
Sebelumnya...
Seorang pria tua berambut putih turun dari mobilnya, ia dibantu oleh supirnya dan berjalan menuju sebuah perusahaan.
"Ada yang bisa dibantu pak?" tanya satpam.
Namun, pria tua itu tidak menggubris pertanyaan sang satpam.. Ia memerintahkan supirnya untuk terus menuntunnya berjalan ke dalam.
Sesampainya di dalam, pria tua itu langsung menuju resepsionis..
"Selamat datang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.
"Ya, saya ingin bertemu pengelola perusahaan ini sekarang!" jawab pria tua itu.
"Apa bapak sudah ada janji dengan pak Adrian?"
"Adrian? Jadi sekarang dia pemimpin disini?"
"Iya benar pak,"
"Saya belum janji dengan dia, tapi saya ingin bertemu dia sekarang!"
"Baik pak mohon ditunggu sebentar, biar saya hubungi asisten beliau.."
Pria tua itu menurut dan duduk di kursi tunggu, sedangkan sang resepsionis itu menelpon Marissa.
Tak lama kemudian, Marissa datang kesana..
"Siapa yang mau ketemu pak Adrian?" tanya Risa.
"Itu kakek-kakek yang disana," jawabnya.
"Hah? I-itu kan.." Risa terlihat kaget ketika melihat sosok pria tua itu.
"Ada apa kenapa? Kamu kenal dia?"
"Iya dia tuan Frederick alias kakek dari pak Adrian!" jawab Risa.
"Terus gimana dong?"
"Biar aku coba telpon pak Adrian dulu deh," ucap Risa.
Marissa pun mencoba menghubungi Adrian, namun handphonenya tidak aktif..
"Aduh gak aktif lagi, ini pasti pak Adrian masih di pesawat deh.." ujar Risa.
Mendengar keributan di meja resepsionis, pria tua itu langsung menghampiri mereka.
"Ada apa ini? Bagaimana, apa saya bisa bertemu pemimpin disini??" tanya pria tua itu.
"Ma-maaf pak, ta-tapi pak Adrian nya lagi pergi ke Surabaya.." jawab Risa gugup.
"Ngapain dia kesana?"
"Eee a-a-anu pak Adrian.. Ma-mau nyusulin pacarnya," jawab Risa.
"Pacar? Siapa pacarnya?"
Risa menunjukkan foto Shella yang sebelumnya diberikan oleh Adrian..
"Ini pak," ucap Risa.
Kemudian, Frederick mengambil foto itu dan melihatnya.
"Ohh jadi Adrian lagi ke Surabaya.. Terus cewek ini yang dia cari-cari sampe kesana.. Lumayan juga, pantes aja dia rela jauh-jauh ke Surabaya cuma buat nyusul dia.." ujar Frederick.
Kemudian Frederick menjatuhkan foto Shella dari tangannya dan mulai menginjak-injaknya.
__ADS_1
"Eee kenapa diinjek-injek pak?" tanya Risa.
"Dia memang cantik, wajahnya anggun dan manis.. Tapi gara-gara dia Adrian sampai rela meninggalkan kantornya! Ini tidak dibenarkan, siapapun yang membuat Adrian oleng dari tugasnya harus disingkirkan!" jawab Frederick.
Lalu, Frederick meminta supirnya untuk menuntunnya kembali.. Ia pun keluar dari kantor Adrian.
...•••...
Damar menghampiri Shella di ruang tamu..
"Mbak, ibu mana toh kok lama banget ke warung doang??" tanya Damar.
"Gak tau deh, emang kenapa? Kamu mau apa? Biar mbak aja yang bantu," ucap Shella.
"Eh enggak kok mbak, aku cuma nanya aja.." ujar Damar.
"Oh yaudah,"
Kemudian, Damar duduk di samping Shella dan mulai memainkan ponselnya sambil sesekali melirik ke arah Shella..
"Kenapa aku gemeteran gini ya duduk di samping mbak Shella??" gumam Damar.
"Kenapa Mar?" ujar Shella.
"Ah enggak gapapa mbak,"
"Terus ngapain daritadi kamu ngelirik mbak terus?"
"Ya mau mastiin aja yang di samping aku ini beneran mbak Shella atau bukan, soalnya cantik banget mirip bidadari dari khayangan.." ujar Damar.
"Bisa aja kamu mar.. Eh kamu dah punya pacar belum?" tanya Shella.
"Eee belum mbak, emang kenapa toh? Mbak mau jadi pacar aku?" ucap Damar.
"Hus ngaco ya enggak lah, mbak nanya doang.. Tapi masa sih kamu belum punya pacar? Emangnya gak ada yang mau sama kamu??" tanya Shella.
"Oh bagus itu,"
"Mulut gak bisa dijaga banget sih, malu tau aku jadinya.." gumam Damar sambil memukul mulutnya.
...•••...
Sementara itu, taksi yang ditumpangi Adrian & Jenar sudah mulai memasuki desa tempat tinggal Lubis.
"Bener ini desanya Tan?" tanya Adrian.
"Ya bener dong Tante ini belum pikun..!!" ucap Jenar.
"Hehe iya Tante maaf kan mastiin doang," ujar Adrian.
Lalu, Jenar melihat Lubis sedang berjalan bersama dua temannya.. Ia pun meminta supir taksi itu untuk berhenti.
"Eh pak pak berhenti pak!!" ucap Jenar.
"Ada apa tan?" tanya Adrian.
"Itu loh pamannya si Shella itu!" jawab Jenar.
Jenar turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Lubis..
"Lubis..!!" sapa Jenar.
"Eh mbak," ucap Lubis.
"Alhamdulillah ketemu kamu disini, soalnya aku lupa rumah kamu dimana.." ujar Jenar.
"Mbak mau ke rumah ku? Ngapain?" tanya Lubis.
__ADS_1
"Lah kok ngapain, ya nyusul Shella lah! Dia sama kamu kan disini!" ucap Jenar.
"Kok mbak bisa tau?"
"Ya tau dong ini udah tahun 2021, zaman semakin canggih Lubis..!!" ucap Jenar.
Lalu, Adrian juga turun dari mobil dan menghampiri mereka.
"Om.." sapa Adrian.
"Lah kamu? Kok bisa sama mbak??" tanya Lubis.
"Gak usah kaget gitu! Nak Adrian ini yang bantu aku buat susulin Shella kesini, eh omong-omong kamu udah kenal sama nak Adrian?" ucap Jenar.
"Cuma tau aja mbak, sebelumnya kan dia pernah ke rumah saya yang di Jakarta.. Nah Shella bilang dia lah penyebab hidup & karir Shella hancur! Gara-gara dia juga Shella ajak pergi ke sini mbak.." ujar Lubis.
"Ya memang iya gara-gara nak Adrian semuanya, tapi kan dia ini baik mau bertanggung jawab! Harusnya si Shella itu jangan malah kabur kayak gini dong! Kamu juga malah nurut aja sama dia!" ujar Jenar.
"Maaf om, tante.. Sebelumnya tujuan saya menyusul Shella kesini karena saya ingin menjelaskan ke dia bukan saya lah yang menyebabkan dia hamil," ucap Adrian.
"Apa??"
...•••...
Devano sedang termenung di ruangannya memikirkan permintaan Adrian kemarin..
"Anda tenang saja, saya tidak akan melakukan apapun pada anda! Saya hanya meminta satu hal," ucap Adrian.
"Apa itu pak?" tanya Devano.
"Tolong, nikahi Shella!" jawab Adrian.
Karena pusing memikirkan itu, Devano berteriak sambil menggebrak meja di ruangannya itu..
"HAAAAHHHHH!"
Lalu Devano mulai menggaruk-garuk rambutnya menandakan ia tengah stres berat.
"Gimana ini? Masa iya gua harus nikah sama Shella??!!"
"Gak mungkin kan, gua nikah sama pacar pak Adrian.."
"Aduh gua harus gimana ini??"
Devano bangun dari kursinya dan berjalan kesana-kemari..
Lalu, seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Tok Tok Tok.."
"Masuk!" ucap Devano.
Ternyata itu adalah Novi asistennya..
"Permisi pak, apa bapak sedang ada masalah? Kebetulan tadi saya mendengar bapak berteriak sambil menggebrak meja.." ucap Novi.
"Oh maaf, itu tadi saya lagi pusing aja.." jawab Devano.
"Eee kalau bapak butuh teman curhat, saya mau kok dengerin.. Siapa tau dengan begitu bapak gak pusing lagi," ucap Novi.
"Eh jangan-jangan gausah! Nanti ganggu kerjaan kamu lagi, gapapa kok saya bisa atasi sendiri!" ujar Devano.
"Oh baik pak, kalo gitu saya permisi.."
"Ya,"
Novi pun keluar dari ruangan Devano..
__ADS_1
...~Bersambung~...