
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 358
...β’...
...β’...
Devano masih asyik makan bersama Novi di kantin dan tetap tak bisa berpaling dari wajah cantik sekretarisnya itu, entah mengapa Devano memang senang sekali memandangi wajah itu bahkan mungkin saat ini sudah menjadi candu baginya dibandingkan wajah milik istrinya sendiri.
Novi sudah menyelesaikan makannya sampai habis, ia pun hendak pamit pergi untuk kembali ke ruangannya. Novi memang sudah tidak tahan lagi terus-terusan berada disana bersama bosnya, apalagi Novi juga sadar kalau sedari tadi Devano terus saja memandangi wajahnya sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Maaf pak, saya sudah selesai makan. Kalau gitu saya mohon izin kembali ke ruangan saya ya, pak?" ucap Novi tampak gugup mengatakan itu.
"Loh loh jangan dong! Masa kamu mau pergi tinggalin saya sih?" ucap Devano tidak mengizinkan sekretarisnya itu untuk pergi dari sana.
"Tapi pak, saya kan harusβ"
"Ah sudah! Kamu tetap disini sampai saya selesai makan, urusan kerja itu biar nanti aja! Sekarang saya masih butuh kamu buat temani saya makan, jangan menolak permintaan saya!" potong Devano.
Devano benar-benar tidak ingin Novi pergi dari sana meninggalkannya, bahkan Devano sampai berbicara tegas dan lantang kepada gadis itu agar dia tidak pergi dan tetap disana bersamanya. Sepertinya Devano memang sudah kehilangan kendali saat ini, ia tak perduli lagi apa reaksi serta pikiran Novi padanya.
Sementara Novi langsung merunduk saat Devano membentak dan melotot ke arahnya, Novi merasa heran mengapa bosnya itu jadi seperti ini dan selalu memaksanya untuk tetap disana bersamanya. Padahal Novi masih harus melakukan pekerjaannya yang belum dikerjakan, namun Devano justru melarangnya dan tak membiarkan ia pergi.
Devano pun kembali melanjutkan makannya lalu tampak tersenyum tipis dan sesekali melirik ke arah Novi, tangan kirinya perlahan bergerak menyentuh jari-jemari Novi di atas meja lalu mengelusnya lembut. Novi yang merasakan sentuhan itu langsung reflek menghindar dan menyembunyikan tangannya dari Devano, ia tak mau Devano makin menjadi-jadi disana apalagi banyak juga karyawan lain yang memperhatikan mereka sedari tadi.
Tak lama kemudian, ponsel milik Devano berdering membuatnya harus berhenti sejenak memandang wajah Novi dan memakan makanannya. Devano mengambil ponselnya dari saku jas, lalu kaget saat melihat nama istrinya terpampang di layar ponsel.
"Shella? Ada apa ya?" batin Devano.
Akhirnya Devano memilih mengangkat sejenak telpon dari istrinya itu setelah meminum airnya.
π"Halo, honey!" ucap Devano menyapa istrinya melalui telpon.
Novi langsung syok mendengar Devano menyebut kata honey yang artinya saat ini bosnya itu tengah mengangkat telpon dari istrinya, tentu saja Novi merasa cemas dan khawatir jika sampai istri dari bosnya itu tau jika ia tengah bersama suaminya di kantin kantor dan makan berdua.
"Ini kesempatan buat aku, aku harus kabur selagi pak Devano angkat telpon!" gumam Novi dalam hati.
Novi perlahan bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi menjauhi Devano masih sambil memandang ke arah bosnya itu jaga-jaga kalau sampai Devano tau jika ia sudah pergi dari sana.
Rupanya Devano tak menyadari itu, ia masih fokus menghubungi istrinya.
π"Ohh, jadi kamu mau pergi sama temen-temen kampus kamu?" tanya Devano.
π"Iya mas, udah lama juga kan aku gak kumpul sama mereka. Aku kangen loh, mas!" ucap Shella.
π"Iya aku tau, tapi kan kamu lagi hamil sekarang. Kamu gak boleh capek-capek loh, honey! Aku gak mau terjadi sesuatu sama calon anak kita, apalagi kita kan pernah kehilangan." ucap Devano.
π"Yah, tapi aku pengen ketemu mereka. Sebentar aja kok, mas! Lagian kan aku juga bisa sama pak supir buat anterin aku ke cafe itu, boleh ya mas? Please, sekali ini aja!" ucap Shella memohon pada suaminya untuk diizinkan pergi.
π"Huft, yaudah oke aku izinin! Tapiβ" belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya, namun Shella langsung memotongnya.
π"Yes! Asik! Makasih ya, mas! Kamu emang suami aku yang ganteng dan baik deh! Aku janji gak akan pulang kesorean, terus aku juga gak bakal kecapekan deh!" ucap Shella sangat gembira.
π"Iya honey, itu bagus! Tapi, kamu kesananya diantar sama Rafael, ya?" ucap Devano.
π"Eee yaudah deh gapapa, mas. Yang penting aku diizinin pergi sama temen-temen aku!" ucap Shella.
π"Iya, ini aku sms Rafael dulu!" ucap Devano.
π"Oke mas, makasih ya!" ucap Shella.
π"Iya honey..." ucap Devano.
__ADS_1
Tuuutttt....
Setelah telponnya terputus, Devano pun langsung mengirim pesan pada Rafael yang meminta agar asistennya itu menjemput istrinya di rumah sekarang. Devano ingin Shella baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu padanya, untuk itu ia meminta Rafael yang mengantar Shella ke cafe untuk menemui teman-temannya.
Devano tampak terkejut ketika menyadari jika Novi alias sekretarisnya itu sudah tidak ada disana, ia pun langsung kesal dan emosi karena merasa kalau Novi sudah berani pergi darinya tanpa berbicara.
"Sialan kamu, Novi! Lihat aja, saya akan kasih perhitungan buat kamu!" gumam Devano sembari mengepalkan tangannya.
β’
β’
Shella tampak senang sekali setelah mendapat izin dari suaminya untuk pergi menemui teman-temannya, ia pun langsung menghubungi Yasmin dan mengatakan padanya kalau ia bisa pergi bersama mereka ke cafe biasa.
π"Halo Shella, gimana? Lu udah dapet izin dari suami lu?" ucap Yasmin bertanya pada Shella.
π"Halo, Yas! Udah dong, barusan gue udah telpon suami gue dan katanya gue boleh pergi sama kalian! Tapi, sorry banget ya nanti kita cuma duduk-duduk di cafe aja kan? Soalnya suami gue gak bolehin gue capek-capek, ya karena gue lagi hamil sih." ucap Shella berbicara dengan nada gembira.
π"Hah? Jadi sekarang lu lagi hamil? Ya ampun, selamat ya Shella! Kenapa lu gak kasih kabar ke gue atau Zara sih? Ohh, lu udah lupain kita ya?" ucap Yasmin.
π"Eh eh, gak gitu! Gue kemarin sibuk banget abis ngurus selamatan sama ngerayain ulang tahunnya suami gue, jadi gue gak sempat kasih tau lu atau Zara! Orang ibu gue aja baru tau kemarin kok, maaf banget ya Yas!" ucap Shella langsung cemas.
π"Hahaha, iya iya gue bercanda kok. Yaudah, kalo gitu nanti kita ngobrol di cafe aja gausah pake acara jalan-jalan atau ngapain! Supaya lu gak kecapekan dan suami lu gak marah, kan kalo suami lu marah gue juga yang kena nanti!" ucap Yasmin.
π"Ahaha, aduh lu ini bikin gue panik aja deh!" ucap Shella merasa lega.
π"Sorry sorry! Kalo gitu gue mau siap-siap dulu, ya? Kita ketemu di cafe biasa dua jam dari sekarang, awas loh jangan sampe telat! Kan biasanya lu kalo dandan lebih dari sejam, kali ini sebentar aja dandannya jangan lama-lama!" ucap Yasmin.
π"Ish, apaan sih? Mana ada gue dandan lama? Yang ada lu kali yang begitu! Udah tenang aja, kali ini gue cepet kok dandannya!" ucap Shella.
π"Bagus deh, yaudah gue tutup dulu ya? Lu siap-siap juga gih sana!" ucap Yasmin.
π"Iya iya, yaudah bye!" ucap Shella.
π"Oke, bye!" ucap Yasmin.
Tuuutttt...
Shella pun beranjak dari ranjangnya dengan cepat, lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sebelum nantinya ia berganti pakaian lalu pergi menemui Yasmin dan Zara di cafe.
β€οΈ
Sementara itu, Rafael sampai di depan rumah bosnya setelah mendapat tugas dari bosnya itu untuk menjemput Shella disana. Rafael pun turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu depan rumah dan menemui Shella, jujur Rafael memang sedang malas untuk melakukan apapun karena suasana hatinya tengah tidak beres saat ini. Namun, bagaimanapun juga ia harus tetap menjalankan tugas dari Devano alias bosnya.
TOK TOK TOK...
"Permisi, Bu Shella..." ucap Rafael mengetuk pintu sembari memanggil nama Shella.
Ceklek...
Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka dan Intan keluar menemui Rafael disana. Intan tampak heran ketika melihat Rafael ada di depan pintu, ia pun coba bertanya ada urusan apa Rafael datang kesana.
"Eh, mas Fael. Ada apa ya, mas?" tanya Intan.
"Nah, Intan! Saya kesini mau jemput Bu Shella, apa ibu Shella sudah siap untuk pergi?" ucap Rafael bertanya soal Shella.
"Ohh, waduh saya kurang tau deh. Yaudah gini aja, mas Fael tunggu sebentar disini, biar saya ke dalam buat ngecek apa mbak Shella udah siap buat pergi atau belum." ucap Intan.
"Ya oke, saya tunggu di mobil aja." ucap Rafael.
"Iya mas..." ucap Intan.
Intan pun masuk kembali ke dalam rumah itu untuk menemui Shella, sedangkan Rafael juga pergi kembali ke mobilnya menunggu Shella disana.
Intan berjalan hendak menuju tangga lalu pergi ke kamar Shella untuk bertanya mengenai apa yang ditanyakan Rafael tadi. Namun, tiba-tiba Silvi muncul memanggil namanya membuat Intan harus berhenti sejenak untuk meladeni majikannya itu.
"Intan!" ucap Silvi memanggil Intan.
"Eh, iya nyonya." ucap Intan menoleh.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Silvi penasaran.
"Eee anu nyonya, saya mau ngecek ke kamar mbak Shella. Soalnya di depan tuh ada pak Rafael, katanya mau jemput mbak Shella buat pergi. Nah, saya diminta buat ngecek apa mbak Shella udah siap atau belum!" jawab Intan menjelaskan.
"Loh emang Shella mau pergi kemana?" tanya Silvi.
"Eee kalau soal itu saya juga gak tau, nyonya. Tadi pak Rafael juga cuma bilang kalau mbak Shella mau pergi, dia gak bilang pergi kemananya." jawab Intan.
"Ohh, yaudah biar saya aja yang ke kamar Shella. Kamu balik aja urus kerjaan kamu!" ucap Silvi.
"Oh, baik nyonya! Kalau gitu, saya mohon izin mau kembali ke dapur. Permisi, nyonya..." ucap Intan pamitan pada majikannya itu.
"Iya, silahkan!" ucap Silvi.
Intan pun pergi ke dapur melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Silvi kini menaiki tangga untuk menemui menantunya di kamar. Silvi penasaran hendak pergi kemana sebenarnya Shella dan mengapa tadi Shella tidak mengatakan kepadanya.
β€οΈ
TOK TOK TOK...
"Shella, Shella sayang...!!" ucap Silvi yang kini sudah sampai di depan kamar Shella, ia langsung mengetuk pintu itu sembari memanggil-manggil nama menantunya itu agar segera keluar membuka pintu.
Ceklek...
Tak lama kemudian, Shella pun keluar membuka pintu dan sudah tampak rapih dengan pakaiannya. Silvi juga mencium wangi parfum yang menyengat di tubuh menantunya itu, artinya Shella memang sudah bersiap untuk pergi.
"Iya mah, kenapa?" tanya Shella heran.
"Kamu mau pergi kemana, sayang? Kenapa kamu gak bilang dulu sama mama?" ucap Silvi bertanya balik pada Shella dengan cemas.
"Eee iya mah, aku mau ketemu sama temen-temen kampus aku di cafe all in love. Aku ini baru mau ke bawah bilang sama mama, soalnya barusan abis telpon mas Vano dan udah diizinin." ucap Shella.
"Oalah, bener suami kamu udah izinin? Awas loh kalau bohong, kamu kan lagi hamil!" ucap Silvi.
"Tenang aja, mah! Aku gak bohong kok, buktinya mas Vano juga udah minta pak Rafael buat antar aku. Lagian mana mungkin sih mah, aku bohong sama mama? Kan bohong itu dosa tau, mah!" ucap Shella sambil tersenyum.
"Iya sih, Rafael juga udah datang tuh. Yaudah, kalo gitu mama izinin kamu buat pergi! Tapi ingat, kamu gak boleh capek-capek!" ucap Silvi.
"Iya mah, tenang aja! Aku juga udah janji sama mas Vano buat enggak kecapekan, lagian disana aku cuma ngobrol sambil duduk-duduk aja kok." ucap Shella.
"Ya bagus deh, yuk mama antar ke bawah!" ucap Silvi.
"Iya mah..." ucap Shella tersenyum.
Shella pun melangkah keluar dari kamarnya, lalu menutup dan mengunci pintu dengan rapat. Barulah ia jalan bersama mama mertuanya itu menuju ke bawah untuk menghampiri Rafael, Silvi tampak menggandeng tangan menantunya karena tak ingin sesuatu terjadi lagi pada calon cucunya di dalam perut Shella.
Ketika sampai di bawah, mereka justru bertemu dengan Tama yang baru datang dari luar.
"Loh, mama sama Shella mau pada kemana ini?" tanya Tama penasaran saat melihat istri dan mantunya itu jalan berduaan.
"Eh papa udah pulang, ini mama cuma mau anterin Shella ke depan!" jawab Silvi.
"Nah, terus Shella sendiri mau kemana?" tanya Tama lagi karena penasaran.
"Eee aku mau ketemu sama temen, pah! Udah dijemput juga sama Rafael di depan, oh ya aku kalo gitu mau sekalian pamit sama papa!" jawab Shella tersenyum lalu mencium tangan papa mertuanya.
"Eh iya iya, hati-hati kamu!" ucap Tama.
"Iya pah, yaudah ya aku mau ke depan dulu!" ucap Shella.
"Iya," ucap Tama singkat.
Setelahnya, Shella dan Silvi pun lanjut berjalan menuju pintu depan. Silvi masih saja menggandeng lengan Shella karena ia benar-benar khawatir pada kondisi mantu serta calon cucunya itu. Shella pun tampak senang saja diperlakukan seperti ini oleh mertuanya, ya biarpun ia merasa kalau Silvi terlalu lebay menjaganya padahal ini adalah jalanan datar.
"Semoga aja dengan ketemu Yasmin dan Zara, aku bisa tenangin pikiranku!" batin Shella.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1