
“ Emang gitu Pol. Jadi Lo bisa kan nanya sama Nadia dimana dia nyimpen jimat pemberian sang dukun...?” tanya Fatur.
“ Kenapa ga tanya sendiri aja sih. Gue kan ga ngerti, ntar malah salah ngomong kan gawat...,” tolak dokter Paula.
“ Kalo Gue atau Faiq yang nanya malah tambah ga enak. Kita bukan siapa-siapa, ga kenal sama dia juga. Terus
tiba-tiba Kita datang nanya sama Nadia dimana jimatnya. Dia pasti malu dan ga bakal mau jujur...,” kata Fatur.
“ Oh gitu ya. Ok, ntar Gue tanyain dulu...,” sahut dokter Paula.
“ Sekarang Pol...,” kata Fatur mengingatkan.
“ Iya, iya. Ga sabaran banget sih jadi orang...,” gerutu dokter Paula hingga membuat Fatur dan Faiq tertawa.
Fatur dan Faiq duduk menunggu di depan ruang rawat inap Nadia sedangkan dokter Paula menemui Nadia untuk membujuknya menyerahkan jimat yang dimaksud Faiq dan Fatur.
“ Coba Kamu ingat dimana Kamu meletakkan jimat itu Nadia...,” kata dokter Paula dengan lembut.
“ Kenapa dokter nanyain jimat sama Saya. Apa sekarang dokter percaya kalo bayi Saya hilang karena diambil sama
siluman bayi...?” tanya Nadia.
“ Sejak awal Saya udah percaya sama ucapan Kamu Nadia. Makanya Saya nahan Kamu di sini. Saya juga udah minta bantuan teman Saya supaya bisa bantuin Kamu lepas dari kejaran siluman bayi itu. Tapi mereka minta Kamu nyerahin jimat yang Kamu simpan untuk dimusnahkan...,” sahut dokter Paula.
“ Jimat itu ada sama Saya dok, di sini...,” kata Nadia lirih sambil menunjuk perutnya sendiri.
“ Maksud Kamu apa...?” tanya dokter Paula tak mengerti.
“ Saya terpaksa menelan jimat itu karena ga mau Arya curiga. Waktu itu Arya nemuin jimat ini di dalam tas Saya.
__ADS_1
Arya marah besar dan nuduh Saya udah guna-gunain dia pake ilmu hitam supaya dia mau balikan sama Saya. Karena ga mau ketauan, Saya terpaksa menelan jimat itu supaya dia ga marah lagi dok...,” sahut Nadia sambil menundukkan kepalanya.
“ Ya Allah. Jadi Kamu nelan jimat itu di depan Arya...?” tanya dokter Paula.
“ Iya dok...,” sahut Nadia.
“ Sakit ga...?” tanya dokter Paula.
“ Ga dok, kan bentuknya hanya seukuran jempol tangan orang dewasa...,” sahut Nadia sambil menggelengkan
kepalanya.
“ Jadi gimana, apa Kamu mau lepas dari siluman bayi itu...?” tanya Paula.
“ Mau dok. Saya takut dia bakal membunuh keluarga Saya kalo ga ada lagi yang bisa Saya kasih ke dia...,” sahut Nadia sambil menggenggam tangan dokter Paula erat-erat.
Dokter Paula mengangguk sambil tersenyum lalu bergegas keluar menemui Fatur dan Faiq. Keduanya terlihat santai saat dokter Paula menceritakan pengakuan Nadia tadi.
“ Gimana Om...?” tanya Faiq.
“ Kamu bener Bang. Selain ambisius, Nadia itu nekad juga ya. Masa jimat ditelan. Ga heran kalo siluman itu ngikutin dia kemana pun karena benda penghubungnya aja ada di dalam tubuh Nadia...,” sahut Fatur sambil menggelengkan kepalanya.
“ Terus gimana dong, masih bisa ditolong ga...?” tanya dokter Paula cemas.
“ Insya Allah bisa dok. Kami akan balik ke sini nanti malam dan meruqyah Nadia...,” sahut Faiq.
“ Kenapa ga sekarang aja...?” tanya dokter Paula tak sabar.
“ Ga mungkin Pol. Suasana Rumah Sakit jam segini kan lagi rame banget. Kita ga mungkin bikin sesuatu yang
menarik perhatian orang banyak...,” sahut Fatur.
Dokter Paula nampak tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal mendengar jawaban Fatur.
\=====
Paula yang hadir untuk menjemput istrinya. Fatur dan suami dokter Paula yang bernama David itu saling berjabat tangan dan tertawa. Rupanya mereka memang telah saling mengenal sebelumnya.
“ Keliatan gemukan nih Bro...,” gurau Fatur.
“ Yah mau gimana lagi Bro. Kan dikasih obat tiap hari sama Istri cantik...,” sahut David sambil melirik kearah dokter Paula yang nampak tersenyum bangga mendengarnya.
Kemudian dokter Paula mengenalkan suaminya kepada Faiq.
“ Kenalin nih Suami Saya...,” kata dokter Paula sambil memeluk lengan suaminya erat.
“ Saya Faiq, apa kabar Om...,” sapa Faiq sambil menjabat tangan David.
“ Saya David, Alhamdulillah baik. Apa Saya boleh ikut proses ruqyah yang akan Kalian lakukan...?” tanya David
penuh harap.
“ Boleh Om. Tapi dokter Paula sebaiknya ga usah ikut kalo lagi datang bulan karena bisa berbahaya buat dokter
nanti...,” sahut Faiq.
“ Darimana Kamu tau kalo Saya lagi datang bulan. Apa mata Kamu bisa tembus pandang juga...?” tanya dokter Paula sambil merapat di belakang tubuh suaminya.
“ Bukan tembus pandang Pol. Tapi itu hanya anjuran. Mana mungkin Faiq tau kalo Lo lagi datang bulan sekarang.
Kalo David pasti tau karena lagi ga dapat jatah dari Lo...,” kata Fatur menjelaskan hingga membuat David dan Faiq tertawa.
Dokter Paula pun tertegun sejenak kemudian ikut tertawa saat menyadari kebo*ohannya tadi.
“ Yuk Kita ke sana sekarang...,” ajak Fatur.
__ADS_1
“ Gue di sini aja deh. Gue ga mau ganggu konsentrasi Kalian nanti...,” kata dokter Paula.
“ Itu lebih baik Sayang. Kami pergi dulu ya...,” sahut David sambil mengusap kepala dokter Paula dengan lembut.
“ Hati-hati ya Pi...,” kata dokter Paula yang diangguki suaminya.
“ David doang yang disuruh hati-hati...?” tanya Fatur.
“ Iya, iya. Kalian bertiga hati-hati ya...,” sahut dokter Paula salah tingkah.
“ Jangan bengong ya Pol. Tetap waspada dan jangan lupa dzikir...,” pesan Fatur sebelum berlalu.
“ Iya Tur...,” sahut dokter Paula sambil menutup pintu.
Fatur, Faiq dan David pun memasuki ruang rawat inap Nadia ditemani seorang security kepercayaan dokter Paula
bernama Mohan. Security itu nampak berjaga di depan pintu untuk mengawasi keadaan di sekitar kamar rawat inap Nadia.
Nadia yang sedang terjaga pun nampak tersenyum menyambut kedatangan Fatur, Faiq dan David. Di dalam ruangan juga ada Suharti, sipir penjara tempat Nadia ditahan. Fatur memang meminta Nadia ditemani seorang wanita yang bisa membantu menenangkannya jika dia histeris nanti. Dan dokter Paula memilih Suharti untuk menemani Nadia karena postur tubuh Suharti yang bisa diandalkan.
“ Kita bisa mulai sekarang. Bu Suharti mohon siaga ya, jangan lupa dzikir supaya ga terpengaruh nanti...,” kata Faiq sambil mengenakan sarung tangan.
“ Baik Mas...,” sahut Suharti.
Kemudian proses ruqyah pun dimulai setelah mereka berwudhu terlebih dulu. Fatur dan Faiq membaca ayat Al Qur’an. Sedangkan David, Mohan, Suharti dan Nadia berdzikir dalam hati.
Awalnya semua berjalan lancar dan tak ada reaksi apa pun yang ditunjukkan Nadia. Namun masuk ke menit sebelas mulai terlihat reaksi aneh Nadia. Tubuhnya nampak menggeliat dan mulutnya pun meracau dengan mata terpejam. Kulit wajah Nadia terlihat mengeriput dengan guratan urat besar berwarna hitam yang menonjol keluar.
“ Apa yang Kalian lakukan...?!” tanya Nadia marah.
David dan Suharti nampak terkejut karena suara yang keluar dari mulut Nadia bukan lah suara asli Nadia namun
lebih mirip suara kakek-kakek. Sedangkan Fatur dan Faiq terlihat santai dan melanjutkan kegiatan mereka.
“ Fokus, jangan lengah...!” kata Fatur mengingatkan hingga membuat David dan Suharti tersentak kaget lalu
melanjutkan dzikir mereka.
Nadia bergerak makin liar. Bahkan kini posisinya berjongkok di atas tempat tidur sambil menatap Fatur dan Faiq
dengan tatapan marah. Kedua tangannya nampak mencengkram sprei tempat tidur pertanda ia sedang menahan sesuatu yang akan meledak dalam tubuhnya.
Tiba-tiba Nadia melompat menyerang Faiq. Gerakannya mirip gerakan seekor kera karena gesit dan cepat. Faiq yang siaga pun berhasil menghindar hingga Nadia hanya menyerang angin. Karena posisinya yang menggantung menyebabkan Nadia jatuh tersungkur ke lantai. Hidung dan mulut Nadia terluka mengeluarkan darah. Namun Nadia segera bangkit dan mulai mengamuk. Suharti pun turun tangan membantu Faiq meringkus Nadia dan membuat Nadia kesulitan bergerak. Selain mengamuk, Nadia juga mengucapkan sesuatu.
“ Tolong Aku. Dia menyakiti Aku, dia juga akan menyakiti semua orang yang memiliki hubungan darah denganku. Tolong hentikan dia, jangan biarkan dia bebas dan melakukan sesuatu. Ini salahku, biar Aku aja yang menanggungnya. Aku ga mau dia menyerang Kakak iparku yang sedang hamil. Tolong jangan libatkan mereka...,” rintih Nadia sebelum siluman bayi itu kembali merasukinya.
Fatur dan Faiq saling menatap kemudian mengangguk. Keduanya merangsek maju dan mulai menyiram tubuh Nadia dengan air ruqyah yang telah mereka siapkan. Saat air mengenai tubuhnya, Nadia menjerit keras sambil mendongakkan wajahnya ke atas.Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Faiq yang langsung meminumkan air ruqyah ke dalam mulut Nadia hingga Nadia terdiam dengan mata mendelik.
“ Lepaskan dia Bu...,” pinta Faiq.
Suharti melepaskan Nadia. Sesaat kemudian tubuh Nadia menggelepar di lantai seperti hewan disembelih tanpa ada suara yang keluar. David dan Suharti menatap iba kearah Nadia yang nampak kesakitan itu. Tiba-tiba Nadia muntah darah dengan hebat. Saat bersamaan sekelebat cahaya merah keluar dari mulut Nadia lalu berputar-putar di dalam ruangan seolah sedang mencari jalan keluar.
Fatur dan Faiq berhasil menangkap cahaya merah itu. Mereka menghadang gerakan cahaya merah itu dengan
membentangkan kain mori berwarna putih. Cahaya merah itu masuk perangkap dan sulit bergerak. Lalu Faiq mengikatnya dengan kuat. Terdengar suara erangan yang menyayat hati saat Faiq mengeratkan ikatan kain mori itu. Untuk mengelabui Faiq, siluman itu mulai menangis dan memperdengarkan suara tangis seorang bayi. Tapi Faiq tak terpengaruh dan makin mengeratkan ikatan kain mori itu. Terdengar suara bederak menandakan jika tulang siluman bayi itu patah saat Faiq mengeratkan ikatannya.
Suharti nampak bergidik ngeri membayangkan bayi yang mati dengan tulang patah di dalam kain mori yang
diikat kuat itu. Ada rasa kesal dan iba di dalam hatinya menyaksikan bayi yang tak berdosa itu dibunuh dengan kejam di hadapannya. Suharti menatap marah kearah Fatur dan Faiq secara bergantian. Saat hendak protes akan tindakan Faiq, Fatur menyelanya dengan cepat.
“ Itu bayi siluman pemakan janin dan bayi Bu. Apa Ibu mau dia dibebaskan...?” tanya Fatur sambil menatap Suharti lekat.
“ Ja, jangan Pak. Saya kirain dia bayi biasa, maaf kalo Saya salah sangka tadi...,” sahut Suharti gugup.
Fatur mengangguk lalu mendekat kearah Faiq. Kemudian keduanya keluar dari ruangan sambil membawa kain mori berisi siluman bayi itu diikuti David. Mereka memutuskan melarung kain mori itu ke laut.
__ADS_1
Dalam perjalanan David menghubungi istrinya dan memintanya mengecek kondisi Nadia. Dokter Paula bergegas ke ruangan Nadia dan melihat jika Nadia baru saja dibaringkan di atas tempat tidur oleh Suharti dan Mohan.
Bersambung