
Di sebuah rumah mungil terlihat seorang wanita tengah terbaring lemah di atas tempat tidur. Wajah pucatnya menambah kesan tua wanita yang berusia hampir setengah abad itu. Dia adalah Evelyn, istri kedua Marco yang telah membawa lari semua harta milik Marco.
Evelyn mengalami nasib sial setelah membawa lari harta suaminya itu. Sedianya Evelyn ingin menggunakan harta curiannya itu untuk membangun kerajaan bisnisnya. Namun Evelyn ditipu oleh rekan bisnisnya yang juga pacar brondongnya bernama Billy.
Awalnya Billy masih menuruti semua permintaan Evelyn yang hyper se* itu. Melayaninya di atas ranjang, memuaskannya hingga Evelyn benar-benar tergantung padanya dan tak bisa lagi berpaling dari pesonanya. Setelah Evelyn masuk ke dalam perangkapnya, maka dengan mudah Billy mengeruk harta bawaan Evelyn.
Hari itu Evelyn bangun dalam kedaan bug*l usai bercinta dengan Billy semalam. Biasanya Evelyn bisa melihat Billy tengah menikmati cahaya matahari pagi di balkon apartemen miliknya. Namun hari itu sedikit berbeda. Evelyn berinisiatif mencari Billy di seantero apartemen namun nihil.
Kemudian Evelyn menghubungi Billy melalui ponselnya. Ia bermaksud mengucapkan terima kasih atas pelayanan
Billy yang sangat memuaskannya di atas ranjang semalam. Sambil menunggu Billy menerima panggilan telephon darinya, Evelyn mengedarkan pandangan ke penjuru kamar dan tak sengaja melihat brankas miliknya terbuka. Evelyn mulai curiga jika sesuatu yang buruk telah terjadi. Dengan langkah panjang Evelyn menghampiri brankas yang terbuka itu untuk mengecek isinya. Alangkah terkejutnya Evelyn saat melihat harta dan dokumen penting yang ia simpan di brankas itu raib tanpa sisa.
“ Apa-apaan ini, siapa yang udah lancang ngambil semuanya...,” gumam Evelyn sambil menatap nanar kearah brankas yang kosong itu.
Tiba-tiba ponsel Evelyn berdering dan nama Billy lah yang tertera di layar ponsel. Dengan sigap Evelyn meraih ponselnya dan langsung bicara banyak hal menanyakan harta miliknya yang raib itu.
“ Tenang Tante, ga usah panik gitu dong...,” kata Billy dari sebrang telephon.
“ Kok Kamu panggil Aku Tante. Hallo Billy, Kamu ga lagi mimpi kan ...?” tanya Evelyn tak suka.
“ Lho salahnya dimana ya. Usia Kita kan jelas beda. Kamu lebih pantas jadi Tanteku daripada pacarku. Karena cewek yang jadi pacar Billy itu harus gadis muda, cantik, tajir. Bukan wanita berumur yang hyperse* kaya Kamu...,” sahut Billy ketus.
Mendengar ucapan Billy membuat Evelyn meradang. Namun Evelyn berusaha sabar karena mengira jika
Billy hanya kesal sesaat.
“ Jadi Kamu kemanain semua aset milikku yang kusimpan di brankas itu...?” tanya Evelyn.
“ Oh itu. Udah Aku pake buat biayain perusahaanku. Makasih ya udah nyerahin semuanya...,” sahut Billy santai.
“ Aku ga pernah nyerahin apa pun sama Kamu Billy...!” bentak Evelyn marah.
“ Hei, apa Kamu lupa kalo Aku udah memuaskanmu di ranjang selama ini. Ingat, ga ada yang gratis di dunia ini. Aku ga bo*oh ya, membiarkanmu memperoleh keuntungan begitu saja. Aku juga mau imbalan atas semua usahaku menyenangkanmu. Dan Aku mengambil apa yang seharusnya jadi milikku Tante...,” sahut Billy dengan menekankan kata ‘Tante’untuk menyadarkan Evelyn tentang statusnya.
Evelyn menggeram marah lalu melempar semua benda yang ada di dekatnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Setelah mandi dan mengenakan pakaian, Evelyn bergegas menemui Billy di club tempat biasa mereka bertemu untuk merebut kembali hartanya.
Di sana ia disambut oleh Billy dan beberapa pria berpakaian hitam. Di samping Billy nampak seorang gadis cantik tengah tersenyum sambil menatap Billy penuh cinta. Karena merasa cemburu Evelyn pun marah dan menampar gadis itu. Gadis itu membalas tamparan Evelyn hingga akhirnya keduanya terlibat perkelahian.
“ Jangan dekati Billy, dia milikku...!” kata Evelyn marah sambil menjabak rambut gadis itu.
“ Cukup. Kita perjelas semuanya sekarang. Dengar Evelyn, mulai detik ini Kita ga punya hubungan apa-apa lagi. Ke depannya jangan temui Aku lagi, mengerti...?!” kata Billy lantang sambil memeluk pinggang gadis cantik itu.
__ADS_1
Evelyn merapikan pakaiannya sambil tersenyum sinis. Ia tak peduli jika Billy tak mau lagi berhubungan dengannya. Baginya yang terpenting adalah merebut kembali harta miliknya yang dicuri oleh Billy.
“ Ok. Tapi kembalikan dulu semua harta dan dokumen yang Kamu curi itu Bil. Setelah itu Aku ga akan mengganggumu lagi. Kita berpisah dan jalani hidup masing-masing...,” kata Evelyn sambil menadahkan telapak tangannya di hadapan Billy.
“ Harta mana yang Kau maksud. Apa Kau lupa kalo udah tanda tangan surat bermaterai yang menyatakan bahwa Kau mengalihkan semua harta milikmu menjadi milikku Evelyn...,” sahut Billy santai sambil memperlihatkan kertas bermaterai yang dibubuhi tanda tangan Evelyn.
Evelyn terkejut lalu mengamuk saat melihat dokumen itu. Ia sadar dirinya telah dijebak untuk menandatangani dokumen itu. Tak terima dengan tindakan Billy, Evelyn pun menyerang Billy. Namun tiga laki-laki yang bersama Billy berhasil menghadang serangan Evelyn lalu menyeretnya keluar dari ruangan itu dan melemparnya ke parkiran.
“ Ambil ini. Bos Kami masih bermurah hati karena memberi satu rumah untukmu...,” kata seorang pria sambil melempar dokumen kepemilikan rumah kearah Evelyn.
Evelyn kembali menangis saat mengingat pengkhianatan kekasihnya dulu. Billy membawa pergi semua kebahagiaannya juga hartanya, sama seperti yang ia lakukan pada Marco dulu. Dan kini, di rumah kecil itu lah Evelyn menghabiskan sisa usianya dalam kesengsaraan. Terbuang, tanpa keluarga dan harta. Hanya menunggu maut menjemput ditemani air mata penyesalan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumah. Evelyn mengira itu adalah Prili, anak tetangga yang sering membantunya.
“ Prili, Kamu kah itu...?” tanya Evelyn.
Sepi tak ada suara. Evelyn pun kembali memejamkan matanya. Sesaat kemudian Evelyn merasakan nafasnya sesak karena ada sebuah tangan yang mencekik lehernya. Evelyn membuka matanya sambil berusaha menarik tangan yang mencengkram lehernya itu. Saat itu lah Evelyn melihat sosok hantu Nihana tengah ada di atas tubuhnya dengan satu tangan mencekik lehernya dan tangan lainnya memegang garpu.
“ Ni..., Niha..., na. To..., tolong ampuni A..., Aku. Maafkan A..., ku. Ja..., jangan sakiti Aku. Kumohon...,” pinta Evelyn dengan suara terbata-bata.
“ Aku juga pernah bilang gitu sama Kamu Evelyn. Tapi Kamu tetap menyakiti Aku dan menghancurkan harga diriku. Setelah melukai wajahku Kamu menyodorkan Aku pada Anak buah Marco dan membiarkan mereka memper**saku. Apa Kamu ingat...?” tanya hantu Nihana dengan suara serak.
“ Aku menyesal. Tolong ampuni Aku...,” kata Evelyn sambil menangis tanpa suara saat merasakan ujung garpu mulai menyayat pipinya.
Tiba-tiba hantu Nihana melepaskan cengkramannya hingga membuat tubuh Evelyn jatuh tersungkur ke lantai. Entah darimana datangnya, tiba-tiba masuk empat ekor anjing liar ke dalam rumah Evelyn dan segera menyerang Evelyn yang bersimbah darah itu. Evelyn menjerit histeris saat empat hewan buas yang kelaparan itu mengoyak tubuhnya.
“ Ini bukti sumpahku Evelyn. Aku akan mengoyak wajahmu lalu memberikan tubuhmu pada anjing liar. Sama seperti saat Kau mengoyak wajahku dan memberikan tubuhku untuk dinodai oleh anjing bayaran Marco...!” kata hantu Nihana sambil tersenyum puas sebelum menghilang.
Evelyn menjerit sekali lagi saat seekor anjing menggigit urat nadi di lehernya hingga putus. Darah muncrat hingga membasahi dinding dan lantai rumah itu. Sesaat kemudian empat ekor anjing liar itu pun pergi begitu saja meninggalkan jasad Evelyn yang terkapar mengenaskan.
Tetangga Evelyn berdatangan saat mendengar jeritan Prili dari dalam rumah Evelyn. Mereka bergidik ngeri saat menyaksikan jasad Evelyn yang tak lagi utuh dan bersimbah darah di lantai kamarnya. Polisi yang dihubungi warga pun bergerak cepat dan langsung mengamankan TKP. Di antara kerumunan warga nampak hantu Nihana ikut
berdiri sambil tersenyum saat menyaksikan pemindahan jasad Evelyn.
\=====
Empat orang pria nampak tengah asyik bermain kartu sambil meneguk minuman keras. Dulu mereka adalah anak buah Marco yang menyiksa dan membunuh Nihana. Keempatnya selalu nampak bersama meski pun tak lagi bekerja pada Marco. Sebut saja namanya Abun, Ipunk, Eman dan Ocit.
“ Ahh, abis lagi. Beli lagi dong Punk...,” kata Ocit sambil memperlihatkan botol bir yang kosong.
“ Mana ada duit buat beli. Uang yang kemaren aja diambil sama bini Gue. Tau sendiri kan apa artinya...?” tanya Ipunk.
__ADS_1
“ Uang Suami adalah uang Istri...,” sahut Eman dan Abun bersamaan lalu disambut tawa Ocit dan Ipunk.
“ Sejak Bos Marco bangkrut Kita jadi ikutan susah nih...,” gerutu Ipunk.
“ Betul. Biar udah ngerampok sana sini tapi Kita ga pernah bisa hidup enak kaya waktu sama Bos Marco...,” sahut Eman.
“ Gimana sekarang nasibnya Bos Marco itu ya...?” tanya Ocit.
“ Udah mati kali. Kan ga ada yang ngerawat dia. Anaknya aja kabur ga tau kemana...,” sahut Abun.
“ Bisa jadi. Marco itu royal, cuma satu kurangnya. Ga bisa menghargai keluarganya. Anak Istri dibuang dan lebih milih si Evelyn ja**ng itu. Andai dia bisa memperlakukan Lilian dengan baik, mungkin dia ga akan mati sendirian. Yah, paling ga si Lilian kan bisa ngurusin mayatnya...,” kata Eman sambil menatap jauh ke depan.
“ Udah deh jangan ngebahas si Marco lagi. Ga ada untungnya buat Kita. Mendingan Kita jalan cari mangsa, lumayan kan kalo bisa dapat uang. Apalagi kalo bisa dapat mangsa cewek bohay buat menghangatkan malam yang dingin ini...,” ajak Ipunk.
“ Bener tuh. Yuk Kita jalan sekarang...,” sahut Abun sambil melangkah mengikuti Ipunk diikuti Eman dan Ocit.
Keempatnya melangkah menyusuri trotoar dengan tubuh sempoyongan akibat pengaruh minuman keras yang
mereka minum tadi. Tiba-tiba langkah keempatnya terhenti saat melihat sosok wanita bergaun pink tengah berjalan perlahan kearah mereka. Wanita itu terlihat sangat memikat saat berlenggak lenggok di atas trotoar.
“ Eh, kebetulan nih...,” kata Abun senang.
“ Kayanya dia orang baru, Gue belum pernah ngeliat dia di sini...,” kata Ocit yang hapal dengan semua PSK yang ada di wilayah itu.
“ Gapapa, yang penting bisa muasin Gue...,” sahut Ipunk tak sabar sambil melangkah cepat kearah wanita itu.
Tanpa basa basi keempatnya langsung menghadang wanita bergaun pink itu, membekap mulutnya lalu membawanya ke toko yang kosong dan lama tak terpakai. Keempatnya menyudutkan wanita itu hingga ke sudut ruangan dan bersiap memper**sanya.
Namun sebelum Ipunk cs melancarkan aksi bejatnya\, wanita itu nampak tersenyum. Mengira jika wanita itu akan melayani mereka dengan senang hati\, Ipunk pun maju dan langsung men*d*ih tubuh wanita itu. Sesaat kemudian terdengar suara erangan dari mulut Ipunk. Bukan erang ke**kmatan tapi erang kesakitan. Terdengar sangat memilukan apalagi diiringi darah yang merembes di bagian bawah tubuhnya.
Ipunk pun membalikkan tubuhnya. Wajahnya terlihat pucat dengan mata mendelik ke atas dan kedua tangan memegangi area vitalnya yang nampak hancur dan berdarah. Ipunk mati tanpa sempat menikmati tubuh molek wanita bergaun pink itu. Kemudian wanita itu menoleh kearah Abun, Eman dan Ocit yang terpaku menyaksikan kematian Ipunk.
“ Apa kabar, apa Kalian ingat Aku...?” sapa wanita bergaun pink itu sambil mengibaskan tangannya yang penuh darah yang telah ia gunakan untuk meremas senjata kebanggaan Ipunk tadi.
Abun, Eman dan Ocit gemetar ketakutan saat sosok wanita itu mendekat. Fisik yang tadi begitu menggoda kini berubah menjadi sosok menyeramkan. Mereka makin terkejut saat mengenali sosok itu sebagai Nihana.
“ Ni..., Niha..., na...,” kata mereka gugup.
“ Iya ini Aku. Gimana, Kalian siap membuktikan sumpahku dulu...?” tanya Nihana yang dijawab gelengan kepala oleh Abun, Eman dan Ocit.
Hantu Nihana tertawa nyaring lalu menghilang. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Abun dan Eman dengan lari keluar toko. Namun naas, sebuah truk melintas dengan cepat dan menabrak tubuh keduanya. Tubuh Eman dan Abun pun tersungkur jatuh di jalan beraspal dan terlindas truk hingga kepala mereka pecah. Ocit menjerit keras menyaksikan dua sahabatnya meninggal dengan cara mengerikan. Tubuhnya luruh ke atas trotoar lalu jatuh pingsan. Sebelum benar-benar pingsan, Ocit masih bisa mendengar sumpah Nihana yang terngiang-ngiang di telinganya.
__ADS_1
“ Aku bersumpah akan membuat Kalian mati mengenaskan...!” kata Nihana dulu saat ia dan ketiga temannya bergantian memper**sa Nihana.
Bersambung