
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
...⚠️WARNING!!!⚠️...
...🔞🔞...
...Terdapat beberapa kata-kata kotor pada bab ini dan gak author sensor, tapi gak tau juga kalo disensor sama pihak mt nya nanti...
...HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN...
...⛔⛔⛔...
#CSMC EPISODE 259
...•...
...•...
Bimo yang baru pulang dari kantornya tanpa sengaja malah melihat sosok sang mantan yang tengah berdiri di trotoar jalan dekatnya, ia pun memilih menghampirinya sejenak karena penasaran sedang apa Zara berdiri disana sambil mengutak-atik ponselnya dan tak melihat sekeliling.
Ketika Bimo baru hendak turun dari mobilnya, tiba-tiba saja seseorang menyomot ponsel milik Zara dari tangan gadis itu. Ya tentu dengan mudahnya Zara kehilangan ponsel karena ia tidak fokus pada sekitar tempatnya berada, apalagi ia terlalu asyik bermain ponsel di jalan raya.
"Jambret, jambret...!!" teriak Zara panik.
Dengan kekuatan ala superhero, Bimo bergerak cepat keluar dari mobilnya lalu berlari mengejar jambret yang mengambil ponsel milik Zara. Sangking paniknya Bimo sampai lupa kalau ia membawa mobil dan harusnya bisa mengejar jambret itu dengan mobilnya, atau mungkin Bimo sengaja memilih berlari agar lebih mudah mengejar jambret itu.
Zara yang melihat Bimo melewatinya dan berlari mengejar jambret justru terdiam, ya ia teringat kembali pada saat-saat ketika dirinya masih menjalin kasih dengan Bimo dan berjanji akan selalu bersama sehidup semati. Namun, belum sampai mati mereka malah sudah berpisah karena Zara lebih memilih bersama David daripada Bimo sang mantan.
Bimo berlari kencang sekuat tenaga berusaha mengejar jambret yang larinya juga tak kalah cepat, warga-warga disekitar yang mendengar suara teriakan jambret dari mulut Bimo pun ikut membantu Bimo mengejar jambret itu.
"Woi berhenti lu...!!!" teriak Bimo dengan nafas yang sudah mulai terengah-engah.
Bughh...
__ADS_1
Dengan cekatan Bimo meloncat lalu memberi tendangan keras pada punggung jambret itu, seketika pria jambret tersebut tersungkur ke jalan dan ponselnya terlepas dari tangannya. Bimo pun langsung mengambil ponsel milik Zara yang untungnya tidak kenapa-napa itu, barulah ia kembali menghampiri si jambret dan menarik kausnya.
"Sini lu!" ujar Bimo tampak sangat emosi, ia menarik kaus jambret itu dan menatapnya tajam.
"Berani-beraninya lu jambret dia, mau cari mati lu?" ujar Bimo yang sudah sangat kesal.
"Ampun bang, gue cuma butuh duit buat makan!" ucap jambret itu memelas memohon ampunan.
"Gak gini caranya, kalo lu mau duit ya kerja!!" bentak Bimo dan tangan satunya sudah bersiap memukul wajah si jambret, namun tidak jadi.
"Tolong jangan pukul gue! Gue janji bakal pergi dan gak akan jambret disini lagi, tapi tolong lepasin gue dan jangan bawa gue ke kantor polisi!" ucap jambret itu masih berusaha memohon-mohon.
"Bodoamat, gue gak peduli! Sekali salah ya tetap salah dan lu harus dihukum biar jera!" ujar Bimo.
Bughh...
Bimo memukul wajah pria itu sampai tergeletak ke jalan dan memegangi wajahnya, tak lama rombongan orang yang membantu mengejar jambret itu juga sampai disana.
"Pak, itu jambretnya! Tangkap dan bawa dia ke kantor polisi supaya daerah sini jadi aman, tapi ingat jangan main hakim sendiri!" ucap Bimo.
"Iya siap, mas!"
"Bimo..."
Suara pelan yang tak asing di telinganya mendadak muncul dari belakang, Bimo pun menoleh lalu terbelalak melihat Zara rupanya juga ada disana.
"Thanks ya, udah bantu gue!" ucap wanita itu sembari melempar senyum tipis.
"Ya, sama-sama! Ini hp lu, kalo misal ada yang rusak tinggal betulin aja biar nanti gue yang bayar!" ucap Bimo menyerahkan ponsel itu ke Zara.
"Gak perlu, ini masih bagus kok!" ucap Zara.
"Entah kenapa rasanya gue masih belum terima kalau Zara tinggalin gue, ini semua seperti mimpi!" batin Bimo.
...•••...
Kantor polisi
"Saudara Riza, ada yang ingin bertemu dengan anda!" ucap seorang polisi berbicara pada seorang tahanan di dalam sel sembari membuka kunci gembok.
__ADS_1
Ya tahanan itu ialah Riza si penculik Shella sebelumnya yang juga merupakan teman SMP Shella yang terobsesi pada gadis itu, ia masih mendekam di penjara setelah Devano memenjarakannya dengan tuduhan penculikan sekaligus percobaan pencurian dana yang ia lakukan bersama Rafi kala itu.
Begitu namanya dipanggil, Riza yang tengah duduk di pojok langsung bangkit dan berjalan pelan menghampiri polisi dengan tubuh sempoyongan. Terlihat para napi lain hanya diam memperhatikan Riza yang seperti orang sedang mabuk, mereka memang tak berani pada Riza dan bahkan di dalam sel ini Riza lah penguasanya.
"Cepatlah, saudara Riza!" bentak polisi itu.
"Iya bawel!" ujar Riza malah balik membentak polisi itu dan sedikit mempercepat langkahnya.
Setelahnya, polisi itu pun membawa Riza ke ruang temu yang mana disana sudah ada seorang pria berpenampilan rapih tengah duduk menunggu kehadirannya. Pria itu tersenyum renyah begitu melihat Riza muncul bersama seorang polisi, sedangkan Riza tetap diam tanpa ekspresi.
"Silahkan duduk!" ucap polisi itu sembari melepas pegangannya, ia juga pergi menunggu di area lain.
Riza langsung duduk di hadapan pria yang masih tersenyum lebar itu, ia sepertinya malas meladeni pria tersebut entah apa alasannya.
"Mau ngapain sih lu kesini? Mau ngetawain gua, iya?" tanya Riza dengan nada jutek dan malas.
"Hahaha, yeah that's true! Itu salah satu alasan gue datang kesini, lihatlah Riza diri lu yang sekarang bener-bener berubah dan sangat pantas untuk ditertawakan!" ujar pria itu sambil tertawa keras.
"Bangsat lu! Kalo cuma itu ngapain lu pake kesini segala? Buang-buang waktu gue aja, tau gak!" bentak Riza kesal sembari menggebrak meja.
"Hahaha, selow men! Bukan cuma itu kok, gue juga mau kasih tau sesuatu yang lumayan penting ke lu! Ini tentang Shella, cewek incaran lu itu yang gagal lu dapetin dan malah berakhir di penjara kayak gini!" ucap pria itu tersenyum licik.
"Maksud lu apa? Jangan berani lu macem-macem sama cinta sehidup semati gue ya, atau gue bakal habisin lu begitu gue keluar dari sini!" ancam Riza.
"Hahaha, aduh aduh Riza.... gimana bisa lu ngelakuin itu semua? Sedangkan lu dihukum 15 tahun penjara, pas lu keluar gue pasti udah berhasil nikahin Shella bahkan udah punya keluarga besar sama dia!" ucap pria itu tertawa terus.
Sontak raut wajah Riza mendadak berubah menjadi semakin kesal, ia mengepalkan tangannya dan pipinya sedikit mengedut tanda emosi.
"Jangan lancang lu, Arga! Shella itu punya gue dan cuma gue yang pantas buat dapetin dia, sebaiknya lu jangan sentuh Shella sedikitpun dengan tangan kotor lu itu!" ujar Riza dengan nada lantang.
"Lu tenang aja, tangan kotor gue bukan cuma akan menyentuh Shella kok! Tapi juga menyetubuhi dia dan menanam benih-benih penerus Arga Dewantara di dalam rahimnya, gimana?" ucap pria yang ternyata Arga itu sambil tersenyum licik.
"Kurang ajar...!!" teriak Riza yang sudah sangat emosi, ia maju menarik kerah kemeja Arga dan hendak memukul wajahnya.
Polisi disana bergerak menahan Riza yang emosi, sedangkan Arga hanya senyum-senyum seperti meledek Riza yang sudah sangat emosi tersebut.
"BANGSAT LU, ARGA...!!!" satu teriakan kembali keluar dari mulut Riza, padahal polisi sudah membawanya menjauh dari Arga.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...