
Setelah mendengar ‘berita’ yang disampaikan hantu amsir membuat Iyaz dan Izar semangat menyelidiki kasus serangan ulat bulu yang mewabah di kampung sebelah. Namun mereka tak menjadikan kasus itu sebagai fokus mereka saat ini. Iyaz dan Izar tetap fokus belajar dan beberapa kali menemui ustadz Hamzah secara pribadi untuk berlatih kepekaan mereka terhadap dunia ghaib.
“ Saya dengar Kalian lagi menyelidiki kasus serangan ulat bulu di kampung sebelah ya...,” kata ustadz Hamzah di akhir sesi pertemuan mereka kali ini.
Iyaz dan Izar saling menatap lalu mengangguk ragu. Mereka sadar tak akan bisa menyembunyikan semuanya karena cepat atau lambat ustadz Hamzah pasti akan mengetahuinya.
“ Pak Ustadz pasti tau dari Bang Amsir ya...,” kata Izar malu-malu.
Ustadz Hamzah tertawa mendengar panggilan Izar untuk ‘temannya’ yang seusia dengan dirinya itu. Namun ustadz Hamzah maklum. Melihat wujud hantu Amsir yang memang masih remaja, layak jika kedua anak istimewa di
hadapannya ini memanggil Amsir dengan sebutan ‘Abang’.
“ Kamu tau kan kalo antara Saya, Ayah Kamu dan hantu Amsir itu ga pernah ada rahasia...,” kata ustadz Hamzah setengah berbisik hingga membuat Iyaz dan Izar tertawa.
“ Ustadz benar. Kami emang lagi meyelidiki serangan ulat bulu itu. Waktu Kami jalan-jalan keluar pesantren Kami ga datang ke sana. Tapi berita tentang kampung itu juga beberapa kali Kami dengar dari warga. Iya kan Zar...,” kata Iyaz sambil menoleh kearah kembarannya.
“ Iya. Kami kirain kasus biasa, tapi Bang Amsir bilang itu gara-gara penduduk kampung itu lalai dan melupakan peraturan yang dibuat selama puluhan tahun. Makanya Kami penasaran Pak Ustadz...,” sahut Izar.
“ Terus kalo menurut Kalian itu tentang apa...?” tanya ustadz Hamzah mencoba mengetest kemampuan si kembar.
“ Masa Pak Uztadz ga tau...,” kata Iyaz tak percaya.
“ Saya tau. Tapi Saya juga mau tau pendapat Kalian...,” sahut ustadz Hamzah cepat.
Iyaz dan Izar termenung sejenak, kemudian saling menatap dan mengangguk.
“ Ada siluman di sana Pak Uztadz...,” kata Iyaz dan membuat ustadz Hamzah terkejut.
“ Terus gimana cara Kalian membantu warga lepas dari siluman itu...?” tanya ustadz Hamzah penasaran.
“ Kami belum tau. Tapi Kami akan menemui dia nanti dan tanya apa maunya...,” sahut Izar cuek.
“ Ga boleh...!” kata hantu Amsir tiba-tiba hingga mengejutkan Iyaz, Izar dan ustadz Hamzah.
__ADS_1
Hantu Amsir nampak berdiri sambil bersedekap dan menatap tajam kearah si kembar. Wajahnya terlihat tegang dan itu membuatnya terlihat lebih seram dari biasanya.
“ Kenapa ga boleh Bang...?” tanya Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Terlalu berbahaya. Kalian ga tau kan gimana ganasnya siluman itu. Aku ga mau Kalian terluka nanti...,” sahut hantu Amsir lirih.
Iyaz, Izar dan ustadz Hamzah saling menatap kemudian tersenyum mendengar jawaban hantu Amsir.
“ Kamu tenang aja Sir. Mereka ga sendirian kok. Insya Allah Aku bakal ngawal mereka nanti...,” kata ustadz Hamzah menenangkan hantu Amsir.
“ Ok, kalo gitu Aku ga bakal halangin niat Kalian itu. Yang penting tetap hati-hati dan ga usah sok tau atau melakukan sesuatu yang ga Kalian mampu...,” kata hantu Amsir sambil melayang pergi.
“ Insya Allah, makasih ya Bang udah peduli sama Kami...!” kata Iyaz sambil tersenyum.
Hantu Amsir hanya menjawab dengan lambaian tangan tanpa menoleh kearah Iyaz dan izar.
“ Jangan salah paham sama sikap dan kata-katanya ya Anak-anak. Dia melakukan itu karena dia menyayangi Kalian dengan tulus...,” kata ustadz hamzah.
“ Sekarang Kalian kembali ke kamar dan siapkan diri. Insya Allah bada sholat Jum’at Kita ke kampung sebelah buat ngobrol sama siluman itu...,” kata ustadz Hamzah.
“ Baik Pak Ustadz, Assalamualaikum...,” sahut Iyaz dan Izar lalu mencium punggung tangan ustadz Hamzah. Setelahnya mereka melangkah menuju ke kamar mereka.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut ustadz Hamzah sambil menatap kepergian Iyaz dan Izar dengan senyum menghias wajahnya.
\=====
Hari yang ditunggu pun tiba. Usai menjalankan sholat Jum’at berjamaah di masjid pesantren, ustadz Hamzah mengajak Iyaz dan Izar keluar dari lingkungan pesantren. Iyaz dan Izar duduk berboncengan di belakang ustadz
Hamzah yang nampak mengendarai sepeda motor dengan santai.
Saat melintasi jalan menuju kampung yang dimaksud, ustadz Hamzah sengaja mengurangi kecepatan motornya. Ia memastikan keadaan si kembar melalui kaca spion.
“ Apa Kalian jalan-jalan sampe ke sini kemarin...?” tanya ustadz Hamzah.
__ADS_1
“ Belum Pak Uztadz...,” sahut Iyaz dan Izar bersamaan.
“ Nah Kita mulai masuk ke kampung itu. Jangan lengah dan tetap berdzikir ya...,” pinta ustadz Hamzah yang diangguki Iyaz dan Izar.
Aura tak bersahabat pun langsung terasa saat ustadz Hamzah dan kedua santrinya itu memasuki kampung yang sedang dilanda hama ulat bulu itu. Hawa dingin dan lembab seolah menyambut kedatangan mereka.
Iyaz dan Izar nampak mengerutkan keningnya saat melihat suasana kampung itu seperti kota mati karena tak ada kehidupan di sana. Rumah penduduk yang berjajar rapi seolah tak berpenghuni. Para penduduk terlihat bermuram
durja karena lelah menghadapi serangan ulat bulu yang datang dan tak terkendali. Tak ada suara tawa dan tangisan anak-anak layaknya sebuah pemukiman penduduk. Suasana sepi dan mencekam nampak mendominasi dan itu membuat siapa pun merasa tak nyaman saat berada di sana termasuk Ustadz Hamzah, Iyaz dan Izar.
Ustadz Hamzah pun menghentikan motornya di depan sebuah musholla kecil yang nampak tak terawat. Musholla dan lingkungannya terlihat sangat kotor menandakan musholla itu sudah lama tak digunakan. Papan dan kayu sengaja dipasang untuk menutupi pintu dan jendela musholla seolah memberi isyarat ‘dilarang masuk’ bagi siapa pun yang hendak beribadah di sana.
“ Kok kotor banget ya, kaya ga pernah dipake sholat...,” kata Izar sambil menatap ke sekelilingnya.
Mata Izar membentur deretan pohon jambu air di halaman musholla yang terlihat meranggas karena diserang hama ulat bulu. Hanya ada beberapa helai daun yang tersisa di sana. Terlihat jelas jika ada beberapa ulat bulu yang sedang melahap daun yang tersisa itu. Dan bisa dipastikan dalam hitungan menit saja daun itu akan habis dilahap oleh ulat bulu yang menggerombol itu.
“ Mana bau lagi. Keliatannya ada yang buang hajat sembarangan deh di sini...,” kata Iyaz sambil menutup hidungnya saat menginjakkan kakinya ke sudut halaman.
“ Ini udah keterlaluan. Pantesan kampung ini ga bisa lepas dari bala karena penduduknya menutup tempat ibadah dan melarang orang beribadah...,” gumam ustadz Hamzah sambil menyingkirkan sampah dan kayu dari halaman musholla.
Saat ustadz Hamzah, Iyaz dan Izar sedang sibuk membersihkan halaman musholla, tiba-tiba datang lah beberapa warga yang langsung protes akan tindakan mereka.
“ Kalian siapa dan ngapain di sini...?” tanya seorang warga.
“ Kami musafir Pak. Kami mau sholat tapi ga bisa karena musholla kotor dan bau. Makanya Kami bersihkan dulu supaya musholla bisa dipake sholat dan mengaji...,” sahut ustadz Hamzah.
“ Kalian nih sok tau ya. Kalian kan orang asing dan bukan warga asli sini. Ngapain pake bersihin musholla segala. Biarkan aja kaya gitu. Kami ga suka ada orang asing yang sok tau dan ikut campur urusan warga asli sini...,” hardik seorang warga.
“ Kami memang bukan warga asli sini, tapi Kami hamba Allah. jadi Kami punya hak dan kewajiban membersihkan rumah Allah ini Pak. Kalo Kalian ga mau membantu sebaiknya Kalian diam dan pergi dari sini...,” sahut ustadz Hamzah tegas sambil menatap warga bergantian hingga membuat nyali warga pun ciut.
Warga terdiam dan tak berani berkomentar. Sesaat kemudian mereka membubarkan diri dan membiarkan ustadz Hamzah melanjutkan aksinya. Sedangkan Iyaz dan Izar nampak menatap kagum kearah ustadz Hamzah yang tatapan dan ucapannya saja mampu mengintimidasi warga hingga para pengganggu itu pergi tanpa perlawanan berarti. Iyaz dan Izar belum mengetahui jika Ustadz Hamzah memiliki ilmu bela diri yang mumpuni yang juga membuat ayah mereka terkagum-kagum.
\=====
__ADS_1