Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Temui Shella!


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 119


...•...


...•...


Shella tengah sarapan bersama Jenar, mereka tampak menikmati momen itu karena cukup lama anak dan ibu itu terpisah akibat kejadian penculikan yang terjadi pada Shella.


"Syukurlah sayang kalau kamu memang baik-baik aja, jujur ibu cemas banget sama kondisi kamu loh Shella! Berhari-hari ibu selalu berdoa untuk keselamatan kamu dan juga anak kamu! Alhamdulillah akhirnya doa ibu didengar oleh Tuhan, tapi Shella apa kamu tau siapa penculik kamu itu?" ucap Jenar panjang lebar.


"Iya Bu Alhamdulillah banget aku bisa selamat dari penculik itu, tapi sayang aku belum tau siapa orang yang udah culik aku Bu karena wajah dia tuh ditutup mulu sama topeng hitam! Tapi gapapa deh Bu, yang penting kan sekarang aku udah pulang dan bisa sama-sama sama ibu lagi..!!" ucap Shella yang lalu memeluk ibunya itu di meja makan.


"Kamu benar sayang, yaudah sekarang kamu harus makan yang banyak supaya anak di dalam kandungan kamu itu sehat dan gak kekurangan gizi!" ucap Jenar mengelus-elus kepala Shella.


"Iya Bu pasti, aku juga kangen banget sama masakan ibu tau! Selama disana aku selalu dikasih makanan dari luar, emang sih enak-enak rasanya.. tapi tetep gak bisa ngalahin rasa masakan ibu yang udah melekat di hati aku!" ucap Shella.


"Ah bisa aja kamu sayang! Tapi bener kamu disana dikasih makanan enak sama penculik itu? Ibu pikir malah kamu gak dikasih makan loh, biasanya kan para penculik tuh orangnya kejam suka gak peduli sama orang diculiknya! Jangankan kasih makan, kasih minum aja masih sungkan.." ujar Jenar.


"Iya Bu Alhamdulillah nya penculik aku tuh gak begitu Bu, dia malah baik kok selalu kasih makan aku tiga kali sehari gak pernah telat lagi! Sama dia juga kasih aku susu ibu hamil loh Bu, disana juga aku gak dikasarin sama sekali.. terus aku disekap di kamar yang mewah dan nyaman Bu gak kayak penculik di tv!" ucap Shella menjelaskan semasa ia diculik kemarin.


"Wah beruntung banget kamu sayang dapet penculik yang baik hati begitu, syukur deh berarti kamu bener kan gak diapa-apain sama penculik itu? Ibu jadi lega dengernya nak, tapi semoga kejadian ini gak terulang lagi karena ibu gak bisa jauh dari kamu sayang!" ucap Jenar sambil membelai rambut Shella.


"Aamiin, aku juga gak mau Bu diculik lagi! Walaupun penculiknya baik, tapi tetap aja aku lebih seneng disini sama ibu..!!" ucap Shella tersenyum kembali menyenderkan kepalanya di bahu ibunya itu..


"Maaf Bu, aku gak bisa cerita sama ibu kalau yang culik aku itu Riza teman SMP aku dulu! Pasti ibu bakal syok nantinya kalau tau dia yang udah culik aku," gumam Shella sambil menatap ke mata Jenar.


Mereka pun lanjut menyantap hidangan yang tersedia di atas meja itu dengan lahap, tampak Shella memang sangat merindukan masakan ibunya itu hingga ia makan begitu banyak makanan.


"Sayang, abis ini kamu hubungi Devano ya! Gimanapun juga kamu kan istrinya, kamu gak boleh benci sama dia hanya karena dia lalai..!!" ucap Jenar membujuk Shella agar mau menghubungi Devano.


"Lihat nanti aja ya Bu, soalnya aku masih agak kesel sama mas Vano.." ucap Shella.


"Kamu jangan gitu dong sayang! Devano itu juga merasa kehilangan kamu loh, lagian kan dia coba bertanggung jawab atas kesalahannya dengan menyuruh anak buahnya untuk bebasin kamu kan? Buktinya kamu bisa balik kesini karena bantuan salah seorang suruhan Devano, ayolah Shella ibu yakin kamu pasti juga kangen sama suami kamu itu kan? Udah lah kamu gak perlu gengsi begitu!" ucap Jenar.

__ADS_1


Shella terdiam sambil mengunyah makanan di mulutnya, kemudian ia manggut-manggut pada ibunya itu.


"Ibu benar aku emang kangen banget sama mas Vano, tapi saat ini aku belum siap ketemu dia! Karena aku sudah merasa tak pantas bagi mas Vano lagi.."


...•••...


Disisi lain, Devano juga tengah sarapan bersama keluarganya di meja makan... tampak Devano lebih banyak diam tak seperti biasanya.


"Vano, kapan kamu mau temuin istri kamu? Katanya kamu kangen banget sama dia, kok malah kamu gak langsung temuin dia di rumahnya?" tanya Silvi yang merasa heran pada anaknya karena tak menemui istrinya yang sudah selamat dari penculik.


"Nanti nanti aja mah, aku lagi banyak urusan di kantor yang harus diselesaikan! Selain itu aku juga harus ngurus kasus Rafi yang saat ini lagi di kantor polisi, itu semua lebih penting mah daripada ketemu Shella sekarang.. karena kan yang terpenting Shella udah berhasil diselamatkan, jadi soal temuin dia itu gampang bisa kapan aja kan?" jawab Devano.


"Kenapa kamu jadi begini Vano? Bukannya kamu kemarin selalu bilang pengen ketemu sama Shella, seenggaknya sekarang kamu temuin dia dulu baru kamu urus yang lainnya..!! Memangnya kamu mau nanti Shella mikir kalau kamu gak peduli lagi sama dia?? Udah mending kamu temuin dia dulu!" ucap Silvi menegur anaknya itu.


"Benar kata mamah kamu No, kamu harus temuin dulu istri kamu itu supaya gak ada salah paham nantinya diantara kalian berdua! Lagian soal kantor kan kamu bisa minta tolong asisten kamu buat handle dulu, kalau Rafi kan sekarang udah ada polisi yang mengurus dia.." ujar Tama yang mendukung argumen istrinya agar Devano mau menemui Shella.


Laila baru saja juga ingin membuka mulutnya dan berbicara, namun Devano malah menatap ke arahnya dengan tatapan tajam seperti hendak membunuhnya.


"Maaf pah, mah, keputusan aku udah bulat kalau aku akan temuin Shella setelah semua masalah ini selesai! Aku yakin Shella juga bisa ngertiin kondisi aku kok, lagian biarin sekarang ini dia menikmati momen bersama ibunya dulu..!!" ucap Devano sambil terus menyantap makanan di piringnya.


"Yasudah itu terserah kamu saja, tapi nanti agak siangan papah sama mamah mau temuin Shella dengan atau tanpa kamu! Papah khawatir kalau Shella terganggu mentalnya karena habis diculik, sebagai psikolog papah akan cek kondisi istri kamu itu!" ucap Tama.


"Oke pah, aku dukung aja apa yang papah mau lakuin ke Shella asal itu gak mengganggu kandungan Shella!" ucap Devano manggut-manggut.


"Iya aku tau pah, makanya aku mau urus semuanya dengan cepat supaya aku bisa temuin Shella dan calon anak aku! Aku juga udah suruh Rafael buat belikan vitamin dan susu untuk Shella, jangan bilang aku gak peduli sama mereka pah!" ujar Devano.


Akhirnya mereka menyudahi obrolan itu karena tak mau suasana jadi semakin panas antara anak dan orang tua itu.


...•••...


Sementara itu, Bimo masih memikirkan apa yang sudah ia lakukan tempo hari sampai merenggut 2 nyawa sekaligus.


Bimo sangat menyesal atas perbuatannya itu, hingga saat ini ia masih belum bisa hidup tenang karena terus dihantui oleh rasa bersalah itu.


Melihat cucunya duduk sendirian di pinggir kolam sambil melamun, Frederick pun penasaran dan akhirnya menghampiri Bimo.


"Apa yang lagi kamu pikirkan Bimo? Soal mantan kamu itu atau ada masalah lainnya??" tanya Frederick yang saat ini duduk di sebelah Bimo.


Bimo kaget ketika mendapati kakeknya sudah ada disampingnya padahal sebelumnya tidak ada siapapun disana.


"Eh kakek kapan kesininya, kok aku gak lihat sih? Jangan-jangan kakek dukun ya bisa muncul tiba-tiba tanpa diketahui.." ujar Bimo.

__ADS_1


"Ahaha mana ada yang bisa kayak gitu, kakek tadi untuk sampai sini melalui proses juga seperti jalan kaki! Sudah lupakan, sekarang kamu cerita ada masalah apa sampai kamu sering melamun sendirian begini!" ucap Frederick.


"Gak ada kok kek, aku cuma lagi pengen sendiri aja! Oh ya bang Rian sudah berangkat ke kantor ya kek? Soalnya aku cek ke kamarnya tadi kosong gak ada orang, padahal aku pengen bicara sama dia!" ucap Bimo tak mau menceritakan masalahnya pada Frederick karena takut nantinya kakeknya itu akan marah pada Adrian yang telah menyuruhnya membunuh orang tak bersalah.


"Iya Adrian sudah berangkat tadi pagi-pagi, bahkan dia gak sempat sarapan katanya ada urusan penting di kantor yang harus ia urus! Kalau memang kamu mau bicara sebaiknya kamu datengin aja dia di kantor!" ucap Frederick.


"Iya kek nanti aku kesana kok," ucap Bimo.




TOK TOK TOK...


Suara ketukan pintu membuat Ratmi menghentikan sejenak menyapu lantainya, ia pun berlari menuju pintu depan untuk mengecek siapa yang datang.


"Selamat pagi Bu!"


Ratmi terkejut karena yang datang adalah sekumpulan polisi, ia pun sedikit gemetar karena belum pernah berbicara dengan polisi sebelumnya.


"I-i-iya pagi pak, a-ada apa ya pak??" ucap Ratmi agak gugup pada polisi disana.


"Kami dari kepolisian ingin bertemu dengan saudara Bimo, apa yang bersangkutan ada di dalam Bu?" jelas pak polisi.


"I-i-iya ada kok pak, se-sebentar saya panggilkan dulu den Bimo nya ya pak.. silahkan masuk pak!" ucap Ratmi lalu melebarkan pintu agar para polisi itu bisa masuk dan menunggu di dalam.


Setelah mengantar polisi ke ruang tamu, Ratmi pun pergi ke belakang mencari Bimo..


Akhirnya Ratmi berhasil menemukan Bimo yang kini masih berada di kolam renang bersama Frederick, ia pun langsung menghampiri mereka untuk menyampaikan pesan dari polisi tadi.


"Permisi den, tuan Fred!" ucap Ratmi sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai sikap hormat pada majikannya itu.


"Iya ada apa bi?" tanya Frederick yang memutar badannya untuk berbicara tatap muka dengan Ratmi.


"Itu di depan ada polisi yang cari den Bimo tuan," jawab Ratmi.


"Polisi??"


Sontak Frederick & Bimo kaget bersamaan, terlebih lagi Bimo yang jantungnya saat ini berdetak kencang karena ketakutan.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2