Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Dibentak suami


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 374


...•...


...•...


Shella dan Devano masih berada di bekas reruntuhan keraton yang ada di sekitar perjalanan mereka menuju rumah paman dari Devano, Shella tampak belum ingin pergi dari sana dan masih ingin melihat-lihat ke sekeliling memandangi pemandangan yang indah dan jarak ia lihat jika tengah berada di Jakarta atau perkotaan.


Devano pun terpaksa terus menuruti kemauan istrinya dan tetap berada disana, ia menjaga agar Shella tidak kenapa-napa dengan terus mengikuti langkah Shella dari samping. Devano juga terkadang menggandeng tangan istrinya demi membuat sang istri baik-baik saja tidak tersandung atau apalah yang dapat membahayakan tubuh dan janinnya.


"Mas, kita foto-foto lagi yuk disana!" ucap Shella sembari menunjuk ke sebuah monumen tinggi yang sangat indah di matanya.


"Honey, udah ya? Kita udah lumayan lama loh disini, kalau nanti kita telat sampe ke rumah paman gimana? Kamu emang mau kita kemalaman di jalan?" ucap Devano.


"Yah mas, sekali lagi aja deh! Abis itu baru kita lanjut jalan, ya?" ucap Shella.


"Haish, yaudah iya. Awas aja loh kalau kamu nanti masih minta foto-foto lagi, aku gak bakal mau turutin karena ini udah siang!" ucap Devano.


"Iya mas, sekali aja kok." ucap Shella.


Tatapan dari mata Shella serta raut wajah gemasnya membuat Devano tak berkutik saat ini, ia mendengus pasrah dan menuruti kemauan sang istri walau sebenarnya ia tak ingin. Devano pun menemani Shella menuju monumen yang ada di depan sana dan kembali berfoto bersama, ya Devano meminta tolong pada salah seorang disana untuk memfoto mereka agar bisa lebih mudah berpose.


Setelah mendapat banyak foto berdua dan juga sendiri-sendiri, kini Devano meminta pada istrinya untuk pergi dari tempat tersebut karena sudah banyak foto yang mereka dapatkan. Ya apalagi saat ini juga sudah semakin siang, tentu Devano khawatir kalau mereka akan bermalam di jalan jika tidak segera berangkat saat ini juga.


"Honey, kita lanjut yuk jalannya! Nanti keburu kesorean terus telat sampe sananya, ya kan udah nih foto-fotonya!" ucap Devano.


"Mas, nanti dulu dong! Aku belum puas selfie disini, soalnya tempatnya bagus banget loh!" ucap Shella.


"Hey honey! Kamu tadi udah janji sama aku, cuma mau sekali ini aja dan abis itu kita lanjut jalan. Terus kenapa sekarang pas aku ajak kamu pergi, eh kamunya malah nolak begitu?" ucap Devano.


"Iya iya, yaudah aku mau lanjut deh!" ujar Shella.


"Nah gitu dong!" ucap Devano tersenyum sembari mencolek pipi istrinya.


"Huft," Shella tampak bete.


Devano hanya terkekeh melihat Shella dengan wajah cemberutnya, ia pun mencolek serta mencubit pipi sang istri sambil sesekali juga mengecupnya karena sangat gemas dengan ekspresi Shella. Sedangkan Shella hanya bisa diam dan terus memasang wajah cemberut di hadapan suaminya, ia masih kesal karena harus dipaksa pergi dari sana oleh Devano.


Karena tak tega, akhirnya Devano mendekati Shella dan memegang dua pundak sang istri untuk berusaha membujuk istrinya itu agar tidak terus ngambek seperti ini. Devano mengatakan pada Shella jika mereka bisa datang kesana lagi nanti, ia berharap dengan begitu Shella akan mau lanjut jalan saat ini karena hari sudah semakin siang.


"Honey, gini aja deh... gimana kalau nanti abis dari rumah paman Roky, kita kesini lagi? Kamu bisa puas-puasin deh main disini, mau kan sayangku?" ucap Devano berusaha menghibur Shella.


Shella langsung menoleh cepat menatap wajah suaminya dan tersenyum, ekspresi cemberutnya tadi pun hilang seketika setelah mendengar perkataan dari suaminya barusan. Namun, Shella masih agak ragu dan belum percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Devano karena takut dibohongi.


"Beneran mas?" tanya Shella memastikan.


"Iya honey, bener kok. Sekarang kamu jangan cemberut lagi, ya! Kita lanjut jalan dulu ke rumah paman dan tante aku, sebentar lagi sampe kok!" jawab Devano tersenyum.

__ADS_1


"Iya deh, tapi nanti kamu jangan cuma bawa aku balik kesini lagi ya! Tapi, kita keliling ke tempat wisata lainnya yang juga ada disini. Kalau kamu gak mau, yaudah aku ngambek!" ucap Shella.


"Iya iya, udah pinter ngancem ya istri aku yang cantik ini!" ucap Devano sembari mengelus dagu Shella.


"Ini kan bukan mau aku, mas. Baby nih yang ngerengek minta diajak jalan-jalan sama papanya, abis kamu sih berbulan-bulan aku cuma disuruh diem di rumah aja ikut nganggur bareng kamu!" ucap Shella sembari mengusap perutnya.


"Hahaha, iya maaf! Yaudah, aku turutin apa kemauan kamu demi baby dan kamu juga tentunya!" ucap Devano tersenyum sembari mencolek hidung Shella.


Shella pun tersenyum karena Devano mau menuruti permintaannya barusan, ia kini tidak cemberut lagi seperti sebelumnya karena menganggap Devano perduli padanya dan juga anaknya. Sedangkan Devano sendiri juga tersenyum renyah sembari menempelkan hidungnya dengan hidung sang istri disana, lalu ia sedikit merendahkan posisi tubuhnya dan mencium perut Shella sambil mengusapnya.


"Dek, mulai sekarang papa bakal turutin deh semua kemauan kamu! Ya asalkan jangan yang aneh-aneh ya anaknya papa! Soalnya papa gak mau bikin mama kamu jadi kenapa-napa nantinya," ucap Devano.


Shella terus tersenyum sembari menutupi mulutnya dengan punggung jari-jarinya, ia tak menyangka Devano akan melakukan itu di hadapan banyak orang ada disana. Ada rasa senang sendiri bagi Shella saat Devano berbicara dengan calon anaknya di dalam perutnya itu, ya karena siapapun pasti senang jika suaminya melakukan hal itu.


Sesudahnya, Devano pun kembali berdiri tegak dan merengkuh pinggang sang istri. Ia mengecup sekilas pipi Shella lalu membelai rambutnya dengan lembut sambil tersenyum manis, ia sangat menyesal karena pernah sempat mengkhianati Shella dan merasa jatuh cinta pada sekretarisnya sendiri sampai meminta Novi memuaskan miliknya.


"Honey, maafin aku ya!" ucap Devano sembari menatap wajah istrinya.


"Hah? Minta maaf buat apa, mas?" tanya Shella.


"Ya minta maaf aja, karena selama ini aku kan banyak salah sama kamu. Apalagi aku juga sering marah-marah sama kamu sampai bentak kamu, padahal cuma karena hal sepele." jawab Devano.


"Gapapa mas, aku udah maafin kamu kok! Yaudah yuk, kita balik ke mobil!" ucap Shella sembari memeluk tubuh suaminya dari samping dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Devano.


"Iya honey, yuk!" ucap Devano sembari mengusap puncak kepala sang istri dengan lembut.


"Iya..." ucap Shella tersenyum.


Mereka berdua pun melangkah menuju tempat mobil mereka terparkir sebelumnya, Devano terus merangkul dan mengusap wajah sang istri selama berjalan kesana. Shella pun juga tampak nyaman berada dalam rangkulan suaminya, apalagi Devano juga terus mengusap puncak kepalanya.




Sesampainya di dekat mobil, mereka berdua heran lantaran tak ada Silvi maupun Tama disana yang padahal sebelumnya saat mereka pergi kedua orang tuanya itu masih ada disana. Devano pun tak mengerti kemana sebenarnya Silvi dan juga Tama pergi, karena tadi kedua orangtuanya itu tidak bilang apa-apa kepadanya kalau mereka ingin pergi.


Shella dan Devano pun terus celingak-celinguk ke kanan dan kiri bergantian untuk mencari Silvi dan Tama yang belum diketahui ada dimana, mereka tak tahu harus mencari kedua orangtuanya itu kemana karena tidak ada petunjuk sama sekali yang mereka dapatkan hingga saat ini tentang keduanya, padahal waktu juga sudah semakin siang.


"Mas, kamu coba aja gih telpon ke nomor mama atau papa gitu! Siapa tau mereka jalan-jalan juga di sekitar sini, kalau gitu kan bisa lebih mudah kita carinya mas." ucap Shella memberi saran.


"Iya juga ya, yaudah sebentar aku telpon ke nomor mama dulu. Kamu diem aja disini, jangan kemana-mana loh!" ucap Devano melepas rangkulannya dari Shella dan mengambil ponselnya.


"Iya mas, mana mungkin sih aku pergi dari kamu?" ucap Shella terheran-heran dengan sikap Devano.


Akhirnya Devano pun mulai menghubungi nomor mamanya yakni Silvi di samping istrinya, ia terus menunggu selama beberapa menit berharap Silvi bisa segera mengangkat telponnya. Namun, alangkah kesalnya Devano karena telpon darinya itu tidak diangkat atau direspon oleh mamanya.


"Ah gak diangkat!" ujar Devano kesal.


"Sabar mas! Mungkin mama gak denger, coba lagi aja siapa tau diangkat! Atau kamu telpon deh ke nomornya papa, bisa juga kan?" saran Shella.


"Ah ini gara-gara kamu sih, honey! Harusnya kamu gausah minta kita pergi ke tempat lain lagi, jadi kayak gini kan ujung-ujungnya! Niat mau main ke rumah saudara, eh malah kepisah disini!" ujar Devano.


"Maaf mas!" ucap Shella merasa bersalah dan takut saat melihat ekspresi marah dari suaminya.


Shella pun tampak mengerucutkan bibirnya dan tanpa sadar mulai menitikkan air mata karena bentakan dari suaminya tadi, ia pun menangis sesenggukan sembari bersandar pada badan mobil karena hatinya benar-benar terluka setelah Devano membentaknya tadi hanya karena masalah kecil.

__ADS_1


Sementara Devano masih berusaha menghubungi nomor papanya disana, ia tak menyadari jika Shella sedang menangis di sampingnya karena terlalu fokus pada telpon tersebut. Untunglah kali ini papanya mengangkat telpon darinya itu, ya Devano pun tersenyum senang dan langsung berbicara.


📞"Halo, pah! Akhirnya diangkat juga, ini papa sama mama lagi dimana sih? Aku sama Shella udah balik loh ke mobil, kok papa sama mama malah gak ada disini?" tanya Devano cemas.


📞"Iya, tadi papa sama mama kamu itu pergi jalan-jalan juga lihat ke sekeliling tempat ini. Terus karena udah masuk waktunya makan siang, yaudah kami sekarang makan dulu disini. Kamu sama Shella susul aja kesini, sekalian makan juga!" jelas Tama.


📞"Oalah, yaudah pah sekarang papa shareloc aja ke nomor aku ya tempatnya!" ucap Devano.


📞"Iya iya..." ucap Tama.


Tuuutttt....


Setelah telpon dimatikan oleh papanya, Devano pun menoleh dan hendak mengajak istrinya itu ke tempat papa dan mamanya sekarang berada. Ia belum mengetahui kalau Shella sedang menangis, karena masih fokus dengan ponselnya dan hanya berbicara saja tanpa melihat wajah Shella.


"Honey, kita ke tempat papa sama mama sekarang yuk!" ucap Devano sembari melihat lokasi yang dikirimkan oleh papanya ke nomor ponselnya sehingga tak melihat Shella menangis.


Karena istrinya diam saja dan sekilas terdengar suara isakan tangis dari dekatnya, Devano pun mendongakkan kepalanya untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya dengan istrinya. Ia langsung syok bukan main saat mengetahui Shella menangis disana, ia pun menaruh ponselnya di saku celana lalu menghampiri sang istri yang ada disana.


"Hey, honey! Kamu kenapa sih, sayang? Kok kamu nangis begini?" tanya Devano cemas.


"Hiks hiks..."


Devano pun coba perlahan merangkul istrinya dan menaruh kepala sang istri di dadanya sembari menautkan dagunya ke puncak kepala Shella, Devano coba menenangkan istrinya itu lalu bertanya apa sebenarnya yang membuat Shella menangis seperti itu karena ia tak paham.


"Kamu kenapa, honey?" tanya Devano sembari memegang wajah Shella dengan dua tangannya.


"A-aku sedih mas..." jawab Shella sambil terisak.


"Ya sedih kenapa? Perasaan tadi kamu baik-baik aja deh, kok sekarang tiba-tiba nangis begini? Apa yang bikin kamu sedih, honey?" tanya Devano.


"Tadi kamu bentak aku, mas. Aku sakit banget tau dibentak sama kamu kayak gitu, apalagi kamu baru minta maaf sebelumnya sama aku." jawab Shella menjelaskan kepada suaminya itu.


"Ohh, iya maafin aku lagi ya, honey! Tadi aku gak bermaksud kok bentak kamu, aku kan cuma lagi kesel aja soalnya tiba-tiba mama papa gak ada. Jangan nangis lagi ya sayang!" bujuk Devano.


"Ah kamu mah! Sekarang minta maaf, nanti juga bentak aku lagi kayak tadi!" ujar Shella.


"Gak akan kok sayang, aku janji deh! Aku minta maaf banget ya sama kamu, jangan nangis dong honey! Gimana nanti kalau papa sama mama lihat kamu lagi nangis kayak gini? Pasti mereka bakal marah banget sama aku, karena aku udah bikin kamu nangis." ucap Devano berusaha membujuk istrinya.


"Iya, aku bakal berhenti nangis kok. Aku juga gak mau lihat kamu dimarahin mama papa nanti, tapi kamu jangan begitu lagi dong sama aku! Harusnya kamu tuh lemah lembut sama aku!" ucap Shella.


"Iya honey, aku minta maaf ya sayang!" ucap Devano sembari menghapus air mata di wajah istrinya.


Shella hanya manggut-manggut tanda iya dan juga terus berusaha menghilangkan bekas air mata yang ada di wajahnya itu, walau sebenarnya ia masih agak kecewa pada suaminya karena bisa seenaknya membentak ia lalu meminta maaf begitu saja padanya, namun apa daya ia juga terlalu cinta dan sayang pada suaminya itu.


"Yaudah, kita susulin mama sama papa yuk! Sekalian kamu makan siang disana nanti, pasti kamu sama anak kita lapar kan?" ujar Devano sembari mengusap perut Shella.


"Iya mas..." ucap Shella.


"Senyum dong, honey!" pinta Devano.


Shella manggut-manggut kemudian tersenyum ke arah wajah suaminya sesuai permintaan dari suaminya tersebut, lalu mereka pun berjalan menuju tempat Silvi dan Tama berada sembari bergandengan tangan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2