Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Ke Surabaya


__ADS_3

Keesokan paginya Shella & pamannya sudah bersiap untuk pergi ke Surabaya.


"Gimana, udah dibawa semua barang-barang kamu?" tanya Lubis.


"Udah om, gak ada yang ketinggalan kok.." jawab Shella.


"Yasudah, Bu Yani tolong jaga rumah saya selagi saya pergi ya.." ucap Lubis.


"Baik pak insyaallah saya akan jaga rumah bapak," ujar Yani.


"Ayo Shella kita berangkat!" ujar Lubis.


"Iya om,"


"Hati-hati ya pak, non.." ucap Yani.


Lubis membawakan koper milik Shella dan memasukkan nya ke bagasi mobil.. Lalu, mereka pun masuk ke mobil dan pergi menuju bandara.


Sementara itu, Wawan melihat mobil Lubis pergi dari rumah.. Ia pun langsung menghampiri Yani dan bertanya padanya.


"Eh itu pak Lubis mau kemana pagi-pagi begini??" tanya Wawan.


"Ah kamu mah mau tau aja urusan orang!" ujar Yani.


"Yeh serius atuh pak Lubis mau kemana? Tadinya saya mau pamitan sama dia, eh dia malah pergi.." ucap Wawan.


"Saya gak tau pak Lubis pergi kemana, pastinya mau pergi jauh.. Soalnya saya disuruh jaga rumah tadi, terus emangnya kamu mau kemana pake segala pamitan??" ujar Yani.


"Kemana aja yang penting bisa bikin karir saya lebih maju..!!" jawab Wawan.


"Halah belagu kamu mah kebanyakan gaya!"


"Dih biarin suka-suka saya atuh, bilang aja kamu gak mau kan kehilangan saya.."


"Dih ge'er..!!"


Yani langsung masuk kedalam dan menutup pintu.


...•••...


Shella & Lubis sedang dalam perjalanan menuju bandara, Lubis coba memastikan sekali lagi apakah Shella benar-benar ingin pergi.


"Shella, kamu bener mau ke Surabaya? Memangnya kamu gak kangen nanti sama ibumu?" tanya Lubis.


"Ya kalau kangen kan tinggal telpon om, lagian aku tuh gak tenang disini.. Bisa aja kan suatu saat Adrian datang lagi nemuin aku," jawab Shella.


"Yasudah kalau memang itu sudah jadi keputusan kamu.. Om cuma mau pastiin aja tadi siapa tau kamu berubah pikiran kan," ujar Lubis.


"Iya om keputusan aku ini udah bulat jadi gak mungkin berubah lagi.." ucap Shella.


"Ok semoga ini adalah keputusan yang tepat buat kamu, dan semoga kamu bisa jauh lebih tenang kalau tinggal di Surabaya.." ujar Lubis.


"Aamiin,"


...•••...


Adrian menemani Bimo di rumah sakit sampai pagi, ia tidak mau sampai kecolongan lagi..


Tak lama kemudian, Bimo tersadar dari tidurnya.. Ia melihat ada Adrian disana sedang tertidur.


Bimo merasa terharu dengan Adrian yang rela menemaninya di rumah sakit walaupun ia selalu menaruh benci pada abangnya itu.


Bimo pun tidak bisa menahan air matanya keluar, ia merasa sangat bersalah sudah membenci orang yang begitu baik padanya.


Ia menyadari bahwa membenci Adrian adalah sebuah kesalahan besar, lantaran Adrian sama sekali tidak bersalah atas meninggalnya sang ibu.


Bimo terus memandangi Adrian yang sedang tertidur disampingnya itu..

__ADS_1


"Maafin gua Rian, selama ini gua udah salah menilai lu.. Seharusnya gua gak benci sama lu, andai waktu bisa diputar pasti gua bakal dengerin kata-kata lu.." batin Bimo.


Kemudian, Adrian terbangun dari tidurnya dan melihat Bimo sudah sadar...Bimo pun langsung mengalihkan pandangannya agar Adrian tidak menyadari jika sedari tadi ia menatapnya.


"Eh lu dah sadar, Alhamdulillah.." ucap Adrian.


"Itu kenapa muka lu basah? Lu abis nangis ya?" sambung Adrian.


Bimo pun langsung salah tingkah ketika Adrian mengetahui ia habis menangis.


...•••...


Laila menyiapkan sebuah roti untuk sarapan abangnya sekaligus juga untuk dirinya sendiri..


Tak lama kemudian, Devano muncul dari atas dan menuruni tangga sambil memakai dasi.


Karena tidak melihat anak tangga, Devano pun tergelincir dan jatuh di tangga.. Melihat abangnya kesakitan Laila justru tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha.. Hahahaha..."


Sambil memegangi bagian belakangnya yang sakit, Devano memarahi adiknya itu.


"Heh abangnya jatuh bukan ditolongin malah diketawain..!! Lu seneng ya emang kalo gua kena musibah, dasar adek laknat gak tau diri!" ujar Devano.


Akhirnya Laila berhenti tertawa..


"Yaelah bang gitu aja marah kan bercanda, lagian salah sendiri turun tangga gak lihat-lihat.." ucap Laila.


"Ah udah gausah banyak omong, mending sekarang lu tolongin gua..!!" ujar Devano.


"Iya iya,"


Laila pun menghampiri abangnya dan membantunya berdiri serta menuntunnya menuju meja makan.


"Nah gitu dong baru bener, jangan malah diketawain!" ujar Devano.


"Wih tumben baik, eh tunggu-tunggu sebenernya lu kenapa sih dari semalem baik banget sama gua??" tanya Devano.


"Ya ampun bang, gue cuek dibilang gak peduli.. Terus sekarang gue perhatian sama lu dicurigain, sebenernya mau lu apa sih bang?" ujar Laila.


"Bukan curiga cuma aneh aja gitu.." ucap Devano.


"Dah ah nyesel gue baik sama lu!" ujar Laila.


"Yeh iya maaf, jangan ngambek dong!" ucap Devano sambil mencubit hidung Laila.


"Ish sakit tau!"


"Ya makanya jangan ngambek!"


"Iya gue gak ngambek!'


Akhirnya mereka melanjutkan sarapan berdua..


...•••...


Setelah mengarungi perjalanan cukup lama, akhirnya Shella & Lubis sampai di bandara Juanda Surabaya.


"Alhamdulillah kita sampe om, udah lama banget aku gak kesini sekarang semuanya jadi beda ya om.." ujar Shella.


"Iya begitulah," ucap Lubis.


"Eh om aku boleh nitip barang aku gak? Soalnya aku mau ke toilet dulu.." ujar Shella.


"Ya ampun pake nanya segala ya boleh lah, udah sana kalo mau ke toilet! Om tunggu disini sekalian nunggu Damar datang," ucap Lubis.


"Iya om,"

__ADS_1


Shella pun bergegas ke toilet, sedangkan Lubis menunggu disana.


Tak lama kemudian, Damar alias anak dari Lubis datang..


"Papah," ujar Damar.


"Weh anak papah akhirnya datang juga..!!"


Mereka berdua pun berpelukan melepas rindu.


"Damar kangen banget sama papah," ujar Damar.


"Sama nak, papah juga kangen sekali sama kamu!" ucap Lubis.


Disisi lain, Shella sudah selesai dari toilet dan kembali ke tempat Lubis.. Namun, ia merasa sedih ketika melihat Lubis tengah berpelukan dengan Damar.


"Aku jadi keinget sama ayah, pasti enak banget kalau dipeluk sama ayah sekarang.." batin Shella.


"Eh pah, mbak Shella mana?" tanya Damar.


"Itu dia lagi ke toilet kebelet katanya, paling sebentar lagi datang.." jawab Lubis.


Shella pun menghapus air matanya dan menghampiri mereka.


"Nah itu dia Shella," ujar Lubis.


Damar mengarahkan pandangan nya ke Shella, ia tercengang melihat kecantikan sepupunya itu..


"Waw mbak Shella beda banget sama dulu, makin montok aja dia.." gumam Damar.


...•••...


Adrian mendatangi rumah Lubis bersama Marissa asistennya.


"Permisi,!!"


"Iya,"


Yani pun membukakan pintu untuk Adrian..


"Eh kamu yang kemarin kesini kan?" tanya Yani.


"Iya Bu saya Adrian dan ini asisten saya Risa," jawab Adrian.


"Oh terus sekarang mau apalagi kesini?" tanya Yani.


"Begini Bu bisa saya ketemu Shella?" ucap Adrian.


"Maaf mas, non Shella sama pak Lubis tadi pagi udah pergi.." jawab Yani.


"Pergi kemana ya Bu?" tanya Adrian.


"Aduh kalo itu saya kurang tau mas, soalnya pak Lubis gak bilang ke saya.. Tapi kayaknya mereka mau keluar kota mas, tadi bawa-bawa koper juga." jawab Yani.


"Keluar kota? Kira-kira ibu tau gak pak Lubis kampungnya dimana??" tanya Adrian.


"Eee seinget saya pak Lubis pernah cerita soal kampungnya.. Tapi saya lupa mas soalnya udah lama juga," jawab Yani.


"Aduh yaudah makasih ya Bu, kalo gitu kita permisi dulu.." ujar Adrian.


"Iya mas maaf ya,"


Adrian & Risa pun pergi dari sana..


"Oiya aku baru inget kampung pak Lubis kan di Surabaya! Ah tapi si masnya udah pergi biarin aja dah.." gumam Yani.


...~Bersambung~...

__ADS_1


__ADS_2