
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 225
...•...
...•...
Rafael langsung mengalihkan laju mobilnya menuju rumah Devano, sebelumnya ia memang hendak pergi ke rumah Vanya menemui gadis itu. Namun, karena Devano memintanya menjemput Shella ia pun terpaksa mengurungkan niatnya dan lebih mementingkan pekerjaan dirinya. Ya tentu karena jaman sekarang mencari kerjaan sangat sulit, bahkan lebih mudah balikin bubur jadi nasi daripada dapetin kerjaan yang halal tanpa sogok menyogok.
Sebenarnya Rafael agak kecewa karena gagal bertemu dengan Vanya kali ini, namun bagaimanapun juga ia harus tetap profesional dalam urusan kerjaan dan tidak boleh sampai mengecewakan bosnya yang sudah memberikan ia pekerjaan hingga bisa bertemu Vanya.
Tak butuh waktu lama bagi Rafael untuk sampai di rumah Devano, ya itu karena ia ngebut dan melajukan mobil dengan kecepatan sekitar 140 km per jam. Rafael pun menunggu Shella keluar dari dalam rumahnya, ia tetap berada di mobil sampai terlihat kalau Shella sudah selesai bersiap-siap.
"Lama juga ya, ternyata emang semua cewek tuh kalo dandan lama banget! Padahal cuma mau ke rumah sakit, dandannya sampai selama ini!" gumam Rafael geleng-geleng kepala sambil melihat jam.
Baru saja diomongin oleh Rafael, akhirnya Shella yang ditunggu-tunggu keluar juga dan tampak cantik dengan balutan dress berwarna putih sebagai tanda kalau ia sedang bahagia karena saudara kembarnya telah sadar dari koma. Rafael langsung turun dari mobilnya membukakan pintu untuk Shella, tampak wanita itu berjalan menuju mobil sambil tersenyum.
"Terimakasih," ucap Shella singkat lalu masuk ke dalam kursi belakang.
Rafael menutup kembali pintunya kemudian berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi, tak lupa ia memakai seat belt sebelum melajukan mobilnya. Sementara Shella di belakang masih sibuk utak-atik isi tasnya, mungkin memeriksa apakah ada yang tertinggal atau tidak.
"Kita jalan sekarang, Bu?" tanya Rafael menoleh ke belakang.
"Iya, pak!" jawab Shella tersenyum tipis.
Setelah mendapat jawaban dari Shella, Rafael langsung menancap gas dengan kecepatan sedang membawa istri bosnya itu menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Shella selalu menatap layar hp nya sambil senyum-senyum sendiri, Rafael yang melihat itu melalui spion hanya terkekeh.
__ADS_1
Baru beberapa menit mereka melaju, mobil sudah langsung terhenti karena macet panjang di jalan menuju rumah sakit. Untuk mengusir kebosanan, Rafael pun menyalakan musik serta mengajak bicara Shella walau wanita itu tampak tidak suka.
"Bu, kalau boleh tahu umurnya berapa sih?" tanya Rafael menatap wajah Shella melalui kaca spion.
"Aku masih muda kok, baru 21 tahun! Emangnya kenapa, pak?" ucap Shella.
"Wah ternyata baru 21 tahun, berarti kalau sama saya masih tuaan saya dong ya! Gapapa sih bu, cuma penasaran aja abisnya muka bu Shella itu kelihatan seperti anak-anak remaja..." ujar Rafael.
"Ah pak Rafael ini bisa aja! Saya udah punya suami kok dibilang masih remaja..." ujar Shella tersenyum.
"Iya Bu, beneran loh ini muka bu Shella itu masih kayak anak SMA gitu! Mungkin kalo pake seragam SMA juga masih cocok Bu, beruntung ya pak Devano bisa dapetin istri secantik Bu Shella!" ucap Rafael.
"Saya juga beruntung punya suami seperti mas Vano, oh ya menurut kamu gimana saya sama suami saya itu cocok atau enggak??" ujar Shella.
"Wah bukan cocok lagi Bu, cocok banget! Cantik sama ganteng terus mukanya awet muda semua, pasti nanti anak Bu Shella sama pak Vano bakalan cakep-cakep semua..." ucap Rafael.
"Hahaha, aamiin! Eh pak udah ijo tuh, jalan!" ucap Shella mengingatkan Rafael.
"Eh iya, keasyikan ngobrol jadi lupa.." ujar Rafael sambil nyengir lalu menginjak pedal gas.
•
•
Sesampainya di rumah sakit, Shella langsung berpamitan pada Rafael serta mengucapkan terima kasih pada pria itu karena sudah mengantarnya. Ia pun menggandeng tas selempang miliknya lalu bersiap untuk membuka pintu dengan perasaan tak sabar karena akan bertemu kembarannya.
"Pak, makasih ya!" ucap Shella tersenyum.
"Sama-sama, Bu! Salam ya buat pak Devano di dalam, semoga kalian langgeng terus!" ucap Rafael.
"Aamiin, iya pasti aku salamin kok ke mas Vano! Yaudah aku turun ya, sekali lagi makasih pak!" ucap Shella kembali tersenyum lalu menggeser tubuhnya ke dekat pintu mobil.
"Iya Bu, silahkan!"
__ADS_1
Shella pun turun dari mobil itu, ia memasuki rumah sakit tersebut dengan tergesa-gesa karena tidak sabar menemui adik kembarnya yang baru sadar dari koma. Tentu Shella sangat berharap bisa bertemu dengan Sheila saat ini, cukup lama gadis itu menantikan momen ini terjadi dalam hidupnya.
Akhirnya Shella sampai di depan ruang ICU, terlihat ibunya serta suaminya berdiri disana sembari memegang kening mereka masing-masing. Shella pun langsung berlari menghampiri mereka tak perduli ramai orang disana, rasa bahagian mengalahkan segalanya.
"Mas Vano!" teriak Shella memanggil nama suaminya sambil terus berlari mendekati Devano.
Sontak Devano menoleh ke asal suara itu, matanya langsung mencari dan menemukan sosok istrinya tengah berlari ke arahnya. Tentu saja Devano bahagia melihat istrinya sudah datang, ia melempar senyum serta berjalan ke dekat istrinya.
"Hey, honey! Kamu sampe juga akhirnya!" ucap Devano memegang dua lengan sang istri begitu mereka telah berdekatan.
"Iya, mas! Soalnya tadi macet banget jadi aku sampe kesininya telat deh, oh ya pak Rafael titip salam buat kamu mas!" ucap Shella mencium punggung tangan suaminya serta menyampaikan salam dari Rafael.
"Waalaikumsallam, yaudah kita kesana yuk!" ucap Devano tersenyum lalu merangkul istrinya.
Shella manggut-manggut kemudian berjalan mengikutinya suaminya menuju ke dekat Jenar yang juga masih berdiri disana seperti sedang gugup, Shella pun heran mengapa ibunya seperti itu lalu coba bertanya langsung padanya.
"Ibu..." sapa Shella mendekati Jenar lalu mencium punggung tangannya sang ibu.
"Eh, Shella!" ucap Jenar tersenyum tipis saat melihat putrinya datang sambil menyeka air matanya.
"Ibu kenapa, kok nangis?" tanya Shella heran.
"Gapapa, ibu cuma bahagia aja karena Sheila bisa sadar dari komanya! Usaha kita selama ini akhirnya berhasil, Sheila bisa sembuh!" ucap Jenar.
"Iya Bu, ibu bener banget! Terus kenapa ibu belum temuin Sheila?" ucap Shella penasaran.
"Di dalam masih ada Lestari, mama angkat Sheila! Ibu sengaja membiarkan dia menemui Sheila lebih dulu, karena dia yang sudah merawat Sheila sejak kecil!" ucap Jenar menahan tangisnya.
"Yaudah gapapa Bu, nanti kita temuin Sheila sama sama ya Bu! Aku juga gak sabar banget buat ketemu Sheila lagi, dia pasti tambah cantik!" ucap Shella tersenyum menghapus air mata di wajah sang ibu lalu memeluknya dengan hangat.
Devano disana ikut terharu melihatnya, ia kini teringat pada nasib mamanya yang harus menjadi tersangka kasus kecelakaan yang menimpa Satria. Padahal kedua orang tuanya itu sama sekali tidak bersalah, namun mereka harus terbawa-bawa dalam kasus tersebut karena tindakan Adrian.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...