Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Masuk jurang


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 212


...•...


...•...


Rafi masih bingung harus membawa gadisnya kemana saat ini, ia sudah mengelilingi satu kota hanya untuk mencari tempat tinggal bagi dirinya dan juga Femila. Bahkan bensin mobilnya juga sudah hampir terkuras habis karena muter-muter tanpa tujuan.


Femila yang ikut heran pun mulai angkat bicara, ia tidak tau mengapa Rafi terus jalan tanpa ada tujuan. Entah sudah berapa kali mereka melewati jalan tersebut sampai Femila bosan melihat tukang es cincau yang tengah berdiri di pinggir jalan sana.


"Sayang, kamu sebenarnya tau gak sih kita mau kemana? Udah berkali-kali loh kita lewatin jalan ini, aku pegel duduk terus di mobil!" ucap Femila.


"Eee iya maaf maaf, aku bingung mau bawa kamu kemana! Kalau kita sewa hotel di sekitar sini, bisa jadi Adrian bakal tau karena dia punya banyak akses di kota ini! Tapi kalau kita harus ke luar kota, rasanya percuma juga karena Adrian pasti tetep bisa temuin kita! Sekarang ini sulit cari tempat yang aman dari Adrian, makanya aku bingung..." ucap Rafi.


"Yaudah untuk sementara kita ke kota D aja, terus besok baru kita cari tempat lain!" usul Femila.


"Kota D? Mana tuh? Denpasar?" tanya Rafi bingung.


"Bukan, tapi Bandung!" jawab Femila.


"Loh kok Bandung kamu bilang kota D?" tanya Rafi.


"Iya, kan plat D!" jawab Femila nyengir.


"Hahaha, ya ampun aku gak kepikiran sampe situ loh! Lucu banget sih kamu, sayang!" ujar Rafi tertawa sambil mencolek pipi Femila. "Oke, kita ke Bandung ya! Tapi kayaknya aku isi bensin dulu deh, soalnya bensinnya udah mau habis takut gak kuat!" sambungnya.


"Ya," ucap Femila singkat.


Rafi pun mengarahkan mobilnya ke pom bensin di dekat sana untuk sekedar mengisi bensin, Femila kebetulan juga kebelet buang air sehingga ia meminta izin pada Rafi untuk pergi ke toilet disana.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya!" ucap Femila.


"Oh, iya iya!" ucap Rafi tersenyum mengizinkan.


Femila langsung turun dari mobil Rafi dan berjalan menuju toilet dengan tergesa-gesa karena ia sudah sangat kebelet, sementara Rafi membeli bensin disana sambil turun dari mobilnya supaya sopan.

__ADS_1


Saat di dalam toilet, Femila memikirkan rencana yang akan ia lakukan untuk menyingkirkan Rafi dari dunia ini sehingga ia bisa terbebas dari lelaki itu.


"Gue harus gimana ya? Gimanapun juga hari ini Rafi harus langsung gue singkirin dari bumi ini! Tapi gimana caranya ya? Gue harus bisa pikirin sekarang juga secara matang supaya Rafi bisa mati!" batin Femila terus berpikir keras.


Setelah selesai buang air kecil, Femila membenarkan kembali celananya dan menyiram wc itu. Namun, sampai sekarang ia belum berhasil menemukan cara untuk bisa menghabisi Rafi. Akhirnya Femila terpaksa keluar dari toilet untuk kembali pada Rafi, tiba-tiba saja terlintas sebuah ide di kepalanya.


"Benar juga, gue kan bisa bikin Rafi kecelakaan!"


...•••...


Sementara itu, Yoga datang ke rumah sakit tempat Nadya dirawat untuk menjenguknya. Memang perasaan pria itu saat ini masih dirundung luka karena kepergian Femila yang baru ditemuinya, namun Yoga berusaha untuk melupakan itu dan fokus pada wanita lain seperti apa yang disarankan Femila kepadanya. Ya itulah sebabnya Yoga datang ke rumah sakit ini, agar ia bisa melupakan Femila.


Sesampainya di depan ruang ICU, Yoga cukup terkejut karena tidak ada siapapun yang menunggu disana. Yoga celingak-celinguk ke sekelilingnya mencari tau apakah memang tidak ada orang disana, lalu ada seorang suster yang lewat dan Yoga pun langsung bertanya pada suster tersebut.


"Permisi, sus!" ucap Yoga.


"Ya, kenapa mas?" tanya suster itu.


"Eee saya mau tanya, orang yang nunggu di depan ruang ICU itu kemana ya?" ucap Yoga.


"Ohh, maaf mas saya kurang tau! Karena saya baru lewat sini, jadi gak tau apa-apa..." ucap suster itu.


"Baik, sus! Terimakasih!" ucap Yoga.


"Sama-sama, mas! Kalo gitu saya permisi..." ucap suster itu membungkuk sedikit.


Suster itu pun pergi dari sana, sedangkan Yoga kembali ke depan ruang ICU lalu melihat kondisi Nadya dari dekat kaca. Ia langsung tersenyum karena ternyata ada Lestari di dalam sana tengah duduk di samping ranjang Nadya.


"Ternyata tante Lestari ada di dalam, gue pikir gak ada siapa-siapa yang jagain Nadya disini! Kasihan banget gue lihat tante Lestari sampe sesedih itu, semoga aja Nadya bisa secepatnya sadar!" batin Yoga nampak sedih memandang ke dalam ruangan.


Tiba-tiba saja ada seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Yoga terkejut lalu reflek menoleh ke belakang memastikan siapa yang menepuk nya itu. Rupanya ada Jenar disana tengah berdiri menatap Yoga sambil tersenyum.


"Eh tante Jenar, saya kira siapa tadi!" ucap Yoga tersenyum lalu mencium punggung tangan Jenar.


"Iya, maaf ya nak Yoga tadi tante udah ngagetin kamu!" ucap Jenar.


"Ya gapapa kok, tante! Oh ya tante abis darimana?" ucap Yoga penasaran.


"Ini loh tante abis beli makan sama minum, soalnya tante belum makan siang..." jawab Jenar.


"Ohh iya tante, kalo gitu silahkan aja makan tan! Saya masih mau lihat kondisi Nadya dari sini, udah lama juga saya gak jengukin dia!" ucap Yoga.


"Yaudah, tante kesana dulu ya buat makan! Ngomong-ngomong kamu sendiri udah makan belum?" ucap Jenar.

__ADS_1


"Eee saya udah kok, tan!" ucap Yoga.


"Ohh yasudah tante makan dulu ya!" ucap Jenar.


"Iya, tante!"


Jenar pun pergi ke tempat duduk untuk memakan makanan yang baru ia beli, sedangkan Yoga masih tetap berada di depan kaca melihat kondisi Nadya dari sana.


...•••...


Disisi lain, Femila & Rafi sudah melanjutkan perjalanan mereka menuju Bandung setelah bensin mobil Rafi penuh kembali. Mereka berdua tampak menikmati perjalanan itu sambil bergoyang mendengarkan alunan musik dari radio.


"Seru ya, sayang?" tanya Rafi.


"Iya dong, lagu ini yang paling aku sukai! Apalagi kalo dengerinnya berdua sama kamu, tambah-tambah deh serunya!" jawab Femila tersenyum.


"Ah bisa aja kamu, sayang!" ujar Rafi mencolek gemas pipi wanita di sampingnya.


Femila hanya tersenyum manis memandangi wajah lelaki itu, memang saat ini di wajahnya terpampang senyuman. Namun, hati dan pikiran Femila mempunyai perasaan lain.


"Hahaha, sekarang kamu masih bisa ketawa-ketawa Rafi! Tapi, sebentar lagi kematian kamu akan tiba!" batin Femila.


Beberapa waktu telah berlalu, mereka melewati jalanan yang dekat dengan jurang sehingga Femila mulai berpikir untuk mencelakakan Rafi disini.


Brukkk...


"Duh hp aku jatuh lagi, sayang!" ucap Femila pura-pura panik saat ponselnya jatuh ke bawah.


"Eee yaudah aku aja yang ambilin ya," ucap Rafi kemudian menunduk mengambilkan ponsel milik Femila dengan satu tangannya masih berada di setir.


Femila memanfaatkan momen itu untuk mengendalikan setir mobil Rafi ke arah jurang agar mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.


"Hey, apa-apaan kamu sayang?" tanya Rafi panik.


"Kamu harus mati! Dengan atau tanpa aku, sekarang juga!" ujar Femila membanting setir ke kiri secara paksa.


BRAAKKK...


Akhirnya mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan sebelah kiri yang terbuat dari besi, sangking kencangnya mobil itu melaju sampai-sampai mobil tersebut terpental dan terguling-guling ke bawah jurang.


Duaaarrr.... mem


Terdengar suara ledakan dari bawah sana yang diperkirakan adalah ledakan mobil tersebut.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2