
...HAY GUYS!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."CINTA SATU MALAM CEO"...
...-------------------------------------------------------...
#CSMC EPISODE 215
...•...
...•...
3 hari kemudian...
3 hari telah berlalu, kabar kecelakaan Rafi & Femila sudah didengar oleh hampir seluruh penjuru kota itu. Termasuk juga Devano serta Shella, mereka agak syok karena baru mengetahui Rafi sudah bebas dari penjara dan malah ditemukan meninggal karena kecelakaan mobil. Yang lebih mengejutkan ternyata Devano mengenali nama wanita yang bersama Rafi itu, tentu saja Shella langsung penasaran dan bertanya pada suaminya mengenai wanita itu.
"Kamu kenal sama dia, mas?" tanya Shella.
"Iya, Femila Tryola Saputri itu adalah nama yang sama dengan nama temanku waktu sekolah dulu! Tapi setahu aku, dia ini udah meninggal dunia beberapa tahun lalu..." jawab Devano.
"Hah? Terus kenapa ini di berita dia baru ditemukan meninggal dalam kecelakaan mobil? Masa iya sih, Rafi naik mobil sama hantu??" tanya Shella heran.
"Entahlah, honey! Aku juga masih bingung, apalagi aku baru tau kalau ternyata Rafi sudah bebas dari penjara dan sekarang dia malah kecelakaan!" ucap Devano tidak bisa menahan kesedihannya.
Shella pun langsung menaruh kepala suaminya di bahunya, ia membiarkan Devano mengeluarkan tangisnya disana. Bagaimanapun juga Rafi adalah sepupu Devano, tentu saja dia sangat bersedih kehilangan satu sepupunya itu.
"Sabar, mas! Sekarang kita dateng ke rumah sakit yuk buat ambil jenazah Rafi, kasihan kalau jenazahnya gak ada yang urus! Kan kedua orangtuanya ada di kampung, mas!" ucap Shella.
__ADS_1
"Iya, kamu benar! Temani saya ya ke rumah sakit, saya gak bisa kalau pergi sendiri! Takutnya nanti aku malah kenapa-napa di jalan, soalnya aku lagi kurang fokus!" ucap Devano.
"Pasti dong, mas! Yaudah aku siap-siap dulu ya, kamu juga gih siap-siap!" ucap Shella.
"Makasih," ucap Devano singkat lalu mengangkat kepalanya dari bahu Shella.
Mereka pun bersiap-siap sebelum menuju rumah sakit untuk mengurus jenazah Rafi, tampak Devano masih merasa sedih dan tak menyangka akan kehilangan sepupunya walau semasa hidupnya Rafi selalu saja mengganggu kehidupannya.
"Gue gak pengen ini terjadi sama lu, Fi! Jujur, gue masih pengen lu ada di dunia ini daripada harus pergi tinggalin gue dan orang tua lu...." batin Devano.
Sementara Shella juga nampak tidak tega pada suaminya karena terus menangis, padahal tidak lama lagi mereka juga harus menghadiri persidangan Silvi & Tama yang sebelumnya ditunda karena saksi dari pihak Devano tidak bisa hadir.
"Kasihan mas Vano, dia pasti terpukul banget salah satu anggota keluarganya ada yang meninggal! Semoga kamu tenang disana ya, Rafi! Aku inget banget pertemuan pertama kita dulu di terminal, aku gak akan bisa melupakan kamu..." batin Shella.
Setelah selesai berganti pakaian, kini mereka berdua turun ke bawah sambil bergandengan tangan. Laila yang tengah duduk di sofa sambil ngemil langsung menghampiri mereka karena penasaran hendak kemana pasangan suami-istri itu.
"Loh, ini pada mau kemana?" tanya Laila penasaran.
"Apa gue kasih tau aja kali ya ke Laila soal ini? Gimanapun juga kan Laila sepupunya Rafi, dia berhak tau tentang ini!" batin Devano.
Akhirnya Devano memutuskan untuk memberitahu adiknya tentang kabar yang ia dapat, ia mendekati Laila dan menaruh kedua tangannya di pundak gadis itu sambil menatapnya.
"Rafi, dia meninggal dunia karena kecelakaan mobil! Dan sekarang gue sama Shella mau ke rumah sakit buat ngecek jenazahnya, kalo lu juga mau ikut kita tungguin kok!" ucap Devano dengan mata berkaca-kaca.
"Apa? Ma-maksud lu, Rafi meninggal? Kenapa bisa? Bukannya lu bilang Rafi masuk penjara, gimana mungkin dia bisa kecelakaan mobil?" tanya Laila nampak syok mendengarnya.
"Iya, La! Rafi ternyata udah dibebaskan oleh seseorang dari penjara, terus dia mau pergi ke luar kota pake mobil pribadi! Sayangnya mobil itu malah masuk jurang dan Rafi harus kehilangan nyawanya disana, gue juga kaget banget denger beritanya tadi! Gimanapun juga kan Rafi sepupu kita, jadi kita tetap harus mengurus jenazahnya dengan layak!" ucap Devano menjelaskan semuanya pada Laila.
Sontak Laila langsung memeluk tubuh abangnya dan menangis disana melepas kesedihannya, begitupun dengan Devano yang juga ikut menangis kembali bersama sang adik. Sedangkan Shella tampak berusaha menahan air matanya di belakang Devano, ia tidak ingin terlihat sedih saat ini.
__ADS_1
...•••...
Sementara itu, kabar mengenai meninggalnya Rafi & Femila juga sampai di telinga Adrian. Ia malah tampak senang mendengar itu karena baginya seorang pengkhianat seperti Rafi pantas mendapatkan itu, ia tertawa keras kegirangan di ruangan itu sampai membuat Novi serta beberapa penjaga disana heran dengan tingkahnya.
"Hahaha, hahaha...."
"Lu pantas dapetin ini, Rafi! Lu pantas mati dan menghilang dari dunia yang indah ini! Hahaha..."
Adrian terus mondar-mandir sambil tertawa seperti itu, anak buahnya termasuk Novi hanya bisa diam karena tidak berani menegur Adrian.
"Apa? Jadi pak Rafi meninggal? Innalilahi, semoga pak Rafi mendapat ketenangan disana!" batin Novi.
Akhirnya Adrian berhenti tepat di samping tubuh gadis itu, ia merendahkan tubuhnya sehingga kepalanya sejajar dengan bukit kembar Novi.
"Hey, kamu pasti dengar kan barusan? Ya, Rafi si pengkhianat itu sudah mati karena kecelakaan mobil! Itulah balasan untuk seorang pengkhianat, mungkin sebentar lagi kamu juga akan mendapatkan pelajaran yang lebih dari itu! Jaga-jaga aja sayang, selagi kamu masih hidup mending kamu banyak-banyak berdoa sebelum nantinya kamu akan menyusul Rafi ke neraka...." ucap Adrian sambil mengendus-endus gunung sebelah kanan Novi.
Novi hanya diam tak bisa melakukan apa-apa ketika Adrian berbuat seperti itu padanya, ia juga bingung harus mengatakan apa karena saat ini pikirannya sudah tidak karuan lagi. Sedangkan Adrian sendiri makin kurang ajar dan kini menciumi area leher Novi sampai ke wajahnya, ia mengelus lembut bibir mungil gadis itu dengan tangannya lalu berbisik di telinga Novi.
"Kalau kamu bisa bikin saya puas, saya pasti akan membiarkan kamu hidup sebagai pelayan saya!" bisik Adrian di telinga Novi.
Entah mengapa tubuh gadis itu mendadak bergidik, ketika Adrian berbisik di telinganya sambil menjilat daun telinga miliknya itu.
"Jangan harap! Saya bukan wanita seperti itu, lebih baik saya mati daripada harus hidup menjadi pelayan orang seperti anda!" ujar Novi.
"Hahaha, yasudah oke! Kalau begitu jangan salahkan saya jika nanti kamu akan menyusul Rafi ke neraka dan tidak bisa bertemu dengan ibu kamu lagi!" ucap Adrian memutar ke belakang tubuh Novi.
Pria itu memeluk tubuh Novi dari belakang sambil menciumi tengkuk gadis tersebut, tangan-tangannya dengan gencar meremass gunung kembar milik Novi hingga gadis itu mengerang pelan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...