
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 365
...•...
...•...
Nadya dan Yoga telah pulang dari rumah tante Alvi yang merupakan saudara Lestari alias mama angkat Nadya itu, mereka tampak frustasi setelah tau jawaban dari tante Alvi tentang keberadaan Lestari yang saat ini jauh dari mereka. Tentu Nadya sangat sedih karena tak bisa lagi bertemu dengan mama angkatnya saat ini, padahal ia sangat rindu dengan Lestari yang sudah membesarkannya itu.
Yoga yang tengah menyetir, terus menoleh ke arah Nadya berulang kali dengan tatapan serta perasaan cemas kepada gadisnya itu. Terlebih ia tau betul kalau saat ini Nadya pasti sedang sedih, oleh karena itu ia pun khawatir jika Nadya sampai depresi karena tidak berhasil menemukan keberadaan mama angkatnya yang sangat dia rindukan.
"Nadya..." Yoga menyebut nama gadisnya itu, sambil menggenggam tangan kekasihnya dengan satu tangannya.
"Kamu jangan sedih ya!" ucap Yoga tersenyum sembari menatap Nadya dan mengusap tangan mulus gadisnya itu.
Nadya hanya menoleh tanpa berbicara, bibirnya sedari tadi memang terus mengatup dan tak mau terbuka untuk sekedar bicara. Kesedihannya itu amat dalam, karena ia belum bisa bertemu dengan Lestari yang sangat ia rindukan itu. Nadya sangat menyesal karena pernah mengira Lestari adalah penipu, ketika ia sedang hilang ingatan sebelumnya.
"Udah ya, jangan sedih! Aku yakin kok, mama Lestari pasti baik-baik aja disana! Dia kan sekarang udah sama suaminya, pasti suaminya itu bakal selalu jagain mama Lestari disana!" bujuk Yoga.
"Iya, kamu benar. Seharusnya sekarang aku gak perlu khawatir sama mama Lestari, karena mama udah balikan sama mantan suaminya. Tapi, aku tetap gak bisa tenang kalau belum tau secara langsung gimana kondisi mama!" ucap Nadya.
Yoga pun tampak senang dapat mendengar kembali suara gadisnya yang ia rindukan.
"Sabar aja! Kan kita tadi udah minta sama tante Alvi buat kasih info ke kita, kalau misal nanti mama Lestari itu hubungin tante Alvi. Udah ya, kamu jangan sedih terus! Nanti pasti tante Jenar bakal khawatir sama kamu, kalau kamu masih sedih begini! Kamu gak mau kan lihat ibu kamu itu ikut sedih?" ucap Yoga berusaha menghibur Nadya.
Nadya terdiam memikirkan perkataan Yoga yang ada benarnya itu, tak mungkin Nadya pulang dalam keadaan bersedih seperti ini, karena pasti ibunya akan sangat cemas dan khawatir padanya.
"Iya sih, kamu bener. Aku gak mau bikin ibu jadi sedih pas lihat aku sedih begini, makasih ya Yog! Kamu udah bantu tenangin aku, emang kamu tuh laki-laki yang baik dan aku gak salah pilih kamu buat jadi pacar!" ucap Nadya sambil tersenyum memandang ke arah kekasihnya itu.
Yoga pun menoleh sekilas sembari melempar senyum ke arah Nadya, senang sekali rasanya ia dapat melihat Nadya tersenyum kembali.
"Syukurlah! Kamu sudah bisa tenang dan kembali tersenyum, sayang! Aku harap itu akan selalu terjadi dan kita juga bisa selamanya bersama, walau aku agak ragu dengan itu. Kehadiran Adrian pasti bisa menjadi ancaman buatku dan hubungan kita, tapi aku pasti akan terus berjuang untuk mempertahankan kamu dan hubungan kita!" gumam Yoga di dalam hati.
Sementara Nadya juga merasa kalau Yoga sedang mencemaskan sesuatu di dalam pikirannya, ia berpikir mungkin saja Yoga masih khawatir pada ancaman yang diberikan Adrian tadi.
"Aku tau kamu pasti masih kepikiran soal Adrian," ucap Nadya sambil tersenyum tipis.
"Hah? Kamu tau darimana?" tanya Yoga terkejut.
"Kelihatan dari raut muka kamu, kayaknya kamu gak pengen banget kehilangan aku. Makanya aku tau pasti kamu lagi mikirin Adrian." jawab Nadya.
"Hahaha, pinter kamu ih!" ucap Yoga.
Suasana yang hening kembali terasa cerah, itu karena kepintaran keduanya dalam mencairkan suasana agar tidak terus merasa bersedih hanya karena masalah kecil.
...•••...
__ADS_1
Disisi lain, Silvi dan Tama masih terus mencecar Devano dengan pertanyaan mengenai Shella. Mereka penasaran apa sebenarnya yang tengah disembunyikan oleh Devano pada mereka, itulah sebabnya mereka terus saja menatap wajah Devano dan bertanya mengenai hal tersebut agar Devano bisa segera menjawab kegelisahan di hati mereka.
Sementara Devano sendiri masih tampak bingung harus menjelaskan bagaimana kepada kedua orangtuanya itu, ia tak mau membuat mereka berdua bersedih atau bahkan kepikiran dengan Shella yang sedang diculik oleh seseorang itu. Devano sebenarnya ingin menyembunyikan itu semua dan menjawab semuanya bila Shella telah ditemukan, namun desakan dari Silvi dan Tama makin membuatnya kebingungan.
"Vano, ayo jawab! Kenapa kamu malah diem aja begitu, ha? Mama dan papa ini pengen tau tentang kondisi Shella! Ayo dong kamu buruan kasih tau ke mama sama papa!" bentak Silvi kesal.
"Iya Vano, jangan sembunyikan apapun dari kami berdua! Apalagi kalau masalahnya menyangkut keselamatan Shella dan juga bayi di dalam kandungannya, cepat jawab Vano!" sahut Tama.
Devano masih ragu-ragu menjawabnya, ia hanya bisa menggerakkan kepalanya menoleh ke samping kanan kiri serta bawah secara bergantian sembari memegangi tengkuknya. Devano belum tau harus menjelaskan bagaimana kepada kedua orangtuanya disana yang sudah sangat penasaran, ia pun memilih diam saja walau pasti Silvi serta Tama akan terus mencecarnya dengan pertanyaan itu.
"Ayo jawab Vano!!!" bentak Tama emosi.
Ya sangking emosinya, Tama sampai maju mendekati Devano lalu menarik kerah kemeja Devano dengan kencang. Tama pun melotot ke arah putranya itu dan seketika urat di lehernya terlihat, itu artinya Tama memang sangat emosi karena penasaran dan cemas pada kondisi menantunya yakni Shella yang belum tau dimana keberadaannya.
"Pah, papa sabar dong! Jangan pake emosi kayak gitu! Kasihan Devano jadi tertekan, sebaiknya kita bicara dengan pelan!" ucap Silvi menengahi.
"Tapi mah, anak ini daritadi gak mau jawab pertanyaan kita! Dia malah diem aja kayak patung, seakan gak ada masalah apa-apa! Padahal papa yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan dari kita, mah!" ujar Tama emosi.
"Iya pah, mama tau. Mama juga yakin itu, tapi Vano pasti sekarang masih syok dan dia butuh waktu buat jelasin ke kita." ucap Silvi.
Akhirnya Tama melepas cengkeramannya dari kerah kemeja Devano dan kembali menjauh dari putranya tersebut lalu duduk di sofa, sedangkan Silvi juga kembali duduk di tempatnya semula dan masih menatap Devano penuh penasaran. Mereka berdua tentunya belum puas dan masih ingin bertanya kepada Devano walau putra mereka itu masih saja kekeuh tak mau bicara apa-apa.
Devano tampak merapihkan kembali kemejanya yang tadi berantakan akibat ditarik sang papa, ia juga melirik sekilas ke arah papa dan mamanya yang ada di hadapannya. Devano sebenarnya tak tega melihat keduanya penasaran sampai emosi begitu, namun ia lebih tidak tega jika melihat orangtuanya nanti cemas dan khawatir ketika tau jika Shella diculik.
"Mama sama papa emosi banget, saya jadi makin gak tega lihatnya. Duh, Fael gimana sih kamu? Masa cari keberadaan istri saya aja gak bisa sih? Dasar asisten gak becus!" gumam Devano dalam hati.
...•••...
Nadya kembali menoleh ke arah kekasihnya, lalu meminta pada Yoga untuk pulang saja karena hari sudah malam. Nadya tak mau jika Yoga nantinya pulang terlalu malam, kalau harus mampir dulu ke dalam rumahnya.
"Yog, kamu langsung pulang aja deh! Ini udah malam tau, aku gak mau kamu kemalaman pulangnya!" ucap Nadya sambil mengerucutkan bibirnya.
Yoga justru tersenyum kemudian maju mendekati Nadya dan meraih dua tangan gadis itu, tak lupa ia juga membelai rambut Nadya lalu mencium kening gadisnya dan membuat Nadya salah tingkah seketika dibuatnya.
"Kamu apaan sih?" tanya Nadya sambil senyum-senyum.
"Aku bakal pulang, setelah kamu aman masuk ke dalam rumah. Sana gih kamu jalan duluan, terus masuk! Baru nanti aku pulang deh, soalnya aku gak mau kamu kenapa-napa!" ucap Yoga.
"Haish, kamu lebay deh! Jalan dari sini ke depan rumahku itu cuma beberapa meter aja, kamu gausah khawatir gitu kali!" ucap Nadya.
"Ya tetep aja, kan musibah bisa terjadi dimanapun. Aku gak mau begitu aku pulang, terus kamu kenapa-kenapa pas lagi jalan ke rumah. Kalau aku masih nunggu disini kan gampang, jadi aku bisa tolongin kamu kalau terjadi sesuatu ke kamu." ucap Yoga meyakinkan Nadya sambil tersenyum.
"Yaudah iya deh, kalo gitu aku duluan ya jalan ke rumahnya?" ucap Nadya pamit.
"Iya sayang, salam buat ibu kamu!" ucap Yoga.
Nadya tersenyum saja lalu melambaikan tangan dan memberi kiss bye kepada kekasihnya itu, tentu saja Yoga pun membalasnya bahkan berkali-kali lipat lebih banyak dibanding Nadya. Barulah setelahnya, Nadya langsung berjalan pergi meninggalkan Yoga sambil masih sesekali menoleh ke belakang.
"Kamu cantik sekali, pantas saja Adrian itu masih tergila-gila dan ingin memiliki kamu. Aku harus bekerja ekstra untuk bisa menjaga kamu dari si jahat Adrian itu!" batin Yoga.
Tak lama kemudian, Nadya sudah sampai di teras depan rumahnya. Ia pun berbalik dan menatap ke arah Yoga, ia memberikan gestur tangan meminta agar pria tersebut langsung pulang. Namun, Yoga tetap kekeuh berada disana sampai Nadya benar-benar aman masuk ke dalam rumahnya.
Nadya pun tersenyum sambil geleng-geleng kepala karena sikap keras kepala dari kekasihnya itu, ya walau ia juga senang mendapat perhatian seperti itu dari Yoga karena rasanya sangat menyenangkan. Akhirnya Nadya kembali melangkah ke depan pintu dan perlahan membukanya sembari mengucap salam.
__ADS_1
Sementara Yoga tampak lega setelah melihat Nadya aman masuk ke dalam rumahnya, ia pun kembali ke mobilnya lalu segera pulang karena memang hari sudah semakin malam. Tanpa basa-basi lagi, Yoga langsung menyalakan mesin mobilnya lalu menginjak pedal gas dan melaju pergi dari gang rumah Nadya menuju ke rumahnya.
"Good night, Nadya sayangku! Aku sangat cinta sama kamu dan aku akan terus berusaha untuk membuat kita selalu bersama, walau rintangan menghadang." batin Yoga sambil tersenyum.
•
•
Ceklek...
"Assalamualaikum..." Nadya mengucap salam secara perlahan khawatir kalau orang rumah sudah pada tidur, ia juga membuka pintu dengan perlahan agar tak mengganggu orang disana.
Ruang depan tampak sepi seperti tak ada siapapun. Nadya akhirnya masuk begitu saja dan menutup kembali pintunya secara perlahan juga, ia heran mengapa rumah itu bisa sangat sepi padahal jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan malam dan biasanya Jenar masih duduk di depan tv menonton sinetron kesukaannya.
Nadya pun melangkah maju ke dalam rumahnya setelah mengunci pintu, ia terus celingak-celinguk ke sekeliling mencari apakah ada sang ibu atau mungkin Damar sepupunya disana. Namun, ruangan itu benar-benar sepi sunyi seperti tak ada siapapun di dalamnya dan tentunya membuat Nadya kebingungan.
Tak lama kemudian, justru malah Damar yang muncul secara tiba-tiba di depannya dan membuat Nadya terkejut karena tak menyangka jika Damar ada disana.
"Waalaikumsallam, Sheila." ucap Damar sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
Tentu saja Nadya tampak ketakutan ketika melihat Damar menatapnya seperti itu, ia kesulitan untuk menelan saliva nya karena terlalu takut dan cemas kalau Damar akan melakukan sesuatu padanya. Terlebih saat ini ia tak melihat tanda-tanda adanya sang ibu alias Jenar di rumah itu.
"Mar, kamu lihat ibu gak?" tanya Nadya gugup.
Damar kembali tersenyum lalu melangkah mendekati Nadya dan tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah gadis cantik itu, ia juga menggerakkan tangannya untuk membelai rambut depan Nadya sembari berkedip cepat.
"Tante Jenar masih di luar, tadi pamitnya sih mau ikut pengajian. Aku juga gak tau kenapa selama ini, tapi bagus deh jadi aku bisa berduaan sama kamu tanpa adanya gangguan dari ibu kamu. Aku yakin, kamu juga pasti seneng kan?" ucap Yoga tersenyum mesum bermaksud menggoda Nadya.
"Maaf, Mar! Aku sama sekali gak seneng, lagian aku juga capek dan mau istirahat. Kalau nanti ibu udah pulang, kasih tau aja aku lagi tidur!" ucap Nadya.
Nadya langsung hendak pergi dari sana karena tak mau terjadi sesuatu dengannya, akan tetapi Damar dengan cepat berhasil menahan Nadya dan mencengkeram lengan gadis itu sehingga Nadya tak bisa pergi kemana-mana darinya.
"Ish, lepasin! Kamu jangan macam-macam ya sama aku!" bentak Nadya kesal.
"Apa sih? Siapa yang mau macam-macam? Aku cuma mau ngobrol sama kamu, Sheila. Ayo kita manfaatkan kesempatan ini untuk ngobrol berdua dan bahas cintaku padamu!" ucap Damar.
"Kamu gak waras, Mar!" ujar Nadya.
"Hahaha, aku masih waras kok. Yaudah gini aja deh, kalo emang kamu capek kita kan bisa ngobrol berdua di kamar kamu sambil istirahat." ucap Damar.
"Hah? Emang udah bener-bener rusak ya kamu! Aku gak mau berduaan sama kamu di kamar, udah deh jangan ngada-ngada! Kalau emang kamu mau ngobrol sama aku, yaudah oke aku ladenin! Tapi, kita ngobrolnya di sofa aja jangan di kamar dan jangan paksa-paksa aku!" ucap Nadya tegas.
"Iya iya, kan aku cuma kasihan dan takut kamu kecapekan. Yaudah, yuk ke sofa!" ucap Damar.
Nadya hanya membuang muka menahan kekesalan yang ia rasakan, sedangkan Yoga mendekap tubuh Nadya dan membawanya ke sofa ruang tamu.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...Kiss for everyone💋...
__ADS_1