Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Mulai cair


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 204


...•...


...•...


Rafael datang ke rumah Vanya sambil membawa kotak berisi donat berbagai macam rasa yang tentunya sengaja ia bawa untuk diberikan pada gadisnya itu. Tanpa basa-basi pun Rafael langsung mengetuk pintunya berharap agar Vanya keluar membukanya.


TOK TOK TOK...


Rafael sampai tersenyum-senyum sendiri memandangi kotak donat yang ia bawa, sepertinya ia sudah tidak sabar untuk melihat ekspresi Vanya nanti ketika ia memberikan donat itu kepadanya.


Ceklek...


Tak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam memperlihatkan seorang wanita cantik dengan lesung pipi tersenyum menatap ke arahnya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Vanya, orang yang memang sedari tadi ia tunggu-tunggu.


"Hai, Vanya!" sapa Rafael saat melihat gadisnya keluar menemui dirinya.


"Hai juga, Rafael!" ucap Vanya masih tersenyum manis memandang wajah pria di hadapannya.


"Ini buat kamu, Vanya!" ucap Rafael memberikan kotak berisi donat itu pada Vanya sambil tersenyum dan menaikkan alisnya.


Gadis itu tampak sumringah karena Rafael memberikan sesuatu untuknya, ia menerima kotak tersebut dengan senang hati lalu membukanya tepat di hadapan Rafael.


"Wah makasih banyak, Rafael!" ucap Vanya tersenyum lebar, lalu ia segera membuka kotak itu untuk melihat apa isinya. "Wah, kamu beliin aku donat? Duh pas banget aku lagi kepengen ngemil nih..." sambungnya bertambah senang.

__ADS_1


Melihat gadisnya senang, Rafael pun ikut bahagia apalagi Vanya langsung memakan donat itu disana dan tampak menikmatinya.


"Hey, makan jangan sambil berdiri dong! Gak bagus tau, mending kita masuk dulu ke dalam supaya lebih santai juga..." ucap Rafael mengingatkan Vanya untuk tidak makan disana.


"Eh iya iya maaf, yaudah yuk masuk!" ucap Vanya menaruh kembali donat yang sudah sempat ia gigit separuh kemudian melebarkan pintunya agar Rafael bisa masuk.


Rafael pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Vanya, sementara gadis itu menutup kembali pintunya dan menyusul Rafael yang sudah lebih dulu berada di sofa.


"Kamu mau minum apa, Rafael?" tanya Vanya menawarkan minuman sambil menaruh kotak donat itu di atas meja dekat sofa.


"Es jeruk kayaknya enak sih, tapi kalo misal gak ada ya es yang lain aja..." jawab Rafael sambil nyengir lalu duduk di sofa tanpa menunggu perintah dari Vanya, ya ia saat ini sudah lebih akrab dengan Vanya dan tidak kaku lagi.


"Oke, sebentar ya!" ucap Vanya kemudian berbalik badan dan berjalan ke dapur membuatkan minuman untuk Rafael.


Rafael pun menunggu disana sambil meletakkan satu kaki di atas kakinya yang lain lalu menggoyang-goyangkan kaki tersebut layaknya seorang bos yang tengah bersantai.


"Seru juga kalo gak kaku kayak gini, semoga Vanya juga bisa kek gue deh biar makin asik gue pdkt sama dia nya..." gumam Rafael.


Pria itu kemudian mengambil sebuah donat bekas gigitan Vanya tadi dari dalam kotak, ia tanpa ragu memakan itu dan sangat amat menikmatinya sampai matanya terpejam.


"Silahkan diminum!" ucap Vanya singkat.


"Terimakasih," ucap Rafael tersenyum tipis memandang sekilas wajah Vanya lalu mengambil gelas berisi es jeruk itu dan meminumnya.


Vanya menyentuh kotak donatnya dan mencari donat yang sudah ia gigit tadi, akan tetapi donat itu sudah tidak ada dan ia pun merasa heran karena yakin betul tadi ia menaruh donatnya kembali di kotak.


"Loh, donat ku yang tadi mana ya?" tanya Vanya heran menatap wajah Rafael yang seperti menahan tawa.


"Aku makan nih," jawab Rafael santai kemudian melahap semua donat yang tersisa di tangannya lalu mengusap-usap telapak tangannya bekas donat.


Vanya pun tertegun karena Rafael memakan donat bekas gigitannya tanpa merasa jijik, ia hanya bisa diam menatap heran ke arah pria itu.


"Kamu emang gak jijik gitu makan bekas aku?" tanya Vanya terheran-heran.

__ADS_1


"Buat apa? Justru rasanya malah tambah enak, kan donatnya abis digigit sama wanita cantik!" jawab Rafael tersebut.


Vanya langsung memalingkan wajahnya dan menggigit bibir bagian bawahnya merasa malu saat Rafael mengatakan itu padanya.


...•••...


Disisi lain, Adrian pulang ke rumahnya karena merasa sangat pusing setelah belum menemukan keberadaan Rafi & Femila sampai saat ini. Ia memilih beristirahat sejenak di rumah sebelum lanjut mencari wanita itu.


Adrian sampai di rumah dengan raut wajah kesal serta letih, ia mendudukkan tubuhnya di sofa lalu bersandar dan mengambil nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia mendongak ke langit-langit sambil memejamkan mata mengingat kembali saat-saat kebersamaan ia dengan Shella.


"Oh Shella, wajah cantik kamu selalu saja terbayang di pikiranku! Seandainya kamu menikah denganku, pasti aku akan merasa sangat bahagia dan menjadi laki-laki paling beruntung di dunia ini..." gumamnya.


Tiba-tiba saja suara berat mengagetkan dirinya dan menyadarkan Adrian dari lamunannya, ia bangkit mencari asal suara dengan jantung yang deg-degan. Terdapat seorang pria tua tengah berjalan ke arahnya dan menatap dirinya dengan mata yang menyala.


"Ada apa, kek?" tanya Adrian saat melihat kakeknya sudah semakin dekat dengannya.


Tanpa banyak omong Frederick sang kakek dari Adrian langsung menarik kerah baju cucunya dan mencengkeramnya erat, ia menatap Adrian dengan tajam seperti hendak membunuhnya.


"Kenapa sih, kek?" tanya Adrian lagi masih tak mengerti mengapa kakeknya semarah itu.


"Kamu yang kenapa, Adrian? Bisa-bisanya kamu malah menebus tahanan lain dan membiarkan adikmu itu mendekam di penjara cukup lama, sebenarnya apa yang kamu pikirkan itu Adrian??" ujar Frederick emosi.


"Sabar dulu kakek, aku bisa jelaskan semuanya dengan baik jangan pakai emosi kayak gini dong! Masalah gak akan selesai kalau kita terbawa emosi, kita duduk dulu ya kek biar aku jelasin semuanya ke kakek..." ucap Adrian mencoba meredam amarah kakeknya.


Akhirnya Frederick menurut lalu duduk di sofa disusul oleh Adrian yang duduk tepat disampingnya, Frederick pun langsung meminta cucunya untuk berbicara.


"Cepat jelaskan!" ucap Frederick.


"Iya kek, jadi aku terpaksa bebasin Rafi dari penjara karena aku membutuhkan jasa dia untuk membantu menghancurkan perusahaan Devano saingan berat aku kek! Dan aku juga gak bermaksud untuk ngebiarin Bimo gitu aja di penjara, aku juga lagi cari cara buat bebasin dia tanpa mengeluarkan biaya..." ujar Adrian.


"Heh, kenapa kamu tidak ingin mengeluarkan uang untuk membebaskan Bimo sedangkan kamu menggelontorkan banyak uang untuk tebus si Rafi itu? Apa sekarang kamu sudah lupa kalau adik kamu itu Bimo bukan Rafi! Lagian alasan kamu tidak bisa diterima Adrian, kakek gak percaya kamu sedang mencari cara untuk membebaskan Bimo! Karena sekarang yang ada di pikiran kamu itu cuma menghancurkan Devano, sampai kapan kamu terus begini ha?" ujar Frederick.


Adrian pun terdiam tak dapat berkata-kata lagi, yang dikatakan kakeknya memang benar kalau ia sama sekali tidak memikirkan tentang adiknya yang sedang mendekam di penjara.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2