Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Mathilda Cafe


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 210


...•...


...•...


Adrian menjauh dari Novi untuk mengangkat telepon dari Devano, tentu ia tak mau kalau wanita itu mengetahui jika yang menelponnya adalah Devano dan nantinya Novi malah mencari kesempatan untuk bisa bebas dengan cara meminta bantuan Devano.


📞"Halo, kenapa lagi?" tanya Adrian pada Devano yang menelponnya saat ini.


📞"Saya mau bertemu dengan anda sekarang, anda lagi dimana? Saya datangi dimana pun anda berada, karena ini penting sekali untuk dibahas!" ucap Devano.


📞"Gua lagi sibuk, gak bisa ketemu sama lu! Lagian apa lagi sih yang mau lu bahas? Emangnya pembicaraan kita kemarin itu kurang cukup?" ucap Adrian menolak untuk bertemu dengan Devano.


📞"Ini pembahasan yang berbeda dari kemarin, ayolah hanya sebentar aja kok! Saya janji gak akan makan waktu lama, cepat katakan dimana anda sekarang biar saya datang kesana!" ucap Devano.


📞"Haish.. ya baiklah, gue sekarang lagi di jalan! Kalo lu bener-bener mau ketemu, yaudah kita ketemuan aja di tempat kemarin!" ujar Adrian.


📞"Oke, saya kesana sekarang!" ucap Devano singkat lalu memutus telponnya.


Adrian pun geram mengepalkan tangannya, ia sangat malas menemui Devano kembali. Tapi apa daya, tak mungkin ia menghindari Devano dan nantinya justru akan membahayakan dirinya sendiri. Akhirnya Adrian pergi meninggalkan Novi disana untuk pergi menemui Devano di Mathilda Cafe, tak lupa ia menyuruh anak buahnya menjaga Novi kembali.


Terlihat Novi seperti kebingungan dan penasaran karena Adrian tiba-tiba pergi tanpa berkata apa-apa lagi padanya, sayang sekali saat ini ia tidak bisa melihat sekitar karena matanya tertutup kain yang sengaja dilakukan Adrian.


Sedangkan Adrian kini sudah berada di mobilnya menyetir dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai ke Mathilda Cafe bertemu dengan Devano, jujur ia penasaran dengan apa yang ingin dibahas oleh Devano padanya.


Tiba-tiba saja, ponselnya berdering membuat Adrian harus menghentikan mobilnya sejenak ke pinggir untuk mengambil ponselnya dari saku celana. Adrian melihat nama kontak yang menelpon dan ternyata itu adalah salah satu anak buahnya. Adrian pun mengangkat telepon tersebut karena menurutnya lebih penting dibanding bertemu dengan Devano.


📞"Halo, ada apa? Bagaimana kelanjutannya?" tanya Adrian pada anak buahnya dalam telpon.

__ADS_1


📞"Lancar bos, saya sudah berhasil melacak keberadaan orang yang bos cari melalui nomor telponnya!" jawab anak buahnya itu.


📞"Bagus, cepat juga kerja kamu! Sekarang kamu langsung aja kirim alamatnya ke saya, supaya saya bisa mendatangi alamat itu dengan segera!" ucap Adrian sumringah.


📞"Baik, bos! Tapi, jangan lupa sama bayaran saya ya bos!" ucap anak buahnya itu.


📞"Tenang!"


Adrian memutus telponnya lalu langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening anak buahnya itu tanpa basa-basi, tak lama pun ada pesan masuk dari nomor anak buahnya berisi alamat tempat tinggal Rafi sekarang.


"Apartemen villoid 93? Rafi, Rafi... sebentar lagi gue bakal dapetin lu dan bawa lagi Femila! Awas ya lu Raf, pasti gue akan bikin pelajaran buat lu!" batin Adrian tersenyum menyeringai.


Ia pun kembali melajukan mobilnya menuju Mathilda Cafe seperti tujuan awalnya sebelum nantinya ia akan pergi ke tempat Rafi untuk mengambil Femila lagi dari tangan lelaki tersebut.




Sementara itu, Devano sampai lebih dulu di Mathilda Cafe dan langsung masuk ke dalam serta duduk di tempat yang kosong. Ia menunggu kedatangan Adrian sembari memesan cappucino.


"Kemana ya, Adrian? Lama banget gak dateng-dateng katanya udah di jalan? Apa jangan-jangan dia gak mau datang kesini?" gumam Devano bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Akhirnya, setelah sekian lama Adrian pun datang juga menghampiri Devano disana. Tampak pria itu langsung duduk di depan Devano tanpa menyapa Devano lebih dulu, bahkan ia menatap Devano dengan tatapan sinis.


"Cepetan ngomong, gue gak punya banyak waktu!" ujar Adrian dengan nada tegas.


"Iya iya, santai aja bro! Anda gak mau pesan minuman dulu, atau mungkin cemilan?" ucap Devano santai tersenyum lebar.


"Gausah, cepet ngomong!" bentak Adrian.


"Oke, saya akan bicara sekarang! Tapi ingat, jangan kaget ya kalau saya ngomong nanti!" ucap Devano mengingatkan Adrian.


"Alah banyak omong lu! Udah cepetan kasih tau apa yang lu bicarain sama gue!" ujar Adrian.


"Santai lah! Jadi gini...." ucap Devano menggantung.


"Apa?" tanya Adrian penasaran.

__ADS_1


"Saya udah tau semuanya, anda kan yang menyuruh Bimo alias adik anda sendiri untuk membunuh pak Hamzah beberapa waktu lalu?" sambung Devano.


Sontak mata Adrian langsung membulat seketika setelah mendengar perkataan Devano, sedangkan Devano sendiri hanya senyum-senyum saja memandangi wajah Adrian yang panik.


"Kenapa? Kaget ya??" ujar Devano meledek Adrian.


Adrian masih terpaku mengalihkan pandangannya, ia tidak habis pikir darimana Devano bisa mengetahui hal tersebut padahal ia sudah menutupi semuanya dengan rapih dan tak mungkin ketahuan.


"Sial, darimana Devano tau? Apa mungkin kalau Bimo yang udah buka mulut tentang ini?" batin Adrian berpikir keras.


Melihat ekspresi Adrian membuat Devano semakin yakin kalau memang pria itu yang sudah menyuruh Bimo dan tentunya juga telah merencanakan kecelakaan dirinya dengan Shella beberapa waktu lalu.


...•••...


Disisi lain, Rafi mendadak mengajak Femila pergi dari apartemennya karena ia khawatir Adrian bisa melacak keberadaan dirinya disana. Mereka berdua langsung membereskan barang masing-masing dan memasukkannya ke dalam koper, tampak Femila begitu antusias dengan momen ini karena ia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dari Rafi.


"Sayang, emang kenapa sih kita harus pindah?" tanya Femila dengan wajah bertanya-tanya.


"Bahaya, Femila! Adrian pasti bakal tau lokasi kita sekarang kalau kita gak segera pergi dari sini! Sudah, cepat bereskan baju-baju kamu dan barang kamu yang lainnya lalu kita cari tempat lain untuk tinggal! Aku gak mau kamu kembali lagi ke tangan Adrian, begitupun dengan kamu bukan?" ucap Rafi.


"Iya, oke deh..." ucap Femila singkat.


Setelah selesai memasukkan semua barang mereka ke dalam koper, Rafi & Femila langsung saja pergi keluar dari apartemen tersebut dengan terburu-buru. Mereka dengan cepat masuk ke mobil milik pria itu yang diberikan oleh Adrian sebagai kendaraan untuknya agar bisa bepergian cepat.


Suasana hati Rafi mulai agak tenang saat mereka sudah berada di dalam mobil, ia tak lagi merasa cemas lantaran sudah pergi dari apartemen tersebut serta mengganti nomor hp nya.


"Sayang, terus kita mau kemana?" tanya Femila menatap wajah Rafi yang berada di kursi kemudi.


"Belum tau, sayang! Tapi aku janji akan kasih kamu tempat tinggal yang bagus dan nyaman, kamu tenang aja uangku masih banyak kok!" jawab Rafi.


"Oke, sebenarnya dimana aja aku tinggal itu gapapa sih asalkan sama kamu...." ucap Femila.


"Hahaha, bisa aja kamu!" ucap Rafi tertawa kecil.


Femila pun membalas senyuman Rafi, namun senyum manis di wajahnya itu berubah ketika ia memalingkan pandangannya ke arah kaca mobil. Ya Femila seperti tersenyum sinis menatap keluar.


"Kamu akan aku bikin mati, sayang!" batin Femila.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2