Tiga Yang Terpilih

Tiga Yang Terpilih
318. Qiana ?


__ADS_3

Usai perayaan ulang tahun perusahaan yang melelahkan, semua anggota keluarga Erik pun kembali ke rumah.


“ Hari ini semua senang karena mendapat banyak hadiah ya Opa...,” kata Hanako.


“ Iya Nak...,” sahut Erik sambil tersenyum.


“ Tapi ada satu orang yang keliatan gelisah dan ga menikmati perayaan hari ini lho Pa...,” kata Farah.


“ Masa sih Ma. Siapa...?” tanya Erik tak mengerti.


“ Izar...,” sahut Farah dan Hanako bersamaan hingga mengejutkan Erik dan semua anggota keluarga.


“ Masa sih, emang kenapa dia...?” tanya Shera tak percaya.


“ Ga tau Ma. Izar keliatan kesel aja abis bertanding tadi. Padahal kan team Kita menang lho...,” sahut Hanako.


“ Mungkin lagi ada sesuatu yang bikin dia ga nyaman...,” kata Faiq sambil duduk di samping Shera.


Semua mengangguk tanda setuju dan tak membahas sikap aneh Izar lagi. Mereka memilih makan malam sambil menceritakan keseruan yang terjadi di perusahaan hari ini.


\=====


Izar sedang mengunjungi sebuah makam tua yang ada di sebuah proyek pembangunan jalan. Izar mendapat laporan jika makam itu tak bisa digusur meski pun telah menggunakan alat berat, padahal makam di sekitarnya telah berhasil digusur tanpa kendala.


Izar mengamati makam itu dengan seksama dan yakin jika makam itu kosong alias tak ada jasad siapa pun yang


dimakamkan di sana. Makam yang sengaja dibuat untuk tujuan tertentu itu telah dihuni sejenis makhluk halus yang jahat .


Izar mencoba berinteraksi dengan jin penghuni makam untuk mengetahui apa penyebab makhluk halus itu enggan


meninggalkan makam buatan itu. setelah beberapa saat mencoba akhirnya Izar berhasil mengulik masa lalu makam buatan itu.


Dahulu tanah di sekitar makam masih kosong dan merupakan kebun yang ditanami berbagai macam buah-buahan. Nama pemilik tanah itu adalah Ki Suta. Dia adalah seorang lelaki bijaksana yang menikahi seorang wanita bernama Ami. Sayangnya Suta dan Ami tak memiliki keturunan hingga akhir hayat mereka.


Suta dan Ami hidup rukun dan saling mengasihi. Meski pun tanpa anak, keduanya tetap bahagia karena semua orang menyayangi mereka. Keduanya dikenal sebagai orang yang dermawan karena Suta dan Ami kerap membagikan hasil kebun mereka kepada saudara, kerabat dan tetangga.


Hingga akhirnya Ami meninggal dunia karena sakit. Meski pun begitu Suta tetap melanjutkan kebiasaan baiknya yaitu membagikan hasil kebun mereka kepada saudara, kerabat dan tetangga.

__ADS_1


Suta yang renta pun mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia setelah lima tahun kepergian Ami. Suta pun dimakamkan di makam keluarga berdampingan dengan makam sang istri.


Kepergian Suta menimbulkan keresahan diantara keluarga Suta. Bagaimana tidak. Suta meninggalkan warisan


yang banyak berupa tanah yang luas dan harta berupa uang yang sedianya akan ia gunakan untuk pergi haji bersama sang istri. Namun karena Ami dan Suta pergi sebelum sempat menunaikan ibadah haji, akhirnya uang itu pun dibagi rata oleh keluarga Suta. Sedangkan pembagian tanah akan diurus kemudian.


Sejak sang pemilik tanah meninggal dunia, tanah itu menjadi rebutan keluarga besar Suta. Karena selalu menimbulkan keributan, akhirnya oleh salah seorang sesepuh kampung dibuatlah sebuah makam di tengah kebun. Awalnya makam itu bertujuan mengingatkan saudara-saudara Suta jika semua harta yang diperebutkan itu tak akan dibawa mati. Dan sang sesepuh kampung juga berharap jika saudara-saudara Suta menghentikan pertikaian karena hanya akan merugikan semua pihak.


Ternyata harapan tak sesuai kenyataan. Saat keluarga Suta melihat keberadaan makam asing di tengah kebun, mereka justru memanfaatkannya untuk melakukan ritual sesat. Mereka juga membuat pengumuman seolah-olah makam buatan itu adalah makam keramat yang mampu memberi kekayaan bagi siapa saja yang datang melakukan ritual di tempat itu.


Sang sesepuh tak bisa berbuat apa-apa meski pun ia telah menjelaskan jika makam itu adalah makam buatan yang


ia buat untuk mendamaikan keluarga yang bertikai. Sayangnya hingga sang sesepuh meninggal dunia, makam keramat itu tetap menjadi tempat favorit warga untuk melakukan ritual sesat.


Karena seringnya diadakan ritual sesat dengan menyertakan beberapa macan sesajen, membuat makam buatan itu menjadi wingit dan memiliki aura mistis yang kuat. Bahkan ada sosok makhluk halus yang menghuni tempat itu dan berusaha menyesatkan manusia. Meski pun tanah itu telah dibeli oleh pemerintah, namun keberadaan makam itu tetap menghalangi pembangunan jalan yang sedang dikerjakan oleh perusahaan Erik yang bekerja sama dengan pemerintah.


Izar menghela nafas panjang lalu mengusap wajahnya. Ia menatap makam buatan yang telah berlumut itu dengan


tatapan kesal. Setelah membaca doa Izar pun menyiram makam buatan itu dengan air ruqyah hingga makhluk halus penghuni makam buatan itu marah dan keluar untuk menantang Izar.


“ Aku tak mau pergi. Di sini kerajaanku, bagaimana mungkin Aku meninggalkannya...,” sahut makhluk halus itu dengan pongah.


“ Kau hanya iblis yang menyesatkan manusia, sudah waktunya Kau berhenti atau Aku akan menghancurkanmu...,” ancam Izar.


“ Coba saja jika Kau mampu...,” tantang makhluk halus tanpa wujud itu.


Saat Izar akan menyerang iblis itu, tiba-tiba di kejauhan terdengar suara sorak sorai warga yang nampaknya tengah


mengusung seorang wanita yang terikat tangan dan kakinya. Warga membawa wanita itu menuju makam buatan tempat dimana Izar berdiri. Suara jeritan dan makian wanita itu begitu keras hingga membuat Izar mengerutkan kening karena tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh warga.


“ Lepaskan Aku. Kalian sudah gila ya...!” maki wanita itu dengan lantang.


“ Kamu harus bisa menetralkan aura mistis di kampung Kita, karena Kamu adalah keponakan tersayang Ki Suta...,” kata salah satu warga.


“ Apa hubungannya Aku dan Ki Suta dengan ritual aneh yang Kalian lakukan itu. Karena setauku semasa hidupnya Ki Suta tak pernah melakukan ritual sesat itu. Kalian yang membuat kekacauan kenapa Aku yang harus menebusnya...?!” tanya wanita itu dengan marah sambil terus meronta.


Warga masih terus menggemakan kalimat aneh hingga membuat wanita itu panik dan makin kuat meronta.

__ADS_1


“ Lepaskan Aku..., Kalian jahat. Aku ga mau jadi tumbal ilmu sesat Kalian...!” kata wanita itu mulai menangis saat mereka hampir tiba di dekat makam buatan itu.


Izar yang berdiri di dekat makam pun nampak menatap lekat rombongan warga. Lalu dengan lantang Izar meminta warga agar melepaskan wanita itu.


“ Lepaskan wanita itu...!” kata Izar hingga mengejutkan warga.


“ Siapa Kau, ga usah sok jadi pahlawan kesiangan deh. Ini urusan Kami dan ada baiknya Kau minggir jika tak mau terkena bala...,” sahut salah satu warga dengan ketus.


“ Bala ya, Aku ga takut. Cepat lepaskan dia atau Kalian akan tau akibatnya...,” ancam Izar.


Warga yang melihat ketegasan Izar pun mulai goyah. Mereka tampak saling menatap hingga tak fokus dengan


keberadaan wanita yang akan mereka tumbalkan tadi. Kesempatan itu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh wanita itu dengan berlari menjauh dari kerumunan warga.


Salah satu warga yang menyadari sandera mereka lepas pun berteriak mengingatkan warga lainnya.


“ Dia kabur, Qiana kabur...!” kata warga itu hingga mengejutkan yang lain.


“ Kejar dan tangkap dia. Jangan biarkan dia lolos karena cuma dia yang bisa membuang kesialan di kampung Kita


ini...,” kata pemimpin warga.


“ Qiana...?” gumam Izar sambil menatap kearah larinya wanita itu.


Mendengar nama Qiana disebut membuat Izar terkejut. Namun akal sehatnya mendominasi hingga Izar pun ikut mengejar Qiana dengan tujuan yang berbeda. Jika warga mengejar Qiana karena ingin menumbalkannya, sedangkan Izar mengejar Qiana untuk menyelamatkannya.


Sedangkan di depan sana Qiana nampak berlari terseok-seok. Ia kesulitan berlari dengan posisi tangan terikat ke belakang. Wajah Qiana sudah basah dengan air mata. Dalam hati Qiana menyesali keputusannya datang berkunjung ke kampung itu.


“ Andai Aku tau akan begini jadinya. Aku ga akan mau datang ke sini meski pun dibujuk pake emas sepuluh kilo gram sekali pun...,” kata Qiana kesal.


Qiana yang kelelahan akhirnya jatuh tersungkur ke tanah. Ia merasa sekujur tubuhnya sakit bukan kepalang. Qiana menghentikan tangisnya saat merasakan sebuah tangan menepuk punggungnya.


“ Ya Allah, tolong selamatkan hambaMu ini ya Allah...,” pinta Qiana sambil memejamkan matanya.


Saat Qiana menoleh ia melihat seorang pria berdiri tegak di belakangnya dengan tatapan membunuh. Qiana menelan salivanya dengan sulit karena tak menyangka jika hidupnya harus berakhir di tempat asing.


\=====

__ADS_1


__ADS_2