Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Penyelidikan


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 101


...•...


...•...


Rafi & Vanya sampai di rumah sakit pelita jaya, mereka langsung menuju ke meja resepsionis untuk bertanya dimana istri pak Hamzah dirawat.


"Permisi mbak, saya keluarga salah satu pasien disini! Tapi saya belum tahu dimana dia dirawat karena handphone suaminya gak bisa saya hubungi!" ucap Rafi pada penjaga resepsionis.


"Nama keluarga bapak yang dirawat disini siapa ya? Biar saya bisa lebih mudah memberitahukan bapak dimana dia dirawat!" tanya si penjaga.


"Oh namanya Adriana Meyriska, dia mengidap tumor otak mbak.." jawab Rafi.


"Sebentar ya pak saya cek dulu!" ucap penjaga mengecek di buku pasien.


"Untuk pasien atas nama Adriana Meyriska sekarang sedang dirawat di ruang vip nomor 3 pak," sambung penjaga setelah mengecek buku pasiennya.


"Oh ruangannya dimana ya mbak?" tanya Rafi.


"Disebelah sana pak, dari sini bapak lurus aja terus belok kiri nanti kelihatan kok ruangannya!" jawab penjaga.


"Baik, terimakasih mbak! Ayo Vanya!" ucap Rafi kemudian berjalan menuju ruang rawat istri Hamzah.


Setelah sampai disana, hanya ada seorang perawat yang baru saja memberikan suntikan obat pada Adriana dan sekarang Adriana sedang tertidur.


"Dari tadi pagi pasien selalu menyebut nama suami dan anaknya, bahkan beliau sempat histeris tadi! Sudah dari kemarin suami & juga anak pasien tidak datang kesini, padahal biasanya mereka selalu bergantian datang kemari.." ucap suster yang merawat Adriana.


"Maaf sus, apa suster punya nomor suami pasien atau anaknya gitu? Biar saya bisa cari tahu keberadaan suaminya itu sus.. Jujur saya gak tega lihat teman saya ini histeris karena suaminya tak datang kesini sus," ujar Rafi dengan menunjukkan wajah kasihan.


"Pihak rumah sakit memiliki nomornya kok pak, sebentar biar saya mintakan dulu ke resepsionis ya pak! Saya titip pasien sebentar.." ucap suster tersenyum kemudian keluar dari ruang itu.


Vanya yang bingung akhirnya menghampiri Rafi dan melontarkan pertanyaan padanya..


"Kak Rafi, sebenarnya dia ini siapanya kakak sih? Tadi disana kakak bilang dia keluarga kakak, eh barusan kakak beda lagi bilangnya ke suster itu! Emang dia siapa sih kak?" tanya Vanya dengan wajah polosnya membuat Rafi tak tahan untuk tertawa.


"Udah kamu gak perlu tau Van, setelah ini saya antar kamu pulang ke rumah ya!" ucap Rafi tersenyum memegang wajah Vanya.


Vanya mengangguk pelan berusaha menghilangkan rasa penasarannya itu, walau ia kesulitan melakukan itu karena dirinya adalah ratu kepo.


...•••...

__ADS_1


Devano baru selesai mandi, ia menghampiri istrinya yang sedang ngemil sambil menonton tv.


"Honey, kamu tuh kerjanya ngemil mulu sih! Nanti berat badan kamu makin nambah loh, terus aku jadi susah gendong kamunya.." ujar Devano melingkarkan tangannya di leher Shella dari belakang, Shella pun menoleh dan tersenyum ke arah suaminya itu.


"Hehe ini bawaan bayi mas, entah kenapa aku kepengen ngemil mulu daritadi! Eh iya mas menurut kamu gimana soal hadiah tiket bulan madu ke Paris yang dikasih sama mamah papah tadi? Kamu mau pake atau enggak??" ucap Shella sambil mengelus tangan Devano yang ada di lehernya.


"Aku sih mau mau aja honey, kapan lagi kan kita bisa liburan ke Paris berdua.. Tapi kalo misal kamu gak mau ya gapapa sih aku tinggal bilang aja ke mamah papah kalo kamu gak mau, aku juga khawatir sih sama kandungan kamu kalo kita pergi jauh gitu!" ucap Devano memberi kecupan di kening istrinya itu.


"Iya sih mas aku juga takut calon anak kita kenapa-kenapa nantinya, walau gimanapun juga aku gak mau kalo sampe kehilanganmu dia!" ucap Shella mengelus-elus perutnya.


Devano tersenyum mengusap-usap kepala Shella lalu melompat dari belakang dan akhirnya duduk juga di samping Shella lalu menggunakan tangan kanannya untuk merangkul pundak istrinya itu.


"Ish mas kamu apaan sih? Kan bisa muter lewat situ ngapain harus lompat coba? Udah kayak anak kecil aja kamu!" ujar Shella.


"Hahaha biar cepet dong honey, soalnya aku juga mau elus calon anak aku itu! Kan sebagai ayah aku pengen dong bisa lebih dekat sama anak aku!" ucap Devano tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke perut Shella dan mengusap-usap perut itu dengan tangan kirinya.


"Sayang, anak papah yang hebat! Kamu cepet-cepet lahir ya biar bisa main sama papah disini!" ucap Devano pada anak di dalam perut Shella itu.


Shella hanya tersenyum sambil mengelus-elus kepala suaminya itu, ia merasa senang karena Devano mau mengakui anaknya itu.


"Kamu ada-ada sih mas, kandungan aku kan baru masuk trimester pertama.. Masih lama lah dia lahirnya mas!" ucap Shella.


"Ya gapapa dong honey, siapa tau kalo digituin dede nya bisa cepet lahir kan?" ujar Devano yang nyengir memperlihatkan gigi putihnya itu.


"Yeh mana bisa gitu!" ujar Shella.


Lalu, handphone Devano berbunyi 2 kali seperti ada pesan masuk dari seseorang karena bunyinya sebentar kalo telpon kan lama bunyinya.


"Ish mas itu cek dulu hp kamu! Kan ngobrol sama anak kita bisa nanti lagi mas!" ucap Shella sedikit tegas membuat Devano akhirnya menurut dan mengecek ponselnya.


Devano beranjak dari sofa lalu berjalan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja makan.


Rupanya ada pesan dari Rafi yang isinya adalah sebuah lokasi.


^^^Rafi^^^


^^^Vano, itu lokasi keberadaan Hamzah yang sekarang! Gua udah lacak lewat nomer hp dia barusan, tapi sorry gua gabisa dateng kesana karena harus balik ngurus kantor cabang lu itu! Jadi lu suruh orang lain aja buat ngecek kesana Van, oh ya soal Vanya gua udah anter dia pulang ke rumah sisanya gua titipin ke lu!^^^


Devano membalas pesan Rafi itu lalu meletakkan kembali ponselnya disana, ia pun kembali menghampiri istrinya di sofa dan mengajak bicara lagi calon anaknya.


"Gimana ya soal Vanya? Kalau sampe Shella tau bisa berabeh nih urusannya..!!" gumam Devano.


...•••...


Besoknya, Laila datang ke rumah Jenar membawa sebuah bingkisan di tangannya.


"Semoga Damar suka deh sama kue buatan gue," ucap Laila menghirup aroma bingkisan itu.


Baru saja Laila ingin mengetuk pintu, tiba-tiba sudah ada orang yang membukanya dari dalam kemudian keluar menemui Laila.

__ADS_1


"Eh Damar, kebetulan banget lu yang keluar!" ucap Laila tersenyum tapi sedikit merasa heran karena Damar menggemblok tas besar di punggungnya.


"Loh lu mau kemana Mar? Kok bawa-bawa tas segala??" sambung Laila bertanya pada Damar.


"Laila? Kamu mau ketemu siapa??" ucap Damar yang malah balik bertanya pada Laila.


"Ketemu lu lah, eh lu belum jawab pertanyaan gue yang tadi! Lu mau kemana bawa-bawa tas begini?" ujar Laila.


"Mau apa kamu ketemu saya?" lagi-lagi Damar malah bertanya balik, membuat Laila sedikit memanyunkan bibirnya.


"Hadeh yaudah kalo lu emang gak mau kasih tau gue gapapa kok, nih gue kesini cuma mau kasih kue buatan gue ke lu! Ambil nih enak loh!" ucap Laila memberikan bingkisan di tangannya pada Damar.


"Dalam rangka apa kamu kasih saya kue?" tanya Damar.


"Waktu itu kan lu udah nolongin gue pas kaki gue kekilir, makanya sekarang gue buatin kue buat lu sebagai tanda terimakasih!" jawab Laila.


"Ohh makasih, harusnya gak perlu kamu pake kasih kue ke saya! Saya ikhlas kok nolong kamu waktu itu," ucap Damar lalu mengambil bingkisan kue dari Laila itu.


"Gapapa kok mumpung gue lagi gabut di rumah," ujar Laila tersenyum.


Lalu, Lubis & Jenar keluar juga dari dalam rumah karena mendengar Damar tengah berbicara dengan seseorang di luar.


"Eh ternyata ada kamu Laila, pantes aja tante denger suara orang lain kirain Damar ngomong sendirian!" ujar Jenar.


"Iya tante," ucap Laila kemudian mencium punggung tangan Jenar & Lubis bergantian.


"Ada apa kamu kesini Laila? Sendirian aja gak sama mamah papah kamu??" tanya Jenar.


"Iya aku sendiri tan, cuma mau kasih kue buatan aku aja kok ke Damar sebagai tanda terimakasih karena Damar udah tolongin aku waktu itu!" jawab Laila.


"Oalah gitu toh, yaudah masuk dulu sini Laila! Lanjut ngobrolnya di dalem aja jangan disini capek berdiri terus!" ujar Jenar menawarkan Laila masuk.


"Eh gausah tante aku langsung pulang aja, lagian kayaknya Damar mau pergi juga kan? Jadi aku mau pulang aja ke rumah.." ujar Laila.


"Ohh iya sih ini Damar mau balik ke Surabaya sama bapaknya juga, kebetulan dia udah harus masuk sekolah lagi!" ucap Jenar.


"Oh jadi Damar masih sekolah tan? Aku kira dia udah lulus loh.." ujar Laila terkejut.


"Iya Damar ini kelas 3 SMA, sebentar lagi lulus!" jawab Jenar menepuk pundak Damar.


"Eee yaudah tante, om, aku pamit pulang ya! Damar gue balik duluan ya, hati-hati di jalan..!!" ucap Laila.


"Iya iya Laila.." ucap Jenar & Lubis bersamaan.


Laila pun mencium lagi tangan Jenar & Lubis lalu langsung melangkah pergi dari rumah itu.


Sementara Damar masih terpaku memandangi Laila yang sudah mulai menjauh darinya...


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2