Cinta Satu Malam Ceo

Cinta Satu Malam Ceo
Sakit banget


__ADS_3

...HAY GUYS!...


...WELCOME TO MY STORY!...


..."CINTA SATU MALAM CEO"...


...-------------------------------------------------------...


#CSMC EPISODE 262


...•...


...•...


Pagi telah tiba, Shella seperti biasa sudah bangun lebih dulu dibanding suaminya dan bahkan kini ia berada di bawah menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga di rumah itu. Terlihat Yuni serta Intan juga membantu Shella dalam memasak makanan untuk sarapan, walau mayoritas Shella lah yang memasaknya karena ia memang ingin menunjukkan kualitas masakannya pada seluruh orang di rumah tersebut.


Tak lama kemudian, Silvi muncul dengan masih mengenakan pakaian tidurnya dan juga mata yang mengantuk belum tersadar sepenuhnya. Ia menghampiri Shella menantunya yang tengah memasak di dapur bersama Yuni & Intan, tampaknya Silvi benar-benar kagum pada Shella karena cukup rajin dan ulet untuk mengurus suaminya bahkan juga kedua mertuanya.


"Vano gak salah pilih kamu, Shella! Kamu itu memang istri yang baik, bukan hanya cantik tapi juga rajin dan pengertian sekali...." batin Silvi sambil mengukir senyum di wajahnya, ia memandang Shella dari jauh dan terus mengaguminya.


Tanpa sadar, Tama sang suami nampaknya juga sudah bangun dan menyusul istrinya yang keluar dari kamar lalu berhenti tepat di samping tubuh Silvi yang sedang asik mengamati Shella sambil senyum-senyum sendiri. Tama pun heran mengapa sang istri sampai seperti, ia baru sadar ketika melihat ke arah dapur dan ada menantunya disana tengah berjibaku dengan peralatan masaknya.


"Mah!" ucap Tama sembari menepuk pundak istrinya.


"Astaga, papa! Ngagetin mama aja deh, ah!" ujar Silvi kesal sambil mengelus dadanya karena terkejut.


"Hahaha, lagian mama ngapain berdiri disini? Bukannya cuci muka dulu sana, itu mata masih belekan sama iler nempel dimana-mana!" ujar Tama meledek istrinya sembari tertawa kecil.


"Enak aja! Mama itu udah cuci muka tau, papa tuh yang baru bangun malah langsung kesini!" ucap Silvi membela diri.


"Ya papa mah gapapa, kan papa itu kalo tidur gak pernah ngiler apalagi keluar belek!" ujar Tama.


"Ya berarti papa tuh gak sehat, gak normal!" ujar Silvi.


"Duh, sudah lah jangan bahas soal gituan! Mama ngapain malah ngeliatin dari sini? Itu kasihan loh Shella masak cuma sendirian, mending kamu bantu gih!" ujar Tama.


"Papa ini gimana sih? Masa gak lihat kalo udah ada mbak Yuni sama Intan disana?" ujar Silvi.


"Oh iya juga ya..."

__ADS_1


"Nah ini nih salah satu tanda mata papa gak sehat, cepet diperiksa gih pah!"


Silvi pun melangkah ke depan menghampiri Shella yang masih asyik memasak hingga tak menyadari kalau mertuanya sudah ada di belakangnya, sesekali Silvi mengendus wangi masakan dari menantunya tersebut yang memang sangat sedap di hidung.


"Sayang...." ucap Silvi pelan mendekati Shella.


"Eh, mama! Mama udah bangun, kok malah kesini sih mah?" ucap Shella sedikit terkejut.


"Iya dong sayang, mama kan mau bantu kamu siapin masakan untuk sarapan kita!" ucap Silvi tersenyum sembari merangkul menantunya.


"Aduh, mama harusnya istirahat aja! Kan udah ada mbak Yuni sama Intan juga yang bantu aku, nanti kalo mama sakit lagi kan bisa gawat!" ucap Shella.


"Hahaha, kamu itu perhatian banget sih! Tenang aja, kalau cuma bantu sedikit kan gak bakal sakit! Mama masih kuat kok, kemarin aja kita masak pizza bareng mama bisa kan?" ucap Silvi percaya diri.


"Iya sih, mah! Yaudah deh terserah mama aja, tapi kalau misal mama capek udah ya jangan dilanjut lagi!" ucap Shella mengingatkan.


"Oke sayang, mama manut deh!" ucap Silvi.


Akhirnya mereka memasak bersama-sama disana, sedangkan Tama hanya memperhatikan dari jauh sambil senyum-senyum sendiri melihat keakraban istri serta menantunya tersebut.


...•••...


Ya ibu dan anak itu jalan pagi mengitari taman yang lumayan luas dengan trek putaran yang tersedia cukup untuk menarik perhatian para pecinta olahraga pagi, Jenar tampak begitu bersemangat dalam lari pagi kali ini sampai-sampai ia lupa umur dan terus berlari sekuat tenaga meninggalkan Nadya jauh di belakangnya.


Berbeda dengan sang ibu, Nadya justru tampak lemas dan tidak bersemangat bahkan sampai kalah dari ibunya yang mampu berlari kencang mengitari satu putaran taman tersebut. Gadis itu malah berhenti dan duduk sejenak pada kursi yang tersedia, ia meneguk air di botol untuk menghilangkan dahaga walau ia baru berlari beberapa meter saja.


"Sayang, kamu kok malah duduk sih?" tanya Jenar saat mengetahui putrinya berhenti berlari, ia menghampiri Nadya untuk melihat kondisinya.


"Kamu gapapa kan, sayang?" sambungnya, Jenar begitu khawatir pada kondisi putrinya yang memang terlihat lemas dan wajahnya tampak pucat.


"Aku gapapa kok, Bu! Ini aku cuma mau istirahat aja, gak tau kenapa rasanya aku gak kuat kalau terus lari nyusul ibu yang kenceng banget larinya!" ucap Nadya dengan nada pelan sembari menatap ibunya.


"Hahaha..." Jenar tertawa kecil kemudian melangkah ke dekat Nadya dan duduk di sampingnya, tubuhnya memang sudah dipenuhi keringat dan nafasnya juga mulai terengah-engah akibat lari pagi yang ia lakukan.


"Masa kamu kalah sih sama ibu yang udah tua ini? Ayo dong semangat, demi kesehatan kamu!" ucap Jenar menyemangati putrinya.


"Umm, entahlah Bu aku kayak gak bisa semangat!" ucap Nadya tampak lesu.


"Yaudah gapapa, mungkin kamu belum terbiasa karena ini kan pertama kalinya kamu olahraga lagi sehabis dirawat di rumah sakit!" ucap Jenar.

__ADS_1


"Mungkin iya karena itu, Bu!" ucap Nadya.


"Yaudah kamu tunggu sini, ya? Ibu mau lari lagi beberapa putaran, soalnya otot-otot ibu ini lagi panas-panasnya dan enak buat diajak lari! Kamu jangan kemana-mana, oke?" ucap Jenar bangkit kembali dan sudah siap berlari lagi.


"Oke, Bu!" ucap Nadya tersenyum renyah.


Jenar pun lari kembali mengelilingi taman dengan penuh semangat, ia seperti muda lagi padahal umurnya mungkin sudah seusia emak-emak kalian. Sedangkan Nadya merasa sakit pada bagian ulu hatinya, ia terus memegangi bagian itu sambil meringis kesakitan.


"Awhh, kok sakit banget ya?" ujarnya meringis.


Tak lama kemudian, ada dua orang pria muda yang menghampiri Nadya sepertinya mereka juga hendak olahraga terlihat dari pakaian dan sepatu mereka.


"Hai, kamu kenapa?" tanya salah seorang dari mereka bisa kita sebut namanya Wahyu.


Nadya pun mendongak ke atas menatap wajah pria yang menyapanya, ia terheran-heran karena tak mengenali semua dua pria yang berdiri di hadapannya itu.


"Kalian siapa...??" ucap Nadya bertanya.


"Kenalin, aku Wahyu dan ini temenku namanya Jarwo!" jawab si Wahyu sambil nyengir.


"Ohh, aku Sheila...." ucap Nadya masih sambil menahan sakit pada ulu hatinya.


"Loh, kamu kenapa Sheila?" tanya Wahyu cemas melihat gadis itu terus memegangi perutnya.


"Gapapa kok, kalian mau apa?" ucap Nadya.


"Kita mau numpang pemanasan disini, sekalian titip botol minum sama handphone kita sama kamu!" ucap Wahyu tersenyum manis.


"Ohh, yaudah taruh aja disitu!" ucap Nadya.


"Oke..."


Wahyu & Jarwo menaruh barang milik mereka di samping Nadya, mereka pun mulai melakukan pemanasan di dekat Nadya sebelum nantinya akan berlari memutari taman yang luas itu.


"Awwhhh... sakit banget...!!" batin Nadya meringis.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2