
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 384
...•...
...•...
"Oh ya, gue juga minta sama lu buat hati-hati sama sepupunya Nadya si Damar itu. Dan gue minta juga buat lu jagain Nadya dari dia, karena dia gak sebaik yang kalian semua kira!" ucap Yoga.
"Hah? Maksud lu? Emang Damar kenapa?" tanya Adrian terkejut terheran-heran.
"Di-dia...."
Ucapan Yoga membuat Adrian sangat khawatir dan cemas dengan semua itu, ia penasaran apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh Yoga kepadanya mengenai Damar sepupu Nadya. Tentu Adrian tak mau jika nantinya terjadi sesuatu pada Nadya karena berdekatan dengan Damar, apalagi ia tahu kalau Nadya tinggal serumah dengan Damar.
"Dia apa? Kenapa sama Damar?" tanya Adrian dengan raut wajah cemas.
"Dia... Damar...." ucapan Yoga tak sempat terselesaikan, ia harus kembali merasakan sakit yang amat sangat pada bagian tubuhnya dan tak lama kemudian ia memejamkan mata alias pingsan.
"Yog, Yoga! Yoga sadar Yoga...!!" teriak Adrian.
Adrian berusaha untuk menyadarkan Yoga dengan cara menepuk-nepuk wajah Yoga, namun pria tersebut tidak bisa disadarkan karena mungkin saja rasa sakitnya sangat terasa. Adrian pun tampak histeris dan berteriak pada seluruh anak buahnya untuk meminta bantuan, namun hingga kini juga pihak tim SAR belum kunjung datang.
Adrian juga kalut dan cemas sendiri memikirkan kondisi Yoga ditambah perkataan Yoga yang belum sempat terselesaikan tadi, ia sangat penasaran dengan apa sebenarnya yang hendak dibicarakan oleh Yoga mengenai Damar. Apalagi terlihat dari raut wajah Yoga tadi seperti seseorang yang sedang ketakutan atau cemas, hal itu membuat Adrian semakin was-was dan kepikiran.
"Tono, gimana tim SAR? Apa mereka sudah ada tanda-tanda mendekat kesini?" tanya Adrian panik.
"Eee belum pak, saya juga gak tahu mereka sekarang lagi dimana dan kenapa mereka belum juga dateng kesini. Padahal tadi saya sudah hubungi mereka dan kasih tau persis lokasi tempat ini, tapi sampe sekarang mereka justru belum datang." jawab Tono.
"Haish, kita harus cepat selamatkan Yoga! Kalian semua bantu saya bawa tubuh Yoga, kita langsung bergerak aja gausah tunggu tim SAR yang lelet itu! Kasihan Yoga, dia butuh bantuin dan harus segera ditangani oleh pihak medis!" ucap Adrian.
"Siap pak!" ucap Tono.
Mereka pun bersama-sama membopong tubuh Yoga dan membawa pria tersebut ke tempat awal, ya Adrian tak mungkin membiarkan Yoga tetap disana dengan kondisi seperti itu. Namun, Adrian juga memerintahkan pada seluruh anak buahnya untuk berhati-hati dalam membawa Yoga karena mereka tak tahu Yoga memiliki luka dalam atau tidak.
"Kira-kira apa ya yang mau disampaikan sama Yoga tadi tentang Damar? Apa ini ada hubungannya dengan kecelakaan Yoga? Karena gak mungkin kalau Yoga bisa jatuh ke jurang, tanpa ada andil dari orang lain!" gumam Adrian dalam hati.
Pikiran Adrian itu terus mengarah kemana-mana, ia tak bisa tenang memikirkan perkataan apa yang hendak diucapkan oleh Yoga tadi. Biar bagaimanapun ia yakin kalau itu semua pasti penting, karena tak mungkin Yoga memaksa untuk bicara jika bukan suatu hal yang penting atau berbahaya untuk Nadya kekasihnya.
Oleh karena itu, Adrian sangat berharap untuk kesembuhan Yoga agar pria tersebut bisa kembali melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda tadi. Adrian akan sangat penasaran dan bisa saja mati berdiri jika ia tidak mendapat kejelasan atas perkataan Yoga yang tertunda, Adrian pun terus memanjatkan doanya untuk kesembuhan Yoga.
...•••...
Sementara itu, Nadya baru menyelesaikan makan malamnya bersama sang ibu dan hendak masuk ke dalam kamarnya lagi karena ia sedang tidak ingin melakukan apapun saat ini. Nadya masih belum bisa tenang memikirkan Yoga yang hingga kini belum juga berhasil ditemukan, ia juga tak mendapat kabar apapun dari pihak polisi maupun Adrian.
Jenar yang ada di samping putrinya itu langsung memegang pundak Nadya sambil tersenyum, ia berusaha menenangkan hati gadis itu agar tidak terus-terusan bersedih. Jenar juga merasa kasihan dan tak tega pada putrinya tersebut yang masih saja menangis hingga kini, padahal ia sudah berkali-kali berusaha menghibur putrinya itu.
"Sheila sayang, kamu udah dong nangisnya! Ibu juga ikutan ngerasa sedih sayang, sekarang kamu yang sabar aja ya! Ibu yakin kalau nak Yoga pasti sebentar lagi bisa ditemukan, tenang ya!" ucap Jenar.
"Iya Bu, tapi mana? Aku udah tunggu loh dari tadi siang, sampe sekarang belum ada juga kabarnya dari pihak polisi." ucap Nadya kesal.
"Sabar sayang! Kamu tunggu aja beberapa waktu lagi, mungkin sekarang mereka sedang menunda pencarian karena hari sudah malam. Disana itu kan pastinya gelap banget, gak mungkin juga kalau mereka keluyuran ke hutan malam-malam begini. Kamu jangan sedih-sedih terus ya, sayang! Kan disini ada ibu yang bisa temenin kamu," ucap Jenar.
"Iya Bu, makasih ya! Aku bakal berhenti nangis kok, sekarang ibu gausah sedih ya!" ucap Nadya.
"Nah gitu dong sayang, kan ibu jadi ikutan seneng dengernya. Eh tapi, kamu senyum dulu dong! Biar ibu juga percaya kalau kamu tuh beneran gak sedih lagi, yuk bisa yuk senyum!" ucap Jenar.
__ADS_1
"Ahaha, apaan sih ibu?" ucap Nadya tersenyum.
"Nah, kalo gitu kan makin cantik!" ucap Jenar.
Nadya langsung memeluk tubuh ibunya dan membenamkan wajahnya pada bahu sang ibu, sedangkan Jenar juga tersenyum senang menautkan dagunya pada puncak kepala Nadya, sembari tentunya mengusap punggung putrinya yang tengah berada di dalam pelukannya, Jenar sedikit senang lantaran Nadya mau menurut dan tidak menangis lagi, bahkan Nadya juga sudah tersenyum.
Tak lama kemudian, ponsel milik Nadya berdering disaat ia tengah asyik berpelukan bersama ibunya. Nadya pun melepas sejenak pelukannya itu untuk mengecek siapakah yang menghubunginya, ia mengambil ponselnya dari atas meja dan melihat nama Adrian terpampang di layar ponselnya, Nadya pun berharap kalau ada kabar tentang Yoga yang akan disampaikan Adrian kali ini padanya.
"Bu, aku angkat telpon dulu ya?" ucap Nadya.
"Iya sayang," jawab Jenar tersenyum.
📞"Halo, Adrian! Gimana? Apa kamu udah berhasil temuin Yoga sekarang?" tanya Nadya cemas.
📞"Iya halo Nadya! Alhamdulillah, aku dan yang lainnya disini udah berhasil temuin Yoga. Tapi, dia sekarang lagi pingsan dan kondisinya sedang buruk banget! Makanya ini aku sama yang lain bawa Yoga ke rumah sakit, kamu tenang aja ya!" jelas Adrian.
📞"Alhamdulillah, kalo gitu sekarang kamu kasih tau aku dimana rumah sakitnya?! Aku mau susul sekarang kesana!" ucap Nadya.
📞"Eee kamu yakin Nadya? Emang kamu gak kecapekan nantinya?" tanya Adrian.
📞"Enggak kok, udah kamu sekarang kasih tau aja sama aku dimana rumah sakitnya?!" bentak Nadya.
📞"Iya iya, cantik! Aku mau ke rumah sakit Medika indah, kamu kesini nya jangan sendirian ya! Aku khawatir kamu kenapa-kenapa nantinya, biar aku suruh anak buah aku buat jemput kamu!" ucap Adrian.
📞"Haish, yaudah buruan!" ucap Nadya.
📞"Iya cantik...." ucap Adrian.
Tuuutttt....
Nadya langsung mematikan teleponnya, ia pun menoleh ke arah ibunya dan tersenyum.
"Ada apa sayang?" tanya Jenar penasaran.
"Yoga udah ketemu, Bu!" jawab Nadya.
"Iya Bu, Alhamdulillah banget! Sekarang aku tinggal nunggu anak buah Adrian buat jemput," ucap Nadya.
"Kamu emang mau kemana sayang?" tanya Jenar.
"Ke rumah sakit Bu, sekarang Yoga lagi dibawa kesana sama Adrian dan yang lainnya! Makanya aku mau nyusul kesana buat jenguk Yoga, gapapa kan Bu?" ucap Nadya.
"Kamu yakin sayang? Ini kan udah malam, kalau kamu kenapa-napa gimana?" tanya Jenar.
"Ya makanya aku diantar sama anak buahnya Adrian, gapapa kan Bu? Aku pasti baik-baik aja kok sama mereka disana, udah ibu gausah khawatir ya!" jelas Nadya sambil tersenyum berusaha meyakinkan ibunya agar tidak cemas.
"Yaudah deh, iya gapapa." ucap Jenar.
"Makasih ya Bu!" ucap Nadya.
Tiba-tiba saja Damar muncul dari depan membawa piring yang sudah kosong serta gelasnya, ia menghampiri Nadya serta Jenar di meja makan.
"Kamu mau kemana Sheila? Maaf ya, tadi aku gak sengaja dengar obrolan kamu sama ibu kamu dari depan. Aku jadi penasaran, kamu ini mau kemana sih?" tanya Damar.
"Ohh, ini Sheila mah ke rumah sakit jenguk Yoga. Alhamdulillah dia udah ketemu!" jawab Jenar.
"Alhamdulillah deh...." ucap Damar tersenyum.
"Iya, Yoga masih hidup! Gak seperti apa yang kamu bilang siang tadi tentang dia, lain kali jangan mendahului takdir!" ucap Nadya kesal.
Damar pun menunduk bersedih merasa bersalah pada Nadya atas apa yang sudah ia ucapkan tadi mengenai Yoga.
"Udah udah! Kamu mending siap-siap gih sayang!" ucap Jenar menenangkan putrinya.
__ADS_1
"Gausah Bu! Aku mau begini aja, lagian kan aku cuma mau jenguk Yoga." ucap Nadya tersenyum menatap wajah ibunya itu.
"Iya deh sayang," ujar Jenar.
TOK TOK TOK...
Tak lama kemudian, muncul suara ketukan pintu dari arah luar rumahnya yang membuat ketiga orang itu menoleh secara bersamaan ke arah depan pintu dengan wajah penasaran mereka.
"Bu, itu kayaknya anak buah Adrian deh. Aku pergi dulu ya?" ucap Nadya pamit pada ibunya sembari mencium tangan sang ibu.
"Assalamualaikum..." sambungnya.
"Iya sayang, waalaikumsallam. Hati-hati nak!" ucap Jenar.
Nadya langsung bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju depan pintu, ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Yoga kembali setelah seharian ini perasaannya tidak tenang memikirkan Yoga sang kekasih yang sudah lama tak ada kabar.
Sementara Jenar dan Damar hanya terdiam disana memanjatkan doa untuk kesembuhan Yoga, mereka juga berharap Nadya bisa selamat sampai ke rumah sakit dan dapat menemui kekasihnya. Jenar pun menatap wajah Damar dengan tatapan heran, ia masih tak mengerti apa sebenarnya yang ada di pikiran Damar sampai tega berkata seperti tadi.
•
•
Singkat cerita, tak butuh waktu lama bagi Nadya untuk bisa sampai di rumah sakit menemui Adrian yang juga sudah lebih dulu berada disana menjaga Yoga yang tengah diperiksa dokter. Nadya tampak panik dan langsung berlari menghampiri Adrian yang tengah berada di depan ruang ICU, Nadya tak bisa tenang karena saat ini pikirannya tertuju pada Yoga.
Sementara Adrian langsung tersenyum tipis begitu melihat Nadya muncul disana, ia bersyukur karena Nadya bisa selamat sampai ke rumah sakit tanpa ada gangguan apapun padanya. Ya walau ia tahu Nadya hanya mencemaskan Yoga dan sama sekali tidak ingin menemui dirinya, namun apapun itu ia tetap saja tidak mau sesuatu terjadi pada Nadya.
"Adrian, gimana kabar Yoga? Apa dia baik-baik aja?" tanya Nadya cemas.
"Kamu tenang ya! Yoga masih dirawat di dalam, kita sama-sama berdoa aja buat kesembuhan dia! Aku yakin kok dia pasti selamat, kamu sabar ya!" jawab Adrian sembari memegang wajah Nadya.
"Iya, makasih ya Adrian!" ucap Nadya.
"Makasih untuk apa?" tanya Adrian tak mengerti.
"Karena kamu udah berhasil temuin Yoga, aku gak nyangka kamu mau ngelakuin ini semua dan kamu rela cari Yoga sampe ke jurang." ucap Nadya.
"Itu bukan apa-apa. Aku juga kan lakuin ini demi kamu, karena aku gak mau ngeliat wanita yang aku cintai terus-terusan menangis!" ucap Adrian.
Diluar dugaan, Nadya langsung memeluk tubuh Adrian dan membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Adrian dengan erat sebagai bentuk rasa terimakasihnya itu.
"Makasih banyak Adrian! Aku salah karena selama ini selalu bilang kamu orang jahat, karena ternyata masih ada sisi baik dari dalam hati kamu! Aku emang tahu, kamu tuh sebenarnya orang yang baik dan kamu hanya terpaksa berubah menjadi orang yang serakah karena kamu sudah berulang kali kehilangan sosok yang kamu cintai." ucap Nadya.
"Udah ya? Kamu jangan sedih lagi sekarang! Kita harus terus berdoa untuk kesembuhan Yoga, aku berharap juga dia bisa sembuh dan kamu bisa ketemu sama dia lagi!" ucap Adrian.
"Iya..." ucap Nadya manggut-manggut.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari dalam ruangan tersebut menemui mereka berdua untuk memberi laporan.
"Dok, gimana keadaan pacar saya?" tanya Nadya cemas dan langsung menghampiri dokter itu.
"Alhamdulillah, pasien sudah sadar. Oh ya, sedari tadi beliau juga terus saja menyebut nama Nadya. Apa disini ada yang bernama Nadya?" jelas dokter itu.
"Ah saya sendiri, dok!" ucap Nadya.
"Oh, kalau begitu silahkan masuk mbak! Jangan lupa pakai seragam yang sudah disediakan!" perintah dokter itu.
"Baik, dok!" ucap Nadya tersenyum. "Adrian, aku masuk dulu ya?" sambungnya sembari menatap ke arah wajah Adrian.
"Iya cantik..." jawab Adrian tersenyum.
Setelahnya, Nadya pun masuk ke dalam ruang tersebut dengan perasaan yang sudah tidak sabar lagi ingin menemui Yoga disana. Nadya sangat rindu dan cemas pada kondisi pria tersebut, ia ingin bisa memeluk dan memegang wajah kekasihnya itu lagi seperti sebelumnya saat mereka masih bersama.
Sementara Adrian hanya berdiam diri di depan sambil tersenyum dan sedikit terisak, memang cukup menyakitkan baginya melihat Nadya sangat antusias ingin menemui Yoga. Namun, ia berusaha tetap tegar dan tidak mau menangis karena sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...