
Adrian mengajak Devano bertemu di cafe, sepertinya dia ingin memberitahu sesuatu pada Devano.
"Ada apa? Saya sudah bilang, saya butuh waktu untuk membuat Shella mau menikah dengan saya!" ujar Devano.
"Anda tidak perlu melakukan itu!" ucap Adrian.
Devano bingung dengan perkataan Adrian, kemudian Adrian mengambil sebuah surat dan meletakkan nya di atas meja.
"Apa itu?" tanya Devano.
"Baca aja!" ucap Adrian.
Devano pun mengambil surat itu dan membacanya..
"Shella gak hamil?" ujar Devano.
"Ya, itu kesalahan dari pihak rumah sakit!" jawab Adrian.
"Lalu?"
"Anda tidak perlu memaksa Shella lagi untuk menikah dengan anda! Tinggalkan dia dan jangan pernah muncul lagi dalam kehidupan dia! Karena saya tidak mau Shella trauma akan kejadian yang menimpanya malam itu!" ujar Adrian.
Adrian menepuk pundak Devano dan bangkit dari tempat duduknya, lalu ia pun pergi dari cafe tersebut meninggalkan Devano yang masih merasa bingung.
"Harusnya gue seneng gak jadi nikahin Shella, tapi kok gua malah kesel ya?" gumam Devano.
...•••...
Shella pulang ke rumah dan langsung disambut oleh pelukan kebahagiaan dari ibunya..
"Ih ibu kenapa sih? Tumben banget peluk aku kayak gini??" tanya Shella heran.
"Ibu itu seneng banget ternyata kamu gak hamil sayang! Jadi, kamu bisa lanjutin kuliah kamu lagi! Kamu juga seneng kan?" ujar Jenar.
"Eee entahlah Bu, aku masih kurang percaya sama perkataan Adrian.. Bisa aja dia bilang gitu buat nyenengin aku kan," ucap Shella.
"Ya ampun Shella, kamu ini kenapa sih selalu berprasangka buruk sama nak Adrian? Dia itu baik loh orangnya!" ujar Jenar.
"Yaudah yaudah gausah bahas dia lagi ya Bu! Aku mau kasih tau sesuatu nih ke ibu.." ucap Shella.
"Ha apa tuh?"
"Iya jadi Alhamdulillah aku udah dapet pekerjaan Bu," jawab Shella.
"Hah yang bener???"
"Iya Bu,"
"Aaaaa ya ampun Shella, kayaknya hari ini itu hari keberuntungan kamu deh!" ujar Jenar.
Shella tersenyum bahagia melihat sikap ibunya yang berubah drastis..
"Alhamdulillah ya Allah engkau sudah membuka hati ibuku, sekarang ibu jadi lebih sayang sama aku.." batin Shella.
Shella pun memeluk ibunya dengan erat.
"Eh yaudah masuk yuk! Kita rayain keberhasilan kamu dapetin kerjaan!" ucap Jenar.
"Ayo Bu!"
Lalu, mereka berdua masuk kedalam rumah.
...•••...
Devano sampai di kantornya kembali..
__ADS_1
Ia langsung dihampiri oleh seseorang yang berteriak memanggil namanya.
"Tunggu Van!" ujarnya.
Devano pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke asal suara tersebut.
"Ngapa?" tanya Devano.
"Gue udah dapet orang yang cocok buat jadi staf admin disini!" ucapnya.
"Bagus, suruh dia langsung kerja besok!" ujar Devano.
"Iya Van, gue udah bilang gitu kok ke dia.." ucapnya.
"Oh yaudah,"
Devano langsung meneruskan langkahnya, namun orang itu kembali menahannya.
"Eh eh bentar Van!" ujarnya.
"Apalagi?"
"Lu gak mau tau orangnya siapa?" tanyanya.
"Gak perlu, udah gua sibuk!" ucap Devano.
"Yakin lu? Dia cewek loh cakep lagi!" ujarnya.
"Gak peduli!" ujar Devano.
Devano akhirnya pergi meninggalkan orang tersebut.
"Yaelah Van Van.. Pasti besok lu juga terpesona pas liat tuh cewek!" gumam orang itu.
...•••...
"Thanks ya La udah bantu bawain barang-barang gue kesini.." ucap Yasmin.
"Sama-sama Yas," ujar Laila.
"Oiya lu mau minum gak? Kalo mau biar gue buatin.." tanya Yasmin.
"Eh gausah gue gak haus kok!" jawab Laila.
"Oh gitu,"
"Iya, eh tapi gue mau nanya deh sama lu.." ujar Laila.
"Tanya apa?"
"Lu kenapa sih milih pergi dari rumah gue? Apa karena ada sepupu gue yang dateng dari kampung?" tanya Laila.
"Hah? Ya enggak lah La! Bukan karena sepupu lu kok! Gue cuma gak enak aja kalo terus-terusan numpang di rumah lu!" jawab Yasmin.
"Serius? Setau gue lu kan orangnya gak pernah ngerasa gak enak.." ujar Laila.
"Dih dih sembarangan! Gini-gini gue masih punya rasa gak enak tau! Emangnya si Zara tuh!" ucap Yasmin.
"Eh iya Zara kemana ya? Daritadi gue chat gak dibales-bales.." ujar Laila.
"Nah kagak tau dah gua juga, udah ah gue mau beres-beres dulu! Lu mau bantu atau pulang nih?" ucap Yasmin.
"Gue bantu kok," jawab Laila.
"Nah cakep tuh, ayo dah kita keatas!" ujar Yasmin.
__ADS_1
Akhirnya, mereka pun pergi ke kamar Yasmin untuk membereskan barang-barang Yasmin.
...•••...
Bimo masih merasa sedih, ia terus menangis di pinggir kolam renang rumahnya sambil memegang foto Zara di tangannya..
"Kenapa Zar? Kenapa lu lakuin ini ke gue? Kenapa lu tega khianatin gua Zar? Katanya lu cinta sama gua, katanya lu sayang gua.. Tapi kok lu malah beralih ke laki-laki lain? Apa rasa cinta & sayang lu ke gua udah hilang?" gumam Bimo.
Melihat adiknya sangat terpukul, Adrian pun turut merasakan kesedihan yang dirasakan Bimo.. Ia memutuskan untuk menghampiri Bimo dan menenangkan nya.
Adrian pun duduk di samping Bimo..
"Lu ngapain kesini?" tanya Bimo.
"Tadinya mau liat pemandangan langit di malam hari, eh malah cowok lagi patah hati yang gua temuin.." ucap Adrian.
"Bisa gak, lu gak ganggu gua sebentar aja! Gua lagi pengen sendiri!" ujar Bimo.
"Bisa kok, tapi lu bisa gak berhenti tangisin si Zara?" ucap Adrian.
Bimo tidak menjawab pertanyaan Adrian itu, dia malah membuang muka.
"Haha pasti gak bisa ya, cemen banget sih lu! Katanya jagoan masa gara-gara cewek aja sampe nangis gitu!" ujar Adrian.
"Heh lu bisa gak sih jangan ganggu gua? Gua lagi pengen sendiri..!!" ucap Bimo.
"Iya ok ok, gausah ngegas gitu dong! Ya nih gua pergi ni.. Tapi lu janji dulu, nangisnya jangan lama-lama! Kasian nanti air kolamnya jadi asin gara-gara ketumpahan air mata lu!" ujar Adrian.
"Ya, udah sono pergi!"
Adrian tersenyum lalu pergi meninggalkan adiknya disana..
"Lu tenang aja Mo, gua bakal kasih pelajaran buat cowok yang udah rebut Zara dari lu!" gumam Adrian.
...•••...
Sementara itu, Shella & Jenar serta Yani sedang merayakan diterimanya Shella bekerja.
Mereka makan bareng dengan makanan hasil masakan mereka bertiga.
"Wah ini mah pasti enak banget nih!" ujar Shella.
"Ya pasti dong kan masakan ibu," ucap Jenar.
"Ih kan aku juga ikut masak Bu!" ujar Shella.
"Iya iya sama Bi Yani kan juga ikutan, jadi ini namanya masakan ibu, Shella dan Bi Yani!" ucap Jenar.
"Ahaha betul tuh! Yaudah kita makan sama-sama yuk!" ujar Shella.
"Kalo gitu bibi ke belakang dulu ya non, Bu.." ucap Yani.
"Eh kok ke belakang sih bi? Sini lah makan sama kita!" ujar Shella.
"Eee tapi non bibi harus bersihin dapur," ucap Yani.
"Udah itu mah nanti aja, sekarang ayo kita makan bertiga!" ujar Shella.
"Iya ayo bi!" ujar Jenar.
"Iya deh bibi mau," ucap Yani.
"Nah gitu dong bi!" ujar Shella.
Akhirnya mereka bertiga menyantap makanan secara bersama-sama..
__ADS_1
...~Bersambung~...